Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Amira menunggu tangisan itu meski ia tahu kenyataannya. Tangisan pertama bayi yang baru lahir. Tangisan yang membuat sakit berjam-jam terasa lunas. Tangisan yang menenangkan hati seorang ibu bahwa anaknya benar-benar hadir ke dunia.
Tetapi hingga bidan memotong tali pusar itu., suara itu tidak pernah datang. Ruangan sempit itu hanya dipenuhi napas berat dan isak tertahan.
Amira menoleh lemah saat bidan membersihkan tubuh kecil bayinya. Tubuh yang terlalu diam. Terlalu pucat.
“Bu...” suara bidan pelan sekali. “Yang kuat ya.” Kalimat itu menghancurkan segalanya.
Air mata Amira langsung jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Dadanya terasa sesak seperti diremas pelan-pelan. “Sebentar...” suaranya gemetar. “Biar saya lihat anak saya, boleh Bu Bidan?”
Bidan dan ibu mertuanya saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya bayi itu diletakkan perlahan di samping Amira. Kecil. Sangat kecil. Wajahnya bersih. Hidungnya mirip Mirza. Kalau saja Allah mengizinkannya hidup, mungkin bayi itu akan tumbuh tampan.
Jari Amira gemetar saat menyentuh pipi dingin anaknya. “Anakku...” bibirnya bergetar. “Maafkan Umi, ya.” Tangisnya pecah. Bukan tangis keras. Justru pelan dan menyakitkan. Tangis seseorang yang sedang berusaha menerima kenyataan meski hatinya belum mampu.
Bayi pertama mereka. Bayi yang kehadirannya begitu dinanti. Sebulan setelah menikah, Amira langsung hamil hingga semua orang mengatakan rumah tangga mereka membawa berkah. Mirza bahkan berkali-kali membeli baju bayi diam-diam meski kandungan Amira masih kecil.
Tetapi sekarang. bayi itu pulang kepada Allah sebelum sempat membuka mata.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un...” lirih ibu mertuanya sambil mengusap bahu Amira.
Amira memejamkan mata rapat-rapat. Ia tahu semua manusia akan kembali. Ia tahu anak kecil akan menjadi penolong orang tuanya di akhirat. Ia tahu kehilangan ini adalah takdir Allah. Tetapi pengetahuan tidak membuat rasa sedih hilang begitu saja. Karena Amira tetap seorang ibu. Dan seorang ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya terbujur diam seperti itu?
Pintu kamar terbuka pelan. Mirza masuk dengan langkah tergesa. Peci putihnya sedikit miring, wajahnya pucat sejak tadi menemani di luar.
Begitu melihat bayi itu di samping Amira, langkahnya terhenti. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Amira melihat mata suaminya memerah seperti itu. Mirza duduk perlahan di sisi ranjang. Tangannya menyentuh kepala bayi mereka dengan hati-hati, seolah takut membuatnya sakit. Padahal anak itu sudah tidak merasakan apa-apa.
“Sudah saya azankan,” suara Mirza serak.
Amira langsung menangis lagi.
Mirza menunduk dalam. Bahunya naik turun menahan sesak yang tidak bisa keluar. Lelaki itu tetap berusaha tampak kuat. Karena semua orang selalu menganggap laki-laki harus lebih tabah. Padahal hatinya sama hancurnya.
Setelah beberapa saat, Mirza mengusap wajahnya kasar lalu menoleh pada Amira. “Aku izin memakamkan anak kita sekarang.”
Kalimat itu terasa seperti pisau lain di dada Amira. Cepat sekali. Seolah baru beberapa menit lalu bayi itu masih berada di dalam tubuhnya. “Aku ikut...” Amira berusaha bangun.
Namun rasa nyeri di bawah perutnya langsung membuat wajahnya pucat. Tubuhnya limbung sebelum ibu mertuanya cepat-cepat menahan bahunya.
“Jangan dulu, Mira.”
“Tapi itu anak saya...” suaranya pecah. “Saya mau ikut...”
“Keadaanmu belum kuat.”
Amira menggeleng sambil menangis. Ia tetap memaksa bangun meski jahitan pasca melahirkan terasa seperti disobek lagi.
Mirza segera memegang pundaknya pelan. “Sudah.” Suaranya rendah, berusaha tenang meski matanya sendiri basah. “Aku yang antar anak kita.”
