NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Motor bebek Arka akhirnya membelok, meninggalkan area pasar induk yang kacau balau.

Alih-alih langsung pulang ke rumah kontrakan, Arka justru mengarahkan setirnya menuju ke sebuah warung makan pinggir jalan sederhana yang diterangi lampu neon temaram.

Di spanduk kainnya yang sudah agak kusam, tertulis menu utama mereka: Nasi Jagung Khas Madura.

Arka mematikan mesin motor, lalu menoleh ke belakang, menatap Sari yang napasnya masih sedikit memburu akibat aksi tendangan mautnya tadi.

"Ayo, kita makan dulu," ajak Arka sambil turun dari motor.

Sari mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Matanya menatap plang warung itu dengan pandangan tidak percaya.

"Makan nasi jagung?"

Arka menganggukkan kepalanya dengan wajah santai.

Sari langsung melipat kedua tangannya di dada, sifat ketus sang CEO kembali keluar.

"Memangnya aku ini ayam, harus makan jagung?"

Mendengar protes polos yang keluar dari bibir wanita berkelas di depannya, Arka tidak bisa menahan dirinya lagi.

Sudut bibirnya tertarik, dan sebuah tawa kecil yang renyah lolos dari mulutnya.

"Duduklah dan jangan berkomentar saja, Mbak," ujar Arka sambil menarik salah satu kursi plastik berwarna hijau di dalam warung.

Sari mendengus kesal, namun karena perutnya memang sudah berdemo minta diisi sejak sore, ia akhirnya mengalah.

Dengan gerakan anggun yang tersisa, ia duduk di kursi plastik tersebut, sementara Arka melangkah menuju meja pemilik warung.

"Bu, nasi jagung komplit dua porsi, ya. Lauknya pakai iwak asin goreng, urap-urap, sama sambal korek yang pedas. Minumnya teh tawar hangat dua," pesan Arka fasih.

Sari hanya bisa memperhatikan Arka dalam diam. Di bawah pendar lampu neon warung, aroma harum dari bawang merah goreng dan sambal segar yang diulek mendadak menggelitik indra penciumannya, membuat ego sang CEO perlahan-lahan runtuh oleh rasa lapar yang teramat sangat.

Sambil menunggu pesanan datang, Arka melipat kedua tangannya di atas meja kayu yang dilapisi taplak plastik.

Ia menatap Sari, lalu seulas senyum geli kembali hadir di wajahnya yang biasa kaku.

"Mbak, jujur saja, saya masih tidak habis pikir," buka Arka, menggelengkan kepalanya pelan.

"Dari mana Mbak belajar tendangan maut seperti tadi? Juragan ayam itu sampai terperosok ke lantai begitu."

Sari menegakkan punggungnya, menepuk sedikit sisa debu tepung di kaus putihnya dengan gaya elegan khas seorang petinggi perusahaan.

"Aku jago bela diri. Sejak kuliah, aku sudah ambil kelas privat Muay Thai dan Krav Maga eksklusif untuk proteksi diri. Jadi jangan macam-macam denganku."

Arka terkekeh mendengar jawaban itu. "Ish... sombong sekali kamu, Mbak. Tapi ya, terima kasih. Baru kali ini ada perempuan yang membela saya sampai membuat orang lain lumpuh di tempat."

Belum sempat Sari membalas, seorang pelayan warung datang membawa dua piring rotan beralas daun pisang yang mengepulkan uap panas, lengkap dengan dua gelas teh tawar hangat.

Sari menurunkan pandangannya ke arah piring. Di sana tersaji nasi putih yang dicampur dengan pipilan jagung halus, urap-urap sayur yang segar, sambal korek kemerahan, dan sepotong ikan asin bulu ayam yang digoreng kering hingga teksturnya terlihat sangat garing.

Sari menggunakan ujung telunjuknya untuk menunjuk lauk berwarna abu-abu tersebut dengan dahi berkerut.

"Ini ikan apa? Kok bentuknya kering begitu? Pasti asin sekali. Kalau aku kena darah tinggi setelah makan ini bagaimana?"

Arka geleng-geleng kepala melihat kepanikan dramatis sang CEO di depan makanan merakyat. Ia menyodorkan sendok bersih ke tangan Sari.

"Mbak, dicoba dulu semuanya. Makan nasi jagungnya dicampur pakai urap dan cuwilan ikan asinnya sedikit. Kalau setelah Mbak coba ternyata rasanya tidak enak dan Mbak tidak suka... oke, saya mengalah. Saya belikan ayam bakar di depan gang nanti," tawar Arka memberi opsi yang adil.

Sari menatap Arka dengan mata memicing, memastikan pria itu tidak sedang membual.

"Janji?"

"Iya, janji," sahut Arka mantap sambil mulai menyuap bagian nasinya sendiri.

Sari menarik napas panjang. Dengan ragu-ragu, ia memotong sedikit ikan asin itu, mencampurnya dengan sesendok nasi jagung dan urapan sayur, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulut.

Rasa gurih yang unik, manis alami dari jagung, serta sengatan pedas sambal korek seketika meledak di lidahnya—sebuah kombinasi rasa yang belum pernah ia temui di restoran bintang lima manapun.

Satu sendok, dua sendok, hingga tanpa terasa suapan demi suapan meluncur mulus ke dalam mulut Sari.

