Pertemuan yang tak baik belum tentu menjadi akhir yang buruk, karna seiring berjalannya waktu perasaan itu pasti akan muncul, contohnya perasaan jatuh cinta dan suka.
seperti kisah Jovandra dan adelliana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annaaluvv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 3
Liana berjalan sembari menghentak hentakan kakinya kesal, lagi lagi dirinya harus pulang berjalan kaki menuju rumahnya hanya karna ayahnya harus rapat terlebih dahulu.
Rumah Liana memang dekat dari sekolah, hanya melewati 9 rumah, 2 gedung dan 1 taman.
Tapi tetap aaja Liana lelah masa harus berakhir jalan kaki selesai sekolah, di tambah ponselnya lowbat hanya tersisa 5 persen, Liana sengaja tak memainkannya untuk berjaga jaga jika ada telpon penting.
Liana iseng iseng lirik ke kanan dan kiri supaya perjalanan pulangnya gak begitu membosankan.
Sewaktu Liana lewatin sebuah gang besar yang biasanya sepi kini terlihat ada kumpulan siswa dengan seragam yang berbeda dari sekolahnya, dan itu,,,
" Joan,,, "
Beberapa saat Liana mengucapkan nama Joan Liana terkejut bukan main sewaktu lihat salah satu siswa yang tak di kenal melayangkan pukulan pada Joan, dan setelah itu terjadilah perkelahian.
" Kenapa kalau dia lagi gini selalu ada gue sih ah, tolong jangan ya,,, "
Liana pun memilih untuk mendekat dan sembunyi di balik pohon terlebih dahulu, Liana menutup mulutnya terkejut meringis tak tega saat melihat perkelahian itu, Liana takut karna perkelahian itu bisa memakan korban.
Jahat banget.
Tiba tiba otak Liana muncul sebuah ide, Liana pun mengeluarkan ponselnya dan mencari suara sirine polisi untuk membuat 2 siswa yang tak di kenal itu panik dan pergi.
Saat suara sirine itu terdengar kedua siswa itu tak panik yang Liana lihat justru kedua siswa yang menghajar joan mencari keberadaan suaranya, Liana mendesah kecewa, salah satu dari mereka juga tau keberadaan Liana dan tentu Liana kaget dan cepat cepat kembali bersembunyi.
Liana simpan ponselnya di saku almamaternya " Ah, gimana dong " Gumam Liana.
" Woi keluar Lo! "
Liana tersentak mendengar suara bentakan Dari salah satu cowo jahat itu, Liana refleks ambil kayu panjang yang ada di dekat pohon itu, Liana natap kayu yang dia pegang sesaat " Anjir bodo amat "
Liana keluar dari persembunyiannya dan...
" AAAAAAAA AWAS LO! " Liana berlari membabi buta sembari mengangkat kayunya tinggi tinggi " Awas Lo sialan!! Pergi Lo pergi gak! " Teriak Liana sembari menodongkan kayunya mengancam memukul kedua lelaki itu.
" AYO SINI GUA TIMPUK PALA LO! MAU HAH!!! " Ancam Liana menipu akan memukulkan kayunya pada mereka.
" Gausah ikut campur deh ini urusan cowo, Lo mending ikut kita nanti ya gausah tolong dia " ujar salah satu lelaki berambut hitam pekat.
" Berisik Lo, pergi gak!! " Bentak Liana, buat Liana semakin menodongkan kayunya, masalahnya dia juga takut takut berani.
" Galak bener cantik cantik "
Tiba tiba tangannya di Genggam kuat Liana lihat Joan menggenggam pergelangan tangan dia, Joan pun dengan cepat menarik Liana dan berlari tanpa kasih sinyal atau aba aba buat Liana, kayu yang di pegang Liana terhempas dan mendarat tepat di kaki salah satu cowo tadi.
Joan terus menarik Liana berusaha melarikan diri, Liana melihat sekilas ke arah belakangnya untuk memastikan dan benar saja mereka masih mengejar.
Joan berbelok ke arah ruko Yang masih tertutup, Liana memperhatikan Joan yang sekarang naik ke atas motornya dan menyalakan mesin motornya.
" Cepet naik Li! " Sentak Joan, tanpa pikir lama Liana naik ke atas motor.
