NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Selalu Ada di Meja

Senin pagi, ada segelas kopi susu di meja Gwen yang bukan dia pesan.

Dia berhenti di ambang kubikelnya, menatap gelas kertas berlogo kedai kecil di lantai dasar gedung—salah satu dari sedikit tempat di area itu yang jual kopi susu dengan takaran gula pas, tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit, persis seperti yang biasa dia pesan sendiri kalau sempat mampir sebelum jam kerja.

"Ini punya siapa?" tanyanya ke Bas yang kebetulan lewat.

Bas mengangkat bahu. "Kayaknya emang dari office boy. Katanya sekarang ada layanan kopi pagi buat lantai ini, biar produktivitas naik atau semacamnya."

"Sejak kapan?"

"Gak tau, baru denger juga minggu ini."

Gwen menatap gelas itu sekali lagi, mengangkat bahu, lalu duduk dan mulai menyeruputnya sambil membuka laptop. Rasanya persis seperti yang dia suka—manis pas, tidak terlalu kental. Dia tidak berpikir lebih jauh dari itu; kalau memang ada fasilitas baru, ya syukur, itung-itung menghemat waktu mampir sebelum masuk kantor.

Selasa, kopi susu yang sama muncul lagi. Rabu, sama. Kamis, ada variasi kecil—kali ini dengan tambahan sedikit vanila, sesuatu yang tidak pernah dia minta secara spesifik tapi ternyata cocok juga di lidahnya.

Jumat pagi, dia sudah menganggap itu sebagai bagian rutin dari harinya, seperti lampu koridor yang menyala otomatis atau AC yang selalu diatur di suhu yang pas. Dia bahkan berhenti bertanya-tanya soal itu, karena tidak ada yang perlu dipertanyakan dari sesuatu yang berjalan baik.

---

Yang tidak diketahui Gwen adalah bahwa setiap pagi, sebelum jam tujuh, seseorang mengirim pesan ke grup WhatsApp office boy lantai eksekutif, memberi instruksi spesifik yang tidak pernah muncul di prosedur resmi mana pun.

Kopi susu, gula sedang, satu buat meja Gwen Aditya, divisi operasional. Tolong antar sebelum jam delapan.

Elias tahu itu, karena dia yang secara tidak sengaja menemukan riwayat pesan itu ketika membantu Madoc mengatur akses grup untuk keperluan lain minggu sebelumnya. Dia tidak bertanya langsung waktu itu—cuma menyimpan informasi itu di kepalanya, menunggu momen yang tepat untuk mengonfirmasi kecurigaannya sendiri.

Momen itu datang Jumat siang, waktu dia mengantar dokumen ke ruangan Madoc dan melihat langsung notifikasi masuk di layar ponsel bosnya—konfirmasi dari office boy bahwa "pesanan hari ini sudah diantar."

"Pak," katanya, mencoba terdengar sekadar penasaran, bukan menuduh, "Bapak yang atur kopi pagi buat divisi operasional?"

Madoc tidak mendongak dari laptopnya. "Bukan cuma operasional. Semua lantai."

"Semua lantai kopinya sama? Kopi susu gula sedang, plus vanila kadang-kadang?"

Madoc berhenti mengetik.

"Lantai lain dapet kopi item biasa," lanjut Elias, nadanya masih santai tapi jelas dia sudah menemukan celahnya. "Cuma satu meja di lantai dua puluh tiga yang dapet kopi susu spesifik kayak gitu."

"Itu kebijakan baru," kata Madoc, akhirnya mendongak, ekspresinya sedatar mungkin. "Lagi dicoba dulu di beberapa titik sebelum diperluas."

"Dicoba di satu meja doang?"

"Kalau berhasil, baru diperluas."

Elias menahan senyumnya, memilih untuk tidak mendorong lebih jauh, karena dia tahu kalau terlalu dipepet, bosnya akan makin defensif dan tertutup soal hal ini. Dia hanya mengangguk, meletakkan dokumen di meja, dan keluar ruangan dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya.

---

Sabtu sore, Nadya datang membawa dua kantong belanjaan berisi bahan buat masak sendiri di apartemen Gwen—kebiasaan baru yang mereka mulai sejak beberapa minggu terakhir, karena Nadya bosan makan di luar terus dan Gwen, meski tidak terlalu jago masak, cukup senang punya alasan untuk pulang lebih awal dari kantor sesekali.

