Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Alang
Gemerlap lampu-lampu taman kota Alang begitu indah menyapa kedatang Bejo, dalam kehidupan Bejo untuk pertama kalinya dia pergi jauh meninggalkan desa Krajan ke kota Alang. Suasana dingin nyata, kota yang memang di kenal dingin memberikan pengalaman bagi pengunjung.
Bejo melihat layar ponselnya, semua sudah retak tidak layak di pakai lagi. Bejo berencana membeli ponsel di kota dan membeli jas untuk keperluan wisuda.
Setelah mendapatkan penginapan untuk malam sampai besok siang, Bejo beristirahat sejenak sebelum keluar jalan-jalan malam ini.
Tepat pukul sepuluh Bejo keluar untuk melanjutkan rencananya. Ia melangkah tidak jauh, tepat di sana ada counter hp cukup besar.
Bejo berjalan menuju kesana, langkahnya pelan menikmati setiap sensasi keindahan kota Alang.
Saat Bejo masuk kedalam sudah di sambut seorang wanita muda, "selama datang mas, mau cari ponsel seperti apa?," tanyanya. Senyum merekah tanpa menilai pakaian Bejo membuat kenyamanan baginya.
"Sama seperti ini mbak, tapi yang lebih bagus lagi," pinta Bejo.
"Mari mas, saya perlihatkan modelnya."
Bejo berjalan mengikuti langkah wanita itu, lalu ia duduk menunggu sang wanita mengambil brosur.
"Silahkan di lihat-lihat dulu mas."
Bejo melihat harga demi harga, walaupun dia memiliki uang tapi Bejo memikirkan kebutuhan lain juga.
"A6 Pro 5G ini aja mbak, warna biru saja."
"Baik mas, tunggu sebentar saya ambilkan barangnya."
Setelah selesai membayar dan menginstal beberapa aplikasi Bejo meninggalkan toko ponsel itu. Wajah wanita muda tadi tersenyum sumringah, karena target yang di miliki telah tercapai mal ini.
"Alhamdulillah.. targetku awal bulan selesai dengan cepat," dalam hatinya.
"Kenapa lu senyum-senyum sendiri Sin?,"
"Pokoknya hari ini aku bahagia, satu ponsel dengan harga 4.8 juta terjual tunai tanpa kredit,"
"Serius kamu Sin?,"
"Serius banget, Ratna."
"Siapa yang beli?, pasti om-om nakal ya!!," tanya penuh selidik Ratna pada Sindi.
"Enak aja kamu. Dia masih muda banget, sepertinya masih SMK," jawab Sindi.
"Hmm.. selamat deh kalau begitu,"
"Terima kasih."
**
Kini Bejo berjalan mencari mall, dia melihat dari maps karena belum hafal dengan Kota Alang. Setelah lima belas menit berjalan, Bejo melihat mall yang cukup besar terbentang luas di ujung jalan.
Mall Venus terlihat begitu indah, gemerlap lampu-lampu menghiasai gedung mall. Warna merah menyala redup memberikan suasana lebih romantis dan elegan.
Bejo berjalan masuk dengan langkah penuh keyakinan, walaupun sedikit gemetaran tapi Bejo berusaha tenang. Bejo membaca setiap papan berjalan di atas setiap toko, dia mencari merk yang bagus dari halaman layar ponselnya.
Bejo mencari informasi agar tidak beli lagi, satu kali beli dengan kualitas terbaik kemungkinan bisa bertahan lama dan awet. Ia berhenti sejenak, tidak jauh dari toko jas. Bejo mencari informasi dari layar ponselnya, sebelum dia datang kesana.
Dalam layar ponsel Bejo menemukan satu jas yang menarik perhatiannya, harga cukup pas bagi Bejo. Kemudian Bejo masuk kedalam toko jas dan banyak pakaian lainnya.
"Selamat datang mas. Mas cari jas, baju atau celana?," tanya seorang wanita muda.
"Saya mau cari jas merk izona eklusif, ada tidak disini mbak?," balas bertanya Bejo.
"Ada mas, mari saya antar."
Bejo mengikuti pengawai itu, setengah jam berlalu kedua tangan Bejo sudah banyak barang belanjaan. Ia berjalan pulang karena hari semakin larut malam, langkah pelan menuju tempat penginapan.
Saat sampai di depan kamarnya, Bejo merasakan perasaan aneh, ia menengok kanan kiri tapi tidak ada apa-apa. Kemudian masuk kedalam kamar dengan perasaan waspada, ia merebahkan tubuhnya.
Matanya terpejam perlahan menyisakan dengkuran halus dalam tidur pulasnya. Saat Bejo tertidur, samar-samar muncul sosok wanita muda dari pojok kamar. Senyum dengan wajah sedih terlihat jelas, ia seperti enggan untuk menganggu Bejo tapi ia tetap menunggu di sana.
