Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTRAKSI
Bangun tidur dengan pikiran fresh karena tidurnya sangat berkualitas, tentu diharapkan setiap ibu hamil, tapi tidak dengan Tania pagi ini. Tangannya mendadak gemetar, niatnya hanya melihat jam saja, tetapi notifikasi dari akun media sosialnya membuat dia penasaran, tak biasanya seramai ini. Awalnya berpikir penjualannya meningkat pagi ini, nyatanya saat ia membuka media sosialnya banyak yang DM dan tag akun Tania terkait video yang diunggah oleh Lingga.
Tania langsung terduduk lemas, saat tahu isi video tersebut, tangannya semakin bergetar saat followernya meminta Tania untuk klarifikasi, bahkan Siska yang sudah lama tak menghubunginya, ikut mengirim pesan.
Pak Lingga memojokkan kamu terus, ada apa memang? Begitu isi pesan Siska, namun Tania tak punya daya untuk sekedar membalasnya. Arus komentar para netizen begitu cepat, ketakutan Tania hanya satu, akibat video Lingga ini akan mempengaruhi jualannya. Tania tak bisa membayangkan kalau jualannya diboikot, bagaimana dia mencari makan nanti.
Pikiran kalut, hati cemas tentu berpengaruh pada kehamilannya, mendadak perutnya mules, Tania tersentak saat tendangan si bayi begitu keras sekali, tapi kemudian disusul rasa mules tak tertahan, sampai Tania mengadu dan keluar keringat dingin. Ia pun ke toilet, berpikir mules karena sakit perut, maklum biasanya ada orang gugup yang menjalar ke rasa mules juga.
Lama ia menunggu, ternyata tak keluar, malah makin mules. Tania belum sadar kalau saat ini ia mengalami kontraksi. Ia masih melakukan aktivitas jualan, dan makan hanya sekedar roti, tak berselera dan badannya tak kuat untuk berdiri lama.
"Dek, kamu kok gak gerak," baru sadar kalau hanya sekali pagi tadi gerakan si bayi terasa, sampai menjelang sore Tania tak merasakan lagi. Perut makin mules, dan puncaknya jam 9 malam saat akan ke kamar mandi, celana Tania muncul flek darah segar, matanya mendelik seketika. Panik, dan ia baru kembali pegang ponsel, sejak tadi ia mengabaikan komentar para netizen, bahkan untuk jualannya saja via laptop.
Buru-buru ia ke rumah sakit, membawa hospital bag yang sudah ia siapkan sebelumnya, sadar kalau hidup sendiri, mau tak mau mempersiapkan kebutuhan melahirkan harus sejak awal. Ia langsung masuk mobil, membuka pagar pun harus menguatkan diri.
Jangan tanya perutnya serasa diremas banyak orang, dan dia merasakan saat menginjak pedal, ada cairan seperti air kencing. Ia memejamkan mata, paham kalau itu adalah air ketuban. "Berarti aku lahiran sekarang? Anakku gimana?" tanya Tania ketakutan, sembari gemetar dan menyetir mobil. Selama menuju rumah sakit, ia menahan kontraksi hebat tersebut, hatinya terus berucap anakku harus selamat. Tania tentu khawatir karena kehamilannya baru 35 minggu. Ia menangis, bergantian menyeka air mata dan juga keringat dingin.
"Sumpah, hamil tanpa pernikahan sangat menyiksa!" Tania mengalihkan rasa sakit dengan mengoceh sendiri, rasa sesal dan amarah pada Lingga muncul dengan hebat.
"Kamu telah menyakitiku dengan sangat kejam, Ngga. Kamu tidak akan pernah merasakan jadi seorang ayah sampai kapan pun, anak ini hanya milikku!" sumpah serapah Tania terucap seiring gelombang cinta yang datang, bahkan bibirnya bergetar hebat.
Mobil ia parkir di depan IGD, ia keluar sembari menahan perutnya, dan jalan layaknya pinguin. Pak satpam mendekat mungkin akan mengarahkan ke area parkir, namun Tania langsung berucap, "Maaf, Pak. Saya mau lahiran, tolong pindahkan mobil saya ya, saya sudah tak kuat!" ujar Tania sembari berpegangan pada lengan pak satpam tersebut.
