Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan penyembuh luka
Melihat luka lebam di wajah Arvin, kepanikan Karin tidak bisa dibendung lagi. Karin langsung menarik lengan Arvin dengan tegas.
"Masuk," titah Karin singkat, suaranya naik satu oktav.
Arvin hanya pasrah lengannya ditarik Karin. Dia meletakkan helmnya di atas meja. Karin menyuruhnya duduk di sofa ruang tengah, sementara wanita itu bergegas ke area dapur untuk mengambil kotak P3K dan sebaskom kecil air hangat beserta kain bersih.
Tak lama, Karin kembali dan duduk tepat di samping Arvin. Jarak mereka begitu dekat. Karin membuka kotak obat, mengambil kapas, lalu menuangkan sedikit cairan antiseptik ke atasnya.
"Tahan ya, pasti agak perih," bisik Karin. Tangannya terulur lembut, memegang dagu Arvin dengan hati-hati agar posisinya stabil, lalu perlahan menepuk-nepuk kapas itu ke sudut bibir Arvin yang terluka.
"Ssh..." Arvin meringis pelan, matanya terpejam sesaat saat rasa perih yang tajam menyengat wajahnya. Namun, cengkeraman tangan Karin yang hangat di rahangnya entah bagaimana membuat rasa perih itu jadi jauh lebih tertahankan.
Karin menatap luka itu dengan dahi berkerut dalam, matanya memancarkan rasa khawatir sekaligus sedih yang amat jelas. "Sekarang ceritain sama Tante. Kamu habis ribut sama siapa? Sampai bonyok begini. Jangan bilang kamu tawuran ya, Vin? Si eja ikut-ikutan juga?" tanya Karin bertubi-tubi sambil beralih mengambil salep lebam.
Arvin membuka matanya, menatap lekat-lekat manik mata Karin yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Kehangatan Karin memperlakukannya saat ini, ditambah rasa aman yang selalu dia rasakan di rumah ini, perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Arvin untuk tetap menutup mulut.
Dia tidak bisa membohongi wanita ini.
Arvin menurunkan tangan Karin dari dagunya secara perlahan, lalu menghela napas berat. "Gue gak berantem di sekolah, Tan. Gue gak tawuran juga," ujar Arvin dengan suara rendah yang terdengar serak.
"Terus ini kenapa?" desak Karin pelan, nadanya melembut, menyadari ada beban yang sangat berat di nada bicara cowok itu.
Arvin memalingkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke arah meja dengan pandangan kosong. Dengan berat hati dan dada yang kembali terasa sesak, dia akhirnya jujur. "Semalam... orang tua gue pulang ke rumah. Dan seperti biasa, mereka ribut."
Arvin menjeda kalimatnya, menelan ludah canggung sebelum melanjutkan dengan suara yang semakin kecil, hampir menyerupai bisikan. "Gue muak. Gue marahin mereka balik, gue sebut semua kesalahan mereka di depan muka mereka. Terus... Papa gak terima. Dan ini hasilnya. Gue kena tampar."
Mendengar pengakuan yang meluncur jujur dari bilik bibir Arvin, gerakan tangan Karin yang hendak mengoleskan salep seketika membeku di udara.
Karin terpaku. Matanya membelalak kecil terkejut yang teramat sangat mendalam.
Selama ini, Karin tahu kalau Arvin adalah anak yang tertutup dan sering menginap di rumah Reza itu karena ada masalah di rumahnya. Namun, Karin sama sekali tidak pernah menyangka bahwa masalah yang dihadapi remaja berusia 17 tahun ini sekelam dan sekeras ini. Ditampar oleh ayah kandung sendiri di tengah kehancuran rumah tangga orang tuanya adalah kenyataan yang terlalu kejam untuk dihadapi seorang anak.
Rasa kasihan, sedih, dan amarah bercampur aduk di dalam dada Karin. Dia menatap Arvin yang kini menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai memerah.
Tanpa berpikir panjang, Karin meletakkan salep dan kapas ke dalam baskom. Detik berikutnya, dia memajukan tubuhnya dan langsung membawa tubuh tegap Arvin ke dalam pelukannya. Kedua tangan Karin mendekap erat punggung Arvin, sementara satu tangannya yang lain mengusap lembut bagian belakang kepala cowok itu.
"Ya ampun, Arvin..." bisik Karin dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis. Dia tidak bisa membayangkan betapa kesepian dan hancurnya perasaan Arvin semalam.
Arvin seketika menegang di posisinya. Dia sama sekali tidak menduga reaksi Karin akan seperti ini. Aroma tubuh Karin yang menenangkan dan kehangatan pelukan wanita itu seketika merasuk ke dalam seluruh inderanya. Perlahan, ketegangan di bahu Arvin mengendur. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arvin merasakan sebuah dekapan yang penuh dengan kasih sayang dan perlindungan.
Arvin tidak membalas pelukan itu, dia hanya menyandarkan keningnya di bahu Karin, memejamkan mata erat-erat demi menikmati rasa tenang yang perlahan-lahan menyembuhkan sisa-sisa luka di hatinya semalam.
"Maaf ya..." lirih Karin lagi di dekat telinga Arvin, mengusap punggung cowok itu dengan penuh rasa sayang. "Maaf karena semalam Tante gak bolehin kamu datang ke sini."