***
Perlahan, di ufuk timur, garis jingga keemasan mulai mengoyak langit kelabu. Sang surya terbit tanpa tergesa-gesa. Sinar pertamanya menyentuh atap-atap rumah, membawa janji tentang kehangatan yang baru, sekaligus bisikan bahwa hari yang baru telah resmi di kota dingin (Alang).
Bejo mengeratkan jemarinya pada secangkir keramik tipis ini. Uap hangat dari kopi hitam yang baru diseduh mengepul bersama dinginnya pagi, membawa aroma pekat yang menenangkan. Sungguh sebuah kemewahan kecil di tengah dingin yang menusuk tulang.
"Huhh.. dingin juga disini," gumam Bejo.
Kringggg... Kringgg... Kringg..
"Halo Dinda,"
"Kamu semalem gak pulang kah Jo?,"
"Kenapa?, kamu kangen?,"
"Ishh.. gak gitu Jo, kamu ada dimana sekarang?,"
"Lagi di kota Alang, nanti siangan aku pulang,"
"Ngapain?,"
"Beli jas buat besok wisuda,"
"Oh iya aku hampir lupa. Emm.. kamu sudah makan Jo?,"
"Belum sih, tapi ini makan roti sama minum kopi,"
"Panggilan video aja Jo, pengen lihat kota Alang seperti apa."
Bejo merubah panggilan telepon menjadi panggilan video, ia melihat wajah Dinda yang terlihat baru bangun.
"Kelihatan baru bangun kamu Din!,"
"Hhehe.. iya Jo, aku baru bangun,"
"Tumben pagi-pagi dah telfon aja?,"
"Kalau gak boleh aku matiin nih,"
"Kok marah,"
"Kamu sih Jo, bikin kesel aja,"
Bejo dan Dinda mengobrol santai, ia duduk memperlihatkan keindahan kota Alang dari tempat penginapannya. Terlihat begitu indah, membuat Dinda diam fokus melihat dari layar ponselnya.
Hampir satu jam mereka baru selesai, Bejo mandi sebelum keluar dan pulang nantinya. "Mas ini masih tersisa, kenapa sudah pulang?," tanya resepsionis.
"Ambil saja sisanya sebagai bonus mbak, saya ada keperluan sekalian pulang juga," jawab Bejo.
"Terima kasih mas,"
"Sama-sama."
Bejo melangkah keluar, ia membawa dua tas cukup besar di belakang motor dan depan motornya. Ia melanjutkan perjalanan menuju tempat yang di rencanakan Bejo.
Saat sampai ternyata tutup, akhirnya Bejo memutuskan untuk pulang saja. Dalam perjalanan menuju Desa Krajan Bejo tidak buru-buru pulang, karena dia melupakan sesuatu. Setelah membeli sepatu baru untuk wisuda, ia juga membeli sepatu satu lagi untuk kegiatan lainnya.
"Siapa tau nanti butuh, agar aku gak ambil uang di dalam ini lagi." Dalam hati Bejo.
Kini Bejo melanjutkan perjalanannya, setelah membeli sepatu dan makan, ia melaju santai dalam terik matahari yang mulai naik.
Tepat pukul dua siang Bejo sampai di rumah, disana ada teman-temannya. Jarot dan Dirga, duduk di teras rumah.
"Kemana aja lu musang?,"
"Dari rumah musang,"
"Bercanda Jo. Lu udah dapat jas belum?,"
"Sudah ini,"
"Mana coba lihat,"
"Dah besok aja. Kita ke tukang cukur rambut, biar lebih tampan lagi besok,"
"Gua mah udah,"
"Aku juga udah Jo,"
"Temenin gua lah, kalau gak mau ya gak jadi rencana udud nya,"
"Iya udah ayok gas."
Bejo meletakkan semua barang belanjaannya, ia pergi bersama teman-temannya. Saat sampai di tukang pangkas rambut, Bejo kaget ternyata itu temannya sendiri.
"Lah kamu Jun," ucap Bejo, kaget.
"Tumben kesini?," tanya Juna.
"Baru tau kalau kamu pangkas rambut!,"
"Kamu sih di goa terus Jo, mana tau temannya sendiri usaha seperti ini,"
"Hhehe maaf. Ya udah kalau begitu rapikan rambutku biar keliatan tampan buat wisuda besok,"
"Siap."
Satu jam lebih akhirnya selesai, Bejo dan dua teman-temannya duduk. Jarot dan Dirga lupa memberitahu kalau Juna sekarang jadi tukang pangkas rambut, itu sudah lama memang dasar teman-teman Bejo ingatan cuman gadis-gadis cantik.