NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

Seminggu berlalu begitu saja.

Pagi itu, sinar matahari yang hangat menembus tirai tipis kamar VVIP, menyapu lantai marmer yang mengilap. Aroma antiseptik yang khas masih memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi bunga segar yang diletakkan di atas meja samping ranjang. Suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Bu Sulastri duduk bersandar di tempat tidur dengan wajah yang tampak lebih segar. Warna pucat di pipinya perlahan memudar, digantikan rona sehat yang membuat Angela akhirnya bisa bernapas sedikit lega.

Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan.

Tok... tok... tok...

"Selamat pagi, Bu. Bagaimana kabarnya hari ini?" sapa Dokter Bima sambil melangkah masuk dengan senyum ramah. Di tangannya sudah ada map berisi hasil pemeriksaan terakhir.

"Pagi juga, Dok," jawab Bu Sulastri sembari membalas senyum. "Alhamdulillah, badan saya sudah jauh lebih enakan."

"Syukur alhamdulillah." Dokter Bima membuka lembar hasil pemeriksaan sambil menganggukkan kepala. "Tekanan darah Ibu sudah stabil, hasil laboratorium juga menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Kita tinggal menunggu hasil pemeriksaan terakhir pagi ini. Kalau semuanya tetap normal, Ibu sudah diperbolehkan pulang hari ini."

Mata Bu Sulastri langsung berbinar.

"Benarkah, Dok?"

"Iya, Bu."

"Alhamdulillah... akhirnya." Senyum bahagia mengembang di wajah wanita paruh baya itu.

Sudah lebih dari seminggu ia menghabiskan waktu di rumah sakit. Hari-harinya hanya diisi dengan berbaring di atas ranjang, sesekali berjalan santai di taman rumah sakit ditemani Angela. Baginya yang terbiasa bekerja sejak matahari belum terbit, kehidupan yang serba tenang itu justru terasa sangat membosankan.

Dokter Bima menutup map pemeriksaannya.

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu. Nanti setelah hasil terakhir keluar, perawat akan membantu proses administrasi kepulangannya."

"Baik, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya."

"Sama-sama, Bu. Semoga lekas pulih sepenuhnya."

Dokter Bima pun meninggalkan kamar VVIP itu, membuat suasana kembali hening.

Angela yang sejak tadi berdiri di dekat jendela perlahan menghampiri ibunya. Tatapannya dipenuhi rasa khawatir yang belum benar-benar hilang.

"Bu..." ucapnya pelan. "Nanti setelah keluar dari rumah sakit, Ibu jangan pulang dulu ke kampung, ya."

Bu Sulastri menoleh.

"Lho, memangnya kenapa?"

"Ibu tinggal dulu di kontrakan bareng Angela. Biar Angela yang merawat Ibu sampai benar-benar sembuh."

Bu Sulastri terkekeh pelan sambil menggeleng.

"Nduk... bagaimana bisa begitu?" katanya lembut. "Bukan Ibu tidak mau tinggal sama kamu. Justru Ibu senang kalau bisa dekat sama anak sendiri."

Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi rumah di kampung siapa yang akan mengurus? Sawah belum dipanen, kebun juga perlu dirawat. Belum lagi ayam, kambing, sama ternak yang setiap hari harus dikasih makan. Kalau semuanya ditinggal, nanti bagaimana?"

Angela mengembuskan napas panjang. Ia sudah bisa menebak jawaban itu sejak awal.

"Tapi, Bu..." suaranya mulai terdengar memohon. "Kondisi Ibu belum benar-benar pulih. Dokter juga bilang Ibu nggak boleh terlalu capek."

Ia menggenggam tangan ibunya erat-erat.

"Angela benar-benar nggak mau ambil risiko lagi. Waktu Ibu masuk rumah sakit kemarin, Angela hampir kehilangan Ibu...."

Kalimat itu menggantung.

Mata Angela mulai memerah, sementara Bu Sulastri hanya bisa menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Perlahan, wanita itu mengusap punggung tangan Angela, seolah ingin menenangkan hati anak semata wayangnya.

"Nduk... Ibu sudah jauh lebih sehat."

"Iya, tapi Angela tetap khawatir."

Suara Angela terdengar lirih, namun sarat ketulusan.

Baginya, tidak ada sawah, kebun, ataupun ternak yang lebih berharga daripada satu-satunya orang tua yang masih ia miliki.

Keheningan masih menyelimuti kamar VVIP itu. Angela masih menggenggam tangan ibunya, seakan takut melepaskannya walau hanya sesaat. Tatapan matanya dipenuhi kekhawatiran yang belum benar-benar sirna.

Bu Sulastri hanya menghela napas pelan. Hatinya hangat melihat perhatian putri semata wayangnya.

