NovelToon NovelToon
Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adzana Raisha

Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.

Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fasilitas Sama

Mengapa ia harus masuk pada waktu dan situasi yang tak tepat. Begitulah kiranya makian yang Zara tunjukan untuk dirinya sendiri. Sakit yang ia rasa, tak sebanding dengan malu yang harus ditanggung.

"Apa ada yang terasa sakit?" Begitulah kalimat pertama yang diucap Arka kala membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.

Zara menggeleng, dan masih enggan membuka netranya.

"Kau tidak apa-apa?" Terdengar sejejak kekhawatiran dari nada bicara pria itu.

Aku akan apa-apa jika Tuan masih tetap tak memakai pakaian.

Mengintip sedikit dari ujung sudut netranya, samar tergambar jika Arka masih tetap mengenakan handuk tanpa atasan. Zara lantas memejamkan netranya dengan rapat kembali.

"Tuan, tolong kenakanlah pakaian, jika anda tak ingin terlambat bekerja." titah Zara masih dengan netra yang terkatup rapat.

Beberapa detik Arka masih berdiri mematung sembari mencerna arti ucapan istri mungilnya. Tanpa berkata, ia meninggalkan sang istri menuju walk in closet, lantas mengenakan stelan jas rapi beserta dasi yang melingkar dikerah kemejanya.

Zara yang samar mendengar langkah kakinya menjauh, perlahan mulai berani untuk membuka sedikit demi sedikit netranya. Menyadari tak ada siapa pun bersamanya, gadis itu pun bangkit dan menyentuh bagian pinggang yang teramat nyeri.

Tangan mungilnya berusaha memijat perlahan bagian tubuh yang sempat terhentak kelantai tanpa aba-aba. Meringis tertahan, Zara mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang teramat di area belakang tubuhnya.

"Bagaimana, apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" Arka mendekat dan menyentuh bahu dan lengan Zara lembut, memastikan jika istrinya dalam keadaan baik-baik saja.

Zara menepis tangan suaminya yang menempel di lenganya lembut, tak berniat menolak namun masih engan menerima sentuhan atau semacamnya mengingat hubungan pernikahan yang mereka jalani semata-mata hanya menuruti keinginan Anastasya. Zara sendiri pun ragu dan meyakini jika Arka menjalani hubungan ini pun atas dasar keterpaksaan. Maka dari itu dirinya enggan berharap lebih atas apa pun dari suaminya.

"Tidak Tuan saya tidak apa-apa. Lagi pula, saya sempat terjatuh karna terkejut."

"Apa kau yakin?" Arka menatap tubuh istrinya dari atas kepala hingga ujung kaki, namun tak menemukan adanya bekas luka di sana. "Suara benturan tadi terdengar cukup keras, aku takut jika kau sengaja menahan rasa sakit itu dan tak mau mengatakannya kepadaku."

Zara menelan salivanya kasar. Kenapa Tuan Arka bisa sampai tau sih. "Tuan saya baik-baik saja, lihat ini." Zara menggerakan seluruh tubuhnya layaknya berjoget. Meski ia menahan dengan sekuat tenaga rasa nyeri di pinggangnya. "Tidak ada masalah bukan," sambungnya lagi dan menghentikan gerakan tubuhnya setelah dirasa lelah bergoyang.

"Baiklah jika kau memang tak merasakan sakit." Arka menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menatap kearah istrinya. "Sebaiknya kita turun kebawah dan sarapan. Waktu sudah beranjak siang dan aku akan pergi kekantor."

Zara hanya mengangguk. Arka berjalan lebih dulu dan diikuti sang istri di belakangnya. Kaki panjang Arka mempermudahnya untuk berjalan lebih cepat, sementara kaki mungil Zara nampak kesulitan mengejar langkah suaminya yang semakin jauh meninggalkannya.

Zara tersenyum saat mendapati beberapa menu sarapan hasil karyanya tertata apik di meja makan. Arka duduk di sebuah kursi yang biasanya ia tempati, sementara Zara kembali menduduki kursi di sisi kiri suaminya.

"Selamat pagi semua. Maaf aku terlambat," sapa Anastasya yang baru saja bergabung dengan mengenakan pakaian rapi, dan duduk di sisi kanan suaminya.

