NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Tamu di Pondok Barat

Jaya berdiri di ambang pintu pondok dengan tubuh tegap, wajah tegang, dan mata yang terus mengamati sekeliling.

Wira menatap orang asing itu tanpa berkedip. Ada sesuatu pada sikap Jaya yang berbeda dari para pengejar yang mereka hadapi sebelumnya. Ia tidak tampak seperti orang yang datang untuk menangkap. Namun ia juga tidak sepenuhnya terlihat aman. Pakaian perjalanannya berdebu, rambutnya agak kusut, dan di pinggangnya memang tergantung senjata pendek, tetapi posisi tubuhnya tidak menunjukkan niat menyerang. Ia lebih seperti orang yang terlalu lama berada di jalan dan datang membawa berita buruk.

Ki Rangga tidak langsung mempersilakan masuk. Ia berdiri di depan pintu, menutup sebagian celah tubuhnya, lalu memandang Jaya dengan sorot mata tajam.

“Siapa yang mengirimmu?” tanya Ki Rangga.

Jaya menghela napas. “Tak ada yang mengirim. Aku datang sendiri.”

Panca langsung bersandar sedikit, jelas tidak percaya. “Kedengarannya mencurigakan.”

Jaya meliriknya sekilas lalu mengangguk kecil, seolah mengakui hal itu. “Aku juga akan curiga kalau jadi kalian.”

Wira memandang Ki Rangga, lalu kembali ke Jaya. “Kenapa kau mencari kami?”

Jaya menatap Wira lebih lama daripada yang lain. “Karena aku mendapat kabar bahwa anak perempuan itu sudah dibawa ke barat.”

Wira menegang. “Anak perempuan itu?”

“Anak dari perempuan yang dulu melarikan diri.”

Ki Rangga akhirnya membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu.”

Jaya melangkah ke dalam, lalu menutup pintu di belakangnya setelah melihat sekitar sekali lagi. Begitu berada di dalam ruangan, ia tidak langsung duduk. Ia justru memindai wajah mereka satu per satu, seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan. Wira merasakan ketegangan kecil naik di dadanya. Panca pun tampak berhati-hati.

Ki Rangga menatap Jaya tanpa ekspresi. “Berbicara.”

Jaya mengangguk. “Aku tahu kalian baru saja melewati kampung timur.”

Panca langsung menatapnya curiga. “Dari mana kau tahu?”

“Karena orang-orang yang mengejar kalian juga mencarinya.”

“Siapa?” tanya Wira cepat.

Jaya memandang Wira sejenak sebelum menjawab, “Orang yang tidak ingin masa lalu itu muncul ke permukaan.”

Ki Rangga menyandarkan satu tangan di pinggang. “Kau tidak menjawab siapa.”

“Karena jika kusebut nama sekarang, kalian mungkin akan lebih banyak diburu.”

Wira menahan napas. Lagi-lagi jawaban yang menggantung. Ia mulai lelah dengan semua orang dewasa yang berbicara setengah-setengah. Namun suara Jaya berbeda dari para lainnya. Nada itu terdengar seperti seseorang yang benar-benar tahu bahaya dari kata-kata.

Panca menautkan tangan di dada. “Kalau begitu kenapa datang ke sini?”

Jaya menoleh padanya. “Untuk memberi peringatan.”

Ki Rangga meliriknya. “Peringatan apa?”

Jaya akhirnya duduk di bangku kayu dekat dinding, lalu berkata, “Orang-orang yang memburu kalian bukan hanya kelompok liar. Mereka punya tujuan yang sangat jelas. Mereka ingin membuka kembali jejak lama yang ditutup bertahun-tahun lalu.”

Wira langsung mengangkat kepala. “Jejak apa?”

Jaya menatap Wira, lalu ke lempeng kayu kecil yang masih disimpan di pinggangnya. “Jejak yang berkaitan dengan tanda yang kau bawa.”

Wira menegang. “Kau tahu benda ini?”

“Sedikit,” jawab Jaya. “Tapi cukup untuk tahu bahwa benda itu tidak boleh jatuh ke tangan yang salah.”

Panca mendengus. “Semua orang bilang begitu. Tapi tidak ada yang mau menjelaskan secara utuh.”

Jaya menatap Panca sebentar, lalu berkata, “Kalau semua dijelaskan sekaligus, kalian mungkin tidak akan mau terus berjalan.”

Ki Rangga akhirnya duduk juga. Gerakannya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia mulai menilai Jaya dengan lebih serius. “Katakan inti yang kau bawa.”

Jaya mengangguk. “Orang-orang yang memburu kalian sudah bergerak lebih dulu ke jalur barat. Mereka tahu ada kemungkinan kalian akan memutar ke sini. Jika kalian tetap di pondok ini sampai malam, kalian mungkin dikepung.”

Wira langsung menatap pintu. “Berarti kita harus pindah sekarang?”

“Belum tentu sekarang,” jawab Jaya. “Tapi tidak lama lagi.”

Ki Rangga menatapnya. “Kau datang sendiri untuk memberitahu itu?”

“Ya.”

