NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra tebal di kamar utama penthouse, membiaskan garis-garis emas di atas lantai kayu mahoni.

Keheningan pagi itu terasa begitu magis, kontras dengan gemuruh emosi dan gejolak gairah yang membakar ruangan tersebut hingga dini hari tadi.

Di atas ranjang berukuran king-size, Rossi terbaring miring dengan selimut putih yang menutupi separuh tubuh mulusnya. Rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan di atas bantal. Kelopak matanya perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang mulai terang.

Rasa pegal di seluruh persendiannya adalah bukti nyata dari penyatuan yang berulang dan tanpa jeda sepanjang malam. Namun, alih-alih merasa lelah, ada sensasi hangat yang menggelitik di dasar perutnya—sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa di dalam rahimnya, takdir baru sedang mulai dirajut.

Rossi memutar tubuhnya perlahan. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong, tetapi bekas tekanan tubuh dan kehangatan yang tertinggal menandakan pria itu baru saja beranjak.

Dari arah walk-in closet, terdengar langkah kaki yang mantap. Rowan keluar dengan setelan jas hitam yang sudah terpasang sempurna. Kemeja putihnya terancing rapi hingga ke leher, dipadu dengan dasi bernuansa abu-abu gelap yang menegaskan wibawa dan kekuasaannya sebagai pewaris utama keluarga Vale-Knight.

Mata hitam Rowan bertabrakan dengan tatapan Rossi. Seketika itu pula, ketegangan kaku di wajah sang konglomerat mencair, digantikan oleh kilatan kelembutan yang hangat.

"Kau sudah bangun?" suara Rowan terdengar serak dan dalam, membawa getaran yang membuat dada Rossi berdesir.

Rowan melangkah mendekat, melesakkan tubuh tegapnya di tepi ranjang. Jemari tegapnya yang hangat mengusap rambut Rossi yang berantakan, menyibakkannya ke belakang telinga.

"Maafkan aku untuk semalam," bisik Rowan lembut, memandangi wajah Rossi yang tampak sedikit pucat namun bercahaya. Ada pendar rasa bersalah yang terpancar di matanya. "Aku terlalu terbawa emosi... aku tidak mengontrol diriku dengan baik."

Rossi menatap pria di hadapannya. Pria yang semalam menyatukan tubuh dengannya dengan begitu liar dan protektif, kini kembali menjadi sosok pelindung yang bersikap teramat lembut.

Rossi menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman manis yang menutup rapat-rapat iblis dendam yang bersarang di dalam hatinya. Ia meraih tangan Rowan yang berada di pipinya, menggenggamnya erat dan menyandarkan wajahnya di telapak tangan tegap itu.

"Jangan minta maaf, Rowan," cicit Rossi pelan, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur. "Aku yang membutuhkanmu semalam. Kalau bukan karena kau... aku mungkin sudah gila menahan rasa sakit ini."

Rowan mengecup dahi Rossi dengan durasi yang cukup lama, menyalurkan seluruh kedamaian yang ia miliki.

Pria itu sungguh merasa bersalah atas kenyataan pahit yang harus ditanggung Rossi—kenyataan bahwa Rossi adalah putri Abner yang diasingkan, dan fakta konyol bahwa dirinya adalah suami dari kakak gadis ini.

"Hari ini aku harus menghadiri rapat darurat dengan dewan direksi dan bertemu dengan tim pengacara keluarga," ujar Rowan, mengusap ibu jarinya di bibir Rossi yang sedikit bengkak. "Kasus kematian sahabaku... dan pembongkaran kejahatan istriku sudah dimulai. Ayahmu, Tuan Abner secara resmi telah menarik seluruh perlindungan hukumnya dari Cathez–Istriku."

Deg.

Mendengar nama Cathez dan Abner disebut, jantung Rossi berdetak lebih cepat. Namun, ia berhasil menjaga raut wajahnya tetap tenang dan polos.

"Apa yang akan terjadi padanya... maksudku, wanita itu?" tanya Rossi perlahan, memancing.

"Hukum akan menyeretnya," jawab Rowan dingin, matanya berubah menjadi sekelam malam. "Empat tahun aku hidup dalam kebohongan yang ia ciptakan di atas darah sahabatku sendiri. Aku tidak akan memberi ampunan sedikit pun. Cathez akan membusuk di penjara atas pembunuhan Reagen dan pemalsuan surat wasiat."

