Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Jalan Sang Ronin
Fajar baru saja menyingsing ketika Ryosuke meninggalkan desa tempat ia mendengar rumor mengenai seorang gadis berusia dua belas tahun yang dibawa oleh iring-iringan pasukan Empire Krusador. Udara pagi masih terasa dingin, sementara embun yang menempel di dedaunan memantulkan cahaya matahari yang perlahan muncul dari balik pegunungan. Jalan tanah yang membentang di hadapannya dipenuhi bekas roda kereta dan jejak kaki manusia yang saling bertumpuk, menjadi bukti bahwa jalur itu telah dilalui banyak pengungsi sejak perang pecah.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang ia lalui tanpa tujuan pasti, kali ini setiap langkah Ryosuke memiliki arah yang jelas. Ia tidak lagi sekadar mengembara dari desa ke desa demi mencari pekerjaan atau membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Untuk pertama kalinya sejak Desa Tagawa musnah, ia memiliki sebuah harapan yang ingin ia kejar, sekecil apa pun kemungkinan harapan itu menjadi kenyataan.
Ia sadar bahwa rumor belum tentu merupakan kebenaran.
Namun, selama belum menemukan bukti bahwa Hana telah tiada, ia tidak akan membiarkan harapan itu padam.
Menjelang siang, Ryosuke tiba di Desa Elmar, sebuah desa kecil yang menjadi persinggahan terakhir rombongan pedagang sebelum memasuki kawasan perbatasan. Desa itu tampak jauh lebih ramai dibandingkan ukurannya. Halaman-halaman rumah dipenuhi keluarga pengungsi, kandang-kandang ternak diubah menjadi tempat beristirahat, sementara para penjaga desa berjaga bergantian di gerbang kayu yang baru diperkuat menggunakan batang-batang pohon.
Suasana damai yang dahulu menjadi ciri desa-desa Green Continent perlahan menghilang.
Kini yang tersisa hanyalah kecemasan.
Ryosuke memasuki sebuah kedai sederhana yang juga berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para pengelana. Ia memesan secangkir teh hangat, kemudian duduk di dekat jendela sambil mengamati orang-orang yang keluar masuk.
Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian pedagang menghampiri mejanya.
"Kau ronin yang membantu rombongan dagang kemarin, bukan?"
Ryosuke menganggukkan kepala.
"Aku mendengar kau sedang mencari informasi."
"Aku mencari rombongan pasukan Krusador yang melewati daerah ini beberapa hari lalu."
Pedagang itu tampak berpikir sejenak.
"Mereka memang lewat."
"Apa kau melihat seorang gadis?"
Pria itu menarik napas pelan.
"Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Kereta yang mereka gunakan tertutup kain tebal. Namun, ketika rombongan berhenti untuk memberi jalan kepada gerobak kami, aku sempat mendengar suara anak perempuan menangis dari salah satu kereta."
Jantung Ryosuke berdegup lebih cepat.
"Berapa usianya?"
"Aku tidak tahu pasti. Tapi suara itu terdengar masih sangat muda."
Informasi itu belum cukup.
Meski demikian, Ryosuke tetap mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan kedai.
Sepanjang siang ia berkeliling desa, menemui setiap orang yang mungkin pernah melihat rombongan tersebut.
Seorang pengungsi mengaku melihat beberapa kereta tahanan.
Seorang kusir mengatakan jumlah pasukan pengawal mencapai lebih dari seratus orang.
Seorang pemburu yang sedang kembali dari hutan mengingat bahwa ia melihat seorang gadis kecil duduk di balik jeruji kereta ketika rombongan melintasi jalan pegunungan.
Akan tetapi, setiap kali Ryosuke menanyakan wajah gadis itu, jawaban mereka selalu sama.
"Terlalu jauh."
"Tidak terlihat jelas."
"Keretanya tertutup."
Tidak seorang pun mampu memastikan identitas gadis tersebut.
Menjelang sore, Ryosuke memutuskan melanjutkan perjalanan menuju desa berikutnya yang berada lebih dekat ke perbatasan.
Di tengah perjalanan, ia melihat kepulan asap membumbung dari balik pepohonan.
Ketika mendekat, ia mendapati sebuah kereta pengungsi terbalik di tepi jalan. Barang-barang berserakan di mana-mana, sementara beberapa orang berusaha melindungi anak-anak mereka.
Empat ekor monster menyerupai serigala mengelilingi rombongan itu.
Namun, tubuh mereka berbeda dari monster biasa.
Retakan-retakan hitam memenuhi kulit mereka.
