NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Batas Kesabaran

Sudah lebih dari sebulan Luna bekerja di Dimitri Group.

Kalau ditanya soal pekerjaannya, ia menyukainya.

Sangat menyukainya.

Ia senang menghadiri rapat media.

Senang menyusun materi publikasi.

Senang belajar banyak hal baru dari dunia Public Relations.

Namun ada satu hal yang masih menjadi masalah.

Rita dan Adel.

---

Pagi itu Luna baru saja duduk di mejanya ketika sebuah map tebal mendarat di atas meja.

Bruk.

Luna mengangkat kepala.

Rita berdiri di depannya.

"Tolong selesaikan sebelum jam dua siang."

kata wanita itu santai.

Luna membuka map tersebut.

Dan lagi-lagi...

Itu bukan pekerjaan Public Relations.

Melainkan laporan administrasi vendor.

"Bu Rita..."

"Iya?"

"Ini pekerjaan divisi logistik."

Rita tersenyum tipis.

"Nggak apa-apa."

"Tapi..."

"Kamu bisa kok."

Lalu wanita itu pergi begitu saja.

Seolah semuanya normal.

---

Di meja sebelah, Sisil langsung mendengus.

"Dia keterlaluan."

Luna menghela napas.

"Udahlah."

"Nggak bisa udahlah terus."

Sisil terlihat benar-benar kesal.

"Setiap hari begini."

Luna tahu.

Bahkan beberapa staf lain juga mulai menyadarinya.

Hanya saja tidak ada yang mau ikut campur.

Karena Rita dan Adel termasuk senior yang cukup berpengaruh di divisi tersebut.

---

Siang harinya.

Amanda akhirnya memanggil seluruh tim untuk rapat kecil.

Mereka membahas persiapan acara perusahaan yang akan dilaksanakan bulan depan.

Saat rapat berlangsung, Luna menyampaikan beberapa ide mengenai strategi publikasi media sosial.

Amanda terlihat tertarik.

"Itu ide bagus."

kata Amanda.

"Kita bisa coba."

Beberapa anggota tim mengangguk setuju.

Namun sebelum Amanda melanjutkan pembahasan, Rita tiba-tiba berbicara.

"Kalau menurut saya masih terlalu teoritis."

Ruangan langsung hening.

Luna menoleh.

Rita tersenyum tipis.

"Saya sudah tujuh tahun di sini."

lanjutnya.

"Praktiknya nggak semudah itu."

Amanda sedikit mengernyit.

Namun sebelum situasi menjadi canggung, Luna tersenyum.

"Terima kasih masukannya, Bu."

Rita terlihat sedikit kecewa karena tidak mendapatkan reaksi yang diharapkannya.

---

Setelah rapat selesai.

Amanda menghampiri Luna.

"Jangan dipikirin."

katanya pelan.

Luna tersenyum.

"Saya nggak apa-apa, Bu."

Amanda mengangguk.

Namun dalam hati ia mulai melihat pola yang selama ini terjadi.

Dan ia tidak terlalu menyukainya.

---

Sementara itu.

Di lantai 40.

Ryan masuk ke ruang kerja Alex tanpa mengetuk seperti biasa.

"Aku punya gosip."

Alex bahkan tidak mengangkat kepala dari laptopnya.

"Aku nggak tertarik."

"Kamu bakal tertarik."

Alex tetap diam.

Ryan akhirnya duduk di depan meja.

"Anak kesayanganmu lagi dikerjain."

Alex langsung berhenti mengetik.

Ryan tersenyum puas.

Akhirnya dapat perhatian.

---

"Apa maksudmu?"

tanya Alex.

Ryan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Rita dan Adel."

Alex tidak berkata apa-apa.

Namun ekspresinya berubah serius.

Ryan melanjutkan.

"Aku bukan cuma dengar dari satu orang."

"Karyawan lain juga mulai ngomong."

Alex menatapnya.

"Tapi Luna nggak pernah cerita."

"Itu karena Luna memang nggak suka mengadu."

jawab Ryan.

"Dan kamu tahu itu."

Alex terdiam.

Karena Ryan benar.

Luna bukan tipe orang yang akan mengeluh setiap kali diperlakukan tidak adil.

Ia cenderung memendam semuanya sendiri.

---

Malam harinya.

