Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
"Yah, Ma, Lilis sama Mas Arka pamit pulang sekarang, ya," ucap Lilis lembut sambil mendekat ke arah kedua orang tuanya.
Rita tampak sedikit kecewa mendengar putrinya akan langsung pergi. "Kenapa nggak menginap di sini saja? Kan sudah malam, besok pagi juga bisa pulangnya," tawarnya berharap sang anak bisa tinggal lebih lama.
Arka kemudian memberikan penjelasan dengan sopan kepada ibu mertuanya.
"Bukannya ngga mau, ma. tapi besok Arka ada jadwal di rumah sakit pagi-pagi sekali. Arka juga tidak membawa pakaian ganti ke sini tadi," jelasnya.
Jefri yang mengerti kesibukan menantunya pun mengangguk paham. "Iya, tidak apa-apa. Tugas di rumah sakit tidak bisa ditinggal. Hati-hati di jalan, ya."
Lilis kemudian bersalaman pada ibunya dan ayahnya juga Rafka.
"Hati-hati ya, jangan ngebut," pesan Jefri sekali lagi sambil menepuk bahu Arka.
"Siap, Yah," jawab Arka.
Sesampainya di samping mobil, Arka mendahului Lilis. Dengan gerakan yang sigap namun lembut, ia membukakan pintu untuk istrinya. Arka berdiri menunggu sampai Lilis duduk dengan nyaman di dalam.
"Terima kasih, Mas," bisik Lilis sambil tersenyum dari balik cadarnya.
Arka menutup pintu dengan pelan, lalu memutar masuk ke kursi kemudi. Sebelum mulai menjalankan mobil, Arka membunyikan klakson pendek sebagai tanda pamit.
Tiiiit!
Lilis membuka sedikit kaca jendela dan melambaikan tangan ke arah keluarganya yang masih berdiri di teras.
"Kami pulang dulu Yah, Ma, dek" ucap Lilis.
"Hati-hati di jalan. Kabari mama kalo udah sampe."
Mobil pun perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah, membawa mereka kembali ke rumah mereka sendiri.
Mobil Arka berhenti dengan tenang di depan rumah mereka yang sunyi. Begitu mesin mati, Arka menoleh ke arah istrinya yang tampak sedikit menyandarkan kepala di kursi.
"Capek nggak?" tanya Arka lembut sambil mematikan lampu mobil.
Lilis menegakkan duduknya dan tersenyum kecil. "Nggak, Mas. Tapi... ya, capek dikit."
"Mau langsung istirahat?" tanya Arka lagi sambil membuka pintu dan beralih ke bagasi untuk mengambil tas berisi pakaian lama Lilis.
"Aku beresin tas ini dulu sebentar," jawab Lilis saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
Arka membawa tas yang cukup berat itu langsung ke dalam kamar dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Ini semua baju lama kamu, kan?"
Lilis mengangguk sambil mulai membuka ritsleting tasnya. "Iya Mas, ini baju-baju tidur aku yang lama."
Arka memperhatikan tumpukan pakaian itu sejenak, lalu menatap Lilis. "Kenapa nggak beli yang baru saja, Sayang? Nanti kita cari yang lebih bagus kalau kamu mau."
Lilis tertawa kecil sambil mengeluarkan satu per satu bajunya.
"Sayang, Mas. Ini semua masih bagus-bagus, warnanya juga belum pudar. Lagian kalau nggak dipakai lagi, kan sayang mubazir. Lebih baik uangnya ditabung saja untuk yang lain."
Arka mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang memperhatikan istrinya yang sangat hemat itu.
"Istriku ini pintar sekali mengatur uang ya. Tapi Mas benar-benar tidak keberatan kalau kamu mau belanja baju baru. Mas ingin kamu merasa nyaman."
"Aku nyaman-nyaman saja kok pakai baju ini. Selama di rumah dan di depan Mas, baju apa pun yang aku pakai rasanya sama saja, yang penting bersih."
Arka tersenyum mendengar jawaban itu. Ia menarik tangan Lilis pelan agar istrinya berhenti merapikan baju. "Ya sudah, kalau itu maumu. Tapi janji ya, kalau ada yang sudah rusak atau ada sesuatu yang ingin kamu beli bilang sama Mas. Jangan dipendam sendiri."
"Iya, Mas Arka. Janji," sahut Lilis.
Arka duduk di pinggir ranjang, memperhatikan Lilis yang masih sibuk mengeluarkan pakaian dari tas. Jam di dinding sudah menunjukkan larut malam, dan ia bisa melihat gurat kelelahan di wajah istrinya.