Rowan berhenti sejenak, lalu menatap Rossi dengan intensitas yang teramat dalam.

"Dan setelah proses hukum Cathez selesai... setelah perceraian resmi kami diputus oleh pengadilan..." Rowan menggenggam kedua tangan Rossi, "Aku akan membersihkan namamu, Rossi. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi 'istri rahasia' lagi. Aku akan membawamu berdiri di sisiku sebagai satu-satunya Nyonya Vale-Knight yang sah di mata publik."

Rossi tertegun. Kata-kata Rowan menghantam hatinya bagaikan petir.

Dia... dia ingin meresmikan pernikahan ini? Dia tidak lagi menganggapku sebatas pabrik anak?

Rencana Rowan melompat jauh melampaui apa yang Rossi bayangkan.

Pria ini tidak hanya luluh, tetapi sudah menyerahkan seluruh hatinya untuk Rossi tanpa menyadari bahwa Rossi memanfaatkan kehangatan itu.

"Rowan..." Rossi bergumam bingung, matanya berembun oleh emosi yang bercampur aduk antara rasa tersanjung dan kekejaman rencananya.

"Istirahatlah hari ini. Pelayan akan menyiapkan makanan nutrisi untukmu," potong Rowan lembut. Ia membungkuk, mengecup bibir Rossi secara singkat namun dalam. "Aku pergi dulu."

Sepeninggal Rowan dari penthouse, keheningan kembali menguasai ruangan. Rossi bergeming di atas ranjang selama belasan menit, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar hebat.

Pernikahan sah... posisi Nyonya Vale-Knight...

Rossi tertawa pelan—sebuah tawa dingin yang tak menyentuh matanya.

Kakaknya, Cathez, telah bertaruh segalanya, bahkan membunuh seorang pria demi mendapatkan status itu selama empat tahun. Dan kini, dalam waktu kurang dari seminggu, Rowan justru menyerahkan posisi itu di telapak tangan Rossi secara sukarela.

"Tentu saja, Rowan... kau harus menjadikanku satu-satunya wanita di hidupmu," gumam Rossi seraya perlahan bangkit dari tempat tidur.

Ia menyibak selimut, berdiri dengan kaki yang sedikit bergetar, lalu melangkah ke arah kamar mandi.

Di depan cermin besar tempat mereka menyatukan gairah di bawah shower beberapa jam lalu, Rossi memandangi bayangan tubuhnya. Ada beberapa jejak keagresifan Rowan di leher dan dadanya. Rossi mengusap perut ratanya dengan jemarinya yang gemetar.

"Tumbuhlah di dalam sana, Sayang..." bisik Rossi pada perutnya sendiri. "Jadilah senjata terkuat Ibu untuk meremukkan Abner Kakekmu."

...°°°°°...

Sementara itu, di pinggiran kota Los Angeles, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan sebuah katedral tua yang terbengkalai.

Di dalam mobil, Abner Widmer duduk di kursi belakang dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Lingkar hitam menyelimuti matanya, dan guratan kesedihan terukir jelas di wajah tegasnya.

Di tangannya, ia masih menggenggam foto lusuh Rossi sewaktu kecil.

"Tuan Besar..." suara asisten pribadinya dari kursi kemudi memecahkan lamunan. "Penyelidik yang kita sebar di wilayah Central Valley telah memberikan laporan awal."

Abner langsung menegakkan tubuhnya. "Bagaimana? Apakah mereka menemukan Rossi?"

Asisten itu menghela napas berat, ragu-ragu untuk menyerahkan berkas di tangannya. "Nona... tidak pernah kembali ke Villa, Tuan."

"Apa?!" suara Abner meninggi, matanya membelalak panik. "Lalu dimana Putriku Sekarang??!"

Tangan Abner yang memegang foto Rossi bergetar hebat. Rasa firasat buruk yang teramat pekat menghantam dadanya hingga ia sulit bernapas.

Abner menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan matanya rapat-rapat saat air mata penyesalan menetesi pipinya yang keriput.

Ia telah membuang waktu bertahun-tahun membiarkan putri kandungnya berada di bawah cengkeraman Mariella demi melindungi Rossi dari persaingan bisnisnya. Ia pikir, memberikan fasilitas uang dan pakaian lewat Mariella sudah cukup untuk menjaga Rossi tetap aman di pedesaan.

