Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pabrik Tua dan Lima Kehidupan yang Berbeda
Matahari pagi baru saja menyelinap melewati celah-celah atap pabrik tua itu, memotong kegelapan dengan garis-garis cahaya tipis yang menerbangkan butiran debu yang melayang bebas di udara. Bau besi karatan, kayu lapuk, dan sedikit aroma tanah basah tercampur jadi satu — bau yang sudah biasa bagi mereka yang tinggal di sini, bahkan sudah terasa seperti rumah sendiri.
Dari luar, bangunan ini terlihat seperti tempat yang sudah mati dan ditinggalkan selamanya. Dindingnya dipenuhi lumut hitam, jendela kacanya pecah tidak tersisa, dan rerumputan liar tumbuh subur di sela-sela pondasi. Tapi di dalamnya, justru ada denyut kehidupan yang tenang namun teratur. Ini adalah markas Malaikat Hitam, dan hari ini dimulai seperti hari-hari sebelumnya — lambat, santai, dan jauh dari hiruk-pikuk kota di luar sana.
Di bagian paling tinggi ruang tengah, di atas tumpukan balok kayu tua yang disusun rapi dan dilapisi selembar kain tebal, Kael duduk bersila. Di depannya ada meja kecil dari papan bekas yang satu kakinya lebih pendek dari yang lain, sehingga harus disanggah dengan batu agar tidak goyah. Di atas meja itu tergeletak sebuah kotak kayu berisi bubuk kopi kasar, sebuah teko timah yang sudah menghitam terkena api, dan satu cangkir tanah liat yang sudah retak di bagian bibirnya.
Kael memegang cangkir itu, lalu meniup pelan uap panas yang masih mengepul keluar. Gerakannya lambat, terbiasa, seolah melakukan hal ini setiap pagi selama bertahun-tahun.
"Masih panas?" tanya suara berat dari sebelah kiri.
Kael menoleh sedikit, lalu mengangkat bahu santai. "Bukan. Sudah agak dingin."
"Terus kenapa ditiup?"
"Kebiasaan."
Bastian yang berdiri di depannya mendecak kesal, lalu melanjutkan gerakan pukulannya. Di depannya tergantung sebuah karung goni besar yang diisi dengan pasir dan serpihan kayu, diikat kuat ke balok besi di langit-langit. Setiap tinjunya mendarat, terdengar bunyi "dug!" yang dalam dan bergema di seluruh ruangan. Tubuhnya yang padat berotot bergerak dengan tenaga yang terkontrol, keringat sudah mulai membasahi bagian atas bajunya.
"Kebiasaanmu itu sering bikin orang bingung," keluh Bastian sambil mengayunkan siku ke samping, lalu memutar pinggangnya untuk melancarkan tendangan ke arah karung itu. "Kalau tidak ada urusan apa-apa, kamu hanya duduk, memutar koin, atau menatap keluar seolah-olah bisa membaca pikiran orang lewat jendela pecah itu."
Kael hanya tersenyum tipis, lalu memasukkan tangan ke dalam saku jaketnya dan mengeluarkan koin perak bundar. Dengan gerakan jari yang terlatih, koin itu mulai berputar melintasi ruas jari-jarinya — melompat, berputar, berbalik arah, tanpa pernah terjatuh sedikit pun.
"Kalau aku terus bergerak sepertimu, siapa yang akan mengamati?" jawab Kael tenang. "Gerakanmu mengeluarkan tenaga, tapi pengamatan mengumpulkan informasi. Keduanya sama pentingnya."
Belum sempat Bastian membalas, suara berisik dan wangi yang agak menyengat tapi menggugah selera datang dari sudut ruangan sebelah.
"Kalian mau bicara sampai kapan? Mi sudah matang, tapi kalau didiamkan terus nanti lembek dan tidak enak dimakan!"
Mikhael berjongkok di depan tungku api kecil yang terbuat dari batu bata dan tanah liat. Di atasnya tergeletak panci besi yang sudah menghitam, mengepulkan uap panas yang membawa bumbu bawang dan sedikit cabai. Di sebelahnya ada piring-piring seng bekas yang sudah dicuci bersih, ditumpuk rapi. Dia mengaduk isi panci itu dengan sendok kayu sebesar lengan anak kecil, lalu mengangkatnya dengan satu tangan saja seolah tidak terasa berat.
