Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Makan Malam Elit dan Sangkar Emas yang Menyesakkan
Lampu kristal raksasa yang menggantung di tengah langit-langit Restoran Loka Yogyakerto memancarkan cahaya kekuningan yang mewah. Alunan musik klasik dari gesekan biola terdengar mengalun lembut, menenggelamkan suara denting pisau dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen. Di salah satu meja bundar VIP yang ditata sedemikian rupa, Rama Arsya Anta duduk dengan punggung tegak lurus. Posturnya sempurna, tanpa cacat.
Kemeja batik sutra lengan panjang yang disetrika licin membalut tubuh tegapnya, kerahnya dikancingkan hingga ke leher, memberikan sensasi tercekik yang tak kasat mata. Rambutnya disisir klimis, dan kacamata minusnya bertengger rapi di pangkal hidung. Ia tersenyum, sebuah senyuman sopan dan terukur yang sudah dilatihnya bertahun-tahun di depan cermin.
"Jadi ini putra tunggalmu, Hardi? Rama, ya? Wah, pemuda yang sangat luar biasa," puji Pak Darmawan, seorang pengusaha properti kenalan ayahnya, sambil memotong steak wagyu di piringnya. "Kudengar dari Kepala Sekolah Taruna Citra, nilaimu selalu sempurna. Juara paralel berturut-turut. Anak muda zaman sekarang jarang ada yang sedisiplin ini."
Pak Hardi tersenyum, dada pria paruh baya itu membusung bangga. "Begitulah, Pak Darmawan. Rama ini selalu saya tekankan pentingnya tanggung jawab. Masa depan perusahaan keluarga Anta ada di pundaknya. Dia tidak pernah mengecewakan saya. Tidak pernah keluyuran malam, tidak pernah bergaul dengan anak-anak jalanan yang tidak jelas masa depannya."
"Luar biasa," timpal istri Pak Darmawan dengan senyum simpul. "Oh ya, putri kami, Siska, kebetulan tahun depan juga akan masuk universitas yang sama dengan rencana Rama. Mungkin mereka bisa sesekali belajar bersama? Siska butuh tutor yang cerdas."
"Tentu saja, itu ide yang sangat bagus. Rama pasti dengan senang hati akan membantu," jawab Pak Hardi cepat, tanpa sekalipun menoleh untuk menanyakan pendapat anaknya.
Rama hanya bisa mengangguk pelan dan melebarkan senyum palsunya. "Iya, Tante. Dengan senang hati."
Di dalam dadanya, Rama rasanya ingin berteriak, menggebrak meja bundar yang dipenuhi makanan mahal ini, dan lari keluar. Perutnya mual. Bukan karena hidangan mewah yang tersaji di depannya, melainkan karena kemunafikan yang menyelimuti seluruh ruangan ini. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu, tangan yang kini memegang garpu perak dengan elegan itu baru saja menarik tuas gas di bibir Jurang Merah. Tangan itu baru saja memegang kerah jaket seorang ketua geng motor dan mengancam akan mematahkan lehernya.
Dua dunia yang sangat kontras ini berbenturan keras di dalam kepala Rama. Di jalanan Wana Asri, ia adalah raja yang tak tersentuh, bebas menentukan arah ke mana ban motornya akan melaju. Tapi di sini, di bawah sorot lampu kristal dan tatapan menuntut ayahnya, Rama tidak lebih dari sebuah boneka pajangan yang dipamerkan demi gengsi keluarga.
Merasa butuh udara segar sebelum kepalanya benar-benar meledak, Rama meletakkan serbet di atas paha. "Maaf, Ayah, Om, Tante. Rama permisi ke toilet sebentar."
Begitu ia melangkah menjauh dari meja VIP tersebut, Rama melonggarkan kerah batiknya dan menarik napas panjang. Ia masuk ke dalam bilik toilet yang mewah, bersandar pada pintu, lalu merogoh saku celana bahannya. Dari sana, ia mengeluarkan ponsel pintar pribadinya. Bukan ponsel khusus The Ghost, melainkan ponsel aslinya.
