NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09 - Upaya Galang

​Cahaya matahari pagi membias pucat di lorong rumah keluarga Broto. Debu-debu halus melayang kaku di udara yang pengap. Di depan pintu kamar utama yang tertutup rapat, Galang berdiri mematung. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

Di tangannya, sebuah nampan seng berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas teh manis membumbung tipis menguapkan bau gurih—kontras yang kontradiktif dengan bau tanah lembap dan kemenyan yang tak pernah benar-benar lenyap dari lorong tersebut.

​Di belakang Galang, Pertiwi menatap dengan mata berkaca-kaca sambil menggandeng Gilang yang mengisap jempolnya.

Mia dan Rian duduk kaku di bale-bale ruang tengah, sementara Bayu bersandar di ambang pintu depan dengan tangan bersedekap, menatap dengan sisa-sisa apatisme yang dipenuhi rasa frustrasi.

​"Bu ...," panggil Galang, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Galang bawakan bubur hangat. Ibu sudah dua hari tidak menyentuh makanan sama sekali. Piring yang kemarin Galang taruh di luar bahkan tidak disentuh."

​Hening. Daun pintu kayu jati tua itu tetap bergeming, bagaikan tembok tebal yang memisahkan dunia orang hidup dan dunia mereka yang terasing.

​"Bu, tolong ...." Pertiwi memberanikan diri melangkah mendekat, suaranya tergetar oleh tangis yang ditahan. "Mia sama Rian besok harus bayar uang ujian, Bu. Mas Bayu sama Mas Galang sudah berusaha cari uang pinjaman, tapi tidak ada tetangga yang mau meminjamkan. Mereka takut sama rumah kita ... mereka bilang rumah kita ada pesugihannya ...."

​Mendengar ucapan Pertiwi, Bayu mendengus kasar dari ujung lorong. "Nggak usah ngomong sama tembok, Tiwi! Dia nggak bakal peduli! Berbulan-bulan dia ngurung diri di situ, biarin anak-anaknya kelaparan! Kalau mau mati di dalam sana, ya mati saja sekalian!"

​"Mas! Jaga mulutmu!" bentak Galang sambil menoleh tajam.

​"Kenapa?! Memang benar, kan?!" suara Bayu meninggi, melangkah maju dengan mata memerah. "Lihat diri kita sekarang! Kita kayak pengemis di kampung sendiri, Lang! Bapak mati mendadak, warung tutup, uang habis, dan Ibu ... Ibu malah bertingkah kayak orang gila di balik pintu itu! Kamu pikir aku nggak capek, hah?!"

​"Aku tahu kamu capek, Mas! Kita semua capek!" balas Galang tak kalah keras, dadanya kembang kempis. "Tapi berantem di depan pintu ini nggak akan menyelesaikan masalah! Adik-adik ngeliat kita!"

​Bayu mengatupkan bibirnya, menatap adik-adiknya yang makin mengerut ketakutan di sudut ruangan. Pria itu mengepalkan tangan, lalu berbalik dan menendang tiang kayu rumah sebelum melangkah pergi dengan amarah.

​Galang menghela napas panjang, menetralkan emosinya yang sempat memuncak. Ia kembali menghadap ke daun pintu kayu jati yang dingin.

​Ia tidak bisa menggunakan amarah, dan ia tahu bujukan biasa tidak lagi mempan.

Galang menggeser nampan seng ke tangan Pertiwi, lalu berlutut di atas lantai semen. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan kayu pintu, merasakan getaran dingin yang janggal merayap ke jemarinya.

​"Bu ..," bisik Galang, kini suaranya melunak, diisi oleh kerinduan dan keputusasaan seorang anak. "Galang ingat waktu kecil dulu ... waktu warung kita baru buka pertama kali. Ibu sama Bapak bangun jam dua pagi, masak rawon bareng-bareng sambil ketawa. Ibu selalu nyuapin Galang sisa kuah hangat sebelum Galang berangkat sekolah ...."

​Tidak ada jawaban dari dalam, namun Galang bisa mendengar gesekan halus—seolah-olah seseorang di balik pintu itu baru saja melangkah mendekat dan menyandarkan tubuhnya di balik kayu.

​"Galang ingat kata Ibu dulu," lanjut Galang, air mata hangat merembes di sudut matanya. "Ibu bilang, selama kita makan dari rezeki yang halal dan keringat sendiri, keluarga kita bakal selalu dilindungi Gusti Allah. Tapi kenapa sekarang jadi begini, Bu? Kenapa Ibu ngurung diri? Apa salah kita sampai Ibu tega nelantarin Gilang yang masih kecil?"

​Pertiwi di belakang Galang mulai sesenggukan pelan. Gilang menyembunyikan wajahnya di balik kain sarung kakaknya.