"Eh," kata Nadya, sambil mengiris bawang, "kantor kamu sekarang ada layanan kopi pagi gratis ya? Kok enak banget."

"Iya," jawab Gwen, sibuk mencuci sayuran di wastafel. "Baru mulai minggu ini. Kopi susu, pas banget rasanya kayak yang biasa gue pesen sendiri."

"Semua orang dapet?"

"Kayaknya. Bas bilang katanya buat produktivitas atau apa gitu."

Nadya berhenti mengiris, menatap Gwen dengan ekspresi yang sudah familiar—jenis tatapan yang biasa muncul kalau dia sedang menyusun teori di kepalanya sebelum diucapkan.

"Rasanya persis kayak yang biasa kamu pesen?"

"Iya. Manisnya pas, gak kemanisan. Malah kadang ada vanilanya, yang itu emang paling gue suka."

"Kamu pernah minta secara spesifik ke siapa? Office boy, HR, siapa pun?"

Gwen berpikir sebentar. "Enggak sih. Gak pernah ada yang nanya juga."

"Terus kok bisa tau persis selera kamu?"

Gwen mengangkat bahu, memasukkan sayuran ke wajan. "Mungkin emang standar defaultnya kopi susu gula sedang. Kan itu resep paling aman buat kebanyakan orang."

"Gwen." Nadya meletakkan pisaunya, menghadap sahabatnya dengan ekspresi serius yang biasanya dia pakai kalau mau menyampaikan sesuatu penting. "Gak semua orang suka kopi susu gula sedang plus vanila kadang-kadang. Itu selera spesifik banget."

"Ya mungkin kebetulan aja mirip."

"Atau," kata Nadya, lambat-lambat, "seseorang yang tau selera kamu persis, dan sengaja nyuruh siapin itu tiap hari, khusus buat meja kamu."

Gwen berhenti mengaduk wajan, menoleh ke arah Nadya. "Nad, ini kopi kantor. Bukan kado ulang tahun."

"Gue tau bedanya."

"Terus kenapa kedengerannya kayak lo lagi nuduh ada orang yang naksir gue lewat kopi?"

Nadya menatapnya lama, seolah pertanyaan itu sendiri sudah jadi jawaban yang cukup jelas baginya. "Karena mungkin emang itu yang terjadi."

Gwen tertawa, tulus, bukan tawa yang dipaksakan untuk menutupi kegugupan. "Kamu kebanyakan nonton drama Korea."

"Atau kamu kebanyakan kerja sampai gak sadar hal-hal kecil di sekitar kamu."

---

Percakapan itu berlanjut sambil mereka makan, Nadya tidak lagi mendorong topiknya lebih jauh—karena dia sudah cukup lama kenal Gwen untuk tahu, kalau terlalu dipaksa sekarang, sahabatnya itu akan makin defensif mempertahankan penjelasan paling logis yang bisa dia temukan, bukan penjelasan yang paling mungkin benar.

Tapi malam itu, sebelum tidur, Nadya membuka catatan di ponselnya—file yang sama tempat dia menyimpan observasi soal rapat progress tiga kali seminggu beberapa minggu lalu—dan menambahkan satu baris baru.

Kopi susu gula sedang + vanila, tiap pagi, cuma buat satu meja. Selera spesifik yang gak mungkin ketebak random. Update: Gwen masih gak curiga sama sekali.

Dia menutup ponselnya, menyandarkan kepala ke bantal, dan tersenyum sendiri di kegelapan kamar temannya—karena sekarang dia semakin yakin dengan teorinya, dan tinggal menunggu waktu sampai buktinya terlalu jelas untuk terus diabaikan bahkan oleh Gwen sekalipun.

Di sisi lain kota, di penthouse yang nyaris kosong kecuali cahaya dari layar laptop yang masih menyala, Madoc membaca ulang pesan konfirmasi dari office boy sore itu—pesanan hari ini sudah diantar—dan merasakan kepuasan kecil yang aneh, sesuatu yang tidak sebanding dengan skala tindakannya sendiri.

Cuma kopi. Cuma segelas kopi murah yang dia pastikan sampai tiap pagi ke satu meja tertentu di lantai dua puluh tiga.

Tapi entah kenapa, itu jadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa dekat dengan seseorang tanpa harus benar-benar berdiri di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!