Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Semua informasi tentang Nona Queen ada di sini, Tuan." ucap Rayden.
Ruangan Nial Percy diselimuti keheningan yang mencekam, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan aroma kopi hitam yang kuat.
Tepat pukul 7 pagi, Nial sudah meninggalkan mansion dan bertolak ke gedung Percy Group karena Rayden memintanya datang untuk sesuatu yang sangat penting—sesuatu menyangkut wanita yang kini menduduki pikirannya.
"Berikan padaku!" Titah Nial.
Rayden langsung menyerahkan sebuah map kulit hitam yang di dalamnya terdapat biodata dan segala sesuatu tentang Queen.
Nial menerimanya dengan wajah tanpa ekspresi, namun sorot matanya yang tajam mengisyaratkan ketidaksabaran. Tanpa membuang waktu, ia segera membuka map tersebut.
Queen Lexian Arresta.
Nial membeku. Nama itu seolah melompat dari kertas dan menghantam dadanya dengan telak. Jantung Nial, yang biasanya berdetak dengan ritme yang tenang dan terkontrol, mendadak berdegup kencang—sebuah dentuman yang begitu keras hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokan.
"Arresta?" desis Nial. Suaranya terdengar parau, sarat dengan ketidakpercayaan yang mendalam.
Tangannya yang memegang map itu mengeras hingga buku - buku jarinya memutih.
Matanya terpaku pada nama belakang itu—nama keluarga yang baru saja menandatangani kontrak kerja sama senilai jutaan dolar dengannya kemarin.
Rayden mengangguk kecil, wajahnya menunjukkan simpati sekaligus ketegangan. "Benar, Tuan. Nona Queen merupakan putri bungsu dari Louis Arresta. Menurut informasi yang saya dapat, dia tengah dipersiapkan untuk sebuah pernikahan aliansi dengan Armand Chaleb."
Nial menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, namun tubuhnya terasa kaku. Seluruh oksigen di ruangan itu seolah tersedot keluar.
Bayangan wajah Queen yang datang menawarkan diri di kantornya, ketakutan saat wanita itu masuk ke mobilnya, air matanya saat melihat salju, dan cara wanita itu menggodanya di kantor kemarin ... semuanya berputar di kepala Nial seperti potongan puzzle yang mulai menyatu membentuk gambaran yang mengerikan.
"Armand Chaleb..." Nial mengulang nama itu dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti geraman. "Penguasa otoritas pelabuhan itu?"
"Tepat, Tuan. Pernikahan itu seharusnya menjadi penjamin jalur logistik Arresta Group untuk sepuluh tahun ke depan. Namun, Nona Queen melarikan diri tepat beberapa hari sebelum pengumuman resmi," tambah Rayden.
Nial tertawa pendek, namun itu adalah tawa paling dingin yang pernah didengar Rayden. Jantungnya yang tadi berpacu kini perlahan melambat, namun berubah menjadi dingin yang membeku.
"Luar biasa," gumam Nial sambil menatap foto Queen yang tampak begitu anggun dan berkelas dalam dokumen itu. "Jadi, dia bukan gadis malang yang dikejar karena merusak barang. Dia adalah putri mahkota Arresta yang sedang memainkan peran sebagai korban untuk berlindung di balik kekuasaanku."
Pikiran Nial kembali bekerja liar. Apakah keberadaan Queen di sisinya murni hanya sebuah kebetulan, atau justru sebuah strategi licik dari Louis Arresta?
Apakah Queen adalah "umpan" yang sengaja dilepaskan agar Nial merasa terikat secara emosional dan tidak membatalkan investasi besarnya pada perusahaan ayahnya?
Tepat saat kecurigaan itu mulai membakar logikanya, ponsel di atas meja bergetar—sebuah panggilan masuk dari salah satu pelayan senior di mansionnya.
Nial menatap layar itu sejenak lalu menggeser layar, menjawab panggilan itu tanpa mengeluarkan suara.
"Nial? Kau di mana? Kenapa pergi tanpa membangunkanku?" Suara Queen terdengar di seberang sana.
Nial memejamkan mata, rahangnya terkatup rapat. "Aku ada urusan mendadak. Kau istirahatlah di rumah hari ini. Aku memiliki jadwal meeting yang padat di luar kantor sepanjang hari, jadi kau tidak perlu ikut."
"Tapi ... bukankah aku harus bekerja sebagai sekretarismu? Aku bisa menyusul—"
“Tidak perlu,” potong Nial tegas, tanpa memberi ruang untuk dibantah. “Dengarkan apa yang aku katakan. Istirahatlah.”
Klik.
Panggilan itu terputus.
Tanpa ragu, Nial melempar ponselnya ke atas meja hingga benda itu bergeser kasar di permukaannya.
Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, gerakannya penuh tekanan, seolah berusaha menekan gejolak emosi yang mulai tak terkendali—amarah, kecewa, dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar itu.
Rayden yang berdiri tak jauh darinya, menatap dalam diam. Untuk pertama kalinya, ia melihat retakan pada sosok Nial yang selama ini selalu tampak tak tergoyahkan.