Ada satu notifikasi pesan yang masuk beberapa menit lalu. Dari Majikan Rese.
Nayla: Gimana cosplay jadi pangeran keratonnya? Udah kelar belum senyum palsunya? Gue lagi makan bubur kacang ijo nih di depan komplek, enak banget cuaca abis ujan gini.
Membaca pesan singkat itu, senyum tulus yang sedari tadi bersembunyi akhirnya mekar di wajah Rama. Rasa sesak yang mencekiknya pelan-pelan menguap. Ia mengetik balasan dengan cepat.
Rama: Rahang gue kram. Kalau di sini nggak banyak sekuriti, udah gue balik ini meja makan. Pamer harta dan pamer anak, bosen gue dengernya.
Balasan dari Nayla masuk dalam hitungan detik.
Nayla: Hahaha! Sabar, Bos. Itu bagian dari risiko punya kehidupan ganda. Semangat angguk-angguknya! Ingat, habis ini lo masih punya utang nemenin gue nyari properti drama.
Rama terkekeh pelan. Menyadari bahwa ada satu orang di dunia ini yang tahu persis betapa kacaunya kehidupan aslinya, namun tetap menerimanya tanpa penghakiman, memberikan Rama kekuatan yang luar biasa. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, membenarkan letak kacamata dan kerah batiknya, lalu melangkah keluar dari toilet dengan topeng yang kembali terpasang rapi.
Perjalanan pulang di dalam sedan mewah bersama ayahnya terasa seperti simulasi interogasi di ruang isolasi. Suasana di dalam kabin sangat hening, hanya terdengar suara mesin yang menderu halus.
Pak Hardi memecah keheningan tanpa menoleh dari layar tabletnya. "Rama, Ayah sangat puas dengan sikapmu malam ini. Pak Darmawan adalah salah satu investor kunci untuk proyek kita di utara Yogyakerto. Menjaga hubungan baik dengan keluarganya adalah langkah strategis."
"Iya, Ayah," jawab Rama datar, pandangannya terbuang ke luar jendela kaca yang gelap.
"Tahun depan, kamu harus masuk fakultas terbaik," lanjut Pak Hardi, nadanya bukan menyarankan, melainkan mendikte. "Ayah sudah menyusun roadmap untuk masa depanmu. Setelah lulus dengan predikat cumlaude, kamu akan langsung magang di kantor pusat. Dan soal Siska, putri Pak Darmawan... Ayah rasa kalian berdua sangat cocok. Dia dari keluarga terpandang, terpelajar, dan bisa membawa keuntungan besar bagi keluarga kita."
Darah Rama seakan berhenti mengalir detik itu juga. Jantungnya berdentum keras, memukul-mukul rongga dadanya. "Maksud Ayah... perjodohan?"
Pak Hardi akhirnya meletakkan tabletnya dan menatap Rama dengan dingin. "Ini bukan sekadar perjodohan, Rama. Ini adalah aliansi. Cinta bisa tumbuh belakangan, tapi kesuksesan dan kekuasaan tidak bisa dibangun hanya dengan modal perasaan. Ayah tidak mau kamu salah pilih pasangan hidup, apalagi membawa perempuan dari kalangan yang tidak jelas masuk ke dalam keluarga Anta."
Rama mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di atas paha. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Emosinya mendidih hingga ke ubun-ubun. Selama ini, ia menuruti semua kemauan ayahnya soal sekolah, les, dan nilai. Ia mengorbankan masa remajanya untuk menjadi trofi pajangan. Tapi mencampuri urusan perasaannya? Menjual masa depannya demi proyek bisnis?
"Rama... punya pilihan sendiri, Yah," ucap Rama, suaranya sedikit bergetar karena menahan amarah yang meledak-ledak.
