Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Sang Ratu Kelam
Itu... Ibu Kandungmu, Adrian... Wanita yang seharusnya sudah mati tiga puluh tahun lalu!
Gema suara Baskara disambut oleh angin malam yang makin kencang.
Sorot cahaya merah dari helikopter siluman itu menyapu seluruh lantai heli pad yang basah, mengunci posisi Marcus dan pasukan berseragam hitamnya.
Adrian menengadah dengan napas terengah-engah, matanya membelalak tak percaya. Ibu...? Ibuku masih hidup?!
Tidakkah kau merindukanku, Adrian? suara wanita dari pengeras suara helikopter itu terdengar sangat lembut, namun dipenuhi dingin yang membekukan darah.
Wush... Kliik!
Sebuah tali baja diturunkan dari helikopter siluman tersebut.
Sesosok wanita bersetelan gaun hitam dengan jubah sutra meluncur turun dengan sangat anggun.
Saat kedua kakinya mendarat mulus di lantai beton, wanita itu mengibaskan jubahnya, memperlihatkan wajah cantik yang tak termakan usia, dengan mata hitam tajam yang persis seperti milik Adrian.
Eleanor Vane.
Eleanor... gumam Baskara dengan rahang bergetar.
Kau... kau belum mati dalam kecelakaan laboratorium itu?!
Eleanor tidak memandang Baskara. Matanya langsung tertuju pada Adrian yang terbaring lemas di lantai.
Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi terdengar berdetak nyaring di atas marmer basah.
Klek... Klek... Klek...
Anakku...bisik Eleanor seraya berlutut di samping Adrian. Jemarinya yang dingin mengelus lembut pipi Adrian yang bersimbah peluh dan darah.
Lihatlah dirimu... kau tumbuh begitu kuat dan tampan, persis seperti ayahmu.
Jangan... jangan sentuh aku! bentak Adrian seraya menepis tangan Eleanor dengan sisa tenaganya.
Di mana kau selama tiga puluh tahun ini?! Kenapa kau membiarkan aku hidup di neraka keluarga Vane?!
Eleanor tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu tenang namun memancarkan kegelapan yang mendalam.
Aku harus bersembunyi di balik bayangan, Adrian. Menyiapkan segalanya untuk hari ini... hari di mana takhta ini benar-benar menjadi milik kita.
Nyonya Eleanor Vane! Marcus menyela dengan suara lantang, mengarahkan senapannya tepat ke jantung Eleanor.
Anda adalah buronan nomor satu Dewan Genetik Internasional! Menyerah lah sekarang atau kami buka tembakan!
Eleanor slowly berdiri, membalikkan badannya menghadap Marcus. Sorot matanya berubah menjadi sangat dingin dan penuh penghinaan.
Kau mengancamku di atas gedungku sendiri, Agen Marcus? tanya Eleanor dengan kekehan kecil.
Ini bukan gedungmu lagi! bentak Marcus. Bawa wanita ini dan amankan Nyonya Anindya sekarang juga!
Periksa kembali senjata kalian, Para Agen, sahut Eleanor santai seraya menepuk kedua tangannya dua kali.
Plak! Plak!
Bzzzt! Pyar!
Seketika, seluruh senjata otomatis di tangan sepuluh prajurit Dewan Genetik mengeluarkan percikan listrik merah dan meledak di genggaman mereka.
BOOM! BOOM! BOOM!
AAAGHHH! para prajurit meraung kesakitan saat senjata high-tech mereka hancur berkeping-keping, merusak jemari dan pergelangan tangan mereka.
Marcus terperanjat hebat, menatap senapannya yang kini menjadi puing-puing besi panas di lantai.
Micro-EMP?! Bagaimana mungkin kau menanamkan gelombang elektromagnetik di senjata kami?!
Karena aku yang merancang sistem pertahanan senjata itu dua puluh tahun lalu saat aku memalsukan kematianku, jawab Eleanor dingin.
Dari balik pintu atap, empat prajurit taktis berarmor serba perak milik Eleanor melangkah keluar, menyeret dua prajurit Marcus yang sebelumnya membawa Anindya.
Adrian! jerit Anindya saat berlari keluar dari pintu atap, melepaskan diri dan langsung berlutut merangkul Adrian di lantai.
Adrian! Kau baik-baik saja?!
Anindya.. desis Adrian lega saat mendapati istrinya kembali ke sampingnya.
Kau... kau tidak diapa-apakan?
Aku tidak apa-apa! tangis Anindya pecah seraya menahan pendarahan di perut Adrian.
