NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Pagi di mansion Halstrom berjalan seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, memantul lembut di lantai marmer yang mengilap dan membuat seluruh ruangan terlihat tenang seperti potongan kehidupan sempurna dari keluarga terpandang. Pelayan bergerak rapi sesuai tugas masing-masing, suara langkah kaki terdengar samar di lorong panjang, sementara aroma kopi hitam memenuhi udara dengan hangat yang terasa akrab.

Namun seperti beberapa minggu terakhir, ketenangan itu hanya hidup di permukaan. Ada sesuatu yang bergerak pelan di balik rumah besar itu, sesuatu yang tidak terlihat jelas tetapi mulai mengubah keseimbangan lama yang selama ini terasa terlalu nyaman.

Seraphina duduk di ujung meja sambil menyesap teh hangat perlahan. Tangannya memegang tablet, membaca beberapa laporan baru yang dikirim Evelyn sejak dini hari. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, sulit ditebak, seolah angka-angka di layar itu hanyalah bagian rutin dari pekerjaannya sebagai pemegang saham utama perusahaan keluarga.

Di balik layar itu, laporan mengenai Vivienne Laurent kembali muncul.

Transfer tertunda.

Tagihan apartemen bermasalah.

Percakapan yang mulai berubah nada.

Dan yang paling menarik, catatan dari tim Evelyn menunjukkan sesuatu yang cukup jelas. Vivienne mulai lebih sering menghubungi Darius dibanding sebelumnya.

Lebih sering bertanya.

Lebih sering menuntut jawaban.

Lebih sering terdengar tidak sabar.

Retakan kecil mulai muncul.

Dan Seraphina tahu satu hal sederhana. Hubungan yang bertahan karena kenyamanan akan cepat berubah saat rasa aman mulai hilang.

“Madam, Tuan Darius sudah turun,” ucap salah satu pelayan pelan.

Seraphina mengangkat pandangan sekilas lalu mengangguk kecil.

Beberapa detik kemudian, Darius masuk ke ruang makan seperti biasa. Jas abu-abu gelap yang rapi, langkah tenang, ekspresi datar khas seseorang yang terbiasa mengendalikan banyak hal sekaligus.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Pria itu terlihat lelah.

Tipis, tapi terlihat.

Seperti seseorang yang beberapa malam terakhir kurang tidur.

“Pagi,” ucap Darius sambil menarik kursi.

“Pagi,” jawab Seraphina pelan.

Nada suaranya lembut. Cukup hangat untuk terdengar biasa, cukup ringan untuk membuat orang lain merasa nyaman.

Darius mengambil cangkir kopinya lalu menyesap sedikit. Beberapa detik berlalu dalam hening yang tidak terasa canggung, sampai akhirnya Seraphina membuka suara lebih dulu.

“Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini.”

Darius berhenti sebentar.

Sedikit saja.

Namun cukup untuk tertangkap.

“Kerjaan lagi agak banyak,” jawabnya sambil mengusap pelipis pelan.

Seraphina mengangguk kecil, lalu memotong roti panggangnya perlahan.

“Kalau terlalu berat, mungkin kamu perlu istirahat sebentar.”

Kalimat itu sederhana.

Lembut.

Persis seperti perhatian seorang istri.

Dan justru itu yang membuat sesuatu di ekspresi Darius sedikit melunak.

Karena beberapa minggu terakhir hidupnya terasa semakin sulit diprediksi. Proyek bisnis terganggu, akses perusahaan berubah, investasi mulai bergerak tidak sesuai rencana, sementara di sisi lain Vivienne juga mulai menekan.

Lalu di tengah semua itu…

Seraphina justru terlihat kembali seperti dulu.

Tenang.

Tidak banyak bertanya.

Tetap mendukung.

Membuat rumah terasa seperti tempat paling stabil yang tersisa.

“Aku baik-baik aja,” jawab Darius akhirnya.

“Kalau kamu bilang begitu.”

Seraphina tersenyum tipis.

Tidak terlalu lebar.

Tidak dibuat-buat.

Cukup untuk terlihat tulus.

Dan lagi-lagi, Darius mulai merasa mungkin dirinya memang terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini.

Mungkin perubahan Seraphina sebelumnya hanya fase sesaat.

Mungkin wanita itu hanya sedang ingin terlibat lebih banyak di perusahaan.

Mungkin semua rasa curiga itu berlebihan.

