Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Sepulang sekolah pada hari Senin...
Aku berjalan menuju kafe keluarga yang sudah Maya pilih untuk menjadi tempat kami bertemu setiap hari Senin sepulang sekolah. Di dalam kafe, aku melihat Maya sudah menunggu di kursi biasanya. Dia melambaikan tangan dan memintaku untuk segera mendekat. Aku pun tidak punya alasan untuk tidak segera menghampirinya. Namun, belum juga aku duduk, Maya sudah melontarkan kalimat tanya yang menyebalkan.
"Sudah punya teman?" tanyanya disertai suara tawa kecil. Aku sangat kesal mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang sudah dia ulang-ulang selama dua minggu ini.
"Cuma itu hal pertama yang bisa kamu tanyakan?" tanyaku kesal. Namun, hanya suara tawa yang kudapatkan sebagai jawaban.
Terlepas dari fakta bahwa aku memang tidak membuat kemajuan dalam hal mencari teman selama dua minggu ini, rapat tetap saja berlanjut setiap hari Senin sepulang sekolah seperti saat ini. Bukan karena aku menikmati pertemuan dengan Maya, melainkan karena aku yakin akan menghadapi akhir yang mengerikan kalau sampai mengabaikannya.
"Seandainya mencari teman itu semudah itu, dunia enggak perlu menderita karena peperangan dan kelaparan," ucapku dengan nada menyindir. Maya kembali tertawa sambil menyodorkan buku menu padaku.
"Kenapa kamu bertingkah seolah ini masalah hidup dan mati? Cuma cari seorang teman, loh," timpalku masih dengan suara tawa. Aku menerima buku menu itu dan memilih paket all you can eat seperti biasa.
"Ujiannya gimana?" tanya Maya penasaran. Aku menatap tombol di atas meja lalu menekannya.
"Berjalan dengan baik. Aku dapat peringkat satu di kelas, juga peringkat empat paralel," jawabku datar. Maya pun menghela napas.
"Syukur, deh. Aku pikir kamu akan menyia-nyiakan kesempatan dengan bermalas-malasan sambil menulis novel," timpal Maya.
"Bakal repot kalau aku sampai enggak belajar dan dapat nilai jelek. Aku enggak mau gagal ujian lagi di kehidupan kedua ini," ucapku sambil menyombongkan diri. Maya pun tertawa melihatku.
"Seandainya seorang serigala penyendiri masuk kelas remedial, pasti akan ada saja suara sumbang seperti, 'Ah, dia, ya? Bukan cuma enggak punya teman, tapi dia juga orang yang bodoh.' Lalu orang-orang akan memberikan tatapan sinis padaku. Aku bisa beneran mati kalau sampai hal itu terjadi," jelasku padanya. Maya pun berhenti tertawa dan menatapku iba.
"Aku tebak itu pernah terjadi di kehidupanmu sebelumnya, ya, kan?" Maya mengatakannya sambil menatapku sedih. Dan yah, itu tepat sekali. Dia benar-benar hebat menebak cerita orang.
"Aku lihat sepertinya ujianmu juga lancar, ya?" tanyaku mencoba mengalihkan suasana tidak enak yang tiba-tiba terbangun ini. Dia tersenyum sambil menghela napas.
"Yah, aku peringkat satu paralel," jawabnya datar namun terdengar sangat menyombongkan diri di telingaku. Tapi, memang sudah kuduga, sih.
Setelah itu, aku dan Maya mengobrolkan masalah sekolah. Namun, obrolan tersebut terputus sejenak saat pelayan datang. Setelah memesan, aku dan Maya kembali mengobrolkan hal-hal tentang ujian sekolah dan kehidupan kami setelah kembali ke masa lalu. Tidak banyak yang berubah. Ini yang sudah kulalui selama tiga minggu lebih sejak aku kembali ke masa lalu.
Maya juga akhir-akhir ini tidak segan-segan memintaku mengambilkan minuman dan makanan seolah-olah aku ini pembantunya. Meski tidak ingin, entah kenapa aku tidak kuasa untuk menolak. Dengan berat hati, aku mengambilkan pesanannya di atas meja prasmanan kafe. Setelahnya, kami kembali mengobrol dengan camilan dan minuman di atas meja. Sempat terdiam beberapa saat, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuatku penasaran.
"Ah, iya. Aku pernah melihatmu di sekolah. Kurasa sikapmu ke teman-temanmu dan ke aku jauh berbeda," celetukku memecah keheningan. Dia pun menatapku dengan raut wajah kesal, padahal sebelumnya dia tersenyum manis saat memakan kue cokelat yang aku ambilkan tadi.
"Hmp!" timpalnya singkat dan padat, meski tidak jelas apa maksudnya. Dia terlihat marah mendengar perkataanku tadi.
"Apa... Kenapa?" tanyaku lagi, ada rasa panik sekaligus penasaran.
"Merasa enggak, sih, kalau kamu yang membuat aku bersikap begini khusus ke kamu?" tanyanya dengan penekanan dan nada yang terdengar begitu marah. Aku berkeringat dingin menatap matanya, seolah-olah dia ingin memukulku saat ini juga.
