"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Pedang Sang Penguasa dan Taktik Kotoran
Pencurian Roh di Jantung Jinyowon
Di sebuah ruangan tersembunyi di balik kemegahan Jinyowon, tempat artefak kuno disimpan dalam keheningan, seorang pria berdiri menghadap sangkar besi yang dibelit rantai sihir.
Di dalamnya, roh anjing Gwigu—energi murni dari artefak yang dihancurkan Han Seol tempo hari—meronta dalam kurungan cahaya.
Pria itu mengangkat tongkatnya. Tangan kanannya bergerak cepat, menarik asap hitam pekat dari udara kosong. Angin sihir yang tercipta begitu kencang hingga membuat obor-obor di dinding ruangan meredup, nyaris padam.
Dengan satu gerakan mantap, ia menarik roh anjing itu keluar dari sangkar dan memaksanya menyatu dengan jasad anjing peliharaannya yang telah kaku.
Sssshhh!
Uap dingin keluar dari sela-sela bulu anjing itu saat nyawa buatan ditiupkan ke dalamnya. Mata hewan itu terbuka, berkilat dengan cahaya biru pucat yang tidak alami. Ia berdiri dengan kaku, lalu menunduk patuh di hadapan tuannya.
"Kuharap kita bisa akur," bisik pria itu sambil mengelus kepala anjing yang kini terasa sedingin es.
Ia menatap mata hewan itu dengan tajam, memberikan perintah yang menjadi tujuan utamanya.
"Bantu aku mencari orang-orang pemindah jiwa dan para pengguna sihir terlarang yang bersembunyi di negeri ini. Endus jejak mereka, dan jangan biarkan satu pun lolos dari penglihatanmu."
Anjing itu mengendus udara, mengeluarkan suara geraman rendah yang bergetar dengan energi magis. Perburuan besar baru saja dimulai.
****
Malam yang Membeku dan Rahasia Nara
Kondisi Han Seol mencapai titik kritis. Napasnya pendek-pendek, dan setiap embusan udara dari mulutnya menjelma menjadi kristal es yang halus. Kesadarannya mulai memudar, hanyut dalam lautan es yang diciptakan oleh energinya sendiri.
Seol-Ah tidak punya pilihan lain. Ia membuang jauh-jauh keraguannya, lalu merapatkan tubuhnya, memeluk Han Seol dengan erat untuk membagikan panas tubuhnya sendiri. Jemarinya terus mengelus lengan Han Seol, berusaha memompa kehidupan ke dalam raga yang nyaris membatu itu.
"Jangan tidur, Han Seol. Tetaplah bersamaku," bisik Seol-Ah di dekat telinganya.
Demi menjaga agar kesadaran Han Seol tidak terputus, Seol-Ah mulai bercerita. "Kau tahu? Saat aku masih kecil, saat namaku masih Nara... aku pernah tersesat di tengah badai salju. Ayahku bilang, hanya mereka yang memiliki api di hatinya yang bisa bertahan. Kau punya api itu, Seol. Jangan biarkan ia padam."
Suara lembut Seol-Ah tentang masa lalunya sebagai Nara menjadi satu-satunya jangkar yang menahan Han Seol agar tidak tenggelam dalam kegelapan.
****
Pagi yang Baru dan Pedang yang Bisu
Keesokan paginya, cahaya matahari menyusup melalui celah jendela. Han Seol terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Rasa sakit yang semalam merobeknya kini telah reda; ia berhasil menjinakkan badai energi di dalam dirinya.
Seol-Ah terbangun tak lama kemudian. Ia segera berdiri dan mendekati Han Seol dengan raut cemas yang belum hilang sepenuhnya.
"Kau... kau sudah membaik?" tanya Seol-Ah, menatap wajah Han Seol yang kini kembali berwarna.
Han Seol mengangguk. Ia melangkah menuju meja kayu dan mencoba menarik pedang warisan ayahnya. Namun, meski ia telah mengerahkan tenaga, bilah pedang itu tetap bergeming di dalam sarungnya, seolah menolak untuk dikeluarkan oleh tangan yang belum siap.
"Masih belum bisa," gumam Han Seol kecewa.
"Jangan terburu-buru," Seol-Ah meletakkan tangannya di atas bahu Han Seol, memberi semangat. "Kau baru saja selamat dari maut. Tubuhmu butuh waktu untuk selaras dengan pedang itu. Suatu saat nanti, pedang itu sendiri yang akan memintamu mencabutnya."
Perahu yang Ramai (dan Do Hyun yang Kecewa)
Sementara itu, di sebuah perahu kayu yang meluncur tenang di bawah jembatan bata pusat kota, suasananya terasa sangat kontras. Jin Chae Rin duduk sendiri di depan, memegang bungkusan hadiah dengan anggun. Do Hyun dan Seo Jun duduk berdampingan, sementara Ji Hoon berdiri di belakang bersama pemilik perahu.
Do Hyun menoleh ke arah Seo Jun dengan tatapan malas. "Kenapa kau harus ikut denganku?"