Lagi lagi Joan menancapkan gasnya tanpa aba aba sampai Liana hampir terjungkal dan berakhir memeluk badan Joan, Liana gak peduli sama apa yang dirinya lakukan sekarang, masa bodo soal pelukannya, Liana masih kebingungan setelah melarikan diri tadi.
Laju motornya begitu cepat, Joan sekarang kaya gak takut mati selama melarikan diri dengan motornya itu, sampai Liana tak bisa berpikir lain lain lagi selain memeluk erat badan Joan.
Joan menghentikan motornya, Liana segera melepaskan pelukannya dan turun, dirinya belum sadar ada dimana, demi apapun Liana merasa tak karuan otaknya mendadak error.
Joan turun dia buka helmnya sarkas, sewaktu Liana melihat joan mendekatinya Liana merasa Joan ingin sekali menerkam dan memakan Liana hidup hidup.
Liana tersentak kaget sewaktu Joan memegang kuat kedua bahunya sampai tubuh Liana bergoyang " Lo tau gak sih kalo itu bahaya! "
" Kenapa Lo muncul! Gue bahkan gak peduli gue selamat apa ngga, Kalo Lo yang kena gimana hah! "
" Mereka cowo sedangkan Lo cewe, mikir dong Lo, itu bahaya ngerti gak! " Ujar Joan bertubi tubi.
Liana cuma bisa membeku natap Joan, melihat joan semarah itu buat Liana terkejut bukan main " T-tapi Jo,, "
Joan menundukkan kepalanya, menghela nafasnya kasar " maaf,,, gue kelewatan " ujarnya lalu dia lepas cengkraman kedua tangannya dari bahu Liana.
Liana kebingungan saat Joan tiba tiba genggam tangannya dan bawa Liana masuk kedalam rumah tempat mereka berhenti, Liana cuma bisa mengikuti dari pada kena marah lagi, ingin protes tapi Liana kepalang takut apalagi setelah kejadian joan marah tadi.
Sesampainya di dalam rumah liana memperhatikan area dalam rumahnya, suasananya begitu sepi dan sama sekali tak melihat seorang pun yang lakuin aktivitas di dalam sana, Liana sedikit tak percaya melihat rumah sebesar itu namun dalamnya begitu sepi dan sunyi.
" Yolaaa! Ambil kotak p3k! " Teriak Joan seraya membawa Liana menuju ruang tengah, dan juga Joan yang belum lepasin genggaman tangannya, bahkan Liana masih terlihat nyaman nyaman saja tangannya ada di genggaman Joan.
Berselang beberapa detik seorang gadis muda datang, berjalan menghampiri mereka berdua.
" Kenapa kak? " Tanyanya, Yolla namanya, Yolla tersenyum ke arah Liana dan kasih lambaian tangan, Liana balas dengan lambaian tangan juga dan dia pun gak lupa untuk tersenyum ramah.
" P3k dimana, bawa sini " pinta Joan lalu duduk dan akhirnya genggaman itu terlepas.
Yolla adik Joan mengangguk lalu berjalan mencari apa yang di pinta Joan tadi.
Liana pun akhirnya memberanikan diri bersuara " p3k? Lo luka lagi? " Tanya Liana.
Joan menoleh menatap Liana sejenak sebelumnya akhirnya menarik tangan Liana lalu menunjukkan luka lecet di telapak tangan milik Liana.
Liana sendiri tak tahu dan baru sadar sewaktu Joan tujukin kalau di telapak tangannya ada luka lecet.
Tak lama Yolla kembali dan ikut duduk di sana, kotak p3knya Yolla simpan di atas meja " nih " Ujarnya, dan Yolla berdiri lagi.
Joan maupun Liana natap Yola bingung.
Yolla tiba tiba menepuk jidatnya, semakin buat Joan sama Liana yang memang memperhatikan yolla tambah bingung " Lupa bikin minum hehe " Kata Yolla dan pergi menuju dapur untuk membuat minuman.
Joan menggelengkan kepalanya heran, Dasar adiknya itu Joan kira apa.
lalu Joan pun lanjut buat cari plaster di dalam kotaknya, setelah menemukannya Joan memasangkan plasternya di telapak tangan Liana.