“Kenapa harus repot-repot?”

Jaya terdiam sesaat. Wira memperhatikan perubahan kecil pada wajahnya. Seolah ada sesuatu yang berat di balik jawaban sederhana itu. Setelah hening beberapa detik, Jaya berkata, “Karena dulu aku mengenal ibumu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Wira langsung menegakkan tubuh. Panca menatap Jaya dengan mata membesar. Ki Rangga tidak bergerak, tetapi udara di sekelilingnya terasa lebih tajam.

“Apa?” kata Wira pelan.

Jaya menatap Wira dengan tenang. “Aku mengenal ibumu. Sudah lama.”

Wira berdiri setengah langkah tanpa sadar. “Di mana dia sekarang?”

“Kalau aku tahu pasti, aku tidak akan datang sendiri,” jawab Jaya.

Wira mengepalkan tangan. Semua jawaban itu membuat dadanya panas. “Kau kenal dia dari mana?”

“Dari tempat yang dulu jauh lebih besar daripada desa kalian.”

Ki Rangga menyela, “Istana?”

Jaya mengangguk.

Panca langsung mendesis pelan. “Lagi.”

Wira menatap Jaya. “Jadi benar. Ibu pernah di istana.”

“Ya,” kata Jaya. “Dan bukan sekadar lewat.”

Wira merasa pandangannya mengabur sesaat. Ia menahan diri agar tidak langsung membanjiri Jaya dengan pertanyaan. Terlalu banyak sekaligus akan sia-sia. Ia memaksa diri duduk kembali, walau tubuhnya tegang. Ki Rangga memandang Jaya dalam diam panjang, lalu bertanya, “Apa hubunganmu dengan perempuan itu?”

Jaya menghela napas pelan. “Dulu aku bagian dari pengawalan yang cukup dekat. Tidak penting siapa aku waktu itu. Yang penting, aku tahu perempuan itu menyimpan sesuatu yang membuat orang-orang tertentu sangat ketakutan.”

“Benda?” tanya Wira cepat.

“Bukan hanya benda. Tapi juga ingatan tentang sesuatu yang disembunyikan.”

Ki Rangga menatapnya tajam. “Kau datang membawa berita, atau mencari sesuatu yang sama?”

Jaya tidak mengelak. “Keduanya.”

Panca langsung mencondongkan badan. “Nah, itu baru jujur.”

Jaya menoleh ke arah Panca. “Kalau kalian ingin selamat, kalian harus belajar membedakan orang yang bicara jujur dengan orang yang bicara semua yang ia tahu.”

Panca memutar mata. “Kau dan Ki Rangga sama-sama menyebalkan.”

Wira hampir tidak peduli pada pertengkaran kecil itu. Kepalanya penuh oleh satu hal: Jaya mengenal ibunya. Jika begitu, mungkin Jaya memang memegang jawaban yang selama ini tak ada. “Apa yang sebenarnya terjadi dulu?” tanyanya.

Jaya memandang Wira cukup lama. Lalu ia berkata perlahan, “Dulu ibumu bukan orang yang bebas bergerak. Ia berada dalam lingkaran yang sangat terikat oleh aturan, kuasa, dan orang-orang yang suka menyimpan rahasia. Ia tahu terlalu banyak. Lalu sesuatu berubah. Ada peristiwa yang membuat beberapa orang ingin menutup semua jejak.”

“Peristiwa apa?” tanya Wira.

Jaya menggeleng. “Belum waktunya kujelaskan seluruhnya. Tapi kau harus tahu satu hal: ibumu tidak pergi karena ingin meninggalkanmu. Ia pergi karena ada yang memburunya.”

Wira terdiam.

Kata-kata itu menancap lebih dalam daripada yang ia kira. Selama ini ada bagian kecil dalam dirinya yang diam-diam mempertanyakan mengapa ibunya tidak pernah menceritakan banyak hal. Mengapa semuanya tampak disembunyikan. Tapi mendengar bahwa perempuan itu mungkin benar-benar dikejar membuat rasa bersalah dan marah bertabrakan dalam dirinya. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa.

Panca menatap Wira dengan hati-hati. “Jadi dia kabur demi menyelamatkan diri?”

Jaya mengangguk. “Dan mungkin juga menyelamatkan sesuatu yang lain.”

Ki Rangga menoleh. “Benda itu?”

“Ya.”

Wira mengeluarkan lempeng kayu dari pinggangnya dan meletakkannya di telapak tangan. “Ini?”

Jaya menatapnya lama, lalu mengulurkan tangan. Wira sempat ragu, tetapi Ki Rangga memberi isyarat kecil agar ia menyerahkan. Jaya menerima benda itu, lalu membaliknya perlahan. Matanya fokus, bahkan sedikit mengeras saat melihat ukiran di permukaan.

“Ini lebih tua dari yang kukira,” gumam Jaya.

Wira menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Benda ini bukan sekadar tanda keluarga. Ini tanda hubungan.”

“Hubungan dengan apa?” tanya Panca.

Jaya mengangkat kepala. “Dengan orang-orang yang dulu punya akses ke ruang dalam.”

