NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Matahari pagi menyusup malu-malu melalui dinding kaca masif di lantai 50 penthouse Ar-Rasyid Tower, memantulkan bias cahaya keemasan yang menerangi lantai marmer hitam yang dingin. Keisha membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan retinanya dengan cahaya terang yang masuk. Untuk sepersekian detik, ia merasa bingung dan asing dengan langit-langit kamar berukiran minimalis modern di atas kepalanya. Bau harum diffuser lavender bercampur linen segar menyambut indra penciumannya, sangat kontras dengan kamar tidurnya yang lama di apartemen kecilnya yang selalu beraroma cat minyak, kain perca, dan sisa kopi semalam.

Ingatan tentang peristiwa kemarin malam langsung menghantam kesadaran Keisha. Pernikahan kontrak, penandatanganan digital di restoran mewah, dan kepindahannya yang dipaksa kilat oleh para pengawal berbadan besar ke sangkar emas milik Alexander Ar-Rasyid.

"Ah, benar. Aku sekarang resmi menjadi tawanan legal sang CEO es," gumam Keisha pelan sambil mengusap wajahnya, lalu bangkit dari ranjang empuk berseprai sutra abu-abu tua yang terasa begitu asing di kulitnya.

Keisha melirik jam dinding digital di Nakas: pukul 06.15 pagi. Sebagai seorang desainer yang terbiasa bangun pagi untuk mengejar tenggat waktu produksi butiknya, jam ini bukanlah masalah besar baginya. Ia beranjak dari tempat tidur, mengenakan jubah mandi satin yang telah disediakan di lemari walk-in closet, lalu berjalan keluar menuju area dapur terbuka di lantai utama penthouse tersebut untuk mencari secangkir kopi—bahan bakar utama yang wajib dikonsumsi sebelum nyawanya benar-benar terkumpul.

Suasana penthouse itu sangat sunyi, sepi, dan terlampau steril. Tidak ada suara dentingan piring atau obrolan pagi; hanya suara langkah kaki Keisha yang berpadu pelan dengan permukaan lantai. Ketika ia tiba di dapur modern serba putih yang dilengkapi peralatan dapur super canggih kelas komersial, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Di sana, berdiri tegak sesosok pria dengan setelan gym berupa celana training abu-abu gelap dan kaus hitam pas badan yang basah oleh keringat tipis. Alexander Ar-Rasyid baru saja menyelesaikan latihan paginya. Pria itu sedang berdiri di depan mesin espresso otomatis sambil menatap layar ponselnya dengan sebelah tangan memegang handuk kecil yang ia sampirkan di leher jenjangnya. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan karena keringat membuatnya terlihat jauh lebih manusiawi—dan, mau tidak mau harus diakui oleh Keisha, sangat memikat secara visual.

Keisha mengerjap, mencoba menepis pikiran bodoh itu dari kepalanya. Ia berdeham pelan untuk menarik perhatian. "Ekhm."

Alexander mendongak. Sepasang mata tajamnya langsung mengunci sosok Keisha yang berdiri beberapa meter darinya. Alis tebal pria itu terangkat sebelah, menilai penampilan Keisha pagi itu dengan tatapan menilai yang dingin. "Kau bangun lebih awal dari yang kuduga, Nyonya Ar-Rasyid. Kupikir putri manja sepertimu akan tidur sampai siang hari sambil menunggu pelayan membawakan sarapan ke tempat tidur."

Mendengar sindiran tajam itu, suasana hati Keisha yang tadinya netral langsung terjun bebas ke titik nol. Ia melangkah mendekati area dapur dengan dagu terangkat tinggi, menepis rasa kagum sesaatnya pada otot lengan sang CEO.

"Maaf mengecewakanmu, Tuan Ar-Rasyid," balas Keisha dengan nada sarkastik yang kental. "Aku bukan tipe wanita pemalas yang menghabiskan waktu pagi untuk bermalas-malasan. Aku punya standar hidup dan etika kerja, hal yang mungkin jarang kau temui di kalangan konglomerat arogan sepertimu."

Alex meletakkan cangkirnya ke atas meja marmer dengan gerakan pelan, lalu melipat tangannya di dada bidangnya. Otot-otot lengannya tampak semakin jelas menegang di balik kaus ketat itu, memancarkan aura dominasi yang menekan. "Jaga mulutmu, Keisha. Kau berada di rumahku, dan di bawah atap ini, ada aturan tidak tertulis tentang bagaimana cara bersikap di hadapanku."