" Lain kali kalau ada dan Liat kejadian kaya gitu gausah Lo deketin, jangan berusaha tolong orang kalau hal itu juga bahaya buat diri Lo sendiri " Ujar Joan selesai memasangkan plasternya.
Liana menatap plaster di tangannya sejenak lalu melirik ke arah Joan Yang kesulitan memasang plaster di bahunya sendiri, Liana yang lihat keadaan Joan yang lagi kesulitan itu pun langsung mengambil alih plasternya dan bantu Joan.
" Gue reflek aja waktu liat itu Lo, ya seegaknya Lo bisa selamat hari ini dari pada Lo besok sekolah muka Lo babak belur " Ujar Liana, Liana selesai memasangkan plaster itu di bahu Joan lalu mengambil bungkus bekas plasternya.
" Intinya ga ada lain kali, gue gak akan tanggung jawab kalo itu terjadi lagi, Lo seharusnya mikir kalau di saat Lo tolong seseorang dan dia selamat sedangkan Lo ngga,,, apa dia bakal hidup tenang? Yang ada merasa bersalah karena buat Lo masuk kedalam masalah seseorang yang buat masalah itu "
" Iya dih, gatau berterima kasih banget " Liana bersandar kesal, lagi lagi kebaikannya di anggap seperti itu, lakuin hal itu pun agar tak ada kasus menyeramkan terjadi di dekat sekolahnya, dan juga Liana mengenal Joan bagaimana pun keadaan tadi darurat dan bahaya.
Liana juga tak mau kepikiran jika melihat hal seperti beberapa saat lalu terjadi tapi Liana hanya melihat dan pergi, sama saja Liana tak punya hati.
" Lagian kita gak begitu akrab dan hubungan Lo sama gue juga gak baik, kenapa Lo justru niat banget tolong gue " Liana hendak menjawab, tapi Joan lebih dulu melanjutkan ucapannya.
" Buat sementara waktu Lo harus ada di Deket gue, mereka pasti lagi incer Lo " Joan menolehkan kepalanya, menatap Liana yang tengah bersandar dengan raut wajah kebingungan.
Liana kembali menegakan tubuhnya
" Kenapa incer gue?, seharusnya mereka takut dong bisa aja mereka mikir gue lapor mereka kan? "
" Intinya ada- "
" Iya apa!? "
" Karna Lo cewe, gue ga akan diem aja kalau itu cewe, terlebih lagi lo cantik mereka pasti bakal cari dan jadiin Lo mainan mereka " Jawab Joan.
" Katanya gue gak ada kalemnya gak anggun, gak akan ada yang tertarik sama gue kenapa sekarang Lo bilang gue cantik, gengsi lagi pas sebut kalo gue cantik " Celoteh Liana tak mengerti mengapa Joan seperti itu, hari kemarin begini sekarang begitu.
" Bawel, mana no hp Lo biar gue save kalo ada apa apa dan ketemu mereka lagi telpon gue, jangan gegabah! " Ujar Joan lalu memberikan ponsel miliknya pada Liana.
Liana pun menurut dan segera meraih ponselnya untuk menyimpan nomor miliknya di kontak Joan, lalu memberikan ponselnya kembali pada Joan.
" Lo tunggu di sini nanti Yolla temenin Lo, gue ganti dulu abis itu gue anter Lo pulang " tanpa menunggu balasan Liana Joan pergi begitu saja meninggalkan Liana di ruang tengah.
Seperti apa yang Joan bilang, Yolla, Adik Joan kini menemani Liana di ruang tengah setelah beberapa saat Joan pergi.
" Yollanda, panggil aja Yolla kak " Yolla mengulurkan tangannya pada Liana saat hendak duduk di samping Liana.
Liana tersenyum sembari membalas uluran tangan Yolla " Liana, btw kelas berapa? "
Yola mengangkat kedua kakinya lalu duduk bersila di atas sofa " 10 kak " Jawab Yolla
Yolla mendekati Liana, matanya melirik ke arah kamar Joan yang terletak di lantai atas memastikan jika kakaknya belum keluar
" Oh iya ka Liana,,,, pacar ka Joan ya? "
...TO BE CONTINUED ...