Ki Rangga menyela, “Dan yang diburu sekarang mungkin ingin membuka ruang itu lagi.”

Jaya menatap Ki Rangga. “Benar.”

Wira merasakan tengkuknya dingin lagi. “Ruang dalam apa?”

Jaya mengembalikan benda itu kepada Wira. “Tempat penyimpanan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang dulu dipindahkan diam-diam. Kalau isi tempat itu diketahui orang yang salah, akan ada banyak pihak yang ingin mengubah keadaan.”

Panca mengerutkan dahi. “Kau bicara seperti perang.”

Jaya menatapnya. “Karena itu memang bisa berujung ke sana.”

Ruangan kembali hening. Di luar, malam mulai turun lebih pekat. Angin menyapu atap pondok dengan suara pelan. Wira memegang lempeng kayu itu lebih erat. Sekarang ia merasa benda itu bukan hanya warisan ibu, tetapi semacam pintu menuju konflik yang lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Ki Rangga bangkit dan mengintip ke luar lewat celah dinding. “Jika orang-orang itu benar menuju ke sini, berapa lama sebelum mereka sampai?”

Jaya berpikir sejenak. “Kalau mereka datang lewat jalur utama, tidak lama. Tapi ada kemungkinan mereka memotong dari utara.”

Panca langsung pucat. “Berarti kita benar-benar harus pindah.”

“Ya,” kata Jaya. “Sekarang malah lebih baik.”

Wira menatap Ki Rangga. “Kita ke mana?”

Ki Rangga belum menjawab. Ia justru menatap Jaya. “Kau datang membawa kabar, tapi juga membawa diri. Apa yang kau mau sebenarnya?”

Jaya tidak langsung menjawab. Ia berdiri, lalu menatap Wira. “Aku mau melihat apakah anak perempuan itu benar-benar mewarisi tanda ini.”

Wira menegang. “Anak perempuan itu siapa?”

Jaya tampak menyadari kesalahpahaman kecil itu. Ia meluruskan, “Maaf. Kebiasaanku lama dulu masih terbawa. Aku maksud, anak dari perempuan yang dulu melarikan diri.”

Wira menghela napas keras. “Saya.”

“Ya, kau.”

Ki Rangga memandang Jaya semakin tajam. “Kau mau menguji dia?”

“Bukan begitu.” Jaya menggeleng. “Aku ingin memastikan bahwa dia cukup kuat untuk membawa ini lebih jauh.”

Panca langsung memotong, “Maksudmu dia dipilih?”

Jaya menatap Panca. “Bisa dibilang begitu.”

Wira langsung menatap Ki Rangga, lalu Jaya. “Dipilih untuk apa?”

Jaya tidak menjawab langsung. Ia menghela napas, lalu berkata, “Untuk membuka kembali jalan yang dulu ditutup.”

Wira merasa dadanya berdenyut keras. Ada bagian dari dirinya yang ingin lari, ada yang ingin marah, dan ada yang ingin menuntut seluruh kebenaran sekarang juga. Tetapi ia tahu belum semua siap dijawab. Bukan karena Jaya sengaja menipu, melainkan karena dunia di sekeliling mereka terlalu berbahaya untuk dibuka sekali gus.

Tiba-tiba terdengar bunyi keras di luar pondok.

Semua orang langsung membeku.

Bunyi itu seperti batu jatuh, atau mungkin langkah berat yang mengenai papan rapuh di dekat pondok. Ki Rangga langsung mengangkat tangan, menyuruh semua diam. Jaya memutar badan ke arah pintu. Wira merasakan jantungnya memukul keras di dada.

Lalu terdengar suara lain, lebih jelas.

“Pondoknya di sini.”

Wira langsung menahan napas.

Ki Rangga memberi isyarat tegas. “Kita keluar belakang.”

Jaya mengangguk cepat. “Aku bantu buka jalur.”

Panca langsung berdiri. “Mereka benar-benar datang.”

“Ya,” kata Ki Rangga singkat.

Di luar, langkah kaki mulai terdengar lebih banyak. Suara orang berbisik, lalu saling memberi isyarat. Pondok itu rupanya sudah ditemukan.

Wira menatap pintu belakang yang mulai dibuka Ki Rangga. Jantungnya berdetak sangat cepat. Baru saja ia mendapat sedikit jawaban, dan sekarang ia harus lari lagi. Tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Jaya bukan sekadar pembawa kabar. Lelaki itu jelas tahu lebih banyak dari yang ia akui.

Ki Rangga menoleh pada Wira. “Jangan panik.”

Wira menarik napas dalam. “Aku tidak panik.”

Panca mendengus. “Itu bohong.”

Wira tidak sempat membalas. Ki Rangga sudah membuka pintu belakang sedikit dan memberi isyarat agar mereka bergerak cepat.

Di luar, suara orang-orang semakin dekat.

Dan di malam yang baru turun itu, Wira sadar bahwa rahasia ibunya bukan lagi sekadar cerita yang harus dicari. Rahasia itu sudah mengejar mereka sampai ke tengah hutan.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!