Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Layang-layang dan Masalalu yang kembali
PRIIIIITTTT!!
Suara peluit panjang akhirnya menggema keras di seluruh area festival, membuat suasana yang tadi ramai berubah semakin menegangkan.
“Seluruh peserta harap bersiap di area masing-masing!”
Seketika para peserta mulai bergerak menuju garis pantai sambil membawa layang-layang mereka masing-masing. Angin laut pagi itu bertiup cukup kuat hingga beberapa ekor layangan sudah bergerak liar bahkan sebelum diterbangkan.
Kai langsung menggenggam gulungan benangnya erat, jantung kecilnya mulai berdetak lebih cepat. Dan entah kenapa… sekarang rasa gugup itu datang lagi.
“Kai.” Suara Alena membuat anak itu menoleh pelan.
Wanita itu tersenyum lembut sambil merapikan sedikit rambut anaknya yang berantakan diterpa angin laut.
“Jangan lihat layang-layang orang lain.”
Tatapan Alena jatuh pada layang-layang biru milik Kai. “Lihat punyamu sendiri.”
Kalimat itu sekaligus membuat anak itu sedikit percaya diri. Kai menunduk pelan menatap hasil karyanya itu. Rembulan putih besar di tengah layang-layang tampak begitu indah diterpa cahaya matahari pagi, sementara gambar empat wanita di bawahnya terlihat sederhana namun hangat.
Untuk pertama kali sejak datang ke festival…Kai mulai tersenyum kecil.
“Iya Ma,” jawabnya lirih.
“NAH GITU DONG!” seru Senna paling heboh sendiri. “Pokoknya anakku harus paling keren hari ini!” imbuhnya dengan suara yang begitu lantang hingga beberapa mata tertuju padanya.
“Bu Senna…” Anne langsung menahan malu sambil menarik tangan sahabatnya itu.
Sementara Rina tertawa kecil melihat tingkah mereka. Namun di tengah suasana hangat itu… tatapan Kael masih belum berpindah dari arah Kai.
Pria itu berdiri di area VIP sambil memperhatikan anak kecil tersebut dari kejauhan.
Entah kenapa… semakin lama melihat Kai dadanya terasa semakin tidak nyaman. Ada sesuatu dalam cara anak itu berdiri. Cara menggenggam benang. Bahkan sorot matanya, seolah sangat familiar.
Melihat sosok kecil itu, Kael seolah melihat bayangannya di masa kecil.
“Tuan?” Suara Edgar membuat Kael sedikit menoleh.
“Acara akan segera dimulai.”
Kael hanya mengangguk singkat tanpa benar-benar mendengar. Karena fokusnya masih tertahan pada satu anak kecil di tengah pantai itu.
PRIIITTT!!
Peluit kedua terdengar.
“SEMUA PESERTA MULAI!”
Brusshhh!
Puluhan layang-layang langsung naik bersamaan memenuhi langit pesisir. Sorak sorai penonton mulai terdengar dari berbagai arah.
Kai menarik napas panjang. Lalu mulai berlari kecil.
“Sekarang Kai!” teriak Anne.
Rina membantu mengangkat bagian bawah layang-layangnya.
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga!”
Brusshhh!
Layang-layang biru itu akhirnya lepas ke udara.
Awalnya naik perlahan, lalu sedikit oleng ke kiri. Namun beberapa detik kemudian angin laut tiba-tiba berubah jauh lebih besar dari sebelumnya.
“ASTAGA!” teriak beberapa penonton panik.
Benang di tangan Kai langsung tertarik kuat. Tubuh kecilnya hampir ikut terseret ke depan, karena angin yang begitu kencang.
Layang-layang biru itu mulai berputar liar di udara. Naik terlalu tinggi. Lalu miring tajam ke samping.
“KAI!” Alena langsung refleks maju panik.
“Tarik pelan Nak!” seru Anne.
“Jangan dilawan anginnya!” teriak Rina.
Sementara Senna bahkan sudah hampir ikut lari ke arena. Namun Kai masih mencoba bertahan. Kedua tangannya memegang gulungan benang itu sekuat tenaga meski telapak tangannya mulai terasa panas.
Matanya terus fokus ke langit, rasa takut dan tegang terus saja menjalar di tubuhnya. Namun ia tidak mau menyerah. Karena layang-layang itu bukan sekadar permainan baginya.
Dan entah kenapa di tengah kepanikan itu Kael justru terus memperhatikan Kai tanpa berkedip.Tatapan pria itu perlahan berubah.
Bukan lagi sekadar penasaran.
Seperti seseorang yang terlalu khawatir, bahkan ia sendiri saja tidak pernah memiliki perasaan ini sebelumnya.
Kael langsung mengernyit kecil menyadari perasaannya sendiri. Kenapa ia peduli?Kenapa jantungnya ikut menegang saat melihat anak itu hampir jatuh?
Sementara di tengah arena—
Brussshh!!
Layang-layang Kai kembali tersapu angin besar hingga nyaris jatuh menghantam pasir. Beberapa penonton bahkan mulai menggeleng.
“Sayang sekali…”
“Padahal tadi bagus.”
Namun tepat di saat itu— suara keempat wanita itu kembali terdengar bersamaan.
“KAI BISA!”
“JANGAN TAKUT!”
“KAMI DI SINI!”
“KAI PASTI BISA!”
Seketika mata Kai membesar kecil. Tangannya yang tadi gemetar perlahan mulai tenang. Tatapannya kembali fokus.
Tarik. Lepas sedikit. Tarik lagi. Dan beberapa detik kemudian Layang-layang biru itu kembali stabil. Bahkan kali ini naik jauh lebih tinggi membelah langit pesisir, anak kecil itu berhasil mengendalikan layang-layang itu.
Rembulan putihnya terlihat begitu besar di atas sana. Empat sosok wanita di bawahnya terlihat jelas seolah ikut terbang bersama angin.
“WAAAAHHHH!!”
Tepuk tangan langsung pecah di seluruh area pantai. “Itu keren banget!”
“Anak kecil itu berhasil!”
Senna sampai melompat histeris sambil memeluk Anne.
“ANAKKU HEBAT!!”
Rina ikut tertawa sambil menyeka sudut matanya sendiri. Sementara Alena… wanita itu hanya berdiri diam dengan mata berkaca-kaca menatap Kai yang sedang tersenyum bahagia di tengah arena.
Dan tepat di saat itulah— tatapan Kael yang sejak tadi tertuju pada Kai, perlahan bergeser. Menuju seorang wanita di belakang anak itu. Rambutnya bergerak pelan diterpa angin laut.
Matanya penuh haru, senyuman kecil itu tiba-tiba mengingatkan Kael pada seseorang
yang begitu familiar di hidupnya.
Deg.
Jantung Kael langsung terasa berhenti sesaat. Tatapannya membeku. Napasnya mendadak terasa berat.
“Alena…” gumamnya lirih hampir tak terdengar.
Sementara di sisi lain— Alena sama sekali belum sadar. Wanita itu masih terlalu fokus melihat Kai yang akhirnya berhasil menerbangkan mimpinya tinggi ke langit, tanpa tahu jika pria yang selama ini ia hindari sudah dekat. Bahkan terlalu dekat.
Bersambung ...
maaf telat ya ... dari tadi sibuk masak-masak😂😂😂