"Pilihan apa?" potong Pak Hardi tajam. "Pilihan anak remaja yang belum tahu kerasnya dunia? Jangan konyol. Ayah yang tahu apa yang terbaik untukmu. Kamu hanya perlu menuruti jalan yang sudah Ayah buka. Mengerti?"
Rama tidak menjawab. Rahangnya terkatup rapat. Di dalam saku celananya, tangannya meraba boneka rajut ungu kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana sejak malam balapan mematikan itu. Memikirkan wajah Nayla, senyum cerianya, dan kepeduliannya yang tulus tanpa memandang harta atau status, membuat Rama sadar. Ia tidak akan pernah membiarkan ayahnya merampas hal paling berharga yang baru saja ia temukan.
Begitu mobil sampai di garasi rumah, Rama langsung turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan cepat menuju kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat. Napasnya memburu. Sangkar emas ini rasanya semakin menyusut, mengurungnya hingga ia sulit bernapas.
Dengan gerakan kasar, Rama melepas kemeja batiknya, melempar kacamata minusnya ke atas meja belajar, dan mengacak-acak rambut klimisnya. Ia mengambil kaus hitam polos dan jaket kulit andalannya dari dalam lemari. Ia butuh udara. Ia butuh pelarian. Ia butuh aspal jalanan.
Namun malam ini, Rama tidak menelepon Galang atau Cakra. Ia tidak ingin melihat hiruk-pikuk bengkel atau mendengarkan laporan geng. Ia menuntun motor sport-nya keluar dari garasi belakang dengan diam-diam, menstarter mesinnya di jalan raya, dan melesat membelah dinginnya malam Yogyakerto.
Tujuannya hanya satu.
Setengah jam kemudian, motor hitam legam itu menepi di bawah sebuah pohon rindang, beberapa puluh meter dari kompleks Tirta Kencana. Rama mematikan mesinnya. Ia tidak masuk ke dalam gang, hanya duduk diam di atas jok motornya sambil menatap lurus ke arah sebuah jendela di lantai dua rumah bercat krem di ujung blok. Jendela kamar Nayla.
Cahaya lampu dari kamar itu masih menyala, menembus tirai tipis berwarna pastel. Rama menatap jendela itu lamat-lamat. Hiruk-pikuk di kepalanya, tekanan dari ayahnya, dan kekakuan kemeja batiknya perlahan-lahan luntur, digantikan oleh kehangatan yang menjalar dari dada.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat.
Rama: Udah malam. Kenapa lampu lo masih nyala? Nggak takut besok telat dan dihukum lari keliling lapangan lagi?
Tak sampai satu menit, balasan masuk. Rama bisa membayangkan gadis itu sedang duduk bersila di atas kasurnya sambil mengerucutkan bibir kesal.
Nayla: Ini lagi pusing revisi dialog! Lagian lo ngapain nanya-nanya jam segini? Jangan bilang lo lagi nongkrong di depan komplek gue jadi tukang sate ya?
Rama tertawa tertahan, kepalanya tertunduk menatap layar ponsel yang menyala.
Rama: Nggak. Gue lagi di rumah, mau tidur. Cuma mastiin aja majikan gue nggak begadang.
Ia berbohong. Tapi kebohongan ini terasa menenangkan. Mengetahui bahwa gadis itu ada di sana, bernapas di bawah langit malam yang sama, dan masih membalas pesannya dengan kejahilan yang khas, sudah lebih dari cukup untuk memperbaiki harinya yang hancur lebur.
Rama menatap jendela itu sekali lagi. Angin malam yang dingin membelai wajahnya. Di tengah ketidakpastian masa depan yang telah dirancang paksa oleh ayahnya, Rama berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menemukan cara untuk mematahkan jeruji sangkar emas ini. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, baik Tora di aspal jalanan maupun ayahnya di meja makan elit, mendikte akhir dari ceritanya. Dan ia memastikan, dalam babak kehidupannya yang baru nanti, gadis berjilbab ungu itu akan tetap berada di sampingnya.