NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Vera Lagi

Hubungan gue sama Rinda berkembang pelan-pelan.

Nggak cepat, nggak meledak tiba-tiba, tapi justru itu yang bikin semuanya terasa lebih nyata. Gue mulai ngerti kalau Rinda bukan tipe perempuan yang bisa didekati dengan cara agresif. Dia butuh waktu. Butuh rasa aman. Dan yang paling penting, dia butuh seseorang yang sabar buat benar-benar hadir di dekatnya.

Setiap hari gue belajar memahami ritmenya.

Kadang cukup dengan nemenin ngobrol.

Kadang cuma lewat perhatian kecil.

Kadang lewat sentuhan sederhana yang bikin dia merasa dihargai.

Pagi itu gue jemput dia di depan rumahnya.

Rinda keluar sambil bawa tas kerja kecil warna cokelat muda. Dia pakai kemeja krem lembut dipadu rok pensil abu-abu yang bikin penampilannya terlihat elegan tanpa berlebihan. Rambut pendeknya tertata rapi, dan mata sipitnya langsung menatap gue dengan senyum tipis yang belakangan mulai sering muncul.

“Pagi, Mas,” katanya pelan sambil masuk ke mobil.

“Pagi.”

Gue sempat menatapnya beberapa detik sebelum jalan.

“Lu cantik banget hari ini.”

Rinda langsung salah tingkah kecil.

“Apaan sih…”

Tapi dia nggak menyembunyikan senyumnya.

Sepanjang perjalanan ke kantor suasananya nyaman. Kami ngobrol santai soal hal-hal sederhana. Tentang tempat makan favorit, rencana akhir pekan, sampai kebiasaan kecil sebelum tidur.

“Aku biasanya baca novel bentar sebelum tidur,” katanya sambil melihat keluar jendela.

“Novel romantis?”

Dia ketawa kecil.

“Ketahuan ya?”

“Wajah lu cocok pembaca novel mellow.”

Rinda mencubit pelan lengan gue.

“Jahat.”

Gue tertawa.

Kadang gue sengaja menyentuh tangannya sebentar saat ngobrol. Bukan sentuhan berlebihan, cuma hal kecil yang bikin hubungan terasa dekat.

Dan gue sadar, Rinda mulai terbiasa dengan itu.

Dia nggak lagi kaku seperti awal-awal.

Malah sesekali dia balas menggenggam tangan gue pelan sebelum melepasnya lagi dengan malu-malu.

Siang harinya setelah meeting selesai, gue ajak dia keluar buat makan sekalian isi bensin.

Jakarta lagi panas-panasnya siang itu. Untung AC mobil cukup adem buat bikin suasana nyaman.

Rinda duduk di sebelah gue sambil membuka sedikit jepit rambutnya.

“Capek?” tanya gue.

“Lumayan.”

“Abis makan kita balik santai aja.”

Dia mengangguk kecil.

Pas kami lagi antre di SPBU, tiba-tiba ada ketukan di kaca mobil sebelah kiri.

Gue nengok dan langsung menghela napas kecil.

Vera.

Dia berdiri sambil nyengir lebar, pakai tank top hitam dan jeans pendek. Gayanya masih sama seperti dulu percaya diri dan selalu datang tanpa aba-aba.

“Lama nggak ketemu!”

Sebelum gue jawab, dia sudah buka pintu belakang dan masuk begitu aja.

Rinda langsung terlihat kaget.

“Eh… maaf,” kata gue sambil memperkenalkan mereka. “Rin, ini Vera. Temen lama gue.”

Vera langsung melambaikan tangan santai.

“Hai. Jadi ini Rinda?”

Rinda mengangguk sopan.

Vera memperhatikan Rinda beberapa detik lalu tersenyum.

“Cantik banget.”

Rinda langsung salah tingkah.

Gue udah hafal gaya Vera. Dia memang tipe orang yang gampang bikin suasana berubah jadi lebih hidup.

“Lu ngapain di sini?” tanya gue.

“Meeting batal. Terus pas lewat lihat mobil lu.”

Dia nyender santai di jok belakang sambil terus ngobrol ngalor-ngidul.

Awalnya suasana agak canggung. Tapi Vera memang pintar mencairkan keadaan. Dalam beberapa menit, Rinda mulai ikut tertawa mendengar cerita-cerita random dari Vera.

“Jadi dia ini di kantor serius banget?” tanya Vera sambil nunjuk gue.

“Lumayan,” jawab Rinda pelan.

“Wah, beda berarti. Dulu dia paling males rapat.”

“Eh, jangan buka aib.”

Mereka berdua ketawa.

Entah kenapa melihat Rinda mulai nyaman bikin hati gue lega.

Beberapa saat kemudian suasana jadi lebih tenang. Musik pelan mengalun dari speaker mobil sementara antrean SPBU masih panjang.

Vera tiba-tiba menyandarkan dagu di pundak gue dari belakang.

“Kangen juga ternyata.”

Gue cuma geleng kecil sambil ketawa.

Rinda melirik sekilas lalu buru-buru melihat ke depan lagi. Pipi putihnya mulai memerah.

“Lu jangan ganggu orang,” kata gue.

“Aku nggak ganggu.”

Vera tersenyum jail, lalu duduk lagi dengan santai.

Tapi sejak itu suasana berubah jadi sedikit lebih hangat.

Rinda yang biasanya pemalu mulai lebih terbuka. Dia lebih sering menatap gue lama-lama, lalu tersenyum kecil saat mata kami bertemu.

Gue pelan-pelan menggenggam tangannya.