Kalimat itu justru membuat Amira semakin hancur. Anak kita. Bukan anaknya. Bukan anak Amira saja. Mereka sama-sama kehilangan.
***
Amira memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya bergerak pelan di atas dada, meremas ujung selimut sambil bibirnya tak berhenti berzikir.
“Astaghfirullah... astaghfirullah... laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin...”
Ia mencoba mengingat Allah agar hatinya lebih tenang. Agar dadanya tidak terasa sesak seperti tadi. Agar bayangan wajah kecil bayinya tidak terus muncul di kepalanya.
Namun semakin malam terasa sunyi, semakin pikirannya berantakan. Tubuhnya lelah setelah melahirkan. Matanya panas karena terlalu banyak menangis. Tetapi rasa kantuk tak kunjung datang.
Perlahan napas Amira mulai teratur. Kesadarannya hampir tenggelam ketika tiba-tiba Tangisan bayi terdengar. Kencang. Suaranya pilu menyayat hati.
Tangisan yang seperti memanggil seorang ibu. Amira langsung membuka mata. Dadanya berdegup keras. Tangisan itu terdengar lagi dari ruang sebelah.
“Anakku!” Spontan Amira bangkit dari tempat tidurnya.
Rasa nyeri di bawah perut membuatnya meringis, tetapi ia tidak peduli. Dengan langkah tergesa dan tubuh yang masih lemah, Amira berjalan menuju ruang bayi di samping kamar.
Air matanya sudah jatuh bahkan sebelum ia membuka pintu. Tangisan itu terlalu nyata. Terlalu mirip dengan suara bayi yang selama sembilan bulan ia nantikan.
“Sayang... Umi di sini...” suaranya gemetar. Tangannya buru-buru mendorong pintu.
Insting Amira sebagai seorang ibu muda bekerja begitu saja.Tanpa berpikir panjang, ia meraih bayi yang menangis itu dari gendongan perempuan paruh baya di hadapannya.
“Eh,” perawat di samping wanita itu tampak terkejut.
Namun Amira sudah lebih dulu mendekap tubuh kecil tersebut ke dadanya.
Bayi itu menangis kencang. Wajahnya memerah. Tangannya yang kecil bergerak gelisah seperti mencari sesuatu.
“Sudah... sudah, Sayang...” lirih Amira otomatis. Suara itu keluar begitu alami. Seolah tubuh dan hatinya masih mengingat bagaimana menjadi seorang ibu.
Amira mengusap punggung bayi itu perlahan sambil membaca doa pelan di dekat kepalanya. “Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un...”
Tangisan bayi itu belum reda. Amira menatap wajah kecil di pelukannya beberapa detik. Dadanya terasa nyeri. Air susunya bahkan seperti ikut bereaksi mendengar tangisan itu. Dan tanpa sadar, Amira membuka sedikit selimut bayinya, lalu menyusui anak itu.
Perawat yang sejak tadi mendampingi perempuan paruh baya langsung maju satu langkah. “Bu, jangan,”
“Biarkan.” Suara perempuan paruh baya itu pelan, tetapi tegas.
Perawat itu langsung menutup mulutnya kembali. Ruangan mendadak sunyi. Yang terdengar hanya isapan kecil bayi yang mulai menyusu dengan rakus di pelukan Amira.
Tangisnya perlahan mereda. Tubuh mungil itu yang tadi tegang mulai tenang sedikit demi sedikit.
Amira menunduk memandangi bayi tersebut dengan mata berkaca-kaca. Perasaan hangat yang tadi mati perlahan kembali memenuhi dadanya. Perasaan yang sejak beberapa jam lalu terasa direnggut paksa darinya.
Sementara itu, perempuan paruh baya di hadapannya hanya diam memandangi Amira. Tatapan matanya berubah pelan-pelan. Dari terkejut menjadi haru.
Bayi itu akhirnya tenang. Isapannya yang tadi cepat perlahan melambat, lalu berhenti sama sekali. Napas kecilnya teratur, dan dalam hitungan menit, kelopak matanya menutup. Ia tertidur di pelukan Amira, seolah dunia tidak lagi mengganggunya.
Amira tersenyum kecil. Tangannya masih mengusap punggung bayi itu dengan lembut, refleks seorang ibu yang baru saja berhasil menenangkan anaknya.