Karin perlahan mengurai pelukannya, lalu menepuk-nepuk kedua bahu Arvin dengan lembut. "Ya udah. Sekarang yang penting kamu harus isi perut. Kamu kan baru pulang sekolah, pasti belum makan siang, kan?"
Arvin menggeleng pelan. "Belum, Tan."
"Nah, kebetulan Tante tadi masak ayam goreng mentega sama sop," ucap Karin sambil membereskan kotak P3K.
Keduanya duduk berhadapan di meja makan kecil dekat dapur. Suasana yang tadinya tegang dan penuh haru perlahan mencair. Di sela-sela suapan, Karin membuka obrolan untuk mengalihkan pikiran Arvin.
"Oh ya, Vin. Hasil ujian kamu udah dibagiin belum?" tanya Karin sambil mengunyah makanannya.
"Baru sebagian, Tan, baru tiga," jawab Arvin lempeng.
"Oh gitu. Ya udah, habisin dulu makannya. Nanti beres makan, kasih lihat ke Tante hasilnya ya. Tante mau lihat keponakan Tante ini pintar atau enggak," goda Karin.
Begitu selesai makan dan mencuci piring, mereka kembali ke ruang tengah. Arvin meraih tas ransel hitamnya yang tergeletak di lantai, lalu membuka resletingnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas hasil ujian. Arvin menyodorkan lembaran kertas tersebut ke tangan Karin.
Karin menerima kertas-kertas itu dengan penuh minat. Lembar pertama adalah Matematika, nilainya tertera angka 8. Lembar kedua adalah Fisika, nilainya tertulis 8,5. Karin mengangguk-angguk puas.
"Wah, hebat juga kamu ya. Fisika dapat delapan setengah," puji Karin bangga. Namun, dia kemudian membolak-balik kertas di tangannya dan mengerutkan dahi. "Loh? Katanya tadi ada tiga? Kok ini cuma ada dua kertas? Satu lagi mana? Sini lihat!"
Arvin langsung memasang wajah lempeng andalannya, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. "Enggak, cuma dua kok, Tan. Tante aja kali yang salah denger tadi."
Karin mendelik tajam, dia tahu kalau remaja di depannya ini sedang mencoba melakukan trik tipuan murahan. "Enggak ya! Kuping Tante masih tajam. Kamu bilang tiga tadi! Pasti kamu sembunyiin di dalam tas!"
Karin langsung mencondongkan tubuhnya, meraih tali tas ransel Arvin yang ditaruh di samping pahanya.
"Eh, Tan! Jangan, Tan! Gak ada apa-apa," seru Arvin panik. Dia menahan tasnya kuat-kuat.
Aksi rebutan tas pun tidak terhindarkan di atas sofa. Karin dengan gigih menarik resleting tas, sementara Arvin mati-matian menutupi celah tasnya dengan lengan kekarnya. Dia akhirnya lengah. Karin berhasil menyusupkan tangannya ke dalam tas dan menarik selembar kertas yang sengaja disembunyikan di bagian paling bawah.
"Dapet!" seru Karin kemenangan.
Arvin pasrah, merebahkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memejamkan mata. Habis sudah riwayatnya.
Karin membuka lipatan kertas ketiga itu dengan senyum kemenangan yang perlahan-lahan luntur, digantikan oleh ekspresi tidak percaya. Di sudut kanan atas kertas ujian itu, tertera angka 6 berukuran besar dengan tinta merah. Dan mata pelajarannya adalah Bahasa Indonesia.
Karin seketika menarik napas dalam-dalam, matanya melotot menatap Arvin.
"ARVIIINN!!!" pekik Karin gemas, langsung menggulung kertas ujian itu menjadi tabung kecil.
Puk! Puk! Puk!
Karin memukulkannya berkali-kali ke lengan dan bahu Arvin dengan gemas. "Ini kenapa bisa dapat nilai enam?! Padahal kamu pakai Bahasa Indonesia tiap hari, Vin! Ngomong sama Tante pakai Bahasa Indonesia, di chat pakai Bahasa Indonesia! Kenapa ujiannya malah jeblok begini?!"
Arvin yang dipukuli bertubi-tubi sama sekali tidak menghindar. Pukulan gemas dari tangan mungil Karin itu sama sekali tidak terasa sakit baginya, justru terasa menggelitik. Cowok itu malah menahan tawa, melihat wajah Karin yang memerah saking gregetnya.
"Tante... ampun, Tan," ucap Arvin sambil terkekeh pelan, melindungi kepalanya dengan sebelah tangan secara santai. "Soal Bahasa Indonesia itu jebakan semua, Tan. Teksnya panjang-panjang kayak cerpen Tante, bikin pusing."
"Alasan! Pokoknya besok-besok kalau ada tugas Bahasa Indonesia, kamu harus belajar sama Tante!" omel Karin, napasnya sedikit terengah-engah karena gemas, sementara kertas di tangannya sudah agak lecek.
Melihat Karin yang mengomel panjang lebar demi nilainya, Arvin justru merasa hatinya menghangat. Rasa sepi yang sempat menghantuinya kini lenyap total, digantikan oleh tawa kecil yang terus mengalir dari bibirnya.