NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — DI SAAT KAU TERLUKA

Dunia seakan runtuh seketika di telinga wanita itu. Kaki yang tadi masih menapak tegak kini terasa lemas tak bertulang. Telepon genggam di tangannya terjatuh berdebam ke lantai, namun ia sama sekali tak merasakannya. Kata-kata yang baru saja terdengar dari seberang sana terus berputar kencang di kepalanya hingga membuatnya merasa sesak napas. Kecelakaan. Di jalan pulang. Kondisinya belum diketahui pasti.

Wanita itu melangkah keluar rumah tanpa membawa apa pun, tanpa payung, tanpa melindungi diri dari hujan deras yang masih turun membasahi bumi. Ia berlari menerobos hujan yang dingin dan menyiksa, air hujan membasahi seluruh tubuhnya hingga ke tulang, namun ia sama sekali tak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah rasa takut yang begitu besar mencengkeram hatinya hingga nyeri dan perih luar biasa. Bayangan wajah pria itu terus muncul di kepalanya. Senyum lembutnya. Suara tenangnya. Kata-kata tulusnya. Semua itu berputar bersamaan dengan rasa takut yang semakin menghantam dadanya.

Tidak... kau tidak boleh apa-apa... Tuhan... kumohon... jangan ambil dia dariku... belum saatnya... belum saatnya...

Pikirannya berteriak memohon kepada langit yang sedang menangis deras bersamanya. Hatinya terasa begitu sakit dan begitu takut seolah separuh jiwanya ikut terluka saat itu juga. Ia baru saja mulai membuka hatinya. Ia baru saja mulai menyadari betapa berharganya pria itu baginya. Dan kini... tiba-tiba kabar buruk ini datang menghampiri tanpa peringatan sedikit pun.

Sesampainya di rumah sakit yang dingin dan penuh bau obat itu, wanita itu berlari menerobos lorong panjang dengan napas yang memburu dan tubuh yang gemetar hebat. Pakaiannya basah kuyup meneteskan air di sepanjang jalan yang dilewatinya. Matanya yang basah oleh air hujan dan air mata terus menatap ke depan dengan pandangan yang cemas dan penuh ketakutan. Hingga akhirnya ia melihat sekelompok orang berdiri di depan ruangan tempat pria itu berada. Di antara mereka ada kerabat dan rekan kerjanya yang tampak cemas dan sedih.

Wanita itu mendekat dengan langkah yang terseok-seok. Semua orang menatapnya dengan pandangan yang penuh simpati dan haru. Namun ia tak peduli pada tatapan mereka. Matanya hanya tertuju pada pintu ruangan yang tertutup itu. Pintu yang memisahkannya dengan pria yang kini menjadi satu-satunya orang yang paling ia sayangi di dunia ini.

"Bagaimana keadaannya..." suaranya terdengar parau dan bergetar hebat, hampir tak terdengar namun begitu jelas menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.

Seorang kerabat mendekat dan menatapnya dengan pandangan yang berat untuk diucapkan.

"Kecelakaannya cukup parah... kepalanya terbentur keras... dan kakinya terluka cukup serius..." jawab orang itu pelan dengan nada yang penuh kesedihan. "Dokter sedang menanganinya sekarang..."

Kata-kata itu seakan menghantam tubuh wanita itu dengan kekuatan yang begitu dahsyat. Lututnya lemas seketika dan ia jatuh berlutut di lantai yang dingin itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah ruah membasahi pipinya yang pucat pasi. Hatinya terasa perih luar biasa seolah diiris ribuan pisau tajam. Rasa bersalah mulai menyerangnya tanpa ampun. Seandainya ia tadi meneleponnya agar segera pulang. Seandainya ia menyuruhnya berhati-hati. Seandainya... seandainya... ribuan penyesalan menyerbu masuk ke dalam dadanya hingga membuatnya merasa sesak dan nyeri tak tertahankan.

Semua ini karena aku... karena dia ingin segera pulang... karena dia ingin kembali padaku...

Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sejadi-jadinya di depan pintu ruangan itu. Tangisannya begitu pilu dan begitu menyayat hati hingga siapa pun yang melihatnya ikut merasa sedih. Selama berjam-jam ia menunggu di sana dalam posisi berlutut yang sama, tak beranjak sedikit pun, tak peduli pada tubuhnya yang kedinginan dan lemas. Ia hanya terus menatap pintu ruangan itu dengan mata yang penuh air mata dan doa yang terus mengalir tanpa henti di dalam hatinya.

Hingga akhirnya pintu itu terbuka. Dokter keluar dengan wajah yang tampak lelah namun sedikit lebih tenang. Wanita itu segera bangkit dengan susah payah dan mendekat dengan langkah yang tak seimbang.

"Dokter..." panggilnya dengan suara yang penuh harap dan cemas. "Bagaimana suamiku... selamatkan dia... kumohon selamatkan dia..."

Dokter menatapnya dengan pandangan yang penuh kelembutan dan pengertian.

"Kuatkan hatinya, Bu..." ucap dokter pelan. "Nyawannya selamat. Namun ia mengalami cedera cukup parah di kepala dan kakinya. Ia masih belum sadarkan diri. Kita harus menunggu hingga ia terbangun untuk memastikan kondisinya."

Mendengar kata-kata itu, rasa lega seketika itu pula menyelimuti hatinya yang sempat hancur lebur. Namun kelegaan itu tak sepenuhnya menghapus rasa cemas dan takut yang masih menyelimuti hatinya. Ia mengangguk pelan sambil menahan isak tangis yang kembali meledak.

"Terima kasih, Dokter..." ucapnya dengan suara yang tercekat. "Terima kasih telah menyelamatkannya..."

Tak lama kemudian, pria itu didorong keluar berbaring di atas ranjang dorong. Wajahnya tampak pucat dan lemas, perban melilit sebagian kepalanya dan kakinya digips hingga ke lutut. Namun napasnya masih teratur meski lemah. Wanita itu segera mendekat dan menggenggam tangan pria itu yang terasa dingin di balik selimut. Tangan yang selama ini begitu hangat dan begitu lembut menyentuhnya, kini terasa dingin dan tak berdaya.

Air mata kembali jatuh membasahi pipinya saat melihat keadaan pria itu yang begitu lemah dan terluka. Ia mendekatkan wajahnya ke tangan pria itu dan mengecupnya lembut berulang kali.

"Maafkan aku..." bisiknya pelan di sela tangisannya. "Maafkan aku... seharusnya kau sudah pulang lebih awal... seharusnya kau tidak terluka seperti ini... bangunlah... kumohon bangunlah... aku akan menunggumu di sini... selamanya jika harus..."

Wanita itu menemani pria itu masuk ke dalam ruangan perawatan. Ia duduk di samping ranjang dan tak pernah sekalipun melepaskan genggamannya dari tangan pria itu. Matanya tak lepas dari wajah pucat pria itu yang terbaring diam tanpa bergerak sedikit pun. Ia terus berbicara pelan kepada pria itu, menceritakan hal-hal kecil yang pernah mereka lalui, memohon agar ia segera membuka matanya dan tersenyum seperti biasanya.

Namun berjam-jam berlalu, pria itu masih terbaring diam tak sadarkan diri. Wanita itu tak beranjak sedikit pun. Ia tak makan, tak minum, dan tak beristirahat. Matanya yang bengkak dan merah menatap wajah pria itu tanpa henti. Hatinya terus berdoa tanpa henti memohon kepada Tuhan agar mengembalikan kesadaran pria itu secepatnya.

Hingga larut malam, di dalam ruangan yang sunyi dan remang-remang itu, perlahan-lahan jari tangan pria itu yang digenggamnya bergerak sedikit. Wanita itu seketika itu pula menahan napas dan menatap wajah pria itu lekat-lekat. Perlahan namun pasti, kelopak mata pria itu bergerak dan akhirnya terbuka perlahan. Sepasang mata yang teduh dan lembut itu perlahan menatap ke arahnya dengan pandangan yang masih samar dan lemah.

Pria itu mencoba berbicara namun suaranya terdengar lemah dan serak tak jelas. Wanita itu segera mendekatkan wajahnya ke arahnya sambil menahan tangis haru yang meluap-luap.

