Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk Penatua Wu
Tangan kiri Huang bergerak bagai kilat, mencengkeram ujung tongkat tulang Wu Feng dengan sangat kuat hingga senjata magis tingkat tinggi itu langsung retak dan hancur menjadi serpihan.
"Apa?! Kau bisa keluar dari ilusi itu dalam sekejap?!" Wu Feng menjerit ketakutan. Untuk pertama kalinya, insting bertahan hidup dari seorang tetua Jiwa Nascent berteriak histeris di dalam kepalanya. Aura ungu yang memancar dari tubuh Huang saat ini... bukan lagi sesuatu yang bisa ditandingi oleh Ranah Formasi Inti mana pun. Itu adalah penindasan kasta garis keturunan yang absolut!
Huang tidak memberikan waktu bagi Wu Feng untuk mencerna ketakutannya. Energi Asura murni meledak dari Dantiannya, mengalir ke tangan kanannya yang kini diselimuti petir ungu yang merobek ruang hampa udara di sekeliling mereka.
"Tinju Pembalik Surga: Putaran Kedelapan, Pemusnah Keberadaan!"
Pukulan Huang meluncur, membawa seluruh keagungan dan kemarahan ras kuno yang telah terbangun dari tidurnya. Pukulan ini begitu cepat dan berat hingga waktu seolah-olah melambat di mata Wu Feng yang melebar penuh keputusasaan.
BOOOOOOOOOOMMMMMMMM!
Ledakan energi ungu raksasa menelan tubuh Wu Feng dan meruntuhkan seluruh halaman dalam kuil kuno tersebut. Pilar cahaya ungu pekat kembali membubung tinggi, merobek awan badai merah di langit Lembah Dewa Jatuh.
Ketika cahaya itu memudar, Penatua Wu Feng—seorang master hebat dari faksi Gagak Hitam—telah lenyap sepenuhnya dari dunia ini, hancur menjadi abu spiritual tanpa menyisakan sepotong tulang pun. Hanya bola kristal hitamnya yang kini retak, berguling jatuh di atas tanah yang hangus.
Huang berdiri di tengah kawah ledakan, tato tiga sayap di dahinya bersinar redup sebelum akhirnya menghilang kembali di bawah kendali Kitab Pembalik Surga. Dia menarik napas dalam-dalam, menstabilkan gejolak darah Asura-nya, lalu memungut bola kristal yang retak tersebut.
Di kejauhan, belasan murid faksi Gagak Hitam yang sedang bertarung dengan Elysa dan Mu langsung menjatuhkan senjata mereka. Wajah mereka pucat pasi bagai mayat, tubuh mereka bergetar hebat melihat tetua agung mereka tewas dalam satu pukulan oleh seorang pemuda manusia. Tanpa komando, mereka semua berbalik dan melarikan diri tunggang-langgang ke dalam kegelapan lembah.
Mu berdiri terpaku dengan pedang raksasanya yang masih terangkat, tenggorokannya naik turun menelan ludah. Sementara Elysa menatap punggung Huang dengan tatapan yang dipenuhi kompleksitas emosi yang mendalam. Mereka berdua menyadari, Lin Huang yang berdiri di depan mereka bukan lagi sekadar murid jenius dari akademi—dia adalah perwujudan dari badai masa lalu yang kini telah siap menuntut balas kepada dunia modern.
Hening yang mencekam menyelimuti reruntuhan kuil batu hitam itu. Sisa-siga petir ungu masih memercik samar di tanah yang hangus, perlahan-lahan lenyap tertutup oleh debu belerang.
Huang membalikkan badannya dengan tenang. Semburat warna ungu di pupil matanya telah sepenuhnya larut, berganti dengan sepasang mata hitam pekat yang jernih namun sedalam lautan. Napasnya teratur, seolah pertempuran hidup-mati yang baru saja melenyapkan seorang tetua Jiwa Nascent hanyalah sebuah pemanasan ringan.
Elysa menjadi yang pertama melangkah maju. Zirah peraknya berlumuran darah hitam dari murid faksi Gagak Hitam yang dia panah tadi, namun tatapannya sepenuhnya terkunci pada Huang.
"Lin Huang... kau tidak apa-apa?" suara Elysa terdengar bergetar lembut, campuran antara rasa khawatir yang tulus dan keterkejutan yang belum pulih.
"Aku baik-baik saja, Putri Elysa. Terima kasih atas bantuanmu dan Senior Mu," jawab Huang sambil menjura tipis, mengembalikan formalitas yang membuat suasana tegang itu perlahan mencair.
Mu mendekat, menurunkan pedang raksasanya dengan bunyi dentang berat di atas tanah. Pria kekar itu menatap kawah sedalam tiga meter tempat Wu Feng lenyap, lalu menggelengkan kepalanya dengan senyum getir. "Junior Lin, jika aku tidak ingat kau adalah murid langsung Penatua Jiu, aku akan mengira kau adalah monster purba yang menyamar menjadi manusia. Menghancurkan Wu Feng dalam satu pukulan... bahkan di bawah penekanan hukum lembah, itu adalah hal yang mustahil bagi kultivator Formasi Inti biasa."