Tadinya, Do Hyun sudah membayangkan perjalanan romantis hanya berdua dengan Jin Chae Rin. Namun, rencana itu hancur saat Seo Jun dan Ji Hoon memaksa ikut.
"Memangnya kenapa? Apa jalan menuju rumah Han Seol itu milik nenek moyangmu?" sahut Seo Jun santai, pura-pura tidak melihat wajah masam sahabatnya. "Aku juga ingin memastikan anak itu belum berubah jadi patung es."
"Ah, sudahlah," gumam Do Hyun kesal.
"Sepertinya kau terlihat sangat mencurigakan, Hyun," goda Ji Hoon dari belakang sambil terkekeh. "Kau berharap kami semua mendadak amnesia dan membiarkanmu pergi berdua saja dengan Jin Chae Rin, ya?"
Do Hyun mendengus keras, memalingkan wajahnya ke arah air sungai yang mengalir, sementara telinganya memerah. Di depannya, Jin Chae Rin hanya tersenyum tipis, pura-pura tidak mendengar perdebatan konyol para pemuda itu.
****
Suasana di kediaman keluarga Han mendadak tegang saat iring-iringan Putra Mahkota memasuki gerbang utama. Sang Pangeran datang dengan satu tujuan: mengamankan pedang-pedang sakti milik mendiang penyihir besar.
"Aku datang untuk mengambil pedang milik Nara," ucap Putra Mahkota dengan nada yang tak terbantahkan saat mereka berkumpul di ruang utama.
Han Seol dan Seol-Ah saling pandang. Mereka tidak keberatan melepaskan pedang milik Nara, namun saat Putra Mahkota beralih pada pedang milik Han Gyeol—ayah Han Seol—suasana berubah dingin.
"Ampun, Yang Mulia," Han Seol menyela, suaranya tenang namun tajam. "Pedang ayahku adalah satu-satunya kehormatanku. Aku ingin mematahkan rumor buruk tentang kelahiranku dengan pedang itu. Aku tidak bisa menyerahkannya."
Madam Oh yang berdiri di sudut ruangan meremas jemarinya, matanya berkaca-kaca. Ia tak rela jika pusaka tuannya jatuh ke tangan istana hanya untuk menjadi pajangan.
Putra Mahkota menyeringai tipis, sebuah tatapan menantang muncul di matanya. Ia melangkah keluar menuju halaman luas kediaman Han yang berlantai tanah. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa pantas kau menyandang nama Han Gyeol."
Di halaman kediaman Han yang luas, debu tipis beterbangan ditiup angin sore. Garis panjang yang digoreskan Putra Mahkota di atas tanah menjadi batas penentu harga diri.
"Siapa pun yang keluar dari garis ini, dia kalah. Dan pemenangnya berhak atas pedang itu."
Han Seol berdiri dengan kuda-kuda yang belum sempurna, sementara Putra Mahkota menatapnya dengan senyum meremehkan, memutar-mutar sarung pedangnya dengan santai.
"Mulai," ucap Putra Mahkota dingin.
Wush!
Tanpa peringatan, Putra Mahkota melesat maju. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan distorsi udara. Sarung pedangnya terayun horizontal, mengincar pelipis Han Seol. Han Seol yang belum terbiasa dengan kecepatan tingkat tinggi hanya sempat mengangkat sarung pedang ayahnya untuk menangkis.
KLANG!
Benturan dua kayu berlapis logam itu bergema nyaring. Kekuatan hantaman Putra Mahkota membuat lutut Han Seol menekuk. Belum sempat Han Seol memperbaiki posisi, Putra Mahkota memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum untuk menendang dada Han Seol.
DUAK!
Han Seol terlempar ke belakang. Kakinya terseret di atas tanah, menyisakan dua jalur parit kecil, berhenti tepat dua jengkal di depan garis batas. Dada Han Seol sesak, napasnya memburu.
"Hanya segini kemampuan putra Han Gyeol?" cibir Putra Mahkota. Ia melangkah maju dengan anggun, lalu melancarkan serangan bertubi-tubi.
Takk! Srakk! Takk!
Putra Mahkota menyerang dari atas, kiri, dan kanan dengan kombinasi ilmu pedang istana yang mematikan. Han Seol dipaksa mundur dan hanya bisa bertahan secara membabi buta.
Setiap tangkisan membuat telapak tangannya mati rasa. Sarung pedang Putra Mahkota berkali-kali lolos dari pertahanan Han Seol—menghantam bahunya, menusuk rusuknya, dan mencambuk tulang keringnya.
Duar!
Satu hantaman keras di pundak membuat Han Seol jatuh berlutut, terbatuk darah.
Di tepi halaman, Seol-Ah mencengkeram kain roknya hingga kukunya memutih. Air mata tertahan di sudut matanya, menahan jeritan melihat Han Seol yang terus dihujani pukulan tanpa ampun. Madam Oh memalingkan wajah, tidak sanggup melihat putra tuannya dihancurkan seperti itu.