"Bibi," panggil Anastasya pada kedua pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Kedua pelayan itu pun mendekat dan mulai menyiapkan makanan di piring Anastasya. Akan tetapi saat pelayan lain mendekati Arka, pria itu pun menolak.

"Biarkan Zara yang akan melakukanya untukku," titah Arka dengan tegas hingga pelayan itu tampak ketakutan dan menjauh beberapa langkah dengan kepala tertunduk.

Zara terkesiap. Sungguh ia merasa sangat tak nyaman berada dalam posisi seperti ini. Jika boleh memilih, gadis itu akan lebih merasa senang jika Anastasyalah yang mengambil peran besar untuk melayani sang suami sebagia istri pertamanya.

Gadis itu masih terdiam, meski dengan gambang Arka menginginkan pelayanan darinya. Ragu menatap kearah Anastasya di depannya, namun bukanlah wajah kesal atau pandangan sinis yang ia dapatkan. Anastasya justru tersenyum senang dan mengedipkan netra, seolah memberi isyarat jika ia tak keberatan dengan permintaan suaminya.

"Zara."

"Iya Tua!" Zara lantas mengambil beberapa potong sandwich ke dalam piring, beserta salat sayuran dan segelas jus jeruk wortel tepat di hadapan suaminya.

Sunyi. Hanya terdengar denting piring dan sendok bertubrukan sebangai pemecah keheningan. Arka terlihat menikmati setiap gigitan sandwich yang masuk kedalam mulutnya, begitu pun Anastasya.

"Bi Surti," panggil Arka dengan suara baritonnya yang mana membuat surti lekas mendekat.

"Iya Tuan."

"Siapa yang memasak makanan ini, kenapa rasanya berbeda?" Arka merasakan rasa lain di dalam indra pengecapnya hingga tak tahan untuk tak bertanya.

Glek.

Zara dan Surti menelan salivanya susah payah dengan pandangan saling terpaut. Tak ingin Surti yang merasakan imbas dari kekeras kepalaanya, gadis itu pun dengan cepat mengakui perbuatanya.

"Saya yang sudah memasaknya Tuan, maaf jika rasanya tidak seenak masakan para koki di rumah anda. Jangan salahkan Bi Surti dan para Koki, sebab sayalah yang sudah memaksa." Tertunduk dalam, Zara bahkan tak berani hanya untuk sekedar menegakkan kepala.

"K-kau yang sudah memasaknya?" gumam-guman tak percaya Arka mengucapnya, namun seketika ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu di toko bunga saat Zara menyajikan semangkuk sup yang mampu ia habiskan sebab rasanya yang terasa pas di mulutnya.

"Iya Tuan, maafkan saya." Zara masih tetap menunduk.

"Tak masalah, lanjutkan sarapanmu," pinta Arka pada Zara.

Zara mulai mengunyah sarapannya lagi meski dengan tangan gemetar. Sementara Arka menatap Surti dengan pandangan penuh pertanyaan, namun Surti yang sudah cukup lama mengenal Tuannya seolah mengerti akan arti dari tatapan itu. Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum penuh kebahagian dan sesekali mengangguk sebagai jawaban.

******

Anastasya dan Arka berjalan beriringan menuju pintu keluar rumah utama. Seperti biasa, Anastasya tetap sesekali mengunjungi toko walau sekedar untuk memantau. Sementara Arka sudah bersiap menuju kantor bersama dengan Sam yang tengah berdiri menunggunya di sisi mobil.

Dari kejauhan terlihat Anastasya mencium punggung tangan suaminya sebelum beranjak ke luar rumah. Zara yang hanya menatap dari kejauhan ragu untuk mendekat, dan hendak berbalik menuju kamarnya, namun suara lembut Arka, terdengar tengah menyebut namanya.

"Zara, kemarilah," ucapnya dengan mengulurkan tangan kanannya.

Gadis itu pun mendekat. Meski dirinya tak tau pasti untuk apa namanya disebut.

Arka membuka dompet yang berada di saku bagian belakang celana bahannya, meraih satu buah kartu dan memberikannya pada Zara.

"Ini untukmu. Ambillah," titahnya.

Zara mengamati kartu berwarna hitam itu, namun manis enggan untuk meraihnya.

"Ini kartu kredit tanpa batas. Kau bisa mengunakannya untuk keperluanmu juga orang tuamu."

