NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peduli

Aku melongok dibalik pintu kamar, terlihat diatas kasur mas Arsyad kembali merebahkan badannya, ya Allah pria itu benar-benar sakit.

Aku berjalan menuju dapur, menyiapkan sup hangat untuk mas Arsyad. Memasak yang dimulai dari memotong paha ayam, kentang dan wortel, kemudian memasukannya kedala panci dengan air yang sudah mendidih, tidak lupa menambahkan penyedap rasa, seledri dan bawang goreng, serta tidak lupa menyiapkan satu mangkuk nasi putih, aku menatanya dengan rapi diatas nampan kemudian membawanya kedalam kamar.

Dikamar, mas Arsyad masih memejamkan matanya, Aku menyentuh lagi dahinya dengan punggung tanganku. Makin panas, lebih panas dari yang tadi pagi.

“Mas.. Ar.” Aku menepuk pelan bahunya.

“Hem…” ternyata pria itu tidak benar-benar tertidur.

“Makan dulu ya, biar badannya lebih bertenaga.” Mas Ar membuka matanya menatapku yang sedang berdiri dengan nampan yang masih berada di tangan.

Aku menyimpan nampan itu diatas nakas. Kemudian membantu mas Ar yang akan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Aku mendudukan tubuhku ditepian kasur, kemudian mulai menyiapkan nasi beserta sup.

Aku mulai menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulutnya, tanpa banyak kata mas Arsyad menerimanya dan mulai mengunyah dengan perlahan, sepertinya mas Arsyad bukan tipe orang yang rewel ketika sakit, tidak seperti aku yanga harus ditemani oleh ibu sepanjang waktu ketika aku sakit.

“Enak?”

Mas Arsyad menggeleng pelan. “Pahit.” Jawabnya singkat.

Tidak ada lagi tatapan tajam pada sorot matanya, tidak ada lagi perkataan yang tegas, yang setiap dia berkata bisa membuat dadaku berdegup takut. Yang ada kini sorot mata yang redup, sorot mata yang sedang menahan rasa sakit, matanya merah begitupun pipinya saking panas suhu tubuhnya.

“Udah.” Ucap pria itu dengan menggelengkan kepalanya, ketika aku akan menyuapkan lagi nasi kedalam mulutnya.

“Sutu suap lagi deh mas sayang kalau gak dihabiskan.” Ucapku sedikit memaksa.

Mas Arsyad melirik kearahku, ada lingkaran hitam pada bawah matanya, pasti saking sakitnya itu kepala.

Akhirnya mas Arsyad kembali membuka mulutnya setelah aku paksa. Pria berhidung mancung itu kembali menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur.

“Mas minum dulu!”

Selesai, aku membereskan semua piringnua dan kembali menju dapur. Belum sempat aku melangkah, ada cekalan lemah pada lenganku.

Aku menoleh, sorot matanya menatapku dan berkata. “Cepet!, balik lagi kesini.”

Aku hanya mengangguk mengiyakan, ternyata sama aja pria itu tidak mau ditinggal ketika sakit.

Setelah mencuci piring aku kembali kedalam kamar, terlihat mas Arsyad masih menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur.

“Badan saya pegal, tolong pijitin!”

Aku mengangguk lalu naik keatas kasur, tidak lupa sebelum naik keatas kasur aku membawa botol minyak angin. Aku mulai mendudukan badan disampingnya.

Sempat ragu untuk memegang tangannya, tapi setelah mas Arsyad menyodorkan tangannya kepadaku, akhirnya keraguan itu hilang. Aku mulai memijit jemarinya perlahan, sejenak aku membandingkan telapak tanganku dengan telapak tangan mas Arsyad, sangat jauh perbedaannya, mungkin besarnya tangan Mas Arsyad dua kali lipat dari tanganku.

“Kenapa dibandingin?” Ucapnya dengan suara serak.

“Oh engga.” Jawabku kikuk, kemudian melanjutkan memijat tangannya.

“Punggungnya pegal.”

“Punggungnya?”

“Heem.”

Mas Arsyad mulai membuka kaos hitamnya, membalikan badan kemudian memunggungiku, punggung ini…… bayangan malam itu berkolebat dalam ingatanku, yang dimana aku mencengkram kuat punggungnya berharap pria ini akan menghentikan aksinya yang liar, tapi… saat itu bukannya berhenti pria ini malah mempercepat gerakannya dan…. ah aku tidak berani membayangkan lagi kelanjutannya setelah itu. Aku segera menepis pikiran itu, kemudian memulai tugasku memijat punggungnya.

Dan kini aku membalur punggung mas Arsyad dengan minyak angin. Dan dengan perlahan mengurutnya, sepertinya pria ini masuk angin juga.

Setelah bagian punggung selesai, mas Arsyad meminta dipijat bagian kepala dan pundaknya.

Aku mulai bosan dan mengantuk, jika aku berhenti, mas Arsyad akan bersuara.

Tidak tertahankan lagi mataku sudah berat sekali, sudah masuk jam tidur siang juga, pukul 11.30 cocok sekali untuk tidur siang.

***

Aku membuka mata, ternyata benar aku keduran disamping mas Arsyad. Sudul pukul tiga belas, aku harus mandi dan melaksanakan shalat dzuhur. Lama juga ya aku tertidur.

Ets…

Aku melihat tubuhku yang terbungkus oleh selimut, siapa yang meyelimutiku, mas mbak Asih?, tidak mungkin mbak Asih masuk kamar ini tanpa seizin mas Arsyad. Apa mas Arsyad yang menyelimutiku?, aku mendongak, mas Arsyad masih menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur, dia tertidur.

Deg..

Ini apa diatas kepalaku?, dengan tangan aku meraba. Ternyata tangan mas Arsyad.

Aku bangkit, kenapa jantungku berdegup tidak karuan, ada apa dengan jantungku. Akhir-akhir ini aku merasa jantungku sering berdegup kencang. Apa itu rasanya aneh.

Setelah mandi, dan badanku menjadi lebih fresh aku melaksanakan shalat dzuhur, tidak lupa aku berdo’a untuk keselamatanku, kedua orangtuaku dan untuk kesembuhan mas Arsyad.

Ets… kenapa aku jadi sangat peduli dengan pria itu?.

Apa yang sudah merasuki hatimu ZARA…

“Wek….” Aku menoleh kearah kasur, mas Arsyad muntah, aku berlari menghampirinya.

“Wek..” Mungahan itu kena lada mukena yang masih kupakai.

“Minum dulu mas!, mau air anget?”

Mas Arsyad menggeleng. Pria itu terus memuntahkan isi perutnya.

“Mbak Asih..tolong buatka teh anget!”

*

*

Jangan lupa like, komen dan vote ya sayang-sayangku. Lo u all💗

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!