"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Kehidupan setelah semua badai besar itu ternyata nggak seindah yang gue bayangkan—maksud gue, nggak selamanya soal kelopak mawar dan lagu romantis. Ternyata, jadi istri seorang penguasa Winchester itu capeknya luar biasa. Apalagi punya suami yang mendadak berubah dari "Kulkas Dua Pintu" jadi "Gula Jawa" yang nempel terus nggak mau lepas.
Pagi ini, New Ardent lagi mendung-mendungnya. Gue lagi duduk bersila di atas karpet bulu di ruang tengah, laptop di pangkuan, kabel LAN berserakan di mana-mana. Gue lagi mencoba melacak sisa-sisa aset tersembunyi yang mungkin masih dipegang sama pengikut setianya Aldric.
"Lia..."
Gue nggak nengok. Gue tau itu suara siapa. Suara berat, serak khas bangun tidur yang biasanya bikin cewek-cewek pingsan, tapi buat gue, itu tandanya "gangguan kerja" dimulai.
"Lia, kamu denger aku nggak?"
Keano—atau sekarang gue panggil 'Ké' kalau lagi berdua, atau 'Beruang' kalau dia lagi kumat manjanya—jalan mendekat. Dia nggak pake baju formal. Cuma kaos singlet hitam yang ngebentuk badannya dengan sempurna dan celana panjang abu-abu. Rambutnya berantakan, dan dia bawa dua gelas kopi.
"Denger, Ké. Tapi tangan gue lagi sibuk nembus firewall bank di Swiss. Bisa tunggu lima menit?" kata gue tanpa ngalihin pandangan dari layar monitor yang penuh barisan kode hijau.
Keano nggak jawab. Bukannya nunggu, dia malah duduk di lantai tepat di belakang gue. Dia naruh dua gelas kopi itu di meja kecil, terus dia meluk pinggang gue dari belakang, nyembunyiin mukanya di ceruk leher gue.
"Ké, geli!" gue protes sambil bahu gue naik turun. "Gue lagi serius nih!"
"Kerjaan nggak akan ada habisnya, Lia. Tapi kopi ini bakal dingin kalau nggak diminum," gumamnya, suaranya mendem karena mukanya masih nempel di leher gue. "Lagian, kenapa sih harus kamu yang turun tangan sendiri? Kita punya ribuan orang IT di Winchester."
"IT lo itu pinter, tapi mereka nggak 'bar-bar' kayak gue," jawab gue bangga. "Mereka main pake aturan. Gue main pake insting."
Keano ngelepasin pelukannya, tapi tangannya sekarang malah mainin ujung rambut gue yang gue kuncir kuda. "Insting kamu itu yang bikin aku jatuh cinta, tapi juga yang bikin aku hampir jantungan setiap hari."
Gue akhirnya nyerah. Gue *save* progres kerjaan gue, nutup laptop, terus muter badan buat hadap-hadapan sama dia. Gue natap matanya yang sekarang kelihatan jauh lebih teduh. Nggak ada lagi sorot mata tajam yang mau bunuh orang.
"Oke, Beruang mau apa sekarang?" tanya gue sambil ngacak-ngacak rambutnya yang udah berantakan itu.
Keano senyum—senyum tipis yang cuma gue yang boleh liat. Dia ngambil satu gelas kopi, kasih ke gue, terus dia nyruput kopinya sendiri. "Sore ini ada acara peresmian panti asuhan baru di Calveron. Panti asuhan Maya-Arcelia. Aku mau kita dateng bareng. Bukan sebagai Winchester yang kaku, tapi sebagai kita."
Gue terdiam sejenak. Nama Maya selalu bikin hati gue nyut-nyutan. "Gue... gue siap, Ké. Gue mau liat tempat itu jadi awal yang baru buat anak-anak lain."
Perjalanan ke Calveron sore itu kerasa beda. Nggak ada helikopter, nggak ada iring-iringan mobil lapis baja yang berisik. Keano mutusin buat nyetir sendiri mobil SUV hitamnya. Gue duduk di sampingnya, dengerin lagu-lagu *indie* yang sebenernya nggak 'Winchester' banget, tapi ternyata dia suka.
"Ké, lo tau nggak? Kadang gue masih ngerasa kayak mimpi," kata gue sambil liatin pohon-pohon pinus yang lari di luar jendela.
"Mimpi yang mana?" tanyanya tanpa nengok, tangannya satu megang setir, satu lagi genggam tangan gue di atas *gearbox*.
"Mimpi gue bangun di tubuh Alzena. Mimpi gue ketemu cowok kaku kayak lo yang ternyata bisa manja kayak beruang. Kadang gue takut kalau gue bangun, gue masih ada di panti asuhan yang kebakar itu, sendirian."
Keano ngeratin genggamannya. Dia bawa tangan gue ke bibirnya, terus dicium punggung tangan gue lama banget. "Kalau itu mimpi, aku nggak akan biarin kamu bangun sendirian. Aku bakal cari cara buat masuk ke mimpi itu dan bawa kamu balik ke sini."
Gue ketawa. "Gombal banget sih lo semenjak rahasia kita kebongkar."
"Itu bukan gombal, Lia. Itu janji seorang Winchester."
Sampai di panti asuhan, suasananya bener-bener cantik. Bangunannya modern tapi anget, banyak taman bermainnya. Ada patung kecil di depan gerbang—dua anak perempuan yang lagi pegangan tangan. Maya dan Arcelia.
