Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsess
Hari, minggu, bulan, telah berlalu, tanpa mereka sadari cinta mereka sudah tumbuh menjadi besar dan semakin toxic. Tanpa tau resiko yang bakalan mereka sambut di masa depan.
“Arina, kenapa nilai kamu akhir-akhir ini merosot jauh, ini bisa berdampak sama beasiswa kamu loh, dan akhir-akhir ini kamu juga sering banget ijin.” Tatapan Bu Virra (Wali kelas) terlihat sangat mengintimidasi saat ini.
“Maaf bu, saya akan perbaiki lagi.” jawab Arina dengan wajah penuh rasa bersalah.
Setiap saat dia menghabiskan waktunya bersama Jagat, lupa belajar, lupa tugas, bahkan dia sering ikut Jagat bolos sekolah, hanya untuk menghabiskan waktu berdua bersama Jagat.
“Ya, harusnya memang begitu Ar, kamu nggak sayang sama prestasi kamu?”
“Maaf bu.”
“Jangan minta maaf sama Ibu, ini masa depan kamu Ar, bukan masa depan Ibu, maaf boleh Ibu tanya hal pribadi?”
Arina mengangguk pelan.
“Apa ada hubungan lain antara kamu dan Jagat, selain belajar bersama?” mata Bu Virra penuh selidik dan terus mengamati reaksi Arina.
Arina mengelengkan kepalanya dengan cepat, “Nggak Bu.” elaknya.
“Syukurlah, apa jam belajar mu keganggu gara-gara ini?”
Arina menghela nafas berat nya tanpa berani menatap Bu Virra. “Ibu bisa rundingkan semua ini sama Pak Wijaya Ar, jika ini mempengaruhi jam belajarmu sendiri Ar.”
“Tidak kok Bu.”
“Baiklah, tapi Ibu mau nilai kamu kembali seperti semula , mengerti?”
“Iya Bu, Mengerti.”
“Bagus, ya udah kamu boleh balik ke kelas.”
“Iya Bu, terimakasih.”
Arina keluar dari ruang guru dengan perasaannya yang campur aduk, dia merasa saat ini memang benar-benar di luar batas kendalinya sendiri.
“Sayang,” bisik Jagat pelan yang langsung menyeret lengan Arina.
“Jagat, kok kamu ada di sini?”
“Tadi aku lihat kamu, jalan keluar aku ikuti.”
“Kita mau kemana?”
“Lorong belakang.”
“Tapi Jagat, ini masih jam pelajaran.”
“Bagus dong, sepi.”
“Nggak mau, kamu tau nggak nilai ku merosot jauh.”
“Bentar doang, apa kamu mau foto kamu tidur di pelukanku waktu itu kesebar.”
Mata Arina mulai buram mulai tertutup dengan air matanya, dia nggak sangka Jagat akan menjadikan foto itu sebagai senjata untuk mengancam dirinya.
“Tapi kita kan nggak pernah ngapa ngapain Jagat.”
“Emang orang akan peduli sama penjelasan kamu?”
“Kamu keterlaluan banget.”
“Ya udah kalau nggak mau.” Jagat langsung melepaskan tangan Arina.
Arina terdiam, pikirannya semakin kalut, “ya udah ayok.” ucapnya sambil mengelap air matanya.
Jagat tersenyum penuh kemenangan, “Gitu dong.”
Mereka saat ini sudah berada di lorong belakang dan masuk ke gudang terbengkalai. Jagat langsung melumat bibir Arina dengan penuh nafsu, hasratnya kadang sulit dia kendalikan saat bersama Arina, dia ingin terus menerus bercumbu bersama Arina setiap saat.
“Jangan di leher, nanti ada yang lihat.”
“Ya udah buka.”
“Tapi Jagat.”
“Kamu nolak lagi?”, “Apa mau yang lebih dari ini?”
Arina mengeleng kepalanya pasrah.
Jagat mulai meremas, menyesap dengan agresif, membuat Arina juga sedikit kelimpungan terbawa suasana. “Akkkkhhhh… Jangan Ja-gat.”
“Aku suka banget lihat kamu saat klimaks Sayang.” tangan Jagat sudah bergerilya di bawah sana.
“Sebenarnya kamu nggak suka, tapi obsess, akhhh, kamu suka banget menghalalkan segala cara demi ini, akkhh, jangan kenceng kenceng sakit.”
“Aku tuh puasin kamu, harusnya kamu suka,” kesal Jagat saat Arina terus memprotesnya.
“Nggak,”
Jagat langsung menyesap bibir Arina dengan buas lalu mengigitnya.
“Awwhhh.” ringis Arina sambil memegang bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Jagat menyudahi aktivitasnya dengan wajah kesalnya dan meninggalkan Arina begitu saja.