Pikiran itu cukup menenangkan.

Dan ketenangan kecil seperti itu sering kali membuat seseorang lengah tanpa sadar.

---

Di sisi lain kota, pagi Vivienne Laurent berjalan jauh berbeda.

Wanita itu berdiri di dapur apartemennya sambil menatap layar ponsel cukup lama. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, secangkir kopi di meja mulai kehilangan uap hangatnya, namun perhatian Vivienne sepenuhnya tertuju pada aplikasi rekening bank.

Tetap kosong.

Tidak ada transfer.

Tidak ada pembayaran tambahan.

Tidak ada kabar pasti.

Sudah hampir tiga minggu.

Dan sesuatu yang dulu terasa begitu stabil sekarang mulai terasa goyah.

Vivienne menggigit bagian dalam pipinya pelan.

Kesal.

Bingung.

Sekaligus mulai gelisah.

Karena selama ini Darius tidak pernah seperti ini.

Pria itu selalu tepat waktu.

Selalu memastikan semuanya aman.

Apartemen.

Tagihan.

Biaya hidup.

Hadiah kecil.

Perjalanan.

Semua berjalan terlalu rapi sampai Vivienne tidak pernah merasa perlu khawatir.

Namun sekarang…

Ada terlalu banyak jeda.

Terlalu banyak alasan.

Terlalu banyak kalimat seperti “aku lagi urus”.

Ponselnya akhirnya bergetar.

Nama Darius muncul.

Vivienne langsung mengangkat.

“Kamu sibuk?” tanya Darius dari seberang.

Vivienne tertawa pendek.

Namun terdengar hambar.

“Enggak sesibuk kamu kayaknya.”

Nada itu langsung membuat Darius diam sebentar.

“Kamu masih marah?”

“Menurut kamu?”

Vivienne berjalan menuju jendela apartemen sambil menyilangkan tangan di dada.

“Aku gak ngerti kenapa semuanya tiba-tiba berantakan.”

“Aku udah bilang ada masalah kerja.”

“Kerja lagi?” ulang Vivienne pelan. “Udah berminggu-minggu, Darius.”

Nada suaranya tidak terlalu tinggi. Namun justru karena lebih tenang, rasa kecewanya terdengar semakin jelas.

Darius mengembuskan napas panjang.

“Aku lagi coba beresin.”

“Kamu selalu bilang itu.”

Hening beberapa detik memenuhi sambungan telepon.

Dan anehnya…

Vivienne mulai menyadari sesuatu.

Darius terdengar berbeda.

Tidak setenang biasanya.

Tidak semeyakinkan dulu.

Ada celah kecil dalam nada bicara pria itu. Sesuatu yang terdengar seperti ketidakpastian.

Dan hal itu membuat rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar.

Karena Vivienne bukan wanita bodoh.

Ia tahu seperti apa pria yang punya kendali.

Dan sekarang…

Darius mulai terdengar seperti seseorang yang sedang kehilangan sebagian dari kendali itu.

---

Siang hari, Seraphina duduk bersama Evelyn di ruang kerja pribadi mansion. Dokumen baru kembali memenuhi meja, lengkap dengan catatan hasil pengamatan beberapa hari terakhir.

“Pertengkaran mereka makin sering,” ujar Evelyn sambil membuka map tambahan.

Seraphina membaca pelan.

Tatapannya tetap stabil.

“Vivienne mulai mempertanyakan stabilitas finansial,” lanjut Evelyn. “Dan Darius beberapa kali mulai kehilangan kesabaran.”

Seraphina meletakkan dokumen perlahan.

Senyum tipis muncul sebentar di bibirnya.

Bukan senyum puas.

Lebih seperti seseorang yang melihat pola mulai bergerak sesuai perhitungan.

“Kalau orang terbiasa nyaman,” ucapnya pelan, “gangguan kecil terasa jauh lebih besar.”

Evelyn mengangguk kecil.

“Menurut tim, Vivienne mulai khawatir.”

“Bagus.”

Jawaban itu keluar ringan.

Namun cukup membuat suasana ruangan terasa lebih dingin.

Karena mereka sama-sama tahu arah permainan ini.

Seraphina tidak sedang menghancurkan hubungan itu secara terang-terangan.

Ia hanya menarik satu demi satu hal yang membuat hubungan itu terasa aman.

Sedikit demi sedikit.

Pelan.

Tanpa suara.