"Aturan? Oh, astaga. Tambah satu lagi pasal di dalam otak diktatormu itu," cerca Keisha sambil membuka salah satu kabinet dapur untuk mencari cangkir. "Ngomong-ngomong, di mana mesin pembuat kopi manual? Mesin otomatis canggih milikmu ini tidak akan bisa menghasilkan kopi dengan takaran yang pas untuk membangkitkan akal sehatku."

Alex mengamati tingkah laku wanita itu dengan sebelah alis berkedut menahan rasa jengkel. Belum pernah ada orang yang berani mengkritik fasilitas atau menantangnya secara langsung di dalam ruang pribadinya sejak ia beranjak dewasa. Namun, alih-alih mengusir Keisha, ia justru merasa dunianya yang monoton mendadak mendidih oleh kehadiran makhluk cerewet ini.

"Di kabinet bawah sebelah kanan," jawab Alex singkat, suaranya terdengar dingin namun matanya tidak lepas dari setiap gerak-gerik Keisha. "Dan jangan merusak mesin kopiku. Jika rusak, kau harus menggantinya dengan hasil kerja dari butik kecilmu itu selama sepuluh tahun."

Keisha mendengus kesal, mengeluarkan wadah biji kopi bubuk dan mulai meracik minumannya sendiri dengan gerakan terampil. "Jangan sombong dulu, Tuan CEO. Butikku mungkin kecil, tapi karya-karyaku tidak pernah dibuat berdasarkan algoritma dingin seperti hidupmu!"

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang dipenuhi ketegangan magnetis di antara mereka. Keisha menuangkan hasil seduhan kopi hitamnya ke dalam sebuah cangkir keramik putih polos, lalu meniupnya pelan sebelum meneguknya seteguk. Sesaat kemudian, dahi Keisha mengernyit tajam. Ia terbatuk kecil, lalu menatap cangkir di tangannya dengan horor.

"Ya Tuhan... biji kopi jenis apa yang kau simpan di sini?" seru Keisha tidak percaya, menatap tajam ke arah Alex. "Rasanya seperti air bilasan cucian panci! Pahit, getir, dan sama sekali tidak memiliki aroma roast yang layak. Ini bukan kopi, Tuan Ar-Rasyid. Ini adalah... kencing kuda!"

Alex menyipitkan matanya mendengar istilah ekstrem yang baru saja dilontarkan oleh istrinya. Pria itu melangkah maju mendekati pulau dapur, jarak di antara mereka kini terpangkas drastis. "Kencing kuda? Kau baru saja menghina biji kopi Geisha Blue Mountain impor langsung dari perkebunan privat di Kolombia yang harganya mencapai puluhan juta rupiah per kilogram, Nona Pramesti!"

"Harganya boleh saja seharga mobil mewah, tapi kalau cara menyimpannya salah dan rasanya hambar seperti air comberan, itu tetap saja sampah!" balas Keisha tanpa merasa gentar sedikit pun, memajukan wajahnya untuk menatap manik mata hitam Alex dari jarak yang sangat dekat.

Napas mereka beradu di udara pagi yang sejuk. Alex terpaku sejenak menatap kilatan amarah dan kepercayaan diri yang menyala di mata cokelat Keisha. Jantung sang CEO mendadak berdetak di luar kendali—sebuah anomali yang sangat berbahaya yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun memimpin korporasi raksasa.

"Kau benar-benar wanita paling keras kepala yang pernah kutemui," bisik Alex rendah, suaranya berubah menjadi serak dan berat, menciptakan getaran asing di dada Keisha.

"Dan kau adalah pria paling menyebalkan, dingin, dan tidak punya selera rasa di muka bumi ini," balas Keisha cepat, meskipun jantungnya sendiri kini mulai berkhianat, berdetak jauh lebih cepat dari batas normal.

Sebelum Alex sempat membalas ucapan tajam itu, suara dering ponsel pintar milik sang CEO di atas meja dapur berdering nyaring, memecah ketegangan magnetis yang tercipta di antara mereka. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan nama sekretaris pribadinya dengan tanda darurat merah.

Alex mengalihkan pandangannya dari wajah Keisha dengan enggan, lalu meraih ponsel tersebut dengan gerakan kaku. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan kembali emosinya, lalu menatap Keisha sekali lagi dengan tatapan memperingatkan.

"Nikmati kencing kudamu itu, Nyonya Ar-Rasyid," ucap Alex sinis sebelum berbalik badan dan melangkah menjauh menuju ruang kerjanya untuk mengangkat panggilan telepon penting.

Keisha menghela napas panjang, merosotkan bahunya perlahan begitu punggung bidang pria itu menghilang di balik pintu kaca buram. Ia memegang dadanya sendiri, merasakan degup jantung yang masih belum juga tenang. Sial, batin Keisha dalam hati. Pria es itu benar-benar berbahaya bagi kewarasanku.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!