Namun, di tengah rasa sakit yang mendera, Han Seol merasakan sesuatu yang lain. Pukulan-pukulan dari Putra Mahkota justru memicu aliran darahnya berputar lebih cepat. Energi api yang panas membara di tangan kanannya, sementara energi es yang sedingin maut membeku di tangan kirinya. Kedua energi liar di dalam nadinya yang selama ini tersumbat, kini mulai bergolak, berebut jalan untuk keluar akibat hantaman eksternal.
'Sedikit lagi...' batin Han Seol, menahan perih di dadanya. Ia sengaja membiarkan dirinya terpukul agar syok di tubuhnya membuka gerbang energinya yang terkunci.
Putra Mahkota, yang mengira Han Seol sudah habis, tersenyum puas. Ia melompat tinggi ke udara, membalikkan tubuhnya terbalik dengan sarung pedang terangkat tinggi. Ia berniat memberikan hantaman vertikal terakhir yang tidak hanya akan mengusir Han Seol keluar garis, tapi juga mematahkan semangatnya selamanya.
"Berakhir di sini!" seru Putra Mahkota dari udara.
Tepat saat Putra Mahkota berada di puncak lompatannya dan konsentrasinya terfokus sepenuhnya pada serangan bawah, sebuah seruan cempreng memecah kesunyian halaman.
"YANG MULIA, AWASSS!"
BYURRR!
Seember penuh cairan hitam pekat, kental, dan berbau busuk menyengat meluncur di udara, menyiram tepat ke arah tubuh mewah sang Pangeran yang sedang melayang turun.
"Ugh?!" Putra Mahkota terperanjat setengah mati. Aroma kotoran yang menusuk hidung seketika meruntuhkan wibawa dan fokus bertarungnya.
Secara refleks, insting alaminya untuk melindungi diri dari najis mengalahkan logika duelnya. Sang Pangeran membatalkan serangannya di udara, memutar tubuhnya dengan panik demi menghindari sisa siraman air kotor itu, dan melakukan lompatan mundur yang sangat jauh.
Sret!
Kedua sepatu bot mahal milik Putra Mahkota mendarat dengan keras di atas tanah—jauh, beberapa langkah di luar garis batas yang ia buat sendiri.
Halaman mendadak hening seketika. Hanya suara tetesan cairan hitam dari jubah sang Pangeran yang terdengar.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Putra Mahkota murka, suaranya melengking tinggi menahan jijik dan malu, menatap bajunya yang kini berlumuran air kotoran.
Seluruh pengawal istana mematung dengan mulut ternganga. Madam Oh menutup mulutnya dengan tangan, syok. Di tengah halaman, Seol-Ah berdiri gemetar, memegang baskom logam kosong yang kini melompong. Wajahnya menunduk takut, namun ada binar kepuasan yang tersembunyi di matanya.
"Meski Yang Mulia melangkah mundur untuk menghindar," ucap Seol-Ah dengan suara bergetar namun terdengar jelas ke seluruh penjuru halaman, "Anda... telah keluar dari garis terlebih dahulu. Artinya, Anda kalah."
Kemurahan hati sang pangeran lenyap seketika. Ia menghunus pedang aslinya, hendak menebas kepala Seol-Ah. "Pelayan kurang ajar!"
SING!
Suara logam berdenting nyaring. Semua mata terbelalak. Han Seol berdiri di depan Seol-Ah, menahan pedang Putra Mahkota dengan sebilah pedang yang kini berpendar cahaya biru terang.
Ia berhasil mencabut pedang ayahnya.
Namun, sesuatu yang salah terjadi. Mata Han Seol memutih, dan pembuluh darah di tangannya menonjol, berpendar biru seirama dengan bilah pedangnya.
"Maaf... tanganku... tidak bisa berhenti!" Han Seol berteriak parau. Pedang itu seolah merasuki raganya, menarik tubuhnya untuk menyerang membabi buta ke arah Putra Mahkota.
Tepat saat itu, Seo Jun, Do Hyun, Ji Hoon, dan Jin Chae Rin merangsek masuk ke halaman. Mereka tertegun melihat sahabat mereka yang biasanya tenang kini berubah menjadi mesin pembunuh yang gemetar hebat.
"Han Seol! Sadarlah!" teriak Seo Jun, tangannya sudah bersiap di gagang pedang, namun ia ragu untuk mencabutnya.
"Sial, energinya meluap! Dia akan menebas kepala Pangeran kalau kita diam saja!" Do Hyun melompat maju, mencoba memeluk tubuh Han Seol dari belakang.
PLAK!
Tangan Han Seol yang teraliri energi liar menampar pipi Do Hyun hingga pemuda itu terpental.
"Aduh! Sialan, tenaganya seperti kerbau!" Do Hyun mengaduh sambil memegangi pipinya yang merah padam. "Han Seol! Ini aku, Do Hyun! Ingat hutangmu padaku, jangan mati jadi pemberontak sekarang!"