"Sudah, lanjut besok saja beresinnya, Sayang. Ayo istirahat," ajak Arka lembut.
Lilis menggeleng pelan tanpa menghentikan tangannya. "Tanggung, Mas, sedikit lagi selesai kok. Biar besok pagi kamar sudah rapi."
Bukannya memaksa Lilis untuk berhenti, Arka justru bergeser mendekat dan ikut meraih tumpukan baju di dalam tas.
"Ya sudah, sini Mas bantu biar cepat selesai," ucap Arka.
Lilis sempat tertegun melihat suaminya yang biasanya kaku itu kini ikut sibuk memegang baju-baju tidurnya.
"Eh, nggak usah, Mas. Biar aku saja."
"Nggak apa-apa. Kalau dikerjakan berdua kan lebih cepat," sahut Arka santai.
"Terima kasih ya, Mas. Mas baik sekali."
"Sama-sama. Makanya, cepat selesaikan ini, lalu kita tidur. Mas nggak mau lihat kamu bangun kesiangan besok," balas Arka sambil meletakkan lipatan baju terakhir ke dalam lemari.
Setelah semua pakaian rapi di lemari, Arka dan Lilis bergantian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan piyama yang lebih nyaman. Arka keluar lebih dulu, kemudian disusul oleh Lilis yang kini sudah mengenakan baju tidur pilihannya.
Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan kesan hangat di ruangan itu. Arka memiringkan badannya, menatap Lilis yang juga tengah menatapnya dengan lembut.
Tiba-tiba, Arka meraih tangan Lilis dan menggenggamnya. "Kamu sayang nggak sama aku, Lis?" tanya Arka tiba-tiba.
"Kenapa Mas nanya gitu?"
"Nggak apa-apa. Jawab dulu pertanyaan Mas," desak Arka.
"Emmm... Mas Arka kan sudah jadi suami aku. Aku juga sudah memberikan segalanya untuk Mas. Itu jawabannya," jawab Lilis.
Mendengar itu, Arka menarik Lilis ke dalam pelukannya. Ia membawa kepala istrinya bersandar di dadanya yang bidang. Arka mendekapnya erat, seolah tak ingin ada jarak sedikit pun di antara mereka.
"Mas sayang dan cinta sekali sama kamu, Lis. Sangat cinta," bisik Arka tepat di telinganya.
Lilis bisa merasakan detak jantung Arka yang berdegup kencang, sama seperti miliknya. Rasa aman dan nyaman menyelimuti hati Lilis saat tangan kokoh suaminya mengusap lembut punggungnya.
"Terima kasih sudah ada di sini, sudah jadi istri Mas," lanjut Arka lagi. Ia mencium puncak kepala Lilis dengan penuh perasaan.
"Sayang adek selamanya."
Lilis mendongak kecil di dalam pelukan Arka, menatap suaminya dengan ekspresi sedikit bingung sekaligus geli.
"Kok panggilnya adek sih, Mas?" tanya Lilis sambil menahan senyum.
"Kan aku panggilnya Mas Arka."
Arka menurunkan sedikit pandangannya, menatap wajah istrinya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Kenapa nggak boleh?"
"Ya... nggak tahu, rasanya gimana gitu," sahut Lilis pelan.
"Dulu kamu juga panggil Mas itu Abang, dan kamu Mas panggil Adek. Sama persis seperti Mas panggil Tiara," ucap Arka mengingatkan kenangan masa kecil mereka saat mereka masih sering bermain bersama.
Lilis tertawa kecil sambil sedikit menyembunyikan wajahnya di dada Arka. "Kan itu dulu, Mas. Kita kan sekarang sudah nikah, sudah jadi suami istri."
Arka sengaja memasang wajah pura-pura kecewa, meski matanya tetap terlihat jenaka. "Jadi kamu nggak mau dipanggil sayang seperti itu?"
"Mau, Mas... tapi geli saja didengarnya kalau pakai sebutan adek," jawab Lilis jujur, wajahnya kini benar-benar memerah karena malu.
Arka justru semakin gemas melihat reaksi istrinya. Ia semakin merapatkan pelukannya dan membisikkan kata-kata itu lagi tepat di telinga Lilis dengan nada yang lebih menggoda.
"Geli atau suka? Tapi buat Mas, kamu akan selalu jadi adek kecil yang harus Mas jaga, meskipun sekarang statusmu sudah jadi istri Mas."
Lilis tidak bisa membalas lagi. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang panas di balik pelukan hangat Arka, merasakan kebahagiaan sederhana yang meluap-luap malam itu.