"Ko... kok aku? Aku ini perwujudan dari definisi jinak," timpalku membela diri.
"Memangnya ada orang normal yang mendefinisikan diri dengan kata 'serigala' dan 'jinak' seperti kamu?" tanya Maya masih menekanku. Mungkin ini saatnya bagiku untuk memikirkan sendiri jawabannya.
Mempertanyakan kenapa sikap Maya berbeda antara kepadaku dan kepada teman-temannya... aku tetap tidak bisa memahaminya. Apa yang berbeda dariku? Apa karena aku sering mengabaikan pesan WA-nya? Apa karena kami sering berdebat setiap kali bertemu? Namun, seiring aku memikirkan semua kemungkinan, tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Mungkin itu adalah jawabannya...
"Tentu saja aku bersikap baik kepada teman-temanku, tapi... apa Raka adalah seorang teman buatku?" tanya Maya lalu meminum minumannya dari sedotan. Dalam hati aku langsung bergumam, 'Teman... bagi Maya...?'
Aku pernah menyelamatkan Maya di kehidupan sebelumnya, lalu dia pun melakukan hal yang sama sebaliknya. Meski sedikit rumit, sudah jelas bahwa apa yang kupikirkan itu benar. Sebenarnya, sikap berbeda yang kuterima dari Maya itu karena...
"Kita bukan teman," jawabku setelah menganalisis semua kemungkinan. Maya melepas bibirnya dari sedotan lalu mengangguk beberapa kali.
"Nah, kan. Sikapku bisa berbeda tergantung siapa orangnya," timpal Maya.
"Bisa-bisanya kamu mengatakan hal menyakitkan seperti itu di depan orangnya langsung," keluhku padanya. Dia tertawa kecil lalu melipat kedua tangan di dada, seolah-olah sedang menyombongkan diri.
"Tentu saja. Tapi, aku enggak akan mengatakan hal yang sama kalau kamu itu temanku," ucap Maya sambil tertawa kecil. Mendengarnya, aku tiba-tiba merasa iri.
"Aku jadi iri sama kalian para ekstrover. Kalian bisa bersikap berbeda pada orang yang berbeda pula dalam waktu singkat," ucapku. Maya pun sedikit terkejut. Dia sampai memajukan badannya hingga menempel pada meja yang memisahkan kami.
"Hmm? Mengejutkan. Kamu bisa iri sama hal kecil seperti itu?" timpal Maya heran. Aku pun menghela napas sebelum membalas perkataannya.
"Aku bukan orang yang anti dengan kata 'Teman'. Aku cuma berpikir, kalau aku punya kepribadian sepertimu, mungkin aku sudah punya banyak teman sekarang. Jadi, aku berpikir untuk menerima semua saranmu dan berharap kalau nanti aku bertemu cowok yang sefrekuensi denganku, aku tidak akan ragu untuk menjalin pertemanan dengannya," jawabku.
Setelah itu, Maya tersenyum sambil menutup matanya, seolah-olah sedang membayangkan sesuatu.
"Iya... Aku yakin akan ada saatnya kamu bertemu seseorang yang sefrekuensi denganmu..." timpalnya, lalu Maya seperti menggantung kalimat selanjutnya. Aku yakin dia belum selesai bicara.
"...Nantinya... mungkin..." celetuknya agak bergumam. Dia masih menutup mata dengan senyum sinis yang aku yakin bertujuan untuk menghinaku.
"...Ah, enggak, enggak. Enggak bisa bilang mungkin juga, sih... mungkin..." Maya kembali bergumam. Aku semakin yakin dia sedang mengejekku karena aku mencari seorang teman yang sefrekuensi.
"Setidaknya aku minta tolong, yakinlah kalau akan ada orang yang sefrekuensi denganku!" bentakku padanya. Dia membuka mata lalu tertawa keras.
Aku membiarkan Maya tertawa keras selama beberapa saat. Entah kenapa dia selalu terlihat bahagia setelah menghina dan merendahkanku seperti itu. Sungguh, sikap Maya padaku benar-benar kasar dan tidak sopan. Meski aku bilang jangan pikirkan tentang aku yang pernah menyelamatkannya dari tabrakan truk, setidaknya, tolong jangan lupakan kalau orang di depanmu ini pernah rela mati untukmu.
"Eh, eh! Apa kamu akan masuk klub sastra lagi di sekolah?" tanya Maya dengan penuh semangat setelah tawanya mereda. Aku cukup terkejut mendengarnya.
Seingatku, aku tidak pernah memberi tahu dia kalau aku pernah masuk ke klub sastra sekolah di kehidupan sebelumnya. Lebih dari itu, aku yakin Maya tidak pernah tahu bagaimana aku di kehidupan sebelumnya karena kami tidak pernah saling berbicara. Kenapa dia bisa tahu banyak hal tentangku sampai seperti ini, ya?
"Eh, klub sastra, ya? Kok kamu..." Belum selesai aku bertanya, Maya langsung memotongnya.
"Ah, jadi sebelumnya kamu pernah ada di sana, ya?" timpalnya dengan sebuah pertanyaan. Aku makin dibuat heran olehnya. Dia sedang mengalihkan pembicaraan, kan?