"Kamu masak mi lagi?" tanya Bastian sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju. "Kemarin juga mi, dua hari yang lalu juga mi. Kapan kita makan daging panggang lagi?"
"Kalau mau daging, cari dulu yang bisa dibeli," jawab Mikhael sambil tertawa lebar. "Uang bulan ini baru cukup untuk beli beras, mi, dan sedikit sayur. Kalau kita boros, nanti Arda yang paling banyak mengeluh karena perutnya tidak terisi dengan cukup."
Mendengar nama itu, mata mereka serentak melirik ke arah sudut paling gelap di ruangan itu. Di sana, di atas tumpukan karung goni tebal yang disusun bertingkat, terbaring sosok Arda. Tubuhnya terlihat meringkuk, ditutupi selimut tebal yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu kusam. Suara napasnya teratur dan lambat, sesekali disertai dengkuran halus yang terdengar tenang.
Belum sempat pandangan mereka kembali ke tempat masing-masing, tiba-tiba butiran debu yang cukup banyak jatuh dari celah atap yang bocor tepat di atas tempat tidur Arda. Butiran itu jatuh menimpa kepala dan selimutnya, membuat lapisan debu tipis menutupi bagian atas tubuhnya.
Mereka bertiga menahan tawa, ingin melihat apa yang akan terjadi.
Arda tidak langsung bangun. Dia hanya mengerutkan dahi di balik selimut, lalu menggerakkan bahunya sedikit saja, mengibaskan debu itu seolah mengusir lalat yang mengganggu. Posisi tubuhnya bergeser beberapa sentimeter ke samping, mencari tempat yang lebih bersih, lalu menarik selimutnya lebih rapat lagi. Beberapa detik kemudian, dengkurannya kembali terdengar seperti tidak ada apa-apa yang terjadi.
"Lihat dia," bisik Bastian sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Bisa tidur sampai ditimpa debu, kalau tidak ada yang menjerit tepat di telinganya, dia mungkin bisa tidur sampai sore."
"Biarkan saja," suara lembut terdengar dari arah dinding. Niko sedang duduk bersandar dengan kedua kakinya terjulur lurus ke depan. Di pangkuannya ada beberapa lembar kertas lusuh dan sebatang pensil yang sudah pendek. Dia sedang membaca catatan-catatan kecil yang dikirimkan oleh para pedagang di Pasar Lama, mencatat jumlah pembayaran dan keluhan yang masuk.
"Arda tidak akan bergerak kecuali benar-benar terpaksa," lanjut Niko sambil melipat kertas itu rapi dan memasukkannya ke dalam saku. "Kalau dia bangun dan berjalan, itu tandanya masalahnya sudah cukup besar untuk membuatnya rela mengeluarkan tenaga."
Dia berdiri perlahan, lalu berjalan mendekati meja tempat Kael duduk, matanya mengamati sekeliling seolah mencari sesuatu yang tidak beres.
"Kemarin Pak Leo mengirim kabar," kata Niko sambil menyandarkan pinggangnya di pinggir meja. "Katanya ada kelompok baru yang mulai berkeliaran di ujung barat Pasar Lama. Meminta uang perlindungan dua kali lipat dari yang biasa kita tetapkan. Kalau ada yang menolak, mereka mengancam akan merusak barang dagangan."
Kael menghentikan gerakan koinnya, lalu meletakkannya di atas meja. Matanya yang tadinya santai kini terlihat lebih tajam. "Nama kelompoknya?"
"Belum jelas. Pak Leo hanya mendengar mereka menyebut diri mereka sebagai Elang Berdarah. Jumlahnya sekitar tiga puluh orang, kata laporan itu."
Bastian langsung berhenti bergerak, tangannya mengepal erat sampai otot lengannya menegang. "Tiga puluh orang? Berani sekali mereka melanggar batas wilayah kita. Kita harus pergi ke sana sekarang juga, ajari mereka cara menghormati tempat ini!"
