Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara handal yang banyak memenangkan kasus persidangna di usianya yang masih terbilang muda. Semuanya terlihat sangat sempurna, jika saja dia bukan seorang cassanova.
Bermain wanita hanya untuk kepuasan semalam sudah biasa dia lakukan. Alasannya hanya satu, dia tidak pernah mau terikat dengan siapapun. Menganggap jika semua wanita hanya akan menginginkan hartanya, Bayu tidak percaya akan ketulusan cinta.
Hingga suatu malam seorang wanita beranjak naik ke atas ranjangnya, menemani malamnya, memuaskannya, tapi sama sekali tidak meminta bayaran, hal yang membuat Bayu merasa aneh hingga dia cukup penasaran.
Wanita bernama Viona itu menolak kehadirannya, menolak keras untuk tidur kembali dengan Bayu meski pria itu akan membayarnya mahal. Dia memilih untuk pergi dan tidak berurusan dengan Bayu lagi.
"Aku tidak meminta bayaran, karena aku sengaja memanfaatkanmu untuk tidur denganku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Sial wanita itu berani sekali menolakku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mungkin Jatuh Cinta
Kembali ke rumah hanya untuk segera bertemu dengan anaknya. Seharian bekerja yang ada dalam pikiran Viona selalu anaknya, dia baru satu hari bekerja dia sudah sangat merindukan Velia. Ketika sampai di rumah, Viona segera mandi dan berganti pakaian sebelum menggendong anaknya. Bu Aminah menyambutnya dengan senyuman, Velia juga sudah mandi dan sudah kenyang meminum susu.
"Saya memasak bahan yang ada di kulkas, Mbak Vio sebaiknya makan dulu. Pasti belum makan"
Viona menoleh pada Bu Aminah, entah kenapa dia merasa jika pengasuh anaknya ini sangat perhatian padanya dan itu membuat Viona merasa ada sosok Ibu lagi setelah sekian tahun dia kehilangan sosok Ibunya.
"Bu, padahal tidak usah kerjakan yang lain apalagi memasak. Ibu fokus menjaga Velia saja, aku jadi tidak enak kalau Ibu mengerjakan yang lainnya juga. Kan bayaran Ibu tidak seberapa, itu juga saya meminta diskon"
Saat pertama kali bertemu dan berbicara soal gaji, Viona memang meminta sedikit kurang dari gaji yang di tentukan Bu Aminah. Karena Viona juga harus membagi setiap gajinya untuk kebutuhan lainnya. Awalnya dia berpikir jika Bu Aminah tidak setuju, maka akan mencoba cari lagi. Tapi ternyata Bu Aminah langsung menyetujui.
"Tidak papa Mbak, saya senang bisa membantu. Lagi pula kalau Velia sedang tidur, saya kadang bingung harus melakukan apa. Jadi saya mencari kegiatan lain seperti beres-beres dan memasak"
Viona menatap Bu Aminah dengan penuh haru, air mata menggenang di pelupuk. "Terima kasih banyak ya Bu, sudah begitu baik padaku. Aku jadi merasakan ada Ibu lagi"
Bu Amina tersenyum, dia mengelus bahu Viona dengan sedikit ragu, tapi melihat Viona malah seperti menikmati elusan itu. "Anak Ibu seusia kamu, tapi dia tinggal di luar kota ikut suaminya. Ibu juga tidak bisa lama menemaninya merawat anaknya saat setelah lahiran. Dan sekarang Ibu bisa merawat Velia, berasa merawat cucu Ibu yang jauh juga"
Viona tersenyum dan mengangguk, sepertinya Tuhan benar-benar baik, bahkan mengirimkan Bu Aminah padanya untuk menjaga anaknya. "Ibu bisa menganggap Velia cucu Ibu juga kalau mau. Velia juga sudah tidak punya Nenek dan Kakek, karena orang tuaku sudah meninggal"
"Tentu Mbak, biar Velia memanggil Ibu Nenek ya"
Viona mengangguk, tanpa sadar air mata menetes begitu saja. Seseorang yang mau di panggil Nenek oleh anaknya, itu benar-benar membuat Viona seperti mendapatkan lagi sosok seorang Ibu.
"Sekarang makan saja dulu, biar Velia sama Ibu dulu. Kamu pasti belum makan dan seharian bekerja dengan lelah"
Viona mengangguk, dia memberikan Velia pada Bu Aminah dan segera pergi ke dapur, melihat meja makan yang sudah tersedia makanan. "Ibu sudah makan? Aku 'kan sudah bilang kalau Ibu mau makan tinggal makan saja yang ada, atau pesan saja nanti tagihannya masuk ke aku"
"Ibu sudah makan Mbak, tadi makan duluan setelah selesai masak"
"Ah, baiklah. Kalau begitu aku makan dulu ya Bu"
"Iya Mbak silahkan"
Viona menikmati masakan Bu Aminah, masakan rumahan yang rasanya tidak pernah terkalahkan meski dengan makanan restoran berbintang. Karena ciri khas rasa masakan rumahan ini yang selalu di rindukan setiap orang. Apalagi untuk Viona yang sudah lama di tinggalkan orang tuanya.