Spontan satpam memanggil perawat dan berteriak, Tania pun diarahkan ke ruang bersalin. Pak satpam yang baik hati pun memindahkan mobil Tania dan ada hospital bag sekalian dibawa untuk diserahkan ke perawat.
Tania sudah tak punya tenaga, seharian ini berarti ia menahan kontraksi sendiri. Naik ke bankar, bidan langsung mengecek jumlah pembukaan, ketuban sudah pecah, dan Tania langsung diinfus, "Tahan ya, Bu!" ucap Bu Bidan, perawat lain mengecek buku KIA, dan sedikit kaget karena kehamilan Tania masih 35 minggu. Mereka pun menghubungi dokter kandungan yang tahu riwayat kehamilan Tania.
"Ini sakit sampai kapan Bu Bidan, aku gak kuat!" ujar Tania sudah sangat kesakitan, namun Bu Bidan dengan sabar menenangkan Tania, dan meminta Tania untuk miring ke kiri.
Bidan lain pun mengecek detak jantung bayi dan sangat lemah, kembali menghubungi dokter, dan diminta untuk menyiapkan ruang operasi, karena pembukaan belum bertambah. Tania sendiri sudah lemas, khawatir tak bisa mengejan. Saat dipindah ke ruang operasi, Tania pun hanya bisa memejamkan mata, sudah lepas tangan akan apa yang terjadi. Ketika diarahkan untuk menekuk badan pun Tania tampak sangat lemas sekali, giliran pihak administrasi yang bingung terkait siapa yang akan menanda tangani berkas operasi.
Sayup terdengar di telinga Tania, dengan suara pelan ia bilang nanti yang tanda tangan saya saja, dok. Saya hidup sebatang kara, bahkan ayah bayi ini tak diakui oleh ayahnya. Yang penting dilahirkan saja dulu, setelah itu Tania tertidur akibat bius, dan dia tak tahu apakah bayinya selamat atau tidak.
Tania bangun saat tengah malam, dia berada di ruang nifas. "Suster," panggilnya lemah.
Perawat pun mendekat, dan segera mengecek kondisi Tania. "Bagaimana bayi saya, suster?" tanyanya lagi.
"Bayi Ibu perempuan, cantik, nanti kalau ibu sudah pulih, adik bayinya akan diberikan ke ibu ya," ucap suster dengan lembut, lalu suster pun mengganti pembalut Tania, karena akan dipindah ke kamar inap. Perasaan Tania tak tenang, ia masih ingin melihat sang putri. Ingin memastikan sendiri kondisinya.
Masuk kamar inap, Tania melihat dokter Salman berdiri di depan kamarnya, Tania awalnya hanya memejamkan mata, namun saat perawat menyapa, "Sudah di sini rupanya dokter Salman," barulah Tania membuka mata dan menatap ke Salman yang tersenyum.
Para suster merawat Tania dengan begitu telaten, rasanya Tania ingin menangis saja. Saat dia kesakitan begini, ternyata masih ada orang baik yang mau merawatnya. "Terimakasih suster," ucap Tania pelan.
"Sama-sama Bu Tania, kalau ada apa-apa langsung pencet tombol di atas ini ya, Bu. Mari dokter Salman," pamit suster tersebut.
Setelah kepergian suster, barulah Tania dan Salman saling pandang. "Dokter kok tahu saya melahirkan?" tanya Tania sembari menahan tangis.
Salman tersenyum, "Saya baru sampai pulang, dan dichat sama dokter IGD kalau tetangga saya lahiran, ya saya balik lagi."
"Makasih dok," ujar Tania dengan menggigit bibirnya. Menahan tangis. Salman menepuk lengan Tania, sekedar menenangkan. Pertahanan Tania runtuh seketika. Ia menutup matanya dengan satu lengannya. Salman membiarkan saja, sebagai dokter ia tahu perasaan seorang ibu saat melahirkan ingin ditemani oleh suami dan keluarga, tapi kondisi Tania berbeda dan sangat wajar bila Tania sangat sedih. Apalagi kalau dia tahu sang putri masuk inkubator karena berat badan belum mencapai 2,5 kg.
"Sabar, Tania!" ucap Salman menenangkan.
GO go Tania semangat