Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Cuap-cuap
Rahasia busuk Rara terbongkar saat Aditya akhirnya menemui mereka. Laras hampir saja pingsan begitu melihat wajah tengil Aditya yang sebenarnya biasa saja. Hanya karena Laras sudah terlanjur benci dan muak, jadilah wajah itu selalu terlihat tengil dan menyebalkan.
"Kak Aditttt, akhirnya kita ketemuuuu." Rara berlari memeluk Aditya sesaat. Gadis kecil itu terlihat kekanakan. Harusnya Rara tidak harus seheboh itu karena pada dasarnya mereka hampir seumuran.
Laras tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu masih shock, tidak menyangka akan ada pertemuan kedua padahal sumpah untuk tidak bertemu dengan Aditya terucap belum genap seminggu. Tidak ada teman menitip paket, yang ada hanya Aditya. Laras menatap Rara dengan sengit, entah sejak kapan adiknya pandai berbohong.
Sedangkan tawa kemenangan terdengar lirih dari arah Aditya. "Loe Rara adiknya Laras kan? enggak nyangka se-extrovert ini, jauh berbeda dengan kakaknya." Aditya menepuk punggung Rara dua kali. "Kalian sudah sarapan?"
"Udah dongg." Rara terlampau ceria, hatinya masih tidak menyangka akan bertemu langsung dengan Aditya bahkan lebih dari sekedar VIP. Rara berani bertaruh jika dirinya adalah fans pertama yang bisa datang ke kediaman Aditya, dirinya tidak sabar untuk memamerkannya kepada seluruh dunia.
"Yah padahal gue mau ngajakin sarapan bareng." Aditya menurunkan nada bicara, sedikit kecewa karena rencananya untuk sarapan bersama gagal. Harusnya dia bilang pada Rara agar tidak usah sarapan, tapi Aditya lupa.
"Aku mau nemenin kok, kak Laras juga bisa. Iya kan?" Rara menarik lengan Laras. "Kak maaf ya, tapi ini demi bisa bertemu Aditya. Katanya dia pengen ketemu sama Kakak juga...." gadis kecil itu memeluk Laras erat. Memohon dengan suara rendah, memelas, terdengar menyedihkan. Seakan menyesal karena telah berbohong.
Di depan kakak beradik itu, Aditya memasang senyum menggoda pada Laras. Sedangkan Laras membalasnya dengan tatapan sinis.
"Ini yang terakhir kalinya atau aku tidak akan pernah menganggap mu adik," tegas Laras.
"Kakakmu memang baik." Aditya memuji, walau begitu nadanya tidak terdengar tulus, malah seperti orang mengejek. Seakan Laras telah kalah darinya, scor sementara satu kosong.
"Jadi sekarang apa?" Tanya Laras, gadis itu melepas rengkuhan Rara.
"Entar dulu, kakak jangan bilang hal ini ke ayah ya?" Rara kembali memohon, jika sampai Laras bercerita bisa murka kedua orangtuanya. Rara tidak ingin hal itu terjadi. "Kak, pleaseeee. Setelah ini aku enggak akan ngajak-ngajak kakak lagi buat ketemu Aditya, kecuali kalo kakak yang mau. Benerannn." Suara Rara lirih sebab takut Aditya tersinggung.
"Kak, ini yang terakhir," sambungnya.
Laras mengangguk, ingin protes toh percuma saja. Sudah kejadian. "Jadi ngapain sekarang?" gadis itu mengulang pertanyaannya.
"Aku cuma mau foto sama Aditya." Rara kembali berbisik, kemudian perhatiannya kembali pada Aditya. "Ayo kita temenani makan, kak... Ah iya, aku bingung mau manggil Aditya langsung apa pake embel-embel." Rara berpikir sejenak, menatap idolanya seakan meminta pendapat.
"Aditya saja, sepertinya kita seumuran." Aditya mengarahkan mereka ke meja makan. Menarik kursi untuk Rara dan Laras bergantian. "Duduk di sini."
"Makasih ya... Emang Aditya umur berapa sekarang?" Rara kembali bertanya, rasa kepo meningkat drastis. Tidak ada canggung, malahan sikapnya kini seolah seperti teman sekelas. Bukan tanpa sebab, pembawaan Aditya santai dan nampaknya tidak membatasi. Seolah-olah mereka buka idola dan fans, tapi teman dekat.
"17 jalan 18."