Virel udah di sana, pake kemeja rapi dan kelihatan jauh lebih bahagia. Dia langsung nyambut kami dengan pelukan.
"Adik gue akhirnya dateng juga," kata Virel sambil nepuk bahu gue. Terus dia nengok ke Keano, "Gimana, Keano? Capek nggak ngurusin si Bar-bar ini?"
Keano ngerangkul pinggang gue posesif—tapi tipe posesif yang manis, bukan yang nyekek. "Capek sih nggak, Rel. Cuma harus sabar aja kalau tiba-tiba dia ngeretas isi kulkas buat kunci akses camilan gue."
"Heh! Itu karena lo makan cokelat gue diem-diem ya!" protes gue sambil nyikut perut Keano. Kami bertiga ketawa. Rasanya bener-bener kayak manusia biasa, bukan penguasa New Ardent yang ditakuti.
Acara peresmiannya berjalan lancar. Nggak ada wartawan, nggak ada kamera. Cuma kami, anak-anak panti, dan para pengasuh. Pas gue lagi kasih sambutan singkat, gue liat Keano berdiri di belakang, natap gue dengan tatapan yang bikin gue ngerasa gue adalah wanita paling berharga di dunia ini.
Tapi, kedamaian itu sedikit terusik pas gue jalan ke arah toilet di bagian belakang gedung. Gue ngerasa ada yang ngikutin. Insting hacker dan insting jalanan gue langsung 'on'. Gue nggak panik. Gue malah sengaja belok ke arah lorong yang agak sepi.
Begitu gue ngerasa orang itu udah deket, gue muter badan secepat kilat, niatnya mau kasih tendangan maut.
"WOI!"
"A-ampun, Non! Ini saya!"
Gue ngerem tendangan gue tepat beberapa senti dari leher orang itu. Ternyata itu si Evan, pengawal pribadi Keano yang mukanya emang selalu lempeng kayak keramik rumah sakit.
"Evan?! Lo ngapain ngintil gue kayak detektif gagal?!" teriak gue kesel.
Evan benerin jasnya yang agak miring, mukanya tetep datar tapi ada keringat dingin di pelipisnya. "Maaf, Nyonya. Tuan Keano... anu... beliau memerintahkan saya untuk tidak membiarkan Nyonya lepas dari pandangan saya lebih dari sepuluh meter."
Gue melongo. "Sepuluh meter? Dia pikir gue peliharaan yang pake GPS?!"
Gue langsung jalan balik ke arah aula dengan langkah lebar. Gue liat Keano lagi asik ngobrol sama beberapa anak panti. Gue samperin dia, terus gue tarik kemejanya sampai dia nunduk.
"Ké! Apa-apaan sih nyuruh Evan ngikutin gue jarak sepuluh meter? Gue mau ke toilet, bukan mau kabur ke Mars!" bisik gue galak.
Keano bukannya merasa bersalah, dia malah senyum tanpa dosa. Dia megang kedua pipi gue, bikin muka gue jadi monyong. "Lia, Sayang... Calveron ini luas. Dan setelah kejadian Baron, aku nggak mau ambil resiko sekecil apa pun. Evan itu cuma bayangan kamu."
"Gue nggak butuh bayangan yang mukanya kaku kayak Evan, Ké!"
"Ya udah, kalau gitu aku aja yang jadi bayangan kamu. Mau ke toilet? Ayo aku temenin sampai depan pintunya," katanya dengan nada enteng.
Gue bener-bener mau marah tapi malah pengen ketawa. Cowok ini bener-bener ya. "Lo beneran udah gila ya?"
"Gila karena kamu," jawabnya santai sambil nyium kening gue di depan anak-anak panti yang langsung pada tutup mata sambil ketawa-ketiwi.
Malemnya, pas kami udah balik ke penginapan di Calveron, gue duduk di balkon sambil liatin bintang. Keano dateng bawa selimut besar, terus dia nyelimutin kami berdua sambil meluk gue dari belakang.
"Ké..."
"Ya?"
"Makasih ya udah bangun panti itu. Maya pasti seneng liatnya."
Keano ngeratin pelukannya, nyium pucuk kepala gue. "Itu cuma hal kecil dibandingin apa yang udah Maya kasih buat kita. Dan Lia... soal nama panggilan tadi pagi..."
"Kenapa? Mau ganti jadi 'Dino' atau 'Gajah'?" canda gue.
"Nggak. Aku suka 'Beruang'. Kedengarannya... hangat. Tapi cuma kalau kita lagi berdua ya. Di depan Evan atau Virel, aku tetep Winchester yang dingin."
Gue ketawa renyah, nyenderin kepala di bahunya yang kokoh. "Iya, Beruang. Rahasia kita aman sama gue."
Di bawah langit Calveron yang penuh bintang, gue sadar satu hal. Perjalanan menuju bab 40 mungkin masih panjang, tapi kalau jalannya bareng Beruang manja ini, gue rasa gue bakal menikmati setiap detiknya. Konflik besar mungkin udah selesai, tapi petualangan jadi 'manusia biasa' bareng Keano Winchester baru aja dimulai.
"Lia..."
"Apa lagi?"
"Jangan pernah ilang lagi ya. Di tubuh mana pun kamu berada, tetep cari aku."
Gue senyum, megang tangannya yang melingkar di perut gue. "Gue nggak bakal kemana-mana, Ké. Karena cuma lo yang tau password buat buka hati gue."
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