Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 3 Festival Musim Semi (Perjalanan Ibu Kota)
Hari keberangkatan menuju ibu kota akhirnya tiba. Sejak fajar menyingsing, kediaman Duke Vareinne sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan membawa koper dan peti perjalanan keluar masuk mansion. Para ksatria memeriksa kereta untuk terakhir kalinya. Bahkan para koki dapur bekerja lebih awal untuk menyiapkan bekal bagi rombongan yang akan menempuh perjalanan beberapa hari.
Festival Musim Semi adalah salah satu acara terbesar di Kekaisaran Astrael. Tidak hanya keluarga kekaisaran yang hadir, hampir seluruh keluarga bangsawan berpengaruh akan berkumpul di ibu kota. Dan tahun ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama nama Arcelia Vareinne menjadi salah satu nama yang paling dinantikan.
Di dalam kamarnya, Arcelia berdiri di depan jendela sambil memandangi halaman depan mansion. Belasan pelayan tampak bergerak ke sana kemari dengan membawa segala keperluan. Kereta keluarga Vareinne yang dihiasi lambang keluarga sudah siap berangkat.
Suasana itu mengingatkannya pada perjalanan besar yang pernah ia lihat di kehidupan sebelumnya.
Namun kali ini berbeda, karena kali ini ia adalah bagian dari perjalanan itu.
"Nervous?" Suara Auriel terdengar dari atas tempat tidur.
Arcelia menoleh, rubah kecil itu sedang berbaring santai sambil menggoyangkan ekornya. "Tidak."
"Kamu terlihat seperti sedang berpikir terlalu banyak."
"Aku memang sedang berpikir."
"Itu sebabnya aku khawatir."
Arcelia memutar matanya. "Kau mengulang lelucon itu terlalu sering."
"Kalau masih berhasil, berarti masih layak digunakan."
Arcelia memilih mengabaikannya. Sebagian pikirannya memang tertuju pada festival, namun bukan karena gugup melainkan karena firasat.
Semakin dekat hari festival tiba, semakin kuat perasaan bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan mengubah arah hidupnya namun ia hanya belum tahu apa.
Ketukan pintu terdengar. "Nona." Suara Lilian.
"Masuk." Lilian masuk dengan senyum cerah. "Nona, semuanya sudah siap."
Arcelia mengangguk, kalau begitu sudah waktunya berangkat. Halaman depan mansion dipenuhi para pelayan yang berjajar rapi.
Duke Cedric sudah berdiri di dekat kereta utama. Tak jauh darinya, Elena dan Lunaria juga bersiap untuk perjalanan.
Begitu Arcelia muncul, beberapa pelayan langsung menoleh. Bahkan setelah beberapa minggu berlalu, mereka masih belum sepenuhnya terbiasa melihat perubahan putri tertua keluarga Vareinne.
Arcelia berjalan tenang menuruni tangga, gaun perjalanan berwarna biru muda yang dikenakannya sederhana, tetapi tetap elegan.
Rambut peraknya diikat sebagian ke belakang, tidak mencolok namun sulit untuk diabaikan.
Duke Cedric memperhatikannya beberapa saat lalu tersenyum tipis. "Kau sudah siap?"
"Ya." jawabnya.
"Perjalanan akan memakan waktu tiga hari."
"Aku tahu."
Duke Cedric mengangguk sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun seperti biasa, kata-kata itu sulit keluar.
Hubungan mereka memang membaik, tetapi masih ada jarak yang belum sepenuhnya hilang.
Di sisi lain, Marquise Elena mengamati interaksi tersebut dengan tatapan yang sulit dibaca. Jari-jarinya menggenggam kipas sedikit lebih erat.
Ia tidak menyukai perubahan yang terjadi, terutama perubahan sikap Duke Cedric. Dulu pria itu hampir tidak pernah memperhatikan Arcelia. Sekarang? Semuanya mulai berubah. Dan Marquise Elena membenci perubahan yang tidak bisa ia kendalikan.
Sementara itu, Lunaria diam-diam melirik kakak tirinya. Beberapa minggu lalu ia mungkin akan memalingkan wajah. Namun sekarang ia hanya tampak ragu. Bingung. Perlahan-lahan, kebenciannya mulai retak. Dan hal itu membuatnya tidak nyaman.
"Kalau semua sudah siap, kita berangkat." Suara duke Cedric memecah keheningan.
Rombongan keluarga Vareinne akhirnya meninggalkan mansion dan menuju ibu kota. Menuju Festival Musim Semi. Dan menuju takdir yang belum mereka ketahui.
Hari pertama perjalanan berlangsung cukup tenang. Pemandangan berganti perlahan di balik jendela kereta. Perbukitan hijau. Ladang gandum. Desa-desa kecil.
Sungai yang berkilauan diterpa sinar matahari. Arcelia menikmati pemandangan tersebut sambil membaca buku. Auriel duduk di sampingnya sambil mengunyah camilan.
"Menurutmu ibu kota seperti apa?" tanya rubah itu tiba-tiba.
"Ramai."
"Itu terlalu umum."
"Besar."
"Itu juga terlalu umum."
Arcelia menutup bukunya. "Lalu jawaban seperti apa yang kau inginkan?"
Auriel berpikir sejenak. "Lebih puitis."
"Kau terlalu banyak membaca novel milik Lilian."
"Itu bukan jawaban."