"Masakan Ibu enak, terima kasih ya Bu" ucap Viona dengan suara yang parau.
"Iya Mbak, makan yang banyak ya"
*
Bayu datang ke undangan acara Raisa dan Rendi bukan hanya karena undangan saja, tapi ada satu harapan yang membuatnya datang. Dia tahu jika Viona masih menjadi sekretarisnya Pak Hermawan, dan tentunya dia akan di undang. Saat sampai disana, Bayu terus mencari sosoknya. Bahkan mengabaikan sapaan beberapa orang.
"Kak Bayu, ayo makan dulu"
Bayu menghela napas malas saat melihat Raline yang berdiri tepat di depannya. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu, apa sekretaris Ayahmu tidak datang?"
Senyuman Raline langsung hilang seketika saat mendengar pertanyaan dari Bayu. Padahal awalnya dia hanya berharap Bayu akan bertanya tentang hal lain padanya. Tapi Bayu malah mempertanyakan wanita lain. Apalagi Raline juga ingat bagaimana saat makan malam dulu, Bayu malah memilih pergi untuk mengantar sekretaris Ayahnya itu.
"Dia tidak datang, atau mungkin memang tidak di undang" jawab Raline ketus.
Bayu mengangkat alisnya, padahal dia berharap bisa bertemu dengan Viona dan masih ingin mempertanyakan banyak hal. Soal berita yang tersebar waktu itu, Bayu masih berpikir jika Viona yang melakukannya.
"Kak Bayu ayo kita makan dulu"
Bayu menepis tangan Raline yang dengan sengaja memegang tangannya. Wajahnya begitu dingin. "Aku harus pergi, ada urusan"
Tanpa memperdulikan Raline lagi, dia langsung pergi. Menyempatkan berpamitan pada pemilik acara. Bayu pergi meninggalkan acara, dan memilih untuk berkumpul dengan teman-temannya di rumah kita.
"Kenapa wajahmu kusut sekali? Tidak dapat wanita yang di inginkan malam ini?" tanya Davin dengan sedikit menggoda.
Bayu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, memejamkan matanya dengan memijat pelipis yang pening. "Diam kau! Aku tidak ingin bicara"
Andreas yang sedang membaca buku, menatap Bayu yang terlihat frustasi. "Kau kenapa?"
"Mungkin masih memikirkan wanita itu? Benarkah Bay?" tanya Byan.
"Wanita mana?" tanya Davin, disini dia paling terkejut. Karena tidak begitu tahu tentang wanita yang di maksud. "Sepertinya aku ketinggalan berita penting"
"Wanita yang tidur dengan Bayu tapi tidak meminta bayaran, lalu ketika ada berita tersebar tentang Bayu yang menghamili seorang wanita dan tidak bertanggung jawab, kemungkinan wanita itu yang menyebarkannya, seperti ingin sengaja menjatuhkan reputasi Bayu sebagai pengacara. Begitulah yang aku dengar" jelas Byan.
Bayu menegakkan tubuhnya, menatap teman-temannya itu secara bergantian. "Tapi sekarang aku tidak yakin kalau dia yang menyebarkan berita itu. Karena saat aku menemuinya beberapa waktu lalu, dia tidak dalam keadaan hamil atau mempunyai bayi"
Andreas menatap Bayu dengan lekat, mencoba mencari arti dari setiap kata yang diucapkan oleh Bayu. "Apa kau berniat untuk bertanggung jawab jika benar dia hamil anakmu?"
Bayu terdiam, mungkin ini akan menjadi suatu hal yang cukup mengejutkan bagi teman-temannya jika dia mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Tunggu dulu!" Devan langsung menegakkan posisi duduknya, menatap Bayu dengan tidak percaya. Melemparkan bantal sofa ke arah Bayu. "Jangan bilang kau jatuh cinta pada wanita yang tidur denganmu?"
"Jatuh cinta? Haha... Aku tidak mungkin jatuh cinta, lagi pula wanita yang tidur denganku sudah pasti hanya menginginkan uangku. Tapi jika benar ada seorang anak darah dagingku yang di lahirkan diantara wanita yang pernah tidur denganku, aku tidak akan menolak anak itu. Aku akan bertanggung jawab dengan biaya hidupnya"
"Menikah?" tanya Andreas dengan alis terangkat. "Apa kau tidak berniat menikahinya jika benar ada seorang anak yang lahir dari wanita yang pernah tidur denganmu?"
"Untuk itu, aku belum memikirkannya. Karena aku masih belum siap untuk sebuah pernikahan"
Bersambung
di tunggu up nya thor 🙏
nnt panggil pengasuh bu Aminah, panggil viona, ibu.