Rasa lapar yang berpadu dengan kelezatan autentik nasi jagung itu membuat sang CEO benar-benar lupa pada gengsinya.

Ia makan dengan lahap, mengabaikan fakta bahwa ia sempat menyamakan hidangan ini dengan makanan ayam.

Dalam waktu singkat, piring rotan beralas daun pisang di hadapan Sari sudah bersih tanpa sisa. Bahkan, secangkir teh tawar hangatnya pun sudah tandas setengah.

Arka yang sejak tadi sengaja memperlambat makannya hanya untuk memperhatikan Sari, perlahan meletakkan sendoknya.

Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kemenangan terukir di wajah tampannya.

"Enak?" tanya Arka singkat, menumpu dagunya dengan satu tangan sambil menatap lekat-lekat wajah polos Sari yang kini agak kemerahan karena efek sambal korek yang pedas.

Sari seketika tersadar dari "kesurupan" makan malamnya.

Ia melihat piringnya yang kosong melompong, lalu beralih menatap Arka yang sedang menertawakannya dalam diam.

Rasa gengsi seorang Maheswara mendadak mencuat kembali, namun lidahnya tidak bisa berbohong.

Sari menunduk sedikit, meremas tisu di tangannya dengan salah tingkah.

"Iya... enak," jawab Sari malu-malu, suaranya mencicit pelan hampir tak terdengar, sangat kontras dengan suaranya saat meneriaki Baron di pasar tadi.

Arka terkekeh renyah melihat sisi menggemaskan dari wanita tangguh di depannya ini.

"Nah, makanya jangan sombong dulu, Mbak. Berarti taruhan ayam bakarnya batal, ya?"

Sari hanya bisa mendengus pelan sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan senyuman yang perlahan terbit di bibirnya di bawah temaram lampu warung tenda.

Setelah selesai makan dan membayar total tagihan nasi jagung yang tidak sampai seharga secangkir kopi di kafe langganan Sari, Arka kembali memacu motor bebeknya membelah angin malam.

Sesampainya mereka di rumah kontrakan, tidak ada waktu untuk bersantai.

Arka langsung membawa bungkusan kelapa yang tadi dibeli ke area dapur tanpa sekat.

Arka meletakkan sebuah baskom aluminium besar di atas lantai, lalu menoleh ke arah Sari.

"Mbak, tolong kelapa parut ini diperas ya, ambil santan kentalnya saja. Saya mau menyiapkan panci kukusan dulu."

Sari melangkah mendekat dengan ragu. Ia menatap gunungan kelapa parut putih di dalam wadah dengan kening berkerut dalam.

"Bagaimana caranya?" tanya Sari polos, menatap Arka bergantian dengan baskom di bawahnya.

Arka menghentikan aktivitasnya, berbalik dengan dahi mengernyit heran.

"Mbak tidak tahu cara memeras kelapa?"

Sari perlahan menggelengkan kepalanya dengan jujur.

Di rumah mewahnya, santan selalu tersaji dalam bentuk kemasan siap pakai, atau sudah diolah sempurna oleh koki pribadinya.

Arka mengembuskan napas panjang, lalu terkekeh sinis sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sepertinya kamu memang anak manja ya, Mbak. Semuanya tidak bisa. Hidupmu pasti enak banget, serba praktis dan penuh kemewahan sejak lahir. Beruntung sekali kamu, Mbak."

Mendengar kata "manja" dan "beruntung" yang diucapkan dengan nada menyindir itu, senyuman Sari yang sempat terbit di warung makan tadi seketika lenyap.

Dadanya mendadak terasa sesak, bukan karena debu pasar, melainkan oleh sebuah luka lama yang sengaja ia kubur dalam-dalam.

Sari menatap Arka dengan pandangan mata yang bergetar menahan emosi yang mendalam.

"Beruntung? Aku tidak beruntung, Arka."

Arka tertegun, menyadari perubahan drastis pada nada suara wanita di depannya.

"Aku hidup dan dibesarkan dengan keras oleh nenekku, setelah kedua orang tuaku meninggal dunia dalam kecelakaan maut saat aku masih berusia dua tahun," lanjut Sari, suaranya mendadak parau.

"Sejak balita, aku tidak tahu rasanya pelukan hangat seorang ibu atau perlindungan seorang ayah. Aku dipaksa tumbuh menjadi robot pembuat uang untuk mempertahankan takhta keluarga. Jadi, jangan pernah sebut aku anak manja yang beruntung."

Mendengar pengakuan emosional yang tak terduga itu, Arka seketika membeku di tempat. Kata-katanya seolah tercekat di tenggorokan.

Menatap sepasang mata Sari yang kini berkaca-kaca menahan rapuh, rasa bersalah yang teramat besar langsung menghantam dada Arka.

Ia menyadari bahwa di balik jubah emas kemewahan Maheswara Group, wanita di depannya ini menyimpan luka masa kecil yang tidak kalah menyakitkan dari luka masa lalunya.

"Mbak, saya tidak bermaksud—"

"Aku ke kamar dulu," potong Sari lirih, menolak untuk memperlihatkan air matanya jatuh.

Dengan langkah yang sedikit pincang, Sari berbalik cepat dan melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya dengan rapat, meninggalkan Arka yang terpaku sendirian di dapur dalam balutan rasa bersalah yang amat sangat.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!