Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran Kedua
Keheningan langsung memenuhi kamar bahkan udara terasa berhenti sesaat setelah ucapan Lunaria Vareinne tadi.
Di dekat jendela, Duke Cedric Vareinne membeku dengan wajah gelap.
Sementara Leonard Aster langsung menyipit tajam.
Hanya Arcelia Vareinne yang tetap tenang.
“Putra kedua?” ulang Duke Cedric perlahan. Nada suaranya sangat dingin sekarang.
Lunaria langsung gemetar. “A-Aku tidak tahu banyak…” kata Lunaria.
“Namanya..” Lunaria itu menggigit bibir. Lalu akhirnya menjawab pelan "Pangeran Kael Astrael."
Auriel langsung membeku di bahu Arcelia bahkan sampai menjatuhkan ekornya pelan.
“…Ini jauh lebih buruk.” gumam Auriel.
Mata Arcelia menyipit. “Kamu mengenalnya?” tanya Arcelia.
“Dalam alur asli dia adalah salah satu tokoh paling berbahaya.” kata Auriel.
Duke Cedric langsung menatap Lunaria tajam. “Bagaimana kamu bisa bertemu pangeran?” tanya Duke.
“Aku…” kata Lunaria pelan, “Ibu membawaku ke pesta bangsawan beberapa bulan lalu…” Air mata Lunaria terus jatuh.
“Di sana aku bertemu Yang Mulia Kael.” lanjutnya.
Tatapan Leonard berubah semakin gelap. “Lalu?”
Lunaria terlihat ketakutan. “Awalnya dia baik, dia sering mengirim hadiah dan surat.” kata Lunaria.
Arcelia diam memperhatikan dan langsung memahami pola klasik manipulasi.
“Namun kemudian… Dia mulai bertanya tentang keluarga kita.” lanjut Lunaria.
“Apa yang dia tanyakan?” tanya Duke Cedric dingin.
“Sepertinya dia sangat tertarik pada Kakak…” lanjutnya pelan.
Mata merah anggur Arcelia langsung menyipit. "Menarik." batin Arcelia.
“Apa dia pernah menjelaskan alasannya?” tanyanya.
Lunaria menggeleng cepat. “Tidak… Tapi suatu hari dia pernah bilang kalau Kakak seharusnya sudah mati.” jawabnya.
Semua orang langsung terkejut bahkan Lilian sampai menutup mulut karena ketakutan.
Sementara tangan Duke Cedric perlahan mengepal.
Auriel menatap Arcelia serius. “Sepertinya dia tahu.” kata Auriel didalam pikiran Arcelia.
“Tahu apa?” tanya Arcelia penasaran dan bingung.
“Tentang perubahan alur.” jawab Auriel.
“Atau setidaknya… dia tahu kematianmu penting.” lanjutnya.
Mata Arcelia perlahan berubah tajam, "Jadi Pangeran Kael bukan sekadar bangsawan licik biasa." gumam Arcelia.
"Dia mungkin terhubung langsung dengan Black Serpent." kata Auriel berspekulasi.
“Atau bahkan lebih tinggi dari itu,” gumam Arcelia pelan.
Leonard langsung menoleh cepat. “Kamu curiga padanya?” tanya Leonard.
“Aku curiga pada semua orang sekarang.” kata Arcelia.
Jawaban itu membuat ruangan kembali sunyi.
Lunaria mulai menangis semakin keras. “Aku tidak ingin terlibat…” katanya. “Tapi mereka mengancam Ibu…” lanjutnya.
Duke Cedric langsung menatapnya. “Mereka?” tanya Duke Cedric penasaran.
Lunaria menunduk gemetar. “Orang-orang Black Serpent…” katanya pelan.
Auriel menggeram kecil. “Jadi Elena benar-benar bekerja sama dengan mereka.” suara Auriel sangat kesal.
Namun Arcelia memperhatikan sesuatu yang aneh pada Lunaria yang terlihat takut.
Tetapi bukan hanya takut mati melainkan takut pada satu orang tertentu.
“Lunaria.” panggil Arcelia.
Lunaria langsung tersentak ketika mendengar suara Arcelia.
“Pangeran Kael mengatakan sesuatu lagi padamu, bukan?” kata Arcelia dan tepat sasaran.
Tubuh Lunaria langsung bergetar dan bagi Arcelia respon itu cukup menjadi jawaban.
“Katakan.” kata Arcelia tegas.
Lunaria perlahan mengangkat wajah matanya merah karena menangis. Namun ketakutan di sana jauh lebih jelas sekarang.
“Dia bilang…” dengan suara gemetar “…Festival Kekaisaran nanti akan menjadi malam terakhir Putra Mahkota.” lanjut Lunaria.
Ruangan mendadak terasa menyesakkan saat Leonard langsung mengutuk pelan.
Duke Cedric menatap Lunaria tajam. “Apa kamu yakin?” tanya Duke.
Lunaria mengangguk cepat. “Dia bilang setelah Putra Mahkota mati kerajaan akan berubah.” jawabnya.
Auriel langsung berdiri tegak bulunya sedikit mulai bercahaya. “Pemberontakan.” kata Auriel.
Mata Arcelia menyipit perlahan, "Sekarang semuanya mulai tersusun, Black Serpent. Keluarga kerajaan. Percobaan pembunuhan. Dan pangeran kedua." Kata Arcelia kepada Auriel lewat pikiran.
"Kalau Putra Mahkota mati maka pewaris takhta berikutnya adalah Kael." kata Auriel.
“Ayah.” panggil Arcelia.
Duke Cedric menoleh dan menatapnya, "ada apa?" tanyanya.
“Kita harus pergi ke acara festival kerajaan.” kata Arcelia.
Leonard langsung mengernyit. “Itu terlalu berbahaya.” katanya.
“Justru karena berbahaya.” Tatapan Arcelia berubah tajam “Kalau kita tidak datang mereka akan bergerak tanpa hambatan.” kata Arcelia.
Auriel mengangguk kecil. “Benar.” Auriel menyetujui ucapan Arcelia. “Dan kemungkinan besar semua jawaban ada di istana.” kata Auriel.
Duke Cedric memandang putrinya lama sekali. Dan semakin diperhatikan Arcelia semakin terlihat berbeda dari gadis rapuh yang dulu ia kenal.
Sekarang yang berdiri di depannya adalah seseorang yang berjalan langsung menuju bahaya tanpa ragu.
“…Baik,” katanya akhirnya.
Leonard langsung menoleh cepat, “Yang Mulia—”
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh putriku lagi.” Duke Cedric lang memotong ucapan Leonard dan suara Duke Cedric terdengar sangat dingin.
“Kalau keluarga kerajaan sendiri sudah dipenuhi ular…” Tatapannya perlahan mengeras. “…maka aku akan mencabut taring mereka sendiri.” lanjut Duke Cedric.