Sampai akhirnya keduanya mulai saling mempertanyakan.

Dan dalam hubungan rahasia seperti itu, keraguan sering kali lebih berbahaya dibanding kemarahan.

“Apartemen?” tanya Seraphina.

“Masih tertahan administrasi. Mereka mulai mendesak pihak pengelola.”

Seraphina mengangguk kecil.

“Biarkan sedikit lebih lama.”

Tatapannya turun lagi pada laporan.

“Aku mau mereka mulai saling menyalahkan.”

Evelyn diam sebentar.

Lalu mengangguk paham.

Karena sekarang arah semuanya semakin jelas.

Seraphina tidak terburu-buru.

Tidak emosional.

Ia membangun tekanan perlahan.

Seperti seseorang yang sengaja mencabut fondasi sedikit demi sedikit sambil menunggu bangunan runtuh sendiri.

---

Malam hari, pertengkaran kedua akhirnya pecah.

Vivienne berdiri di dekat sofa apartemennya dengan ekspresi jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Darius baru datang setengah jam lalu, namun suasana sejak awal sudah terasa buruk.

“Kamu tahu gak aku tadi hampir gak bisa masuk apartemen lagi?” tanya Vivienne.

“Aku lagi urus itu.”

“Lagi urus, lagi urus,” ulang Vivienne tajam. “Kamu sadar gak sih semua jawaban kamu sekarang sama?”

Darius mulai terlihat lelah.

“Vivienne…”

“Enggak. Dengerin aku sekarang.”

Wanita itu menatapnya lurus.

“Aku udah terlalu sabar beberapa minggu ini.”

Darius mengusap wajahnya kasar.

Karena sebenarnya dirinya sendiri juga mulai frustrasi. Perusahaan terasa berantakan, akses keuangan semakin sulit disentuh, dan entah kenapa semua masalah muncul di waktu bersamaan.

Lalu sekarang…

Vivienne juga mulai berubah.

“Aku gak mungkin ninggalin semuanya begitu aja,” katanya akhirnya.

Vivienne tertawa kecil.

Namun kali ini terdengar lebih pahit.

“Masalahnya kamu udah mulai kelihatan gak bisa pegang semuanya.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Vivienne sadari.

Karena jauh di dalam pikirannya…

Darius juga mulai mempertanyakan hal yang sama.

Kenapa semuanya terasa lepas dari kendali?

Kenapa terlalu banyak hal berubah bersamaan?

Dan kenapa…

Setiap kali ia mencoba mencari sumber masalah, bayangan Seraphina selalu muncul di kepalanya?

Namun tetap saja…

Itu terasa mustahil.

Karena wanita yang pulang bersamanya setiap malam masih terlihat sama.

Masih lembut.

Masih tenang.

Masih menjadi istri sempurna.

Dan justru itu…

Mulai terasa semakin aneh.

1
sukensri hardiati
klo orang jawa bilang....mereka bertiga itu istilahnya - ra iso ngilo githok e dewe-
sukensri hardiati
pertanyaan macam apa tu darius....?
ary daramita
terlalu berbelit2. diulang2 kemarin udah
sukensri hardiati
nggak bapak....nggak anak....sama aja
Leny Leny
menarik , serius 👍
Ma Em
Semangat Seraphina semoga kamu bisa kembali menguasai perusahaan yg sdh dikuasai Darius hanya untuk menyenangkan gundiknya .
Ma Em
Darius bingung karena keuangan nya sdh ditutup sama Seraphina dari arah mana saja sdh tdk ada celah , makanya Darius jadi orang jgn serakah itu bkn perusahaan kamu dan kamu hanya di percaya untuk menjalankan perusahaan nya bkn untuk merampoknya jadi jgn merasa berkuasa untuk menyenangkan selingkuhan .
sukensri hardiati
sampai bab ini nggak pernah liat interaksi dg darius kecuali di meja makan...
Ma Em
Ternyata Darius wanita simpanan pantas saja selalu mengambil uang Seraphina dikantor karena demi menyenangkan gundiknya , pelan2 Darius ingin menguasai perusahaan Seraphina .
Ma Em
Seraphina semangat semoga kamu bisa mengendalikan lagi perusahaan yg duluan nya dikuasai Darius dan sekarang bisa beralih kembali pada kekuasaan Seraphina , biar para benalu yg selalu moroti uangmu itu sadar meskipun itu suami dan anak2 mu Seraphina .
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!