"Lahhh, aku bentar lagi mau 17 tahun! Emangnya ngonser-ngonser gitu enggak ganggu sekolahnya?" Rara menyimit kerupuk tanpa rasa malu. Toh Aditya pasti tidak keberatan.
Aditya menggeleng, jelas tidak karena dirinya privat school. "Oiya, kakakmu kesibukannya ngapain?" netra cowok itu melirik Laras sekilas. Sebenarnya ingin bertanya langsung, tapi melihat raut wajah Laras yang tidak bersahabat, Aditya jadi mengurungkan niatnya.
"Pengangguran... Aku mau foto-foto di sini boleh enggak, kita foto bertiga?" Tanya Rara sembari mengeluarkan ponsel, mencari fitur kamera. Begitu Aditya mengangguk, Rara langsung mengarahkan kamera untuk berselfie.
"Kak Laras liat kamera dong." Rara cemberut karena sejak tadi Laras menghindar dari sorot kamera. Pura-pura membenarkan rambut atau bahkan menoleh ke arah lain. Barulah saat mendapat teguran Rara, Laras mau menampakkan wajahnya.
"Senyum dikit kak, yang keliatan tulus yaa." lagi-lagi Rara mengarahkan dan beberapa foto tersimpan. Tidak hanya itu Rara juga mengambil foto Aditya yang sedang makan.
"Hehehe, makasih ya, nanti foto lagi."
"Santai aja... Kalian berdua kalau mau makan ambil aja... Kakakmu suruh makan Ra." Aditya menawar. "Kakakmu seperti orang yang tidak punya semangat hidup, ya?" Aditya memandangi Laras yang tengah bertongka dagu. Sedangkan tangan kanannya ikut mengambil kerupuk.
"Emang gitu orangnya, malesan." Mereka berdua bahkan mulai membicarakan Laras langsung di depan orangnya.
"Gue suka orang malesan." Aditya berkata dengan ekspresi datar. Seolah itu hal biasa. Berbeda dengan Rara yang langsung senyum-senyum seperti orang gila. Gadis itu baper dengan pikirannya sendiri.
"Kalau mau ambil saja, orang tua kami juga sepertinya sudah bosan melihat kakak yang tidak ada kemajuan dalam hidupnya." Rara menyerahkan kakaknya tanpa beban. Beruntung jika mereka bersama, kapan lagi punya ipar terkenal dan kaya raya?
Tawa renyah Aditya terputus karena Tommy tiba-tiba datang, cowok itu membawa paper bag kemudian menaruhnya di atas meja makan. "Selamat pagi semuanya, sorry gue telat." Tommy memandangi Laras dan Rara bergantian, melempar senyum perdamaian.
"Anak-anak belum berangkat, jadi nunggu bentar di samping toko sambil makan bubur ayam." Tommy menjelaskan alasannya telat, cowok itu kemudian mengambil duduk di samping Aditya. "Loe Rara adiknya Laras, kan?"
Walaupun sudah tahu, Tommy kembali bertanya untuk sekedar basa basi. Rara mengangguk kemudian mereka bersalaman.
"Salam kenal kak," sapa Rara.
"Ahh, gue Tommy."
"Oh kak Tommy, kakak enggak salaman sama Kak Laras?" Tanya Rara dengan polos.
Tommy reflek tersenyum canggung, cowok itu ingin bersalaman tapi wajah Laras tidak bersahabat. Akhirnya, mau tidak mau, Tommy menyodorkan tangannya, untung saja Laras menyambut jabatan tangan Tommy.
"Oh iya, gue minta tolong Tommy bawain hadian buat kalian. Paper bag-nya jangan lupa bawa pulang yaa," ucap Aditnya.
Mendengar itu, Tommy menggeser paper bag ke sisi Laras, karena memang yang terdekat.
"Makasih banget lohh, baik banget sih. Ehehehe."
"Iya dong, gue emang baik." Aditya penuh percaya diri.
"Eh abis ini mau kemana?" Tanya Tommy, sepertinya cowok itu tidak bisa menemani sampai akhir karena ada kegiatan penting lainnya.
"Gue mau ngajakin mereka ke bioskop."
"Beneran nih?"
"Kita pulang aja ya, Ra? Kan tujuanmu cuma buat foto sama Aditya kan?" Laras yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Tapi ini kesempatan langka kak... " Rara mulai merengek, sifat manjanya keluar membuat Laras menghela napas. Sedangkan Aditya dan Tommy saling pandang, keduanya lantas tersenyum penuh maksud.