NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

Di dalam ruang kelas Fakultas Bisnis yang kian meremang, keheningan yang tercipta di antara Maximilian dan Yara terasa begitu tebal, seolah-olah waktu sengaja berhenti untuk memberi ruang bagi luka yang baru saja teraba.

Max masih menatap lekat-lekat ke arah kekasihnya. Jemari tangan kanannya yang tadi mengusap helai rambut Yara kini turun, mendarat di tengkuk wanita itu dengan sentuhan yang hangat dan posesif.

Dia bisa merasakan ketegangan yang luar biasa menjalar di otot-otot tubuh Yara. Getaran halus yang keluar dari tubuh asisten dosen muda itu adalah jenis getaran yang sama yang selalu Max rasakan setiap jam dua pagi di dalam dekapannya.

"Aku tidak akan memaksamu, Yara," suara bariton Max memecah keheningan, mengalun begitu rendah dan dalam, menyapu sisa-sisa kepanikan yang sempat mencuat di udara.

"Aku bisa menunggu. Sialan, aku bahkan bisa menunggu seumur hidupku hanya untuk mendengar satu babak dari kisah masa lalumu. Tapi ingat satu hal, Baby... saat kau memutuskan untuk membuka pintu itu, aku sudah berdiri di sana. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi monster-monster itu sendirian lagi."

Yara perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang biasanya memancarkan ketegasan hukum yang dingin kini tampak sedikit berkaca-kaca, memantulkan pendar lampu ruang kelas yang mulai temaram karena sistem otomatis kampus mulai mematikan daya. Dia menatap wajah tampan Max yang berjarak begitu dekat dengannya.

"Terima kasih, Max," bisik Yara, suaranya kini terdengar jauh lebih stabil dari sebelumnya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengunci kembali kotak pandora masa lalunya rapat-rapat untuk sementara waktu.

Sifat rasionalnya sebagai seorang ahli hukum kembali mengambil alih kendali tubuhnya. "Sekarang, kita harus keluar dari sini sebelum petugas keamanan kampus mengunci gedung ini."

Max memicingkan matanya, dan dalam sekejap, aura serius yang mengintimidasi dari seorang pewaris dinasti Valerio menguap, digantikan oleh seringai tengilnya yang khas. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, menatap Yara dengan binar mata yang mendadak dipenuhi oleh riak birahi yang nakal.

"Keluar dari sini? Oh, come on, Baby," kekeh Max, jemarinya di tengkuk Yara kini mulai mengusap kulit leher wanita itu dengan gerakan memutar yang menggoda. "Ruang kelas ini kosong. Pintunya bisa dikunci dari dalam. Dan aku bertaruh, pegas di atas meja dosen di depan sana cukup kuat untuk menahan berat tubuh kita berdua jika aku memutuskan untuk meminta bayaran lanjutan atas status hubungan baru kita."

Yara seketika mendengus, rasa haru yang sempat menggelitik dadanya langsung lenyap digantikan oleh rasa gemas yang luar biasa. Dia memukul lengan kekar Max dengan kepalan tangannya yang lentik.

"Maximilian! Otakmu benar-benar terbuat dari sel-sel mesum yang tidak bisa disembuhkan. Singkirkan tanganmu, atau aku akan membatalkan status kekasihmu malam ini juga!"

"Hahaha! Oke, oke, jangan galak-galak, Baby. Menolak pacarmu yang tampan ini adalah sebuah kejahatan besar, kau tahu?" Max tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang selalu berhasil memecah ketegangan di antara mereka.

Dia berdiri dari kursinya, lalu meraih tas kulit milik Yara dan menyampirkannya di bahu tegapnya sendiri tanpa permisi.

Max mengulurkan tangan kirinya ke hadapan Yara. "Ayo pulang, Kekasihku. Aku harus memastikan bahwa pelukan malam ini lebih erat dari semalam agar mimpimu tidak berani datang mengganggu."

Yara menatap telapak tangan kekar yang terbuka di hadapannya. Tanpa ragu lagi, dia menyambut uluran tangan itu, membiarkan jemari mereka saling bertautan dengan begitu erat.