Arcelia menghela napas, kemudian memandang keluar jendela. "Ibu kota mungkin tempat di mana harapan dan ambisi berkumpul."
Auriel berkedip. "Itu cukup bagus."
"Aku tahu."
"Wow."
Arcelia tersenyum tipis, rasanya menyenangkan sesekali membalas rubah cerewet itu.
Menjelang sore, rombongan berhenti di sebuah penginapan mewah yang biasa digunakan bangsawan.
Tempat itu cukup besar, bahkan sudah dipenuhi beberapa keluarga bangsawan lain yang juga sedang menuju ibu kota.
Begitu turun dari kereta, Arcelia langsung menyadari beberapa tatapan tertuju kepadanya.
Sebagian penasaran, sebagian menilai dan sebagian lagi sekadar ingin tahu. Rumor memang bergerak cepat dan sekarang ia mulai merasakan dampaknya secara langsung.
"Nona Arcelia?" Suara seorang pria muda terdengar dari samping.
Arcelia Menoleh. Seorang pemuda bangsawan berdiri beberapa langkah darinya. Rambut cokelat rapi, pakaian mahal. Dan senyum yang terlalu percaya diri. "Aku Adrian Holster."
Arcelia mengenali nama keluarga itu, keluarga Count yang cukup berpengaruh.
"Salam kenal." Pria itu tersenyum lebih lebar. "Aku senang akhirnya bisa bertemu langsung."
Auriel langsung bergumam pelan. "Aku tidak suka senyumnya."
"Kau tidak suka siapa pun."
"Itu tidak benar."
"Ada Serena."
"Itu pengecualian."
Arcelia berusaha mengabaikan komentar tersebut.
"Kudengar banyak hal tentangmu." Adrian melanjutkan.
"Semoga yang kau dengar baik."
"Sebagian besar." Jawaban diplomatis.
Arcelia sudah memahami permainan seperti ini, percakapan ringan dengan senyum sopan. Ini adalah pengamatan tersembunyi.
Dunia bangsawan selalu penuh lapisan. Untungnya, sebelum percakapan menjadi lebih panjang, seseorang muncul dari belakang Adrian.
"Lady Arcelia!" Suara ceria yang sangat familiar. Serena.
Arcelia hampir merasa lega melihatnya. Serena berjalan cepat mendekat. Kemudian berdiri tepat di samping Arcelia. "Aku tahu kau akan berangkat hari ini."
Adrian tampak sedikit kecewa. Namun ia tetap mempertahankan senyumnya. "Lady Serena."
"Oh, Adrian." Nada Serena terdengar sopan.
Tetapi tidak terlalu antusias, perbedaan perlakuan itu begitu jelas hingga bahkan Arcelia menyadarinya.
"Aku sedang berbicara dengan Lady Arcelia." kata Adrian.
"Dan sekarang aku juga sedang berbicara dengannya." jawab Serena tanpa ragu.
Keheningan singkat muncul sampai Auriel sampai menutup mulutnya dengan kedua kaki depannya. "Dia menyerang."
Arcelia mulai memahami kenapa Serena sangat populer. Gadis itu mungkin terlihat ceria, tetapi ia sama sekali tidak mudah didominasi.
Adrian akhirnya menyerah dengan elegan. "Aku tidak akan mengganggu lagi." Ia membungkuk sopan sebelum pergi. Begitu pria itu menghilang, Serena langsung mendekat.
"Aku menyelamatkanmu." kata Serena.
"Aku tidak dalam bahaya."
"Belum."
Arcelia mengangkat alis, Serena menatap ke arah Adrian yang menjauh. "Dia suka mengoleksi perhatian gadis bangsawan."
"Itu cara yang aneh untuk mengatakannya."
"Itu cara yang sopan."
Kini Arcelia benar-benar tertawa kecil. Dan melihat itu, Serena tampak sangat puas.
Di sisi lain... Jauh di ibu kota.
Di balkon istana yang tinggi, seorang pria berdiri memandang kota yang mulai diterangi cahaya senja. Putra Mahkota Elias Astrael.
Festival Musim Semi tinggal beberapa hari lagi. Para bangsawan dari seluruh kekaisaran sedang dalam perjalanan menuju ibu kota. Termasuk keluarga Vareinne.
Marcus muncul di belakangnya. "Yang Mulia."
"Hm?"
"Sebagian besar tamu utama sudah mulai memasuki wilayah ibu kota."
Putra Mahkota Elias mengangguk pelan, pikirannya sebenarnya masih dipenuhi pekerjaan. Namun entah mengapa, satu nama kembali muncul.
Arcelia Vareinne.
Nama yang terus ia dengar selama beberapa minggu terakhir. Nama yang belum pernah ia temui pemiliknya.
Marcus memperhatikan ekspresi tuannya, kemudian tersenyum tipis. "Aku mulai penasaran juga."
Putra Mahkota Elias meliriknya. "Penasaran tentang apa?"
"Gadis yang membuat Yang Mulia memikirkan namanya sebanyak itu."
Untuk pertama kalinya hari itu Putra Mahkota terlihat sedikit terkejut. Karena bahkan dirinya sendiri baru menyadarinya.
Marcus mungkin benar. Ia memang terlalu sering memikirkan nama itu akhir-akhir ini.
Dan sebentar lagi rasa penasaran itu akan terjawab. Karena jarak antara mereka semakin dekat. Dan takdir telah mulai bergerak.