Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.
Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.
apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19.
Pagi hari tepat di rumah mewah pak badi, yang biasanya selalu ramai bercanda gurau atau hanya cuma berbincang di meja makan kali ini sunyi dan hawa terasa dingin.
tidak ada tawa dan canda di pagi hari itu. semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Bastian tidak tahan dengan suasana seperti ini, akhirnya dia memberanikan diri membuka suara.
" pakde, budhe. Bastian izin mau liburan sama teman di puncak, rame kok yang ikut. Bela juga ikut." izin Bastian dengan sengaja menyebut nama Bela.
" boleh tapi sebelum kamu berangkat budhe mau nitip sesuatu buat Bela." mamih mengizinkan, dengan gerakan pelan menaruh sendok diatas piring yang sudah kosong.
" walaupun Bela ngga jadi menantu di keluarga ini, budhe tetap anggap Bela anak budhe. jadi tolong ya Bastian jaga Bela jangan di sakiti lagi hatinya." sindir mamih sambil melirik sinis kepada putranya.
papih hanya diam. papih menyerah kan semuanya kepada istri tercinta, karena hanya istrinya yang paling jago sindir menyindir.
Arga yang mendengar nama Bela langsung jantungnya berdetak cepat, dia mulai paham dengan detakan jantung ini. dia mulai mencintai Bela, tapi Arga terus mengelak dengan perasaannya.
" siap budhe." Bastian langsung melanjutkan sarapannya lagi.
setelah sarapan papih masuk keruang kerjanya, baru saja papih ingin mengecek data perusahaan, mamih sudah menghampiri dengan wajah yang cemberut.
papih menghela nafas panjang.
" kenapa lagi mamih, papih kan udah turutin semua perkataan mamih."
" mamih tuh masih kesel sama Arga pih, itu anak kok susah banget di kasih tau. apa jangan- jangan Arga di pelet sama wanita jalang itu ya pih?" terka mamih.
" kayaknya ngga mih. selama anak buah papih nyelidikin.. ngga ada yang berbau dukun dengan tingkah wanita itu."
" sudah mih kita jalanin saja dulu rencana kita. biarkan Arga merasakan susahnya merintis dari nol dan pastinya wanita itu tidak akan bertahan lama dengan Arga." lanjut papih mencoba meyakinkan istrinya.
sedang kan di tempat lain. Lula dan Bela sudah sampai di markas "peace".
" buset La ini rumah siapa? rumah baru lu? gedongan bener ya." kepala Bela celingak celinguk melihat sekitar.
" bukan rumah gue, ini tuh markas "peace"." jelas Lula sambil menghubungi Bagas.
" lah terus kenapa kita kesini? katanya mau ke puncak." alis Bela mengkerut.
Lula mengabaikan Bela yang terus mengoceh. Dia terus menghubungi Bagas dan Galang, tapi ngga ada satupun yang mengangkat panggilannya.
gerbang rumah megah itu terbuka, keluar 4 laki-laki bertubuh besar dengan badan penuh tato. Lula terkejut hampir saja hpnya terlepas, Bela juga ngga kalah terkejut.. dia langsung memeluk tangan Lula.
"wah ada cewek nih, cakep juga." ucap laki-laki berwajah brewok.
" mau kemana neng? di sini ngga Terima lonte, ngikut kita aja gimna? cari tempat lain." seringai laki-laki berwajah codet.
Lula dan Bela semakin takut, Lula berkali-kali menghubungi Bagas dan Galang.
Dari dalam rumah megah terdengar suara laki-laki lain. Bela mambatin, -anjir kok makin banyak yang keluar-
laki-laki itu keluar menghampiri anggota "peace". Bela dan Lula langsung bernafas lega karena mereka kenal dengan laki-laki itu.
" KITING TOLONGIN KITA. KITA MAU DI JUAL SAMA BAPAK PREMAN." Bela langsung berteriak saat melihat temannya Bastian, tangannya sambil menunjuk laki-laki berbadan besar.
Riko terkejut melihat Bela dan Lula di depan markasnya.
" loh kok kalian ngga ngabarin kalo udah nyampe."
" bos lo kenal mereka?" Tanya salah satu laki-laki berbadan besar.