Mata mereka memancarkan cahaya ungu gelap.
Mana yang mengalir dari tubuh mereka terasa tidak stabil.
Ryosuke segera memahami penyebabnya.
Monster-monster itu telah terpapar sisa energi Beast Crust Rune Cannon.
Tanpa membuang waktu, ia mencabut Nichirin-gatana dan Tenkū Matō.
Kedua pedang itu bergerak mengikuti irama Hyoho Niten Ichi-ryū yang telah ia latih sejak kecil.
Nichirin-gatana memantulkan cahaya matahari ketika menangkis cakar monster pertama.
Pada saat yang sama, Tenkū Matō bergerak dari sisi berlawanan, membelah udara dengan ayunan yang lebih berat.
Ketika bilah hitam itu mengenai tubuh lawannya, semburat mana kegelapan kembali muncul di sepanjang mata pedang.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini cahaya itu bertahan sedikit lebih lama.
Monster tersebut terpental beberapa langkah sebelum roboh.
Ryosuke memperhatikan Tenkū Matō sekilas.
"Sedikit lebih kuat..."
Ia dapat merasakan bahwa pedang itu mulai merespons gerakan-gerakannya, meskipun segelnya masih membatasi sebagian besar kekuatannya.
Tiga monster lainnya menyerang hampir bersamaan.
Ryosuke memanfaatkan keunggulan dua pedangnya.
Nichirin-gatana menjaga ritme pertahanan dan mengalihkan serangan lawan.
Sementara Tenkū Matō menjadi ujung tombak yang memanfaatkan setiap celah.
Pertarungan berlangsung singkat.
Beberapa menit kemudian, keempat monster telah tergeletak tak bernyawa.
Seorang lelaki tua yang memimpin rombongan pengungsi segera membungkukkan badan.
"Terima kasih... kalau bukan karena bantuanmu, kami semua mungkin sudah mati."
Ryosuke menggeleng pelan.
"Apa kalian berasal dari arah perbatasan?"
Lelaki itu mengangguk.
"Kami meninggalkan desa tiga hari yang lalu."
"Apa kalian melihat rombongan pasukan Krusador?"
Ekspresi lelaki itu berubah serius.
"Aku melihat mereka."
Ryosuke menatapnya penuh harap.
"Di tengah iring-iringan mereka memang ada beberapa kereta tahanan."
"Apakah ada seorang gadis kecil?"
"Ada."
Jawaban itu membuat napas Ryosuke tertahan.
"Tapi aku tidak bisa memastikan siapa dia."
Lelaki itu memejamkan mata sejenak, berusaha mengingat.
"Yang kuingat, ketika salah satu kereta melewati kami, gadis itu sempat menoleh keluar. Rambutnya panjang dan berwarna hitam."
Ryosuke menggenggam erat kedua tangannya.
Hana.
Rambut Hana juga hitam.
Namun, gadis berambut hitam bukanlah sesuatu yang langka di Green Continent.
Ia memaksa dirinya tetap tenang.
"Lalu ke mana rombongan itu pergi?"
"Ke utara."
"Menuju Benteng Vargan, gerbang terakhir sebelum memasuki wilayah Empire Krusador."
Ryosuke menganggukkan kepala pelan.
Petunjuk itu jauh lebih jelas daripada rumor yang ia dengar semalam.
Ia masih belum mengetahui siapa gadis tersebut.
Tetapi kini ia mengetahui arah yang ditempuh rombongan Krusador.
Malam mulai turun ketika rombongan pengungsi mendirikan perkemahan sederhana.
Ryosuke duduk sendirian di dekat api unggun.
Di sampingnya, Nichirin-gatana dan Tenkū Matō bersandar berdampingan.
Satu membawa cahaya.
Satu lagi membawa kegelapan.
Keduanya kini menemani perjalanan seorang ronin yang tidak lagi berjalan tanpa tujuan.
Ryosuke memandang ke arah utara, tempat langit malam tampak lebih gelap dibandingkan wilayah lain.
Di balik pegunungan dan benteng-benteng yang berdiri di kejauhan, terbentang wilayah Empire Krusador.
Di sanalah satu-satunya petunjuk mengenai Hana berada.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi seorang ronin, Ryosuke mengetahui ke mana ia harus melangkahkan kaki selanjutnya.
Jalan di hadapannya dipenuhi bahaya.
Namun, jika di ujung jalan itu terdapat kemungkinan sekecil apa pun untuk menemukan adiknya, ia telah memutuskan bahwa tidak ada satu pun rintangan yang akan membuatnya berbalik arah.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