​Dari balik pintu yang kaku, terdengar sebuah helaan napas yang teramat berat dan dalam. Suara itu begitu serak, seakan pita suaranya telah berkarat karena jarang digunakan.

​"Galang ...." Suara Bu Retno mengalun pelan, terputus-putus. "Semua itu ... sudah tidak ada harganya lagi."

​Galang tersentak. Ia mendekatkan telinganya ke daun pintu. "Maksud Ibu apa?"

​"Bapakmu ... sudah menjual kerja kerasnya sendiri ..," bisik Bu Retno dari dalam. Hawa dingin dari celah bawah pintu kian menusuk. "Dan pembelinya ... datang menagih bunganya setiap malam. Ibu di sini ... cuma menahan pintu ini supaya kalian tidak diseret masuk."

​"Bapak menjual apa, Bu?!" cecar Galang dengan jantung berdebar kencang. Tangannya mencengkeram kait pintu. "Sebutkan, Bu! Kita bisa selesaikan! Kita bisa minta tolong sama Kyai atau Mbah Sastro!"

​"Tidak ada Kyai yang bisa menghapus tanda tangan di atas tanah, Galang ...." Suara Bu Retno berubah menjadi kekehan pelan yang terdengar sangat memilukan sekaligus mengerikan. "Perjanjian itu tidak ditulis dengan tinta. Perjanjian itu ditulis dengan garis keturunan."

​Garis keturunan. Kata itu kembali terucap. Kata yang sama yang dibisikkan ayahnya sebelum memuntahkan darah hitam pada malam kematiannya.

​"Bu, tolong buka pintunya ...!" mohon Galang lagi, kini menempelkan dahinya ke papan pintu. "Galang mohon ... Ibu makan sedikit saja. Biar Galang yang gantiin Bapak. Biar Galang yang tanggung kalau memang ada hutang yang harus dibayar."

​Suasana di dalam kamar mendadak hening untuk beberapa saat. Bau kemenyan yang tajam mendadak memudar, berganti dengan aroma samar bunga melati yang layu dan membusuk.

​"Pintu ini ... akan dibuka. Tapi bukan hari ini. Tunggu sampai hari ke-120." Bu Retno berbisik pelan, nyaris tenggelam oleh seru angin.

​"Hari ke-120?" Galang mengernyit. "Itu dua bulan lagi, Bu! Kita tidak bisa bertahan hidup dua bulan lagi tanpa uang dan makanan!"

​"Tunggu ...," pangkas Bu Retno dingin, dan kali ini nadanya tidak menerima bantahan. "Kalau kamu nekad mendobrak pintu ini sebelum waktunya ... kamu cuma akan melihat mayat ibumu di sini."

​Kalimat ancaman itu menghantam Galang bagai gada besi. Ia terdiam kaku di atas lututnya. Ia tahu ibunya tidak sedang berbohong. Wanita di balik pintu itu telah kehilangan kewarasannya, dan nekad melakukan apa saja jika dipaksa.

​"Taruh bubur itu di bawah, dan bawa adik-adikmu menjauh dari kamar ini." Suara Bu Retno kembali melemah.

​Pertiwi memandang Galang dengan mata penuh tanya dan ketakutan. Dengan tangan gemetar, Galang mengangguk pelan. Ia meraih nampan berisi bubur ayam hangat dan teh manis dari tangan Pertiwi, lalu meletakkannya di atas lantai persis di depan celah bawah pintu.

​"Galang taruh buburnya di sini, Bu," ucap Galang pelan. "Tolong dimakan. Demi Gilang ... demi kita semua."

​Galang kemudian berdiri, merangkul bahu Pertiwi dan menuntun adik-adiknya berjalan mundur menjauhi lorong remang-remang tersebut.

​Saat mereka baru melangkah beberapa meter menuju ruang tengah, suara selot kayu tua dari dalam kamar terdengar bergeser pelan: Sreeek ....

​Pintu itu tidak terbuka lebar, hanya bergeser dua sentimeter—menciptakan celah hitam yang pekat.

Sebuah tangan yang teramat kurus, dengan kulit pucat keabuan dan kuku-kuku jari yang memanjang kotor, terjulur keluar dari dalam kegelapan.

Tangan itu merayap di atas lantai semen bagaikan laba-laba, meraih mangkuk bubur ayam hangat tersebut, lalu menariknya masuk ke dalam kegelapan kamar dengan cepat.

​KLAK.

​Pintu kembali tertutup rapat dan kuncinya diputar kencang dari dalam.

​Galang mematung menatap pintu yang kembali terkunci itu. Meskipun ibunya akhirnya mau menyentuh makanan, rasa lega sama sekali tidak hadir di dadanya. Justru, rasa cemas yang jauh lebih besar kini menggerogoti jiwanya.

​Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar tertutup itu? Dan apa arti dari hitungan hari ke-120 yang disebutkan ibunya?

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!