Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bukan Lagi Perempuan yang Sama
Aksa menggeleng tanpa ragu. "Gak perlu, Ma. Aku gak mau ketemu dia."
"Tapi, Sa..." Asti mencoba membujuk. "Bagaimanapun juga dia istrimu."
"Untuk sementara," potong Aksa dingin. "Setahun lagi kami cerai."
Asti menghela napas. "Mama cuma minta kamu bertemu dengannya. Gak ada salahnya mengenal istrimu sendiri sedikit lebih jauh."
"Aku gak tertarik." Aksa kembali melangkah.
"Sa, setidaknya—"
"Mama gak perlu khawatir." Aksa berhenti sejenak tanpa menoleh. "Aku gak akan mengubah keputusan. Pernikahan ini tetap berakhir setelah satu tahun."
Setelah mengatakan itu, Aksa melanjutkan langkahnya dan meninggalkan ruang keluarga.
Asti hanya bisa memandang punggung putranya yang semakin menjauh.
Ia menghela napas panjang. "Kalau saja kamu tahu seperti apa Nara sebenarnya, Sa..."
***
Pagi harinya, Aynara dan Riva sudah duduk berhadapan di meja makan. Di atas meja hanya ada dua piring berisi roti bakar dan segelas minuman hangat.
Malam sebelumnya, mereka sempat berbelanja kebutuhan sehari-hari di minimarket. Berkat belanjaan itu, pagi ini mereka tidak perlu repot mencari sarapan.
Riva menggigit roti bakarnya sambil memandangi sekeliling apartemen. "Ra, aku masih gak percaya bisa tinggal di tempat semewah ini."
Aynara hanya tersenyum sambil mengambil roti.
"Rasanya kayak mimpi." Riva mengedarkan pandangan dengan mata berbinar. "Kalau ini benar-benar mimpi, jangan bangunin aku."
"Udah, makan." Aynara melirik jam tangannya. "Aku gak mau terlambat interview."
"Aku juga gak mau telat masuk kantor," balas Riva.
"Ya sudah, cepetan," kata Aynara, lalu menggigit rotinya.
Riva buru-buru menghabiskan roti di tangannya. Namun baru beberapa detik kemudian, ia seperti teringat sesuatu.
"Tapi kamu belum cerita soal suamimu, Ra."
Kunyahan Aynara terhenti.
"Sejak kemarin yang kamu ceritain cuma ibu peri kamu."
"Ibu mertua," koreksi Aynara.
"Ya, itu." Riva mengangguk. "Tapi suamimu gimana? Dia juga tinggal di sini sama kamu?"
Ekspresi Aynara perlahan berubah. Senyum di wajahnya menghilang. "Ada beberapa hal yang gak bisa aku ceritain ke kamu."
Riva yang menangkap perubahan itu langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. "Oke. Kalau belum mau cerita, gak apa-apa."
Aynara menatap sahabatnya sejenak lalu tersenyum tipis. "Aku sudah selesai sarapan. Yuk, berangkat."
"Siap, Bos!"
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Aynara melaju menuju Aksara Group.
Sesekali Aynara melirik jam di dashboard. Ia masih merasa sedikit heran. Baru kemarin menyerahkan lamaran, tetapi hari ini sudah mendapat panggilan interview.
"Riv."
Riva menoleh. "Hm?"
"Memangnya proses rekrutmen di Aksara Group secepat ini?"
Riva yang duduk di kursi penumpang mengangguk santai. "Memang biasanya begitu kalau mereka sedang buka lowongan. HRD langsung menyaring CV yang dianggap memenuhi kualifikasi, kemudian kandidat yang lolos seleksi awal dipanggil secepatnya."
"Kenapa harus buru-buru?"
"Ya biar lamaran gak numpuk." Riva mengangkat bahu. "Kalau kandidat yang cocok sudah ditemukan, buat apa HRD menunggu sampai berbulan-bulan?"
Aynara mengangguk. Penjelasan itu cukup masuk akal.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki area parkir gedung Aksara Group.
Begitu kendaraan berhenti, Riva langsung turun dan berjalan dengan gaya berlebihan seolah-olah baru saja turun dari mobil seorang direktur.
Aynara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. "Dasar."
Riva menoleh. "Apa? Aku harus menjaga wibawa sebagai staf penting."
"Resepsionis." Aynara mengingatkan.
"Jangan menghina profesiku." Riva memasang wajah tersinggung. "Aku kenal hampir semua pejabat tinggi di kantor. Aku tahu siapa yang datang, siapa yang pergi, siapa yang janjian dengan siapa. Pengalaman bertahun-tahun, Nona."
Aynara tertawa kecil. "Kenapa jawaban kamu template banget? Bener-bener resepsionis."
Mereka kemudian berjalan menuju gedung utama.
Sesampainya di lobby, Riva langsung menuju meja resepsionis, sedangkan Aynara menuju area interview. Namun baru beberapa langkah, Aynara melihat seseorang yang tidak asing baginya.
Langlang.
Pria itu juga baru tiba dan tampaknya sedang menunggu giliran untuk mengikuti proses rekrutmen.