"Nduk, Ibu ini cuma sakit, bukan jadi anak kecil," godanya sambil tersenyum tipis.

Angela langsung mengerucutkan bibir.

"Pokoknya Angela nggak mau dengar alasan apa pun. Ibu harus istirahat dulu."

"Kalau sawahnya ditumbuhi rumput bagaimana?"

"Nanti Angela bayar orang buat bersihin."

"Lho, uang dari mana?"

Angela langsung terdiam beberapa detik. Ia menggaruk pelipisnya dengan wajah canggung.

"Itu... nanti dipikirin."

Melihat ekspresi putrinya, Bu Sulastri tak kuasa menahan tawa.

"Hehehe... dasar anak ini."

Belum sempat Angela membalas, terdengar suara ketukan dari luar.

Tok... tok... tok...

"Pintu tidak dikunci. Silakan masuk," ucap Angela.

Pintu perlahan terbuka.

Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan langkah tenang. Jaket bomber hitam yang dikenakannya dipadukan dengan kaus putih polos membuat penampilannya sederhana, tetapi tetap memancarkan aura berkelas. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara sorot mata tajamnya langsung mencari sosok Angela.

Di tangan kirinya terdapat sebuah kantong belanja dari supermarket premium, sedangkan tangan kanannya membawa termos makanan berwarna hitam elegan.

Begitu melihat yang datang, Angela sedikit terkejut.

"Raymond?" Pria itu mengangguk singkat.

"Pagi."

Suara datarnya terdengar khas, dingin, tetapi entah mengapa tidak lagi terasa mengintimidasi seperti pertama kali mereka bertemu.

Bu Sulastri justru tersenyum lebar.

"Lho, Nak Raymond. Masuk- masuk." Raymond berjalan mendekat, lalu meletakkan kantong belanja di atas meja.

"Saya dengar hari ini, ibu sudah boleh pulang."

"Iya, Nak. Alhamdulillah."

"Syukurlah." Jawabannya singkat, tetapi terdengar tulus. Angela melirik isi kantong belanja itu. Matanya langsung membesar.

Buah impor, susu premium, vitamin, madu, hingga beberapa camilan sehat memenuhi kantong tersebut.

"Raymond ?" Angela menghela napas pelan. "Kamu beli sebanyak ini?"

"Hanya kebutuhan untuk masa pemulihan."

"Hanya?" Angela hampir tersedak mendengar jawaban santainya. Dalam hati ia memperkirakan isi kantong itu saja mungkin setara dengan biaya hidupnya selama beberapa bulan.

Dasar orang kaya, cara berpikirnya memang berbeda.

Raymond menoleh ke arah Angela.

"Ada masalah?" Angela buru-buru menggeleng.

"Nggak... cuma... ini kebanyakan."

"Kalau kurang, nanti saya tambah."

Angela memejamkan mata sejenak sambil menahan diri agar tidak menjitak kepala pria di hadapannya.

Kurang?

Yang ada justru terlalu banyak!

Bu Sulastri yang melihat tingkah keduanya hanya menutup mulutnya sambil tersenyum geli.

Entah kenapa, setiap kali Raymond dan Angela berbicara, suasana selalu berubah menjadi lebih hidup.

"Terima kasih banyak ya, Nak Raymond," ucap Bu Sulastri tulus. "Dari awal Ibu masuk rumah sakit sampai sekarang, kamu sudah banyak membantu kami."

Raymond menggeleng pelan.

"Ibu tidak perlu sungkan." Tatapannya kemudian beralih kepada Angela.

"Proses administrasi kepulangan sudah selesai?" Angela mengangguk.

"Sebentar lagi selesai. Tinggal menunggu perawat mengantar surat keluar."

"Bagus."

Raymond terdiam sesaat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Kalau begitu..." Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. "Biar saya yang mengantar kalian pulang."

Kalimat sederhana itu langsung membuat Angela refleks menggeleng.

"Nggak usah! Kami bisa naik taksi." Raymond menatapnya tanpa berkedip.

"Taksi?"

"Iya."

"Kamu yakin ingin membawa ibu yang baru sembuh naik turun kendaraan umum sambil mengangkat barang-barang sendiri?"

Angela langsung terdiam. Ia ingin membantah, tetapi tidak menemukan alasan yang masuk akal. Sementara Bu Sulastri diam-diam tersenyum kecil. Tatapannya bergantian mengarah kepada Raymond dan Angela, seolah melihat dua anak muda yang sama-sama keras kepala, tetapi sama-sama saling mengkhawatirkan dengan cara mereka masing-masing.

Belum sempat Angela menjawab tawaran Raymond, suara langkah kaki kembali terdengar dari luar ruangan.