Saat mereka melangkah keluar dari ruang kelas membelah koridor Fakultas Bisnis yang mulai sepi, Yara merasa bahwa beban berat yang selama ini dipikulnya sendirian, kini perlahan mulai terbagi.

Sementara itu, di belahan kota yang berbeda, malam mulai merayap naik membawa atmosfer yang kian mencekam. Di dalam salah satu ruang interogasi utama markas otoritas federal, Tuan Walker duduk dengan raut wajah yang amat sangat kusut. Kemeja mahalnya kini tampak kusut, dan dasinya sudah dilonggarkan sejak beberapa jam yang lalu.

Di hadapannya, dua orang agen federal senior terus menyodorkan berkas-berkas transaksi perbankan yang sangat rahasia.

"Kami berikan Anda satu kesempatan lagi, Tuan Walker," ucap agen dengan setelan jas abu-abu, suaranya sedatar dinding beton di sekeliling mereka. "Jelaskan dari mana aliran dana sebesar lima puluh juta dolar yang masuk ke rekening cangkang Anda di Kepulauan Cayman dua bulan lalu. Jika Anda tetap bungkam, kami akan memastikan masa penahanan sementara Anda diubah menjadi penahanan tingkat tinggi tanpa jaminan."

Tuan Walker mengepalkan tangannya di bawah meja, giginya bergeletuk menahan amarah yang bercampur dengan rasa takut yang mulai menjalar.

Di dalam pikirannya, dia terus mengutuk nama Amieyara Walker. Gadis yatim piatu yang dia tampung setelah kematian orang tua kandungnya, gadis yang dia pikir tidak lebih dari sekadar alat investasi masa depan, ternyata memiliki taring yang begitu mematikan. Yara mengumpulkan setiap detail kesalahan, setiap nota kesepahaman ilegal, dan setiap jejak digital pencucian uangnya dengan ketelitian yang luar biasa gila.

TOK TOK TOK.

Pintu ruang interogasi terbuka, menampilkan sesosok pria paruh baya berambut klimis mengenakan setelan jas hitam formal—kepala tim pengacara keluarga Walker yang paling mahal dan paling licik di kota itu.

"Waktu interogasi klien saya sudah habis untuk hari ini, Agen," ucap sang pengacara dengan nada suara yang teramat tenang namun penuh penekanan hukum. Dia meletakkan selembar dokumen di atas meja. "Ini adalah surat jaminan penangguhan penahanan sementara yang sudah ditandatangani oleh hakim wilayah. Klien saya akan bersikap kooperatif, namun malam ini, dia harus pulang bersama saya."

Kedua agen federal itu saling berpandangan sejenak, lalu mendengus pelan. Mereka tahu, dengan kekuatan uang yang dimiliki keluarga Walker, penangguhan penahanan seperti ini adalah hal yang sangat mudah didapatkan di fase awal penyelidikan.

"Baiklah, Tuan Walker. Anda bisa pulang malam ini," ucap agen jas abu-abu sembari membereskan berkas-berkasnya. "Namun jangan salah paham. Ini bukan berarti Anda bebas. Kasus ini baru saja dimulai. Dan dari apa yang saya lihat pada validitas bukti yang diajukan oleh pelapor... Anda tidak akan bisa lari ke mana-mana."

Tuan Walker berdiri dari kursinya dengan tubuh yang sedikit limbung. Senyum sinis yang dipaksakan muncul di wajah tuanya yang pucat. "Kita lihat saja nanti, Agen. Pelapor itu hanya seonggok sampah yang tidak tahu cara menghormati orang yang telah memberinya makan. Pengacaraku akan menghancurkan reputasi laporannya dalam persidangan minggu depan."

...****************...

Satu jam kemudian, sebuah mobil sedan mewah hitam meluncur masuk ke dalam halaman mansion megah keluarga Walker. Pintu mobil terbuka, dan Tuan Walker melangkah keluar dengan sisa-sisa keangkuhan yang dia kumpulkan kembali sepanjang perjalanan pulang.