"Itu karena si tua itu terlalu meremehkan kekuatan fisik, Senior Mu. Dia terlalu bergantung pada sihir ilusi," Huang beralasan dengan nada santai, sebuah penjelasan setengah benar yang sengaja dia siapkan.
Mu tidak bodoh, dia tahu Huang menyembunyikan rahasia besar. Namun, sebagai seorang ksatria Peri yang tahu budi, dia memilih untuk tidak bertanya lebih dalam. "Apapun itu, kau telah menyelamatkan nyawa kami hari ini."
Huang tersenyum tipis, lalu mengalihkan perhatiannya pada bola kristal hitam yang retak di genggamannya. Saat indra batinnya memeriksa bagian dalam kristal tersebut, matanya tiba-tiba berbinar.
"Ini..." Huang menggumam.
"Ada apa, Huang?" Elysa mendekat, aroma melati dari tubuhnya sedikit mengurangi bau belerang yang menyengat di sekitar mereka.
"Kristal ini bukan sekadar alat pengumpul energi. Ini adalah Kunci Formasi," Huang mengangkat kristal itu ke arah gerbang batu kuno yang hancur di tengah kuil.
Begitu kristal hitam itu sejajar dengan gerbang, retakan-retakan di permukaannya memancarkan cahaya ungu yang beresonansi dengan simbol-simbol kuno yang terukir di tiang gerbang. Tiba-tiba, ruang di dalam lingkaran gerbang bergetar hebat, berputar membentuk sebuah pusaran air spasial berwarna ungu gelap yang stabil.
Sebuah jalan masuk rahasia menuju lapisan terdalam Reruntuhan Lembah Dewa Jatuh telah terbuka.
Dari dalam pusaran tersebut, embusan angin kuno keluar, membawa gelombang Qi Asura yang begitu murni hingga membuat "telur" energi di dalam Dantian Huang—yang kini telah menjadi inti Formasi Intinya—berdenyut kencang karena kegembiraan. Ada sesuatu di dalam sana yang memanggilnya, sesuatu yang telah menunggu selama ribuan tahun khusus untuk garis keturunannya.
"Pusat reruntuhan yang sejati," gumam Mu, matanya menatap waspada ke dalam pusaran ungu tersebut. "Faksi Gagak Hitam telah mengorbankan begitu banyak nyawa di luar hanya untuk membuka jalan ini. Lin Huang, apa yang akan kita lakukan? Murid-murid yang kabur tadi pasti akan segera melaporkan kematian Wu Feng kepada pasukan utama faksi Iblis di luar lembah."
Huang menatap pusaran ungu itu, tekad di wajahnya mengeras bagai batu karang. Dia tahu, kembali ke akademi sekarang tanpa menyelesaikan akar masalah hanya akan membuatnya menjadi sasaran empuk di kemudian hari. Di dalam sana terletak jawaban atas takdirnya, dan mungkin juga kekuatan yang dia butuhkan untuk menghancurkan Jenderal Gorgon sekali dan untuk selamanya.
"Mereka yang melarikan diri butuh waktu untuk keluar dari lembah ini dan mengirim pesan. Kita masih punya waktu," Huang menoleh ke arah Elysa dan Mu. "Aku harus masuk ke dalam. Ini adalah misi utamaku. Tapi tempat ini sangat berbahaya, aku tidak bisa memaksa kalian untuk ikut bertaruh nyawa."
Elysa menatap pusaran ungu itu, lalu beralih menatap langsung ke mata Huang. Tanpa ragu, dia melangkah maju, berdiri tepat di samping Huang. "Aku datang ke sini sebagai sekutumu, Lin Huang. Kerajaan Peri tidak pernah meninggalkan temannya di medan perang. Lagipula... aku juga penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh sejarah kuno di tempat ini."
Mu menghela napas panjang, namun tangan kekarnya kembali mencengkeram gagang pedang raksasanya dengan erat. "Jika Putri Mahkota masuk, ke mana lagi seorang pengawal harus pergi? Lagipula, membiarkanmu masuk sendirian ke tempat menyeramkan seperti ini akan membuat Penatua Jiu memukulku hingga mati jika kita kembali nanti."
Huang merasakan kehangatan di hatinya. Di dunia kultivasi yang dipenuhi pengkhianatan seperti yang dilakukan Mo Rong, memiliki rekan yang rela berdiri di sampingnya di ambang bahaya adalah berkah yang tak ternilai.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita lihat apa yang ditinggalkan oleh para dewa dan iblis masa lalu untuk kita," ujar Huang mantap.
Dengan Lin Huang memimpin di depan, ketiga sosok itu melangkah maju serentak, menembus pusaran spasial ungu gelap tersebut. Tubuh mereka seketika ditelan oleh cahaya kuno, meninggalkan halaman kuil yang hancur dan sunyi, siap menyongsong babak baru dari singkapan tabir takdir Asura yang akan mengguncang seluruh struktur kekuatan di Benua Barat.