NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAAT BAHAYA DATANG MENGINTAI

Di kediamannya yang megah, Samudera yang baru saja hendak melangkah ke kamar mandi langsung meraba saku celananya saat merasakan getaran berpola khusus dari ponselnya. Ia mengangkat telepon itu dengan rahang yang seketika mengeras.

​"Bicaralah," perintah Samudera singkat.

​"Lapor, Pak. Dugaan Anda sepenuhnya benar. Titik GPS ponsel milik Yeni terdeteksi sempat mengintai di depan rumah Ibu Alana selama satu jam terakhir. Dan sekarang, dia sedang bergerak membuntuti taksi online yang ditumpangi Ibu Alana menuju arah Supermarket Pusat Kota."

​Mendengar laporan itu, aura membunuh seketika menguar dari tubuh tegap Samudera. Matanya menatap tajam ke depan dengan kilat kemarahan yang begitu pekat. Wanita picik itu benar-benar bosan hidup karena berani mengusik ketenangan wanitanya.

​"Kirimkan koordinat pastinya ke ponselku sekarang!" desis Samudera dengan suara rendah yang sarat akan ancaman berbahaya. "Siapkan tim terdekat di lapangan untuk mencegatnya sebelum dia menyentuh Alana. Aku sendiri yang akan turun tangan."

Taksi online itu melambat, lalu berhenti dengan halus di area parkiran luar supermarket yang memang sedang tidak terlalu padat di jam-jam sore menjelang petang. Alana turun dari mobil, menghirup napas segar sejenak sebelum melangkah menuju pintu masuk.

​Ia tidak sadar, di balik deretan mobil yang terparkir, Yeni telah menunggu dengan napas memburu. Penampilan mantan guru itu sudah sangat berantakan; rambutnya kusut dan matanya menyala oleh kegilaan. Saat melihat Alana berjalan sendirian tanpa perlindungan, Yeni segera keluar dari persembunyiannya.

​Dengan langkah cepat dan hening, Yeni berlari kecil ke arah punggung Alana. Di tangannya, sebilah pisau dapur yang berkilat tajam tampak siap diayunkan.

​"Matilah kamu, wanita jalang! Ini balasan karena telah menghancurkan hidupku!" teriak Yeni tepat di belakang punggung Alana.

​Alana terbelalak, ia berbalik dengan gerakan refleks, namun Yeni sudah mengayunkan pisau itu dengan sekuat tenaga ke arah punggungnya.

​Bruk!

​Namun, sebelum mata pisau itu sempat merobek kulit Alana, sebuah tangan kekar dari arah samping menyergap pergelangan tangan Yeni dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.

​"Lepaskan!" pekik Yeni berontak.

​Ternyata, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang sudah memantau Yeni sejak dari rumah tadi telah bergerak lebih cepat. Salah satu dari mereka berhasil menepis tangan Yeni, membuat pisau itu terlempar jatuh ke lantai parkiran dengan suara denting yang nyaring.

​Alana jatuh terduduk di lantai parkiran karena syok yang luar biasa. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal menahan getaran hebat di sekujur tubuhnya. Ia menatap pisau yang tergeletak di dekat kakinya dengan mata terbelalak, baru menyadari betapa tipis jarak antara nyawanya dan kematian detik ini juga.

​"Alana!"

​Sebuah teriakan yang sangat familiar memecah suasana. Samudera baru saja keluar dari mobil SUV hitamnya yang dipacu dengan kecepatan tinggi. Pria itu tampak sangat berantakan—jasnya terbuka lebar dan wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi dengan urat-urat kemarahan yang mencuat.

​Samudera tidak memedulikan siapa pun. Ia langsung berlari dan berlutut di hadapan Alana, mendekap tubuh wanita itu yang gemetar hebat ke dalam pelukannya.

​"Jangan melihat ke sana, Alana. Lihat aku," bisik Samudera dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menenangkan Alana sekaligus memendam ledakan kemarahannya sendiri.

​Di sisi lain, Yeni sudah dilumpuhkan dan ditekan ke aspal oleh anak buah Samudera. Yeni terus meracau, berteriak penuh kebencian, namun Samudera bahkan tidak sudi melirik ke arah wanita itu. Baginya, satu-satunya hal yang penting saat ini adalah memastikan Alana tetap bernapas.

​"Kamu aman sekarang," ucap Samudera, mengusap kepala Alana dengan tangan yang masih gemetar hebat karena rasa takut yang baru saja ia rasakan. "Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi."

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!