Di dalam ruang tamu utama yang megah, Nyonya Walker dan Cinmocha Walker sudah menunggu sejak sore hari dengan perasaan yang campur aduk. Begitu melihat sosok sang kepala keluarga berjalan masuk, Nyonya Walker langsung berlari kecil dan memeluk suaminya dengan histeris.

"Oh, Sayang! Syukurlah kau sudah pulang! Aku sudah sangat gila memikirkan apa yang terjadi di markas federal!" ratap Nyonya Walker dengan air mata yang mengalir di pipinya yang dilapisi bedak mahal.

Tuan Walker mengusap bahu istrinya kasar, lalu mendudukkan dirinya di atas sofa beludru hitam. Matanya kemudian tertuju pada Caca yang berdiri tak jauh dari sana, memegang segelas jus jeruk dengan ekspresi wajah yang dingin, sangat kontras dengan kepanikan sang ibu.

"Bagaimana di kampus, Mocha?" tanya Tuan Walker, suaranya terdengar serak. "Apakah pelacur kecil itu... Yara, dia menunjukkan wajahnya di sana?"

Caca melangkah mendekat, lalu meletakkan gelasnya di atas meja kaca dengan dentingan halus. "Tentu saja, Ayah. Dia datang bersama Maximilian Valerio pagi tadi. Dan karena laporan jalang itu, seisi kampus membicarakan penangkapanmu. Bahkan tadi pagi, Bella Moon membuat keributan gila di parkiran karena dituduh menjebak Emmeline Valerio. Hubungan sosial kita di sirkel elit kampus runtuh dalam satu hari karena ulah Yara."

Tuan Walker menggebrak meja kaca di hadapannya hingga retak tipis di bagian sudut. "Sialan! Berani sekali dia! Aku yang membesarkannya! Aku yang memastikan dia mendapatkan pendidikan terbaik di universitas itu! Dan sekarang dia menggunakan ilmu itu untuk menggigit tanganku sendiri?!"

Nyonya Walker mencibir dengan nada suara yang penuh dengan racun kebencian. "Sudah kubilang sejak dulu, dia itu hanya sampah bawaan yang tidak tahu diuntung. Kita seharusnya membuangnya ke jalanan sejak dia masih kecil! Tapi tenang saja, Sayang... pengacara kita sudah bergerak. Yara hanya sampah yang tidak punya kekuatan apa-apa jika dibandingkan dengan koneksi bisnis kita. Kau pasti akan dibebaskan total setelah interogasi formal ini selesai."

Caca yang mendengar ucapan ibunya hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat penuh rahasia. Di dalam benaknya, dia sama sekali tidak peduli apakah ayahnya akan mendekam di penjara atau tidak dalam jangka panjang.

Bagi Caca, ego pribadinya dan pembalasan dendamnya terhadap Yara jauh lebih penting daripada nasib hukum sang ayah.

"Ayah tidak perlu mengotori tangan Ayah lagi untuk menghadapi Yara," ucap Caca, suaranya terdengar begitu lembut namun sarat akan intrik yang mematikan. "Aku sudah menyiapkan sebuah hadiah spesial untuk kakakku tersayang. Sebuah hadiah yang akan langsung merobek seluruh harga dirinya, menghancurkan karier akademis yang dia agungkan, dan membuat Maximilian Valerio membuangnya ke tempat pembuangan sampah seperti yang seharusnya."

Tuan Walker menatap anak gadis kesayangannya itu dengan kening berkerut. "Apa yang kau rencanakan, sayang?"

Caca tidak menjawab secara langsung. Dia hanya meraba saku piyama sutranya, memastikan ponselnya berada di sana.

Di dalam folder terenkripsi ponsel tersebut, sebuah video kompresi digital hasil manipulasi deepfake tingkat tinggi baru saja selesai diproses oleh peretas sewaannya.

Video berdurasi tiga menit yang menampilkan wajah artifisial Amieyara Walker sedang melakukan aksi kotor yang menjijikkan di dalam kamar mandi dengan begitu vulgar dan desahan yang dibuat sangat nyata.