"Tenang dulu," sela Niko sambil mengangkat telapak tangan. "Belum ada laporan bahwa mereka sudah melukai orang atau merusak barang. Mereka hanya mengancam dan meminta lebih banyak uang. Kita lihat dulu perkembangannya hari ini. Kalau mereka hanya menguji batas, cukup kirim pesan peringatan saja."
"Dan kalau mereka tidak mau mendengar?" tanya Bastian dengan nada tinggi.
"Kalau sudah sampai ke situ, baru kita bertindak," jawab Kael tegas. Dia mengambil cangkirnya kembali dan meminum isinya sampai habis. "Ingat aturan kita. Kita tidak mencari masalah, tapi juga tidak akan lari kalau masalah itu datang sendiri."
Pembicaraan mereka terhenti ketika suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar. Pintu besi utama didorong terbuka dengan keras, menimbulkan bunyi berderit yang memekakkan telinga. Seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun masuk dengan napas terengah-engah, bajunya kotor penuh debu, dan keringat membasahi seluruh wajahnya. Dia adalah Lio, anak jalanan yang sering mereka andalkan untuk mengantar pesan dan mengamati keadaan di luar.
"Kael! Bastian! Ada... ada kabar buruk!" seru Lio sambil menopang lututnya karena kehabisan napas.
Mikhael segera meletakkan sendoknya, lalu menuangkan air dari kendi ke dalam gelas dan memberikannya pada Lio. "Minum dulu, tarik napas panjang. Jangan bicara kalau napasmu masih tersengal."
Lio meminum air itu dalam sekali teguk, lalu mengusap mulutnya dengan lengan baju. Matanya terlihat cemas dan takut.
"Mereka sudah masuk ke Pasar Lama sejak matahari terbit tadi," ucapnya dengan suara yang mulai stabil. "Berjalan berbaris, membawa tongkat kayu di tangan mereka, dan menguasai setiap gang masuk. Semua pedagang dipanggil satu per satu, dipaksa membayar uang perlindungan dua kali lipat. Kalau ada yang bertanya atau menolak, barang dagangannya langsung dibuang ke jalanan dan dipukuli sampai jatuh."
Bastian menggeram pelan, rahangnya mengeras. "Siapa yang berani berbuat sembarangan di wilayah kita? Apa mereka sudah gila?"
"Pemimpinnya bernama Roderick," jawab Lio cepat. "Dia memakai jas putih bersih yang terlihat kontras dengan debu jalanan, rambutnya disisir rapi, dan matanya... matanya dingin sekali. Dia bilang sekarang dia yang berkuasa di sini. Dia juga menghina nama Malaikat Hitam. Katanya kita sudah lama diam dan lemah, saatnya diganti oleh kelompok yang lebih berani."
Seketika itu juga suasana ruangan berubah. Tawa dan keluhan sehari-hari lenyap, digantikan oleh ketegangan yang terasa menekan.
Mikhael berhenti tersenyum, wajahnya menjadi datar dan serius. Niko melangkah maju, matanya menyipit menghitung jumlah dan kemungkinan gerakan musuh. Kael berdiri perlahan, badannya yang tegap terlihat lebih besar dari biasanya, dan tatapannya yang dalam kini terasa berat.
"Roderick..." gumam Kael pelan, seolah mengingat nama itu. "Dulu dia hanya anak buah di bawah kelompok kecil di ujung kota. Ternyata dia sudah mengumpulkan cukup banyak orang dan merasa sudah kuat."
"Kita pergi sekarang juga!" seru Bastian sambil melangkah menuju pintu, tidak sabar lagi. "Aku ingin melihat bagaimana wajahnya ketika dia tahu siapa yang dia hina!"
"Jangan terburu-buru," kata Niko sambil mengikuti di belakangnya. "Ingat aturan emas. Tidak boleh ada senjata tajam, tidak boleh ada benda keras yang bisa melukai parah. Kalau mereka melanggarnya, kita punya hak untuk bertindak lebih tegas. Tapi kalau mereka masih memegang aturan, kita harus menyelesaikannya dengan cara yang benar."
