Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Tangis yang sempat tumpah di sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil kini menyisakan sesak yang begitu menghimpit dada Nadya. Begitu melangkah masuk ke dalam kamarnya, ia langsung mengunci rapat pintu kayu itu, seolah ingin mengasingkan diri dan menyembunyikan kerapuhannya dari dunia luar.
Ia menjatuhkan tubuhnya yang terasa lunglai ke atas ranjang. Di tengah keheningan kamar yang sunyi, rasa kesal, sakit hati gamang bergolak menjadi satu di dalam dadanya, sebuah badai emosi yang menyesakkan karena ia sama sekali tidak bisa membenci pria itu.
Nadya membenamkan wajahnya ke bantal, berusaha meredam isak tangis yang kembali pecah di balik rasa kecewa yang mendalam. Namun, momen sendu itu seketika terusik oleh suara dering ponsel yang nyaring, bersumber dari dalam tas Chanel yang masih tersampir di tubuhnya.
Dengan napas yang masih tersendat, ia merogoh tasnya dan melirik layar.
"Kenapa, Ris?" tanya Nadya langsung begitu panggilan terhubung. Mengetahui bahwa yang menelepon adalah sahabat dekatnya, ia bergegas menyeka sisa air mata di pipi dengan ujung jemari, lalu memaksakan diri untuk duduk tegak demi menyembunyikan kerapuhannya.
"Lo kenapa? Habis nangis? Kok suaranya serak begitu?" tanya Riska di seberang telepon, langsung menangkap nada ganjil yang tak mampu disembunyikan oleh sahabatnya itu.
Nadya menarik napas panjang, mencoba menata kembali dadanya yang masih terasa sesak. "Ceritanya panjang, Ris. Nanti saja gue ceritain kalau kita sudah ketemu," sahutnya pelan, berusaha mengalihkan topik. "Lagian, ada apa Lo nelpon gue?"
"Oh astaga, hampir lupa gue!" seru Riska di seberang sana, suaranya mendadak berubah heboh. "Lo sudah lihat grup angkatan kita belum? Buruan cek, terus coba buka link video yang dikirim di sana!"
Nadya mengernyitkan alisnya yang masih basah oleh air mata. "Emang ada apa, sih?"
"Sudah, lihat saja dulu!" desak Riska, terdengar begitu panik dan tidak sabaran.
"Ck, sabar, Neng!" sewot Nadya, namun tangannya tak urung bergerak membuka aplikasi hijau tersebut demi menuruti kemauan sahabatnya.
Tanpa membuang waktu untuk membaca rentetan obrolan yang menumpuk di grup angkatan, jemarinya langsung beralih ke bagian media tautan. Begitu melihat sebuah tautan yang berada di posisi paling atas, ia pun mengetuknya.
"Astaga... mati gue!" pekik Nadya syok.
Saking terkejutnya, napasnya seolah terhenti dan ponsel di genggamannya seketika terlepas, terlempar ke atas kasur empuk tak jauh dari tempatnya duduk. Jantungnya bertalu hebat, menyadari sepenuhnya apa yang terpampang di sana dan kekacauan apa yang akan ditimbulkan oleh video tersebut.
"Nad... Nad? Lo masih di sana?" suara Riska kembali terdengar dari ponsel, memecah keheningan karena sambungan telepon mereka ternyata belum terputus.
Dengan tangan yang gemetar, Nadya meraih kembali ponselnya. "Ris... gimana ini?" tanya Nadya dengan suara bergetar, sambil menggigit ujung jarinya. Mulutnya terasa kering.Pikirannya mendadak buntu.
"Gimana apa lagi? Lo sih, kenapa enggak mikir dulu kalau mau ngebacot sih, Nad?!" sahut Riska di seberang sana, nadanya campur aduk antara gemas dan khawatir. "Lihat tuh sekarang, seluruh penjuru kampus sudah heboh gara-gara video pengakuan kehamilan Lo!"
"Lalu gue harus gimana dong? Apa yang harus gue lakukan sekarang, Ris? Please, tolongin gue..." ratap Nadya frustrasi. Ia meremas rambutnya sendiri, benar-benar merutuki kebodohan impulsifnya yang kini berbuah petaka.
"Jujur, gue juga bingung, Nad," sahut Riska di seberang sana, mengembuskan napas berat ikut merasakan kepanikan sahabatnya. "Gimana kalau Lo cerita jujur aja sama Paman Andy? Siapa tahu beliau bisa bantu take down video itu, atau setidaknya punya solusi lain."