" ya kenal lah temen gue itu, lo apain mereka emang?" selidik Riko.
" eh a-anu bos cuman mau kenalan." kikuk laki-laki berwajah brewok.
" jangan macem-macem. salah satu dari mereka pacarnya Bagas." ucap Riko yang membuat 4 laki-laki bertubuh besar langsung kaku.
" a-ampun bos, sumpah kita cuman ngajak kenalan ngga macem-macem." laki-laki berwajah codet langsung ciut.
"BOHONG, TADI MEREKA GODAIN KITA. YAKAN LA?" elak Bela dan di angguki Lula.
para preman makin berkeringat dingin karena akuan Bela.
" udah-udah, yuk masuk aja. mereka udah pada nunggu." ajak Riko yang langsung di ikuti Bela dan Lula.
mereka menuju kedalam markas "peace". di dalam banyak sekali anggota anggota peace yang sedang berkumpul, Riko mengajak Bela dan Lula memasuki ruangan khusus yang memang di buat untuk inti geng "peace".
Riko membuka pintu, suara deritan pintu membuat semua orang yang di dalam menoleh. Lula tersenyum kikuk tapi Bela terdiam matanya menatap ke satu orang yang sedang memainkan handphone.
Bela merasa familiar dengan orang itu.
" Batu Bara." panggilnya.
merasa ada yang memanggil dengan nama masa kecilnya, Bara menoleh. Dia melihat ada 2 perempuan yang sangat dia kenali dan ini adalah pertama kali mereka bertemu kembali setelah berpisah 5 tahun lalu.
"YA AMPUN BATU BARA, GUE KANGEN LO." Bela berlari dan langsung menubruk badan Bara lalu memeluk erat.
Bara terkekeh sambil membalas pelukan Bela, Riko dan Bastian terkejut melihat Bara terkekeh hanya dipeluk Bela. pasalnya Bara sangat sangat jarang sekali mengekspresikan wajahnya, selalu saja datar.
" lu kapan balik ke Indonesia, ko ngga ngabarin kita." ucap Bela sambil menabok lengan Bara, Bastian dan Riko terkejut lagi dengan keberanian Bela. baru kali ini ada yang berani mukul Bara walaupun itu hanya tabokan manja.
Bela langsung menoleh kebelakang mencari sahabat satunya lagi. Bela terkejut melihat Lula sudah menangis sambil menatap Bara di sebelah Bela.
Bara yang melihat itu langsung tertawa, dia menghampiri Lula lalu memeluknya.
" Anjir kagak berubah lu, ternyata masih cengeng juga."
Bela ikut nimbrung di pelukan Lula dan Bara.
"Akhirnya kita kumpul lagi."
Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut Melihat kekasihnya sedang berpelukan dengan Bara.
langsung saja dia dorong Bara, ngga peduli kalo yang dia dorong adalah ketua geng peace. rasa marahnya sudah menggebu gebu.
Bela yang memang tadi nyempil di pelukan mereka langsung ikut terdorong.
" Aduh pant** gue." ringis Bela.
Bara mau marah tapi langsung di sela sama Riko.
" eits santai bro, bagas salah paham." Riko menenangkan Bara.
" bee kenapa kamu dorong Bara." Lula agak kesal dengan Bagas.
" maksud kamu apa peluk peluk cowo lain?" marah Bagas.
" ya ampun bee, dia sahabat aku. yang sering aku ceritain itu loh."
" hah maksudnya?" bingung Bagas
" ish itu loh yang aku bilang punya sahabat cowok yang gembul."
Bagas langsung teringat cerita Lula tentang sahabat masa kecilnya yang mempunyai badan gembul. Bagas langsung tertawa terbahak bahak.
Bara hanya mendengus karena aibnya terbongkar.
Mereka semua akhirnya bersiap setelah semua sudah berkumpul. mereka pergi beramai-ramai menggunakan motor. banyak anggota geng peace yang membawa kekasihnya jadi Bela dan Lula merasa aman karena ada teman segender.
" wih keren banget gue, berasa jadi anak geng motor." celetuk Bela yang di bonceng Galang.
" makanya jadi cewe gue biar ngerasain terus jadi anak geng motor." timpal Galang.