Kael mengangguk setuju, lalu melirik sekilas ke arah sudut ruangan tempat Arda tidur. Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di samping tumpukan karung itu.
Suara langkah kaki dan percakapan yang lebih keras akhirnya membuat Arda menggerakkan badannya lagi. Dia membuka matanya perlahan, hanya setengah terbuka, menampakkan tatapan yang sayu dan mengantuk. Matanya berputar sekilas mengamati keadaan, lalu mendengus pelan.
"Kenapa berisik sekali..." gumamnya dengan suara serak, lalu menguap lebar sampai matanya terasa berair. "Apa hari ini libur atau ada pesta sehingga semua orang berteriak dari pagi?"
Kael tersenyum tipis mendengarnya. "Ada sedikit gangguan di Pasar Lama, Arda. Kami berempat akan pergi ke sana untuk menyelesaikannya. Kemungkinan hanya peringatan biasa, tidak akan lama."
Arda mengangkat satu tangan, melambaikannya pelan seolah mengusir nyamuk. "Baiklah, pergilah. Selesaikan cepat. Kalau sampai telat, nanti mi yang dimasak Mikhael jadi dingin dan tidak enak."
Dia mulai memejamkan matanya lagi, tapi suara Kael menyusul pelan.
"Kalau ternyata mereka tidak mau mendengar dan situasinya menjadi sulit..."
Arda menghela napas panjang, seolah mengeluarkan tenaga yang sangat besar hanya untuk mendengarkan. Matanya tetap setengah terpejam.
"Kalau sudah benar-benar terjebak, tidak ada jalan keluar, dan kalian sudah tidak sanggup lagi..." jawabnya pelan dan lambat. "Baru panggil aku. Tapi ingat — jangan panggil aku hanya karena bertemu sedikit kesulitan. Jalan ke Pasar Lama itu butuh waktu dua puluh menit berjalan kaki, sepuluh menit naik motor. Itu jarak yang cukup jauh, melelahkan, dan membuat badan berkeringat. Kalau aku harus bergerak, pastikan itu memang hal yang sangat perlu."
"Baiklah," jawab Kael mengerti. "Kami akan berusaha menyelesaikannya sendiri. Jaga diri di sini."
"Selalu saja begitu," gumam Arda lagi, lalu meraba saku jaket lusuhnya dan mengeluarkan segenggam kacang tanah yang sudah dikupas. Dia memasukkannya ke mulut, mengunyah dengan gerakan lambat dan santai. "Semoga cepat selesai. Jangan sampai mengganggu waktu tidur siangku nanti."
Keempat sahabatnya hanya menggeleng sambil tersenyum kecil, lalu berbalik dan melangkah keluar. Pintu besi ditutup kembali, meninggalkan Arda sendirian di dalam ruangan yang luas itu.
Begitu suara langkah kaki mereka menghilang, Arda memutar posisi tubuhnya untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Dia menarik selimutnya menutupi sampai leher, lalu menghela napas panjang.
"Semoga saja urusannya cepat selesai..." bisiknya pada dirinya sendiri sambil menatap celah atap tempat cahaya matahari masuk. "Aku benar-benar tidak ingin harus bangun lagi dan bergerak terlalu jauh hari ini. Rasanya hari ini adalah hari yang pas untuk tidur sampai sore."
Namun, di luar pabrik tua itu, angin mulai berhembus lebih kencang membawa debu dan suara keributan samar dari arah tengah kota. Di Pasar Lama, Roderick sudah duduk di atas meja kayu yang diambil dari kios pedagang, memainkan korek api di tangannya sambil tersenyum sombong — tanpa sadar bahwa keberaniannya hari ini mungkin akan menjadi kesalahan terbesar yang pernah dia buat.
Di dalam pabrik tua itu, Arda mulai terpejamkan matanya kembali, tidak tahu bahwa ketenangan yang dia harapkan hari ini mungkin akan segera terganggu. Matahari perlahan bergerak naik ke langit, menandakan bahwa hari baru di Kota Veyra baru saja dimulai — dan hari ini mungkin bukan hari yang tenang seperti yang dia bayangkan.
Bersambung...