Ia tidak pernah menyangka bahwa Mariella—istri mudanya itu—justru menyiksa dan memperlakukan putri tunggalnya bak pelayan.

Dan yang lebih mengerikan, Abner baru mengetahui bahwa selama ini surat-surat kasih sayang yang ia kirimkan untuk Rossi tidak pernah sampai.

Mariella menggantinya dengan surat-surat caci maki dan tuduhan "anak haram" untuk merusak mental Rossi.

"Maafkan Ayah, Rossi..." bisik Abner dengan nada frustrasi yang luar biasa. "Tolong bertahanlah... Ayah akan menemukanmu... Ayah akan menyerahkan seluruh harta dan kekuasaan keluarga Widmer padamu..."

Namun, Abner tidak pernah tahu bahwa putri yang sangat ingin ia selamatkan itu kini berada di tempat yang paling tak terduga—di dalam dekapan menantunya sendiri, sedang menenun benih kehancuran bagi seluruh sisa keluarga Widmer.

...°°°°...

Di sisi lain kota, di sebuah apartemen kumuh yang berbau lembap, Cathez Widmer duduk terpuruk di sudut lantai yang dingin.

Gaun mewahnya kini kotor dan robek di beberapa bagian akibat diseret secara kasar oleh para pengawal Abner semalam.

Rambut pirangnya yang biasanya tertata rapi kini kusut berantakan. Wajah cantiknya pucat pasi, dipenuhi oleh keputusasaan dan kemarahan yang membendung.

Ponsel murah yang dibelinya dari toko kelontong di bawah apartemen berada di genggamannya. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menghubungi beberapa relasi bisnis dan teman-teman elitnya dari kalangan atas.

"Halo? Ini aku, Cathez... Tolong bantu aku, aku butuh—"

Tut... tut... tut...

Panggilan itu diputus secara sepihak sebelum Cathez sempat menyelesaikan kalimatnya. Cathez menjerit histeris, melempar ponsel tersebut ke dinding hingga hancur berkeping-keping.

"Sialan! Semuanya pengkhianat!" jerit Cathez dengan suara melengking yang pecah.

Keluarga Knight telah mengeluarkan instruksi tegas ke seluruh penjuru kota: siapa pun yang berani membantu Cathez Widmer akan berhadapan langsung dengan armada hukum dan finansial milik Vale-Knight Group.

Dalam semalam, Cathez yang dulunya dipuja sebagai sosialita papan atas kini berubah menjadi sampah yang dihindari oleh semua orang.

Namun, bukan kehilangan kemewahan yang membuat Cathez gila.

Yang membuat otaknya mendidih hingga ke batas kegilaan adalah kenyataan bahwa Rowan—pria yang ia daki dengan darah Reagen selama empat tahun—kini secara terbuka menarik seluruh perlindungannya dan membiarkan tim penyidik membuka kembali kasus pembunuhan Reagen.

"Tidak... aku tidak boleh membusuk di penjara!" racau Cathez seraya mencengkeram rambutnya sendiri, matanya membelalak liar. "Rowan milikku! Dia suamiku! Dia tidak boleh meninggalkanku!"

Tiba-tiba, suara ketukan pintu apartemen yang amat keras bergema, mengejutkan Cathez.

BAM! BAM! BAM!

"Cathez Widmer! Buka pintunya! Ini Kepolisian Los Angeles bersama Tim Penyidik Khusus Keluarga Knight!" suara tegas seorang detektif terdengar memantul dari balik pintu.

Tubuh Cathez membeku. Ketakutan yang amat sangat menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Penyelidikan yang selama empat tahun ini berhasil di tutupi Abner... kini benar-benar telah mengetuk pintunya.

Cathez merayap mundur dengan panik, mencari jalan keluar.

Matanya tertuju pada jendela tangga darurat di bagian belakang apartemen. Dengan sisa-sisa tenaganya, Cathez bangkit dan berlari kencang menuju jendela tersebut, meloloskan diri ke dalam kegelapan lorong belakang sebelum polisi berhasil mendobrak pintu depan.

"Aku tidak akan menyerah..." bisik Cathez dengan nada gila sembari menuruni tangga besi dengan terengah-engah. "Jika aku harus hancur... aku akan menyeret semua orang bersamaku! Rowan, Ayah...Kalian jahat!"

