NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:794
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Logika di Balik Fasilitas

Deru suara truk boks yang berhenti di depan markas Black Viper memecah keheningan pagi di kawasan Jakarta Barat. Beberapa petugas berseragam biru dengan cekatan menurunkan kardus-kardus besar berlogo salah satu produsen perangkat keras komputer terbesar di Asia. Bagi Marco, Bimo, dan Leo, pemandangan itu seperti mimpi di siang bolong. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu setelah drama di Tanjung Priok berakhir, markas mereka yang dulunya dipenuhi kabel-kabel usang dan kursi plastik yang retak, kini bertransformasi menjadi ruang latihan yang setara dengan akademi e-sport profesional.

"Monitor lengkung dengan *refresh rate* tiga ratus enam puluh hertz, kursi ergonomis, dan jajaran komputer dengan kartu grafis generasi terbaru," gumam Marco sambil mengelus permukaan casing komputer baru dengan mata berbinar-binar. "Ren, kalau kita kalah di Korea dengan fasilitas semewah ini, rasanya aku lebih memilih tenggelam di pelabuhan kemarin."

Reno yang sedang memasang kabel mouse barunya hanya terkekeh tipis. Ia duduk di kursi barunya, merasakan perbedaan penopang punggung yang jauh lebih nyaman dibandingkan kursi bilik nomor 12 di Cyber Zone. Namun, di balik kenyamanan fisik itu, pikiran Reno tetap bekerja dengan kalkulasi yang dingin. Fasilitas mewah adalah pedang bermata dua; benda-benda ini memberikan kenyamanan, namun di saat yang sama, mereka membawa tekanan ekspektasi yang jauh lebih besar dari para sponsor yang sudah menanamkan modal.

"Fasilitas ini bukan jaminan kemenangan, Marco," ucap Reno sambil menyalakan komputernya untuk pertama kali. Layar monitor yang jernih langsung memancarkan cahaya neon yang tajam, menampilkan dasbor permainan yang berjalan dengan sangat mulus. "Tim-tim di Korea Selatan, seperti Seoul Dynasty atau Northern Stars yang asli, sudah menggunakan teknologi seperti ini sejak lima tahun lalu. Yang membuat kita menang di Singapura dan Jakarta bukan karena alat kita bagus, tapi karena insting kita lebih liar daripada logika sistem mereka."

Coach Ardi masuk ke dalam ruangan membawa papan klip baru berisi rincian analisis tim-tim yang akan mereka hadapi di Seoul. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, meskipun ada garis kecemasan baru di dahinya. "Reno benar. Pihak sponsor lokal menginginkan kita minimal masuk ke babak semifinal agar nilai investasi mereka kembali. Tapi setelah kupelajari gaya permainan tim perwakilan tuan rumah, mereka memiliki sesuatu yang disebut 'Mechanical Perfection'."

"Kesempurnaan mekanik?" tanya Bimo sambil memakai *headset* barunya yang masih berbau pabrik.

"Benar," Ardi menempelkan beberapa foto profil pemain Korea di papan tulis. "Mereka tidak bermain dengan emosi atau improvisasi spontan seperti kita. Mereka bergerak berdasarkan algoritma yang sudah dihitung oleh tim analis mereka. Setiap sudut tembakan, waktu rotasi, hingga penempatan granat asap sudah diprogram dalam sesi latihan yang berlangsung selama dua belas jam sehari. Mereka adalah mesin tanpa emosi."

Reno memicingkan matanya menatap foto kapten tim utama Korea, seorang pemuda berwajah dingin dengan nama panggilan 'K-God'. Berbeda dengan Silent Reaper yang masih bisa terpancing emosinya karena kesombongan, K-God dikenal sebagai pemain yang tidak pernah mengubah ekspresi wajahnya, baik saat timnya menang telak maupun saat berada di ambang kekalahan. Melawan musuh yang tidak memiliki emosi adalah hal paling mengerikan di dalam dunia kompetitif, karena perang saraf tidak akan mempan terhadap mereka.