Mata Langlang langsung tertuju pada Aynara. Ia hampir tidak mengenali perempuan yang berdiri beberapa meter di depannya.
Pakaian sederhana yang dikenakan Aynara tampak jauh berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tanpa riasan berlebihan, tetapi justru membuat kecantikannya terlihat semakin jelas.
"Nara..."
Langlang hendak melangkah mendekat.
Aynara yang menyadarinya hanya mengangguk kecil sebagai sapaan.
"Kamu juga mau interview?" tanya Langlang.
"Iya," jawab Aynara singkat.
Langlang tersenyum. "Kalau begitu kita bisa—"
"Maaf, Lang." Aynara memotong dengan sopan. Ia melirik jam tangannya. "Aku harus fokus. Aku gak mau terlambat interview."
Langkah Langlang terhenti.
Aynara tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan percakapan. Ia segera mengalihkan pandangan dan berjalan menuju ruang interview.
Langlang hanya bisa memandangi punggungnya. "Dia benar-benar berubah."
Dulu Aynara selalu menyambutnya dengan senyum dan antusiasme. Sekarang, perempuan itu bahkan terlihat berusaha menjaga jarak darinya.
Langlang mengernyit. "Apa yang terjadi sama Nara?"
***
Aynara mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang interview.
"Silakan duduk, Nona Aynara," ujar seorang pria dari balik meja.
"Terima kasih, Pak."
HRD itu membuka berkas lamaran Aynara. Matanya sekilas membaca riwayat pendidikannya.
"Lulusan S2 Manajemen Bisnis?"
"Iya, Pak."
"Nilai akademiknya juga sangat baik."
Aynara hanya tersenyum sopan.
"Anda melamar untuk posisi sekretaris?"
"Benar, Pak. Saya merasa kemampuan yang saya miliki cukup sesuai dengan posisi tersebut."
HRD itu mengangguk. Beberapa pertanyaan kemudian ia ajukan, mulai dari pengalaman organisasi, kemampuan mengoperasikan perangkat kerja, hingga kemampuan berkomunikasi dan mengatur jadwal.
Aynara menjawab semuanya dengan tenang dan percaya diri.
Setelah beberapa menit, HRD menutup berkas di hadapannya.
"Baik. Dari hasil wawancara dan kualifikasi yang Anda miliki, kami rasa Anda cocok untuk posisi ini."
Aynara sedikit terkejut. "Jadi saya diterima, Pak?"
"Anda lolos untuk posisi sekretaris," ujar HRD setelah menutup berkas lamaran Aynara. "Kalau Anda bersedia, Anda bisa mulai bekerja besok."
Mata Aynara langsung berbinar. "Besok, Pak?"
"Benar. Saat ini kami sedang membutuhkan tambahan tenaga untuk bagian sekretaris manajemen."
Aynara mengangguk cepat. "Saya bersedia, Pak."
"Baik. Setelah ini silakan menuju bagian administrasi HR untuk menyelesaikan proses penandatanganan kontrak. Di dalam kontrak sudah tercantum posisi, penempatan, serta ketentuan kerja Anda."
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Selamat bergabung di Aksara Group."
"Terima kasih, Pak."
Aynara berdiri lalu membungkukkan kepala dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, HRD kembali melihat CV yang tadi dibacanya.
"Latar belakang pendidikan bagus, kemampuan sesuai, dan cara berkomunikasinya juga baik."
Ia mengangguk puas. "Sepertinya kami gak salah memilih."
***
Setelah selesai menjalani interview, Aynara langsung menuju bagian administrasi HR untuk menyelesaikan proses penandatanganan kontrak.
Di lorong, Langlang yang baru keluar dari ruang tunggu melihat Aynara berjalan dengan wajah berbinar. Ia hendak memanggilnya.
"Nara—"
Namun sebelum sempat melanjutkan, namanya justru dipanggil oleh petugas HR untuk masuk ke ruang interview.
Langlang terpaksa mengurungkan niatnya.
Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi, Aynara meninggalkan ruangan HR. Ia berjalan menyusuri lorong sambil memeriksa ponselnya, lalu berbelok menuju lift.
Ting.
Pintu lift terbuka. Aynara melangkah mendekat. Namun baru satu langkah, gerakannya terhenti. Matanya perlahan melebar.
Wajahnya seketika membeku saat melihat siapa yang berdiri di dalam lift.
...🔸🔸🔸...
...“Jangan biarkan penghinaan seseorang menentukan seberapa berharga dirimu. Terkadang, saat seseorang meremehkan kita, hidup justru sedang memberi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita mampu berdiri lebih tinggi tanpa harus menjatuhkan siapa pun.”...
...“Kehilangan seseorang bukan berarti kehilangan masa depan. Ada kalanya Tuhan menjauhkan kita dari sesuatu yang kita kira kebahagiaan, agar kita memiliki ruang untuk menemukan diri sendiri dan memulai kehidupan yang jauh lebih baik.”...
...“Bantuan dari orang lain bukanlah tanda bahwa kita lemah. Yang membuat seseorang kuat adalah ketika ia tetap berusaha berdiri dengan kakinya sendiri, meski ada tangan yang bersedia membantunya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.