Saat makan malam bersama, Alex memperhatikan Luna lebih lama dari biasanya.

"Kamu ada masalah di kantor?"

tanyanya tiba-tiba.

Luna yang sedang makan langsung mengangkat kepala.

"Hah?"

"Di kantor."

"Nggak ada."

Jawaban itu terlalu cepat.

Dan Alex langsung tahu istrinya sedang berbohong.

---

"Luna."

"Iya?"

"Kamu yakin?"

Luna tersenyum.

"Aku baik-baik aja."

Alex tidak melanjutkan pertanyaan.

Namun tatapannya tetap tertuju pada Luna.

Sampai akhirnya wanita itu menyerah.

"Sedikit."

Alex langsung meletakkan sendoknya.

"Ceritain."

---

Luna sebenarnya tidak ingin membahasnya.

Namun karena terus didesak, akhirnya ia mulai bercerita.

Tentang pekerjaan tambahan.

Tentang Rita.

Tentang Adel.

Dan bagaimana mereka sering menyuruh dirinya serta Sisil melakukan pekerjaan yang bukan tanggung jawab mereka.

Sepanjang cerita itu berlangsung, Alex tidak menyela.

Tidak berkomentar.

Tidak bereaksi.

Justru itu yang membuat Luna khawatir.

Karena semakin diam Alex, biasanya semakin berbahaya.

---

Setelah Luna selesai bercerita, suasana menjadi hening.

"Kamu marah?"

tanya Luna hati-hati.

Alex menatapnya.

"Nggak."

Jawaban yang terlalu tenang.

Sangat terlalu tenang.

Dan Luna sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa itu bukan pertanda baik.

---

"Kamu jangan ikut campur ya."

kata Luna cepat.

Alex mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Aku mau belajar sendiri."

Alex memahami maksud Luna.

Ia benar-benar memahami.

Namun bukan berarti ia akan membiarkan seseorang memanfaatkan istrinya seenaknya.

---

Keesokan paginya.

Alex menghadiri rapat evaluasi bulanan seluruh divisi.

Termasuk divisi Corporate Communication.

Amanda hadir.

Begitu juga beberapa supervisor lainnya.

Rapat berjalan normal.

Sampai Alex membuka laporan produktivitas karyawan.

Matanya berhenti pada satu bagian.

Kemudian ia bertanya dengan nada datar.

"Kenapa ada ketimpangan distribusi pekerjaan di tim PR?"

Ruangan langsung hening.

Amanda mengangkat kepala.

Alex melanjutkan.

"Beberapa staf baru menerima beban kerja hampir dua kali lebih besar dibanding staf senior."

Tidak ada yang berani menjawab.

Karena angka-angka dalam laporan memang menunjukkan hal tersebut.

Amanda langsung memahami ke mana arah pembicaraan ini.

---

"Pak Alex."

Amanda akhirnya berbicara.

"Saya akan evaluasi kembali."

Alex mengangguk.

"Pastikan pembagian kerja sesuai tanggung jawab."

Nada suaranya tetap tenang.

Namun cukup membuat seluruh ruangan tegang.

Termasuk Rita dan Adel yang kebetulan hadir dalam rapat tersebut.

Untuk pertama kalinya mereka menyadari sesuatu.

Manajemen mulai memperhatikan.

---

Siang harinya.

Amanda memanggil Rita dan Adel ke ruangannya.

Percakapan berlangsung hampir satu jam.

Tidak ada yang tahu isi pembicaraan itu.

Namun ketika keduanya keluar, wajah mereka terlihat jauh lebih serius.

Bahkan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, tidak ada map tambahan yang mendarat di meja Luna maupun Sisil.

---

Sisil sampai menatap meja mereka berkali-kali.

"Aneh."

gumamnya.

Luna mengangkat kepala.

"Kenapa?"

"Hari ini sepi."

Luna tertawa kecil.

"Mungkin mereka lagi sibuk."

Namun jauh di dalam hati, Luna merasa ada sesuatu yang berubah.

Dan ia tidak tahu bahwa perubahan itu baru permulaan.

Karena cepat atau lambat, rahasia tentang siapa dirinya sebenarnya akan mulai mendekati permukaan.

Dan ketika hari itu tiba, keadaan di lantai 23 tidak akan pernah sama lagi.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!