"Itulah alasan kenapa kita tidak bisa menggunakan taktik lama kita," kata Reno sambil berdiri dan berjalan menuju papan tulis. Ia menghapus coretan taktis dari babak sebelumnya dan menggantinya dengan diagram baru yang lebih kompleks. "Kita akan memulai latihan 'Inverse Echo' hari ini. Gunakan komputer baru ini untuk memaksimalkan sensitivitas pendengaran kalian. Di server Korea yang memiliki tingkat latensi mendekati nol, gerakan sekecil apa pun akan langsung memicu respons tembakan mereka."

Reno mulai membagikan fokus latihan. Selama empat jam ke depan, mereka tidak diizinkan untuk memenangkan pertandingan simulasi dengan cara menembak langsung. Mereka dipaksa untuk memenangkan ronde hanya dengan memanfaatkan manipulasi suara dan pergerakan asimetris untuk membuat kecerdasan buatan dalam mode expert mengalami error dalam membaca pola.

Di sela-sela memimpin sesi latihan yang melelahkan itu, Reno menyempatkan diri untuk membuka laptop pribadinya. Ia melihat notifikasi dari NovelToon yang masih menunjukkan status peninjauan dokumen kontraknya. Proses administrasi di dunia nyata ternyata membutuhkan kesabaran yang sama besarnya dengan menunggu momen yang tepat untuk melepaskan tembakan one tap di dalam game. Namun, melihat bab-bab ceritanya yang kini sudah tersusun rapi, Reno merasakan kepuasan batin yang berbeda. Cerita yang ia tulis kini bukan lagi sekadar fiksi, melainkan sebuah jurnal hidup dari seorang pemuda yang sedang menantang kemustahilan dunia.

"Reno, ada pesan masuk dari forum terenkripsi di komputermu," bisik Leo yang duduk di barisan paling ujung.

Reno segera menghampiri meja Leo dan melihat sebuah jendela obrolan kecil yang mendadak terbuka secara otomatis. Itu adalah tanda pengenal unik milik [S].

> [S]: Sponsor yang mendanai kalian di Jakarta sebagian besar memiliki kerja sama dengan korporasi teknologi di Seoul. Berhati-hatilah dengan data latihan yang kalian unggah ke server awan lokal. Di Korea, spionase taktis di dalam game adalah hal yang legal di bawah kontrak bisnis mereka. Jangan perlihatkan kartu as milikmu sebelum kalian benar-benar duduk di panggung Seoul.

Reno menatap layar tersebut dengan pandangan yang mendalam. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena ia menyadari bahwa dunia di tingkat tertinggi ini jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Musuh mereka bukan lagi individu seperti Victor yang menggunakan cara-cara premanisme jalanan, melainkan sistem korporasi legal yang menggunakan hukum dan teknologi untuk mengunci kemenangan.

Reno mengetik balasan singkat dengan gerakan jari yang sangat cepat.

> [Reno]: Kami tidak pernah menyimpan strategi asli kami di dalam server awan. Semua taktik Black Viper hanya ada di dalam kepala kami sendiri.

Setelah menghapus jejak obrolan tersebut, Reno kembali ke tengah ruangan, melihat rekan-rekan setimnya yang masih berjuang keras menyesuaikan diri dengan pola latihan baru yang menguras otak. Marco tampak memijat dahinya yang pusing, sementara Bimo terus mencatat beberapa poin penting tentang frekuensi suara langkah kaki.

"Istirahat tiga puluh menit," perintah Reno sambil menepuk tangannya. "Besok pagi kita akan melakukan simulasi penuh dengan tim cadangan dari liga nasional untuk menguji sejauh mana insting kalian berkembang dengan alat-alat baru ini."

Reno berjalan menuju balkon, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai temaram ditelan senja. Langkah baru ini terasa sangat besar dan penuh risiko, namun ia tahu bahwa anak-anak warnet dari Cyber Zone tidak pernah dibesarkan untuk menjadi penakut. Dengan fasilitas profesional di tangan mereka dan prinsip kejujuran yang tetap tertanam di dalam dada, Sang One Tap God sudah siap membawa Black Viper terbang melintasi samudra, menantang kesempurnaan mekanik para dewa e-sport di Seoul dengan kekuatan insting manusia yang tak terbatas.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!