"Oh, eh, iya. Tapi aku enggak akan mengunjungi klub itu lagi kali ini," jawabku.
"Oh, begitu? Kenapa?" tanya Maya lagi dengan sangat cepat, seolah dia tidak ingin memberiku kesempatan untuk mempertanyakan hal yang menggangguku tadi.
"Cinta mereka itu kepada sastra murni, sedangkan aku pencinta novel modern yang sederhana dan enggak berat. Kami sangat berbeda," jawabku menjelaskan kenapa aku sudah tidak tertarik lagi pada klub sastra sekolah.
Di kehidupanku sebelumnya, aku punya pemikiran naif seperti, 'Ah, ikut klub sastra supaya kemampuan bahasaku lebih baik dan cita-citaku menjadi penulis novel terkenal semakin dekat.' Namun, begitu aku bergabung dan membaca majalah klub mereka, ternyata isinya adalah puisi dan naskah-naskah dengan bahasa yang sulit. Penuh hiperbola, pengandaian, serta sarkasme tertentu yang membuatku pusing untuk mengerti artinya.
Tidak hanya itu, percakapan antar anggota juga sangat abstrak. Aku rasa mereka terlalu menjiwai peran menjadi murid dari Sutardji Calzoum Bachri atau semacamnya. Saking abstraknya klub tersebut, ketua kelompok kami bahkan pernah berkata dengan semangat yang berapi-api, "Puisi dan sastra murni itu yang terbaik! Kata bukan hanya alat untuk menyampaikan pengertian, melainkan sebagai objek itu sendiri!"
Bahkan, ada anggota mereka yang berkata padaku dengan nada mengejek, "Novel modern itu sampah karena terlalu fokus untuk menghibur pembaca. Memalukan rasanya."
Bagaimana aku bisa bertahan di tempat seperti itu? Aku memang membaca semua jenis buku karena itu hobiku, tapi aku ini juga suka novel modern, termasuk genre komedi romantis, tahu!
"Gara-gara itu aku enggak mau lagi bergabung dengan mereka di kehidupan kedua ini. Aku enggak mau mengulang kesalahan yang sama," jelasku meneruskan jawabanku sebelumnya. Maya langsung menghela napas dan menatapku dengan raut wajah kesal.
"Begitu toh... Haah... Di sekolah memang enggak ada yang cocok buat kamu ajak mengobrol," keluh Maya dan dia terdengar sudah hampir menyerah.
Mendengar keluhan Maya, tiba-tiba aku teringat kejadian diajak bicara oleh Luna yang belum sempat kusampaikan.
"Oh, iya. Tadi Luna mengajakku bicara," celetukku.
Maya langsung kaget, namun sedetik kemudian dia tersenyum menatapku.
"Wah, Luna? Beneran? Kalian mengobrolkan apa?" tanyanya terdengar kembali bersemangat dan antusias. Aku pun menceritakan semuanya kepada Maya. Dia cukup tertarik dengan cerita itu, meski percakapan antara aku dan Luna hanya sebatas tentang nilai ujian kami.
"Luna memang orangnya enggak mau kalah, dia juga suka mencampuri urusan orang lain," timpal Maya ketika ceritaku sudah selesai.
Eh... tunggu dulu. Dia sedang menyindir Luna atau dirinya sendiri, sih? Dia seperti lupa kalau dia sendiri suka mencampuri urusanku.
"Oi... oi... kamu terdengar sedang menghinanya," celetukku mengingatkannya. Namun, Maya hanya tertawa kecil.
"Salah! Itu sisi baiknya Luna, tahu? Meski terkadang bisa juga menjadi sumber masa... Aha! Luna itu gadis yang baik. Dia mungkin bakal khawatir kalau kamu kesepian, kemudian mulai usil untuk mencampuri urusanmu," ucapnya dengan antusias. Aku langsung menggelengkan kepala dengan mantap tanpa keraguan.
"Enggak! Enggak! Makasih, aku skip!" tegasku sambil menyilangkan kedua tangan agar penolakan ini terlihat makin jelas. Seketika itu juga, senyum licik Maya terlihat lagi sambil menatapku begitu tajam.
...Tatapan itu... Sama persis seperti saat Maya mengerjaiku ketika dia memaksaku untuk mengobrol dengan Luna...
...Pasti ada hal memalukan yang akan terjadi padaku, namun aku tidak menyadarinya saat ini...
"Hmm~ Tapi kamu segera enggak akan bisa menolaknya," celetuk Maya terdengar begitu licik. Ada rencana yang dia atur lagi, mirip seperti kejadian waktu itu.
"Eh?" Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku sudah merasa bingung ketika senyum dan nada itu keluar dari mulut Maya.
"Sudah hampir waktunya buat 'itu'," tegas Maya mengatakannya.
Itu? 'Itu' apa yang dia maksud?! Aku tidak bisa mengerti dan tidak bisa memecahkan misterinya. Dia pasti akan menjebakku lagi seperti waktu itu. Senyum dan nada sinis itu lagi... Dia pasti ingin mengerjaiku lagi! Toloooong...!