"Jangan bicara dulu..." ucapnya pelan sambil mengusap lembut wajah pria itu dengan punggung tangannya yang gemetar. "Istirahatlah dulu... kau sudah bangun... itu sudah cukup bagiku..."

Pria itu menatapnya lekat-lekat. Perlahan sudut bibirnya yang pucat terangkat membentuk senyum lemah namun tetap begitu tulus dan menenangkan hati. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang tergenggam erat di tangan istrinya.

"Kau..." suaranya terdengar lemah namun begitu jelas terdengar di keheningan ruangan itu. "Kau menangis...?"

Wanita itu mengangguk pelan sambil menahan isak tangis yang kembali meledak. Ia menyandarkan kepalanya di tepi ranjang dekat tangan pria itu sambil terus menggenggam tangannya erat.

"Aku takut..." ucapnya jujur dengan suara yang terisak. "Aku sangat takut... aku takut kehilanganmu... kumohon jangan pernah meninggalkanku... jangan pernah membuatku merasa takut seperti ini lagi..."

Pria itu mengerjakan pelan. Ia berusaha mengangkat tangan yang lain dengan susah payah hingga menyentuh kepala istrinya yang terasa hangat di sampingnya. Sentuhan yang lemah namun penuh kasih sayang yang begitu dalam.

"Aku tidak akan pergi..." ucapnya pelan dengan napas yang terengah-engah namun tetap lembut dan menenangkan. "Aku berjanji... takkan pernah pergi... maafkan aku... membuatmu menangis..."

Wanita itu mendongak menatapnya dengan mata yang penuh air mata namun kini bersinar penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum di sela tangisnya.

"Jangan minta maaf..." ucapnya pelan. "Yang penting kau sudah sadar... kau masih bersamaku... itu sudah cukup bagiku..."

Pria itu menatapnya dengan pandangan yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Jemarinya yang lemah menyentuh pipi istrinya yang basah oleh air mata, menyeka sisa air mata itu dengan penuh kelembutan.

"Jangan menangis..." ucapnya pelan. "Sakit... melihatmu menangis..."

Wanita itu segera menahan tangisnya. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum tulus kepada pria itu.

"Baiklah... aku tidak menangis..." ucapnya lembut. "Kau istirahatlah dulu... aku akan tetap di sini... aku takkan pergi ke mana-mana... aku akan menjagamu seperti kau menjagaku selama ini..."

Pria itu tersenyum puas mendengarnya. Perlahan matanya kembali terpejam karena kelelahan, namun kali ini dengan napas yang lebih teratur dan wajah yang tampak jauh lebih tenang. Wanita itu mengecup lembut punggung tangan pria itu sebelum kembali duduk di samping ranjangnya sambil terus menggenggam tangan itu erat.

Di dalam ruangan yang sunyi itu, wanita itu menatap pria yang sedang beristirahat dengan perasaan yang tak terlukiskan. Ia menyadari satu hal yang paling penting di dunia ini. Bahwa pria inilah alasan kebahagiaannya. Bahwa kehadirannya adalah anugerah terindah yang pernah ia terima. Dan bahwa ia takkan pernah lagi membiarkan pria itu merasa kesepian atau tidak diinginkan selama mereka masih hidup bersama.

Malam itu, di samping ranjang tempat pria yang dicintainya beristirahat, wanita itu berjanji dalam hatinya sendiri.

Aku akan menjagamu sebagaimana kau menjagaku. Aku akan menyayangimu sebagaimana kau menyayangiku. Dan aku takkan pernah lagi melepaskan tanganmu dari genggamanku. Karena kini aku tahu... kehadiranmulah yang melengkapi hidupku. Dan kehilanganmulah yang akan menghancurkanku selamanya.

Hujan di luar jendela rumah sakit perlahan berhenti. Mendung yang gelap pun perlahan menyingkir membiarkan sinar rembulan bersinar lembut masuk menerangi ruangan itu. Cahaya lembut itu jatuh tepat ke wajah pria yang sedang beristirahat dengan tenang, dan jatuh pula ke wajah wanita yang terus menatapnya dengan penuh kasih sayang dan harapan yang tak pernah pudar.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!