Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Bayang Masa Lalu dan Janji di Batas Nadir
"Sienna! Buka mata lo, jangan bercanda! Sienna Rose!"
Suara Declan yang biasanya sedingin es kini pecah, bergetar hebat dipenuhi kepanikan yang teramat murni di dasar jurang yang remang-remang. Cengkeraman jemari lemah Sienna di kemeja hitamnya perlahan terlepas seiring dengan kedua mata kucing cewek itu yang tertutup sempurna. Di bawah pendar cahaya senter tim evakuasi yang mulai menembus kabut, Declan bisa melihat darah segar mengalir semakin deras dari pelipis Sienna, membasahi jemari tangannya sendiri.
"TOLONG!!! CEPAT TURUN KE SINI, SIALAN! DIA PINGSAN!" teriak Declan kesetanan ke arah atas tebing, suaranya menggema parau di antara dinding-dinding batu.
Pria tsundere yang selalu jaim itu kini kehilangan seluruh kendali dirinya. Dia mendekap tubuh lemas Sienna semakin erat, menyembunyikan wajah pucat cewek itu di ceruk lehernya yang panas karena napas yang memburu. "Sienna... bangun, Rose. Gue mohon... jangan tinggali gue. Jangan pergi... jangan tinggalin gue sendirian lagi..." rintih Declan berkali-kali, mengecup kening Sienna yang mulai terasa dingin dengan air mata yang tanpa sadar lolos di sudut matanya.
Melihat tubuh Sienna yang tak bergerak dan darah yang membasahi tangannya, sebuah distorsi memori mendadak menghantam kepala Declan dengan sangat telak. Rasa takut kehilangan yang teramat besar ini... memicu trauma masa kecilnya yang paling kelam.
Dalam pekatnya kabut dasar jurang, kesadaran Declan seolah ditarik paksa mundur ke belasan tahun yang lalu.
Hujan deras mengguyur kediaman mewah keluarga Bryer saat Declan kecil yang baru berusia sepuluh tahun berlari keluar rumah tanpa alas kaki. Di depan gerbang, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah bersiap untuk pergi. Di dalam mobil itu, ibunya duduk di kursi penumpang, menolak untuk menoleh ke arah Declan yang menangis histeris.
"Mama! Jangan pergi! Declan mohon, Ma! Jangan tinggalin Declan!" teriak Declan kecil sambil memukul-mukul kaca mobil yang tertutup rapat.
Ibunya tidak pergi sendirian. Di kursi kemudi, duduk ayah Edrick Jasper—pria yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuanya dengan gelontoran uang dan kekuasaan. Namun, yang paling menancap sebagai belati di dada Declan adalah siluet seorang anak laki-laki di kursi belakang. Edrick Jasper kecil duduk di sana, menempelkan wajahnya di kaca mobil sambil melempar senyuman miring yang sangat puas, meremehkan, dan penuh kemenangan karena ibunya telah resmi memilih ayahnya daripada Declan.
Ekspresi senyum puas Edrick itu... adalah hantu yang terus mengejar hidup Declan hingga mereka tumbuh remaja.
Kilasan memori itu berputar cepat, berpindah ke masa SMA mereka di koridor laboratorium kimia yang dipenuhi asap tebal. Hari itu, sebuah ledakan kecil terjadi akibat sabotase kain di dekat kompor lab. Declan yang mengetahui Sienna berada di dalam langsung berlari sekencang mungkin untuk menjadi pahlawan bagi cewek itu.
Namun, Declan terlambat satu detik.
Begitu dia mendobrak pintu, Edrick sudah lebih dulu menggendong tubuh Sienna yang terbatuk-batuk keluar dari kepulan asap. Saat melewati Declan, Edrick kembali menoleh, memberikan ekspresi senyuman puas yang sama persis seperti di dalam mobil belasan tahun lalu. Seolah ingin berbisik: 'Gue menang lagi, Bryer.'
Bahkan puncaknya terjadi di lapangan sekolah saat acara festival musim panas. Di bawah sorakan riuh dan tepuk tangan meriah dari teman-teman sekelas, Edrick berdiri di depan Sienna yang tampak tersipu malu, menembak cewek itu dengan seikat bunga besar. Declan hanya bisa berdiri di balik bayangan koridor gelap, meremas jemarinya kuat-kuat sampai berdarah, menyaksikan bagaimana Edrick seakan sangat puas bisa memiliki dan merebut apa yang tidak akan pernah bisa Declan dapatkan karena ego dan gengsinya sendiri.
Edrick selalu mengambil wanita yang berharga di hidupnya. Ibunya... masa lalu Sienna... semuanya direbut oleh bajingan itu.
"Gak... gak akan gue biarkan lagi," desis Declan parau, kesadaran masa kininya tersentak kembali ke dasar jurang.
Tatapan mata Declan yang semula dipenuhi ketakutan mendadak berubah menjadi sangat tajam, menggelap oleh kobaran dendam dan tekad yang mutlak. Dia menatap wajah pingsan Sienna di pelukannya, lalu mendongak ke arah atas tebing tempat Edrick sedang berdiri melihat ke bawah.
"Gue udah kalah berkali-kali dari lo di masa lalu, Jasper," batin Declan dengan rahang yang mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang. "Tapi kali ini... Sienna ada di tangan gue. Gue bersumpah demi nyawa gue sendiri, gue bakal dapetin Sienna sepenuhnya kali ini. Gue gak akan pernah biarkan lo menang lagi!"
"Mas Declan! Tim medis sudah sampai! Tolong longgarkan pelukannya agar kami bisa memasang tandu darurat!" seru seorang petugas penyelamat yang akhirnya berhasil turun menggunakan tali seling, disusul oleh tiga kru lainnya yang membawa kotak pertolongan pertama.
Declan mengatur napasnya yang memburu, perlahan melonggarkan dekapannya namun tangannya tetap menggenggam erat jemari dingin Sienna seolah enggan melepaskannya meski hanya satu milimeter. "Cepat bawa dia ke rumah sakit. Kalau sampai ada luka fatal di tubuhnya... gue sendiri yang bakal hancurin acara ini," ancam Declan dengan suara baritonnya yang sangat dingin dan penuh wibawa, membuat dokter tim medis langsung bergerak cepat tanpa berani membantah.
Sienna perlahan dipindahkan ke atas tandu dengan sangat hati-hati. Saat tandu itu mulai ditarik naik ke atas tebing, Declan ikut memanjat di sampingnya, matanya tidak sekalipun beralih dari wajah pucat sang istri kontrak.
Di atas tebing, Edrick berdiri membeku di bawah guyuran lampu sorot kru, menatap bagaimana Declan melindungi Sienna dengan seluruh jiwa raganya. Namun kali ini, tidak ada lagi senyuman puas atau kemenangan di wajah tampan Edrick. Yang tersisa hanyalah kilat kecemasan dan rasa frustrasi karena dia tahu, topeng manipulasi masa lalunya kini telah hancur, dan Declan tidak akan pernah memberikan celah sekecil apa pun lagi baginya untuk menyentuh Sienna Rose. Perang sesungguhnya di antara kedua pria itu baru saja resmi dimulai di atas darah dan air mata malam itu.