Anindya kemudian mendongak, menatap wanita bergaun hitam yang berdiri megah di hadapan mereka. Siapa... siapa wanita ini?
Dia... ibuku, sahut Adrian dengan suara serak penuh kepahitan.
Anindya tersentak, menatap Eleanor dengan pandangan tak percaya.
Eleanor berjalan mendekati Anindya dan Adrian. Ia membungkuk, menatap perut Anindya dengan tatapan yang sangat intens--tatapan yang sama persis seperti tatapan Alexander Vane sebelumnya.
Nyonya Anindya... panggil Eleanor dengan suara selembut sutra.
Terima kasih telah menjaga benih terbaik putraku. Kau telah menjalankan peranmu dengan sangat sempurna.
Anindya merapat ke dada Adrian, bulu kuduknya berdiri mendengar nada suara Eleanor.
Peran? Apa maksud Anda dengan peran?!
Eleanor! Jangan lakukan ini! teriak Baskara seraya melangkah menghadang.
Anindya adalah putriku! Dia adalah keponakanmu sendiri! Jangan jadikan dia bagian dari eksperimen gilamu!
Eleanor menoleh menatap Baskara dengan pandangan merendahkan.
Ah, Kakakku yang malang... Kau masih saja berhati lembek seperti dulu. Kau pikir kau menyembunyikan Anindya dariku selama ini?
Baskara membelalakkan matanya. Apa?!
Akulah yang mengatur agar Anindya dan keluarganya jatuh bangkrut lima tahun lalu, aku Eleanor dengan senyuman miring yang mengerikan.
Akulah yang membocorkan penyakit adik Anindya kepada Hendra, agar Anindya terdesak dan bersedia menandatangani kontrak pernikahan tiga miliar itu dengan Adrian.
Anindya membeku seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar kenyataan pahit tersebut.
Jadi... jadi kehancuran keluargaku... penderitaan adikku... semua itu ulah Anda?! jerit Anindya dengan mata memerah penuh amarah dan air mata.
Itu adalah pengorbanan kecil demi menciptakan keturunan sempurna ini, Manis, balas Eleanor tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Pernikahan kalian bukan kebetulan. Setiap detik dari pertemuan kalian sudah kurancang sejak kalian masih bayi.
Kau gila! bentak Adrian, mencoba bangkit berdiri seraya mencengkeram lengan Eleanor.
Kau bukan ibuku! Kau sama saja seperti Alexander dan Nyonya Besar! Kau iblis!
Eleanor menepis tangan Adrian perlahan, menatap putranya dengan pandangan penuh rasa kasihan. Kau akan memahaminya nanti, Adrian. Setelah anak ini lahir dan membuka brankas takhta dunia.
Eleanor memberi isyarat pada pasukan berarmor peraknya.
Amankan Marcus dan orang-orang Dewan Genetik. Lalu bawa Adrian, Anindya, dan Baskara ke kapal induk kita.
Kami tidak akan ikut denganmu! tegas Anindya seraya memeluk Adrian erat-erat.
Kau tidak punya pilihan, Anakku, sahut Eleanor seraya merogoh sebuah tabung suntik kecil bersi cairan keemasan dari balik jubahnya.
Karena racun yang dihirup Adrian di kamar tadi... bukan sekadar gas penenang biasa.
Adrian mengernyitkan dahi, mendadak merasakan sensasi terbakar yang amat sangat meluas dari pembuluh darah di lehernya hingga ke jantungnya.
Aaghh!
Adrian! jerit Anindya panik saat melihat urat-urat di leher Adrian menegang dan menghitam.
Gas itu mengandung enzim pengunci syaraf murni, jelas Eleanor dingin seraya memutar tabung suntik di tangannya.
Hanya penawar di tanganku ini yang bisa mencegah jantung Adrian berhenti berdetak dalam waktu sepuluh menit.
Anindya menatap suntikan di tangan Eleanor, lalu menatap Adrian yang meraung kesakitan di pangkuannya.
Berikan penawar itu! tangis Anindya memohon. "Kumohon... berikan pada suamiku!
Tentu saja akan kuberikan, Anindya, ujar Eleanor dengan senyuman kemenangan yang mematikan.
Tapi ada syaratnya.
Syarat apa?! desak Anindya penuh keputusasaan.
Eleanor melangkah maju, berbisik tepat di telinga Anindya:
Serahkan hak asuh anakmu sepenuhnya padaku secara tertulis sekarang juga... atau biarkan Adrian mati tenggelam dalam racunnya di depan matamu sendiri.