"Gak bisa, Ris! Gak mungkin!" potong Nadya cepat dengan suara bergetar. "Bukan video nya aja yang di take down, bisa-bisa gue juga ikut di-take down dari Kartu Keluarga nanti!"
"Gue pusing, Ris!" Nadya akhirnya bangkit dari posisi duduknya. Ia mulai berjalan mondar-mandir dengan langkah cepat dan gelisah, seolah-olah lantai kamar yang dipijaknya tiba-tiba berubah membara. Pikirannya benar-benar buntu.
"Lo pusing, gue jauh lebih pusing lagi mikirin kelakuan ajaib Lo, Nad!" sahut Riska dari seberang telepon, terdengar mengembuskan napas panjang karena ikut pening menghadapi kekacauan yang diciptakan sahabatnya sendiri.
"Tunggu, Ris, ada panggilan masuk," sela Nadya seraya menjauhkan ponsel dari telinganya.
Namun, begitu sepasang netra cokelat itu menangkap nama yang tertera di layar, rasa syoknya melonjak berkali-kali lipat. Jantungnya mencelos, membuat tangannya refleks melempar ponsel itu ke udara karena terkejut. Beruntung, benda pipih itu mendarat tepat di tengah kasur empuknya, sehingga ponsel mahalnya selamat tanpa lecet sedikit pun.
Dengan napas memburu, Nadya segera merangkak naik ke atas ranjang demi meraih kembali ponselnya yang teronggok cukup jauh di tengah kasur.
"Ris... Ris... mampus gue! Kak Rex nelpon!" bisik Nadya histeris, suaranya bergetar hebat menahan kepanikan yang kian memuncak di dadanya. "Apa... apa dia sudah tahu tentang video itu, ya?"
"Entahlah, Nad. Tapi coba Lo angkat saja dulu, hadapi pelan-pelan. Nanti kalau gue dapat solusi lain, langsung gue kabarin lagi," sahut Riska cepat, mencoba menenangkan sekaligus memberi dorongan kekuatan untuk sahabatnya yang tengah di ujung tanduk.
"Tapi... Ris... Ris... RISKAAA!" pekik Nadya frustrasi.
Napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari panggilannya telah terputus sepihak. Ia menatap layar ponselnya dengan dongkol sekaligus panik setengah mati, sahabatnya itu benar-benar tega meninggalkannya sendirian di ujung tanduk.
Ponsel di genggamannya kembali bergetar dan menjeritkan nada dering yang sama, membuat Nadya tersentak, jantungnya kian berpacu liar. Setelah mengembuskan napas panjang demi meredakan gemuruh di dadanya, ia memberanikan diri menggeser tombol hijau dengan jemari yang kentara bergetar, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Ha... halo, Kak Rex? Ke... kenapa?" tanya Nadya terbata-bata, berusaha keras menyembunyikan getar ketakutan yang menyergap suaranya. Rasa kesal dan marahnya kepada Rexsaka beberapa saat lalu menguap menjadi rasa takut.
"Dimana?" Terdengar suara dingin dari ujung sana meskipun tanpa teriak tapi nada dingin rexsaka kali ini berbeda dari nada bicara yang di pakai tentara muda itu, dan Nadya dapat merasakan bahwa pria itu dalam keadaan marah.
"Di... rumah, Kak Rex. Kenapa?" sahut Nadya selembut mungkin, mencoba mengatur napasnya agar terdengar tenang seolah ia tidak tahu-menahu tentang kekacauan apa yang tengah terjadi di luar sana.
"Saya ke sana sekarang," ucap Rexsaka dingin, langsung memutuskan sambungan secara sepihak bahkan sebelum Nadya sempat membuka mulut untuk merespons.
"Ngapain? Kak...halo? Halo?!" cecar Nadya panik.
Namun, yang terdengar di telinganya hanyalah nada mati yang dingin, meninggalkan dirinya termangu menatap layar ponsel dengan jantung yang berdegup kencang didera ketakutan.
Sepanjang perjalanan panjang Nadya mengejar cinta Rexsaka, inilah kali pertama pria itu berinisiatif menghubunginya terlebih dahulu. Namun, alih-alih melambungkan hatinya dengan kebahagiaan, kejutan ini justru menyisakan rasa cemas yang begitu mencekam.
Untuk pertama kalinya pula, bayangan akan bertemu dengan sang tentara muda tidak lagi menerbitkan binar bahagia di wajah Nadya, melainkan ketakutan luar biasa yang kini mencengkeram dadanya erat-erat.