Dan ironisnya, semua itu … disebabkan oleh seorang wanita.
"Rayden."
"Ya, Tuan."
"Hubungi pihak Arresta," suara Nial merendah. Ia berdiri, membelakangi Rayden sambil menatap tajam ke arah gedung - gedung pencakar langit yang mulai diselimuti kabut pagi. "Katakan bahwa aku ingin bertemu dengan pemimpin tertinggi mereka. Sekarang."
Rayden tak perlu bertanya dua kali. Ia tahu betul siapa yang dimaksud bosnya.
Louis Arresta.
"Baik, Tuan." Rayden menunduk hormat dan segera melangkah keluar untuk mengeksekusi perintah tersebut.
•••
Makan siang di restoran privat yang menghadap ke arah dermaga itu terasa seperti jamuan di atas medan perang yang tenang.
Louis Arresta masuk dengan langkah penuh percaya diri.
"Selamat siang, Tuan Percy. Senang bertemu Anda kembali. Aku tidak menyangka Anda akan mengundangku secara pribadi untuk makan siang bersama."
Nial bangkit sedikit, memberikan gestur formal yang kaku. "Selamat siang. Silakan duduk, Tuan Arresta."
Pelayan mulai menyajikan appetizer dan menuangkan wine ke gelas kristal mereka.
Louis berdehem pelan, raut wajahnya berubah menjadi sedikit menyesal.
"Sebelum kita mulai, aku ingin minta maaf secara pribadi karena tidak hadir saat penandatanganan kontrak kemarin. Aku sedang menangani masalah keluarga yang cukup pelik menyangkut putri saya,"
Louis menghela napas pendek, seolah sedang memikul beban berat. "Anda tahu sendiri, anak muda zaman sekarang terkadang sulit dikendalikan."
Rayden, yang duduk di kursi seberang, melirik Nial dengan sudut matanya. Ia mencari tanda-tanda ledakan emosi di wajah bosnya, namun Nial tetaplah sang Ice King. Ia hanya mengangguk tipis, menyesap wine-nya dengan tenang seolah cerita Louis hanyalah kebisingan latar belakang.
"Berbicara soal putri Anda..." Nial berkata. "Queen Lexian Arresta. Benar, bukan?"
Louis sedikit tersentak saat Nial menyebutkan nama lengkap putrinya dengan begitu detai. "Anda ... mengenalnya?"
"Siapa yang tidak mengenal 'Permata Arresta'?" Nial menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak seperti pujian namun terasa sangat berbahaya.
Senyum bangga tersungging di wajah Louis.
"Hanya saja..." lanjut Nial. "Aku memiliki rasa penasaran yang sedikit lebih ... pribadi, Tuan Arresta."
"Maksud Anda?" Louis terlihat penasaran.
"Apa putri Anda tidak sedang terikat dengan siapapun?"
Dahi Louis berkerut dalam. Ia sempat kehilangan kata-kata sejenak sebelum buru-buru merubah ekspresinya kembali menjadi senyum ramah yang diplomatis.
"Ya ... dia masih sendiri," jawab Louis akhirnya, meski ada nada ragu yang terselip di sana.
Nial menelan wine-nya dalam satu tegukan besar, lalu menaruh gelasnya di atas meja dengan bunyi klunting yang tegas. Ia memajukan tubuhnya, menatap Louis dengan intensitas yang mampu mengintimidasi siapa pun.
"Benarkah? Kalau begitu, jika Anda berkenan, aku ingin mengenalnya secara pribadi. Kabar yang kudengar mengatakan bahwa putrimu memiliki kecantikan yang luar biasa. Rasanya sia-sia jika wanita sepertinya dibiarkan tanpa pendamping yang sepadan."
Uhukk!
Rayden tersedak ludahnya sendiri dan terbatuk kecil. Ia terpaksa menutup mulutnya dengan sapu tangan, benar-benar tak menyangka Nial akan meluncurkan umpan seekstrim itu di depan ayah Queen.
Senyum ramah di wajah Louis seketika luntur. Ia meletakkan garpunya, menatap Nial dengan keseriusan yang baru.
Dalam otaknya, Louis sedang menimbang-nimbang dengan cepat. Jika disandingkan, Nial Percy adalah predator di puncak rantai makanan. Jika dibandingkan dengan Armand Chaleb yang tua dan licin, Nial menang dalam segala hal—kekayaan, pengaruh, hingga fisik. Menjadikan Nial sebagai menantu adalah mimpi setiap pengusaha di negara ini.
Namun, raut wajah Louis perlahan menggelap. "Tuan Percy, pujian Anda sungguh sebuah kehormatan," suara Louis merendah. "Jika keputusannya ada di tanganku, aku akan dengan senang hati menjodohkan Queen dengan Anda hari ini juga. Tapi..." Louis menjeda, "keputusan tentang masa depan Queen mutlak berada di tangan istriku. Dan istriku ... dia memiliki pandangan tersendiri mengapa ia bersikeras memilih Armand Chaleb sebagai calon suami putri kami."