Dendam yang merayap di dalam diri Cathez kini berbenturan dengan dendam dingin yang sedang dirancang oleh Rossi.

Dua saudara yang tak pernah saling menyapa itu kini bergerak di bawah bayang-bayang kegilaan yang sama—dengan Rowan Vale-Knight sebagai poros utama dari kehancuran mereka.

...~~~...

Kembali ke penthouse, waktu menunjukkan pukul lima sore.

Rossi yang telah selesai membersihkan diri dan mengenakan gaun sutra berwarna hitam tampak berdiri di depan jendela kaca besar.

Di tangannya, ia memegang segelas susu hangat yang disiapkan oleh Pelayan.

Pintu utama penthouse terbuka dengan bunyi bip elektronik yang halus. Langkah kaki tegap yang sangat dikenalnya melangkah masuk.

Rowan berjalan mendekat, melepaskan jasnya dan melemparkannya begitu saja ke sofa. Wajah pria itu tampak lelah setelah seharian bergelut dengan tim pengacara dan penyidik kepolisian, namun matanya langsung mencari keberadaan Rossi.

Saat melihat Rossi berdiri di dekat jendela dengan latar belakang pemandangan matahari terbenam Los Angeles, tatapan Rowan melunak.

Pria itu berjalan melintasi ruangan, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rossi dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu halus gadis itu.

"Hari yang sangat panjang..." bisik Rowan serak, menghirup aroma harum dari leher Rossi.

"Bagaimana dengan urusanmu?" tanya Rossi pelan, memiringkan kepalanya sedikit agar Rowan memiliki akses lebih mudah ke lehernya.

"Surat penangkapan Cathez sudah diterbitkan," jawab Rowan dingin. "Polisi sedang memburunya. Dia tidak akan bisa kabur keluar dari Los Angeles. Dalam beberapa hari, semuanya akan selesai secara hukum."

Rossi mengutak-atik jemari Rowan yang melingkar di perutnya. "Dan... bagaimana dengan Ayahku? Abner?"

Rowan terdiam sejenak. "Abner mencoba menghubungi—Daddyku—hari ini. Dia memohon agar keluarga Knight tidak menghancurkan sisa bisnis keluarga Widmer. Tapi Daddy menolaknya mentah-mentah. Daddyku sangat murka saat tahu bahwa Kasus kematian Reagen selama ini adalah ulah Abner."

Rossi menyunggingkan senyum tersembunyi. Kehancuran keluarga Widmer sedang berlangsung persis seperti yang ia harapkan.

"Rowan..." panggil Rossi lembut, membalikkan tubuhnya di dalam dekapan pria itu sehingga mereka saling berhadapan.

"Ya?"

Rossi menatap mata Rowan dengan pendar kejujuran yang palsu namun terlihat teramat indah dan polos. Tangannya terangkat, mengusap rahang tegap Rowan yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

"Jika semuanya sudah selesai... jika wanita itu sudah dipenjara dan ayahku sudah hancur... apakah kau benar-benar akan membawaku keluar dari tempat ini?" tanya Rossi lirih. "Apakah kau tidak akan malu memiliki istri yang dibuang dan tidak punya latar belakang seperti ku?"

Rowan menatap Rossi dengan pandangan yang dalam dan intens. Pria itu menyatukan dahi mereka, bernapas dalam udara yang sama.

"Dengarkan aku, Rossi," tegaskannya dengan suara bariton yang mantap. "Mulai Hari ini, Kau adalah satu-satunya wanita yang membuatku merasa hidup setelah empat tahun mati rasa. Latar belakangmu, penderitaanmu... tidak akan pernah mengubah fakta bahwa kau adalah milikku. Aku akan menempatkanmu di puncak tertinggi, di mana tidak ada seorang pun—termasuk Abner—Ayahmu yang bisa menyentuhmu lagi."

Rowan menunduk dan mencium bibir Rossi dengan kehangatan yang begitu pekat dan penuh komitmen.

Di balik ciuman yang mendalam itu, Rossi meremas kemeja Rowan, menikmati rasa manis dari kemenangan pertamanya.

Permainan takdir yang rumit ini baru saja dimulai, dan Rossi tahu... ia telah memenangkan hati sang raja.

1
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!