“Kamu oke?” bisik gue.

Dia mengangguk pelan.

“Iya…”

Suara itu lembut banget.

Ada rasa percaya yang mulai tumbuh di situ.

Vera yang duduk di belakang memperhatikan kami sambil senyum tipis.

“Lucu juga kalian.”

“Apanya?” tanya Rinda malu.

“Kayak orang lagi jatuh cinta tapi masih malu-malu.”

Rinda langsung menunduk sambil ketawa kecil.

Gue bisa lihat dia mulai menikmati perhatian kecil yang kami kasih.

Bukan sesuatu yang liar atau berlebihan.

Lebih ke suasana hangat yang bikin dia merasa diterima.

Gue mengusap pelan punggung tangannya dengan ibu jari. Rinda menarik napas kecil lalu bersandar sedikit ke arah gue.

Momen sederhana itu justru terasa intim.

Kadang kedekatan nggak selalu soal hal besar. Justru detail-detail kecil yang bikin hati seseorang terbuka pelan-pelan.

Antrean akhirnya bergerak maju.

Vera duduk tegak lagi sambil menghela napas dramatis.

“Yah, harus balik ke dunia nyata.”

“Kebanyakan drama lu,” kata gue sambil tertawa.

Setelah isi bensin, kami lanjut makan di warung yang nggak jauh dari situ.

Suasananya jauh lebih cair sekarang.

Rinda mulai banyak bicara. Dia bahkan beberapa kali bercanda sama Vera sampai mereka ketawa bareng.

Gue duduk sambil memperhatikan mereka dan tiba-tiba sadar satu hal.

Udah lama gue nggak ngerasain makan siang sesantai ini.

Tanpa tekanan.

Tanpa drama kantor.

Tanpa pikiran berat.

Cuma obrolan ringan dan suasana nyaman.

Di sela makan, Vera sempat menatap gue sambil tersenyum samar.

“Hati-hati ya.”

“Hm?”

“Jangan bikin cewek baik kayak dia kecewa.”

Kalimat itu terdengar bercanda, tapi gue tahu ada nada serius di baliknya.

Gue cuma diam sebentar lalu mengangguk kecil.

Sore harinya setelah balik kantor, Rinda jadi lebih sering mampir ke meja gue.

Kadang cuma buat nanya hal kecil.

Kadang pura-pura pinjam stapler.

Kadang cuma berdiri sambil ngobrol bentar.

Nada yang lihat dari jauh langsung senyum jahil.

“Wah, ada yang lagi dimanja nih.”

Rinda langsung malu dan pergi cepat-cepat.

Gue cuma ketawa kecil sambil geleng kepala.

Tapi jujur aja, hati gue terasa ringan lihat perubahan itu.

Rinda yang dulu dingin dan tertutup sekarang mulai membuka dirinya sedikit demi sedikit.

Dan gue suka proses itu.

Malam harinya gue anter dia pulang.

Di depan rumah, kami belum langsung turun dari mobil. Lampu jalan redup, suasana kompleks cukup sepi.

Rinda duduk sambil memainkan tali tasnya pelan.

“Mas…”

“Hm?”

“Hari ini menyenangkan.”

Gue tersenyum.

“Gue juga senang.”

Dia menoleh ke arah gue. Tatapannya lembut dan jauh lebih tenang dibanding pertama kali kami dekat dulu.

Gue mengusap rambut pendeknya perlahan.

Rinda menutup mata sebentar menikmati sentuhan itu.

Lalu tanpa banyak kata, gue mendekat dan mencium keningnya pelan.

Dia tersenyum kecil.

“Terima kasih ya.”

“Buat?”

“Udah sabar sama aku.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup bikin dada gue hangat.

Sebelum turun, dia sempat menggenggam tangan gue erat.

“Besok ketemu lagi?”

“Pasti.”

Rinda akhirnya turun dari mobil sambil sesekali menoleh dan tersenyum malu sebelum masuk rumah.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran gue masih tertinggal di sana.

Di senyum kecilnya.

Di caranya mulai percaya.

Di matanya yang sekarang nggak lagi penuh jarak.

Begitu sampai apartemen, Marita udah duduk santai di sofa sambil nonton film.

“Baru pulang?”

“Iya.”

Dia menatap gue beberapa detik lalu nyengir kecil.

“Mukanya beda.”

“Beda gimana?”

“Kayak orang lagi jatuh cinta.”

Gue langsung ketawa.

“Ngaco.”

Tapi mungkin dia nggak sepenuhnya salah.

Karena makin lama, Rinda memang mulai jadi bagian penting dari hidup gue.

Dan yang bikin semuanya terasa berbeda… hubungan ini tumbuh bukan dari permainan atau ambisi sesaat.

Tapi dari rasa nyaman yang datang perlahan.

Malam itu sebelum tidur, HP gue bunyi.

Pesan dari Rinda.

“Thank you buat hari ini 😊”

Gue tersenyum sendiri baca chat itu.

Belum sempat bales, pesan lain masuk dari Nada.

“Mas, Rinda tadi banyak cerita soal gue.”

Gue menghela napas kecil sambil tersenyum.

Hubungan ini memang belum punya nama yang jelas.

Masih penuh keraguan.

Masih banyak hal rumit di sekitar gue.

Ada Yogya yang masih menunggu.

Ada Sinta yang belum selesai.

Ada hidup gue yang masih berantakan.

Tapi setidaknya sekarang ada satu hal yang mulai terasa pasti.

Rinda perlahan membuka pintu hatinya.

Dan gue… mulai benar-benar ingin masuk ke dalamnya.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!