Tok... tok... tok...

Pintu kamar terbuka perlahan, seorang pria paruh baya berwajah tegas dengan setelan jas abu-abu mahal melangkah masuk lebih dulu. Di sampingnya berjalan seorang wanita anggun mengenakan gaun krem sederhana, tetapi memancarkan aura elegan yang sulit disembunyikan. Keduanya membawa senyum hangat.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab Bu Sulastri dan Angela hampir bersamaan.

"Om Edward...Tante Diana?" Angela tampak sedikit terkejut.

Raymond yang berdiri di dekat jendela hanya menoleh sekilas.

"Dad. Mam." Edward Wijaya tersenyum tipis kepada putranya sebelum menghampiri ranjang pasien.

"Sulastri, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya dengan nada penuh perhatian. Bu Sulastri tersenyum ramah.

"Alhamdulillah, Edward. Berkat doa kalian semua, saya sudah jauh lebih sehat."

"Syukurlah." Diana langsung menggenggam kedua tangan sahabat lamanya itu.

"Wajahmu sudah jauh lebih segar. Kemarin aku benar-benar khawatir."

"Maaf sudah membuat kalian repot." Diana menggeleng pelan.

"Jangan bicara begitu. Persahabatan kita sudah puluhan tahun. Kalau bukan kami yang datang menjenguk, siapa lagi?" Ucapan itu membuat mata Bu Sulastri sedikit berkaca-kaca.

Angela yang melihat keakraban mereka hanya tersenyum tipis. Meski berasal dari dunia yang sangat berbeda, keluarga Edward tidak pernah sekalipun memandang rendah ibunya.

Edward kemudian duduk di sofa yang berada di samping tempat tidur.

"Tadi Dokter Bima meneleponku," katanya. "Beliau bilang hari ini kamu sudah diperbolehkan pulang."

"Iya."

"Nah, kebetulan sekali." Edward saling berpandangan dengan Diana, seolah keduanya telah memiliki keputusan yang sama. "Kalau begitu, tidak perlu pulang ke kontrakan ataupun ke kampung dulu."

Angela spontan mengernyitkan dahi.

"Maksud Om?" Edward menatap Angela dengan senyum penuh wibawa.

"Kalian ikut pulang ke rumah kami." Angela langsung menggeleng cepat.

"Tidak usah, Om. Kami tidak enak merepotkan."

"Repot?" Edward terkekeh pelan. "Rumah kami terlalu besar untuk hanya ditinggali empat orang. Masih banyak kamar kosong." Diana ikut menimpali.

"Lagipula, kondisi ibu kamu masih membutuhkan istirahat. Di rumah kami ada dokter keluarga yang bisa datang kapan saja kalau diperlukan."

"Tapi..." Angela menggigit bibir bawahnya.

Baginya, tinggal di rumah keluarga Wijaya terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai. Ia hanyalah mahasiswi penerima beasiswa.

Sementara keluarga Raymond, Mereka adalah salah satu keluarga konglomerat paling berpengaruh di kota ini.

Perbedaan langit dan bumi.

Melihat keraguan Angela, Diana tersenyum lembut.

"Angela, anggap saja rumah itu rumahmu sendiri."

"Iya, Nduk," sahut Bu Sulastri pelan. "Om Edward dan Bu Diana sudah banyak membantu kita." Angela masih tampak bimbang. Tatapannya tanpa sadar beralih kepada Raymond.

Pria itu sejak tadi hanya berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya tetap datar, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.

Namun beberapa detik kemudian, ia membuka suara.

"Ikut saja." Hanya dua kata. Pendek dan dingin. Tetapi entah mengapa, kalimat sederhana itu justru membuat Angela semakin gugup.

Melihat reaksi keduanya, Edward menyembunyikan senyum kecil. Ia kemudian melirik Diana.

"Mah"

"Iya?"

"Nanti setelah sampai rumah, kita juga perlu membicarakan rencana yang sempat tertunda." Diana langsung memahami maksud suaminya.

Tatapannya bergantian mengarah kepada Raymond dan Angela. Sorot matanya dipenuhi harapan.

"Benar," jawabnya pelan. "Sudah waktunya kita membahas masa depan kedua anak ini."

Angela yang mendengar kalimat itu sontak membelalakkan mata.

"Hah? Maksud Tante Diana... masa depan siapa?" Edward tersenyum penuh arti, tetapi tidak langsung menjawab.

"Nanti saja kita bicarakan di rumah."

Raymond mengembuskan napas pelan sambil memijat pangkal hidungnya. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan kedua orang tuanya. Namun, dalam hatinya dia bersorak gembira. Sementara Angela hanya berdiri mematung.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!