Orang tuaku?. "Tapi saya rasa, saya masih belum membutuhkannya Tuan." Tanpa aku meminta pun, seluruh kebutuhan hingga makananku pun sudah anda cukupi Tuan. Lalu untuk apa guna benda semacam ini untukku Tuan.

Terdengar Arka menarik nafas dalam. "Kau sudah menjadi istriku, sudah menjadi kewajiban bagiku untuk mencukupi kebutuhanmu sebagai seorang suami termasuk membiayai hidup kedua orang tua. Seperti Anastasya yang mendapatkan seluruh fasilitas hidup dariku, kau pun demikian. Tak ada perbedaan diantara kalian berdua. Kalian ada istri-istriku yang sudah menjadi tangungan hidupku." jelas Arka dengan penuh peringatan.

Gadis itu menganguk dan menerima benda tipis itu lalu menggengamnya.

"Aku akan berangkat bekerja. Jika kau bosan, pangil surti untuk mengajakmu berkeliling atau pun menuju ruangan mana pun yang kau sukai di rumah ini." Arka mengusap bahu Zara lembut. Ia cukup tau jika istri mungilnya itu merasa kesepian berada di dalam rumah yang masih asing baginya.

"Tak usah menunggukku, seperti hari-hari biasanya, aku akan pulang larut malam disaat seluruh pekerjaanku benar-benar terselesaikan."

Gadis itu pun menggangguk, netra beningnya menatap netra suaminya lekat. Tubuh Arka yang tinggi menjulang, berbeda jauh dengan Zara yang mungil dan hanya setinggi dadanya saja.

"Aku akan pergi. Jaga dirimu baik-bsik, dan tetap berada di rumah." Arka sempat mengusap puncak kepala Zara lembut sebelum berbalik meninggalkan istrinya itu.

"Hati-hati di jalan," pesan Zara dengan suara pelannya yang dibalas senyuman hangat suaminya sebelum memasuki mobil.

Lambaian tangan menjadi pemisah di antara keduaanya, di iringi deru mesin mobil yang kian menjauhi rumah utama.

Zara masih terpaku menatap mobil yang membawa suaminya hingga menghilang di gerbang utama. Kemudian menatap sebuah kartu pemberian sang suami di tangannya.

Anda bahkan mengingat orang tuaku, Tuan. Tetapi akankah Orang tuaku bisa menerima kehadiran anda sebagai suamiku.

1
Surati
bagus
sinta febrianti
udah bisa di tebak pas Zara nyuruh suaminya ngelepasin sandy pasti bkln kya gni. hrusnya arka wlaupun Zara ngmng sruh lepaskan hrusnya dia ttep nyuruh bodyguard nya buat beresin sandy biar gak bkin ulah lgi.. lah ini malah di bebasin yo wis jdinya begitu sandy berulah lgi
Rikawaii San
Luar biasa
Retno Elisabeth
menarik ceritanya thor
Inaqn Sofie
knp manggilnya tuan trs ya
Adeva Rizky
kok Zara,ngomong sama arka msh aj formal.gk cocok
Lena Sari
masa lalu seperti apa yg nona Anastasya sembunyikan???
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trusvsukses
fifid dwi ariani
trus sehat
Murwa Malefy
heheeee puncak kepala thor...😀 semangaattt thor..
YK
memang lebih baik dengan Ken yg didewasakan dengan cobaan. bukannya rangga yg lari dari cobaan dan meminta sahabatnya yg bertanggungjawab atas permasalahan yg disebabkan oleh dirinya sendiri...
YK
noh, siapa yg kemaren sibuk menghujat arka????
YK
cowok kere aja belagu...
YK
apakah tasya sakit? HIV mungkin?
Sri Wahyuni
kan s zara msih punya bpk knp pke wali y hakim
Sri Wahyuni
hrus nya s tasya itu memprbaiki dri dn hrs bersyukur msih ada yg mau mengeluarkn dri dunia lmbah hitam s arka mau menikahi nya hrs hidup lah yg lbih baik nikmati yg udah d sdiakan suami nya the real az hidup dn hnya krn cinta yg blm d dpt jd tmbah hilng arah cp tau dngn bnyk bersyukur dn brsbar akn tba wktu y yg d ingin kn tpi ini klkuan bkin jengah suami az
Sri Wahyuni
mungkin tdi y tasya itu jalang yg taubat..dan s zara skrng az blng ga mau k dpn y pasti bucin merem melek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!