"Ayah cukup duduk manis dan saksikan pertunjukannya besok pagi di kampus," jawab Caca dengan tawa lirih yang sangat sinis.

"Besok, seluruh Universitas Los Angeles akan melihat video skandal kamar mandi milik asisten dosen hukum mereka yang suci. Aku akan memastikan link video itu menyebar ke setiap ponsel mahasiswa, dosen, bahkan dekan. Kita lihat saja, bagaimana hukum yang dia agungkan bisa menyelamatkannya dari kehancuran sosial ini."

Nyonya Walker yang mendengar rencana anak gadisnya langsung tersenyum lebar, matanya berbinar puas. "Kerja bagus, Nak. Memang begitu cara menghadapi tikus rumahan seperti Yara. Buat dia merangkak kembali di bawah kaki kita!"

Malam kian larut, menyelimuti kompleks apartemen menengah tempat Yara tinggal dengan kesunyian yang damai. Di dalam unit apartemennya, cahaya remang dari lampu meja di sudut ruang tengah memberikan nuansa yang hangat dan tenang.

Maximilian Valerio keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan celana panjang hitam kasual, memamerkan dada bidangnya yang atletis dan deretan tato hitam yang menghiasi kulitnya yang eksotis. Handuk kecil tersampir di lehernya, digunakan untuk mengeringkan rambut hitamnya yang masih agak basah.

Dia melangkah menuju dapur kecil, mendapati Yara sedang berdiri di dekat konter memandangi secangkir teh chamomile yang masih mengepulkan uap hangat. Yara sudah berganti pakaian dengan piama satin lengan panjang berwarna biru muda, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai bebas.

Max mendekat tanpa suara, lalu dari arah belakang, dia melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling pinggang ramping Yara, menarik tubuh wanita itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya yang hangat.

Max menumpukan dagunya di atas bahu Yara, menghirup aroma wangi stroberi dari rambut kekasihnya dengan perlahan.

"Kau memikirkan tentang hari esok, Baby?" bisik Max, suara bariton rendahnya menggelitik daun telinga Yara.

Yara tidak memberontak. Dia menyandarkan punggungnya pada dada hangat Max, menikmati rasa aman yang seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedua tangannya bergerak naik, memegang lengan kekar Max yang melingkari perutnya.

"Aku hanya merasa... ketenangan malam ini terasa terlalu asing, Max. Sifat hukum mengajarkanku bahwa setelah badai besar pagi tadi, biasanya akan ada ombak susulan yang mencoba menghantam dari arah yang tidak terduga."

Max membalikkan tubuh Yara dalam dekapannya secara perlahan hingga kini mereka saling berhadapan. Pemuda itu menatap sepasang mata indah Yara dengan binar posesif yang teramat pekat. Dia menundukkan kepalanya sedikit, menempelkan keningnya pada kening Yara.

"Biarkan ombak itu datang, Yara," ucap Max dengan nada suara yang teramat tegas, sarat akan kekuasaan seorang Valerio yang mutlak. "Jika mereka membawa ombak, aku akan membawa badai. Siapa pun yang berani mencoba mengusik ketenanganmu mulai detik ini, mereka harus melewati mayat seorang Maximilian Valerio terlebih dahulu."

Yara menatap dalam-dalam ke dalam manik mata gelap Max, melihat pantulan dirinya sendiri di sana. Rasa takut yang selama bertahun-tahun menghantuinya setiap malam perlahan mulai terkikis oleh keberadaan pemuda berusia dua puluh tahun ini.

Max tersenyum tipis melihat kepasrahan manis di wajah Yara. Dia memajukan wajahnya, mengikis sisa jarak di antara mereka, dan langsung menautkan belahan bibirnya di atas bibir ranum Yara.

Ciuman malam itu berlangsung dengan begitu lambat, lembut, dan penuh dengan luapan emosi yang mendalam—sebuah janji tak terucap bahwa apa pun yang akan terjadi esok hari di koridor kampus, mereka akan menghadapinya bersama sebagai satu kesatuan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh intrik kotor siapa pun.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!