Nial menyipitkan matanya. "Istri Anda? Jadi, seorang Louis Arresta pun tunduk pada pilihan istrinya dalam hal aliansi bisnis?"
Louis tertawa pahit. "Ini bukan sekadar aliansi, Tuan Percy. Ada sebuah janji masa lalu yang melibatkan Tuan Chaleb, dan istriku percaya bahwa hanya dengannya, posisi Queen akan tetap aman."
"Begitu ya?" Nial menyandarkan punggungnya kembali, sebuah senyum sinis yang tersungging di bibirnya.
[Janji masa lalu?] batinnya.
•••
Pukul 8 malam.
Nial belum juga kembali. Sejak panggilan telepon singkat tadi pagi, pria itu seolah lenyap ditelan kesibukan.
Queen sempat kepikiran untuk menghubungi Nial kembali, namun ia tidak menghafal nomor pria itu. Ia juga ingin meminjam ponsel pelayan senior tadi, namun sayangnya semua pelayan sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing sejak sore hari, meninggalkan Queen sendirian dalam kecemasan yang membuncah.
Tepat saat ia hampir menyerah pada rasa gelisahnya, suara deru mesin mobil terdengar di pelataran.
Cahaya lampu depan menyapu jendela, menandakan sang pemilik rumah telah kembali. Queen segera berlari menuju pintu depan. Namun, langkahnya terhenti saat pintu terbuka.
Nial tidak berjalan dengan langkah tegap seperti biasanya. Ia tampak sempoyongan, tubuhnya yang gagah kini bersandar berat pada bahu Rayden yang berusaha keras menopangnya.
"Nial? Apa yang terjadi?" Queen menghampiri dengan wajah khawatir, tangannya terulur ingin membantu namun ragu. "Kenapa dia seperti ini?"
Rayden menghela napas panjang, wajahnya tampak kelelahan. "Tuan sedang mabuk, Nona. Pertemuan dengan klien siang tadi ... sedikit lepas kendali," Itu satu - satunya alasan yang paling baik untuk menetralkan situasi saat ini.
Nial perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sayu dan kemerahan. Saat menyadari sosok Queen berdiri di depannya, sebuah senyum tipis yang terasa asing dan getir muncul di bibirnya.
Nial melepaskan diri dari pegangan Rayden kemudian melangkah maju, sedikit terhuyung, lalu berhenti tepat di depan Queen.
Tanpa peringatan, ia mengangkat kedua tangannya, menangkup pipi Queen dengan telapak tangan yang terasa panas—kontras dengan udara malam yang dingin.
"Ah ... ini dia," bisik Nial, suaranya parau dan beraroma alkohol yang kuat. Ia menatap lekat Queen, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang di sana. "Aktris kecilku yang cantik..."
"Nial, kau mabuk. Ayo, kita ke kamar," ucap Queen lembut, mencoba meraih tangan pria itu.
Nial tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar dingin di telinga Queen. "Kau tahu, Queen? Kau sungguh luar biasa. Kau masuk ke hidupku, lalu ... menipuku dengan begitu ind—"
"Tuan! Anda sudah sangat mabuk!" Rayden segera memotong ucapan Nial dengan suara lantang, matanya menatap Nial dengan penuh peringatan. Ia tahu jika Nial melanjutkan kalimatnya, identitas asli Queen akan terbongkar malam ini juga dalam situasi yang salah.
Rayden kemudian menoleh pada Queen dengan ekspresi tegang. "Nona, biarkan saya membantu membawa Tuan ke kamarnya. Dia tidak sadar dengan apa yang dia bicarakan."
Queen terdiam sejenak, menatap Nial yang kini bersandar padanya. Napas lelaki itu terasa memburu. Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan saat melihat Nial dalam kondisi serapuh ini.
"Tidak, Rayden. Pulanglah," ucap Queen tanpa mengalihkan pandangan dari Nial. "Ini sudah malam, kau juga pasti lelah. Biar aku yang mengurusnya di sini."
Rayden sempat ragu. Ia tahu kemarahan Nial sedang berada di puncak, dan membiarkan Queen berdua saja dengan pria yang sedang patah hati sekaligus dendam adalah risiko besar. Namun, melihat cara Queen memegang lengan Nial dengan penuh perhatian, Rayden akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah, Nona. Tolong berhati - hatilah. Jika ada apa - apa, segera hubungi saya melalui telepon rumah," pesan Rayden sebelum akhirnya melangkah mundur dan meninggalkan kediaman itu.
Pintu tertutup rapat. Kini hanya ada mereka berdua di tengah kesunyian mansion. Nial kembali menangkup wajah Queen, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci, h*srat, dan luka yang mendalam.
"Kenapa kau tidak pergi saja, Queen?" bisik Nial lagi, suaranya nyaris hilang. "Kenapa kau masih di sini ... setelah apa yang kau lakukan?"
Deg!
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