Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Setiap kali salah satu bergerak lambat, tekanan di udara menekan bahunya hingga ia hampir jatuh.
Raka berdiri di tengah warung, mengawasi tanpa ekspresi.
Pak Harun menatapnya dengan campuran khawatir dan tidak percaya.
“Raka…”
Raka menoleh sedikit.
“Pak Harun tidak perlu takut.”
Pak Harun menelan ludah.
“Bukan itu. Aku hanya…”
Ia tidak melanjutkan.
Karena Raka yang berdiri di hadapannya masih Raka yang ia kenal, tetapi juga bukan Raka yang sama. Pemuda itu tidak terlihat kehilangan kendali. Justru sebaliknya, ia terlalu tenang. Terlalu dingin.
Seperti seseorang yang sedang menimbang dosa, bukan sedang marah.
Setelah warung dibereskan seadanya, Raka menatap para preman.
“Siapa yang menyuruh kalian?”
Mereka saling pandang.
Preman pemimpin menjawab dengan suara gemetar.
“Bang Bram…”
Raka menatapnya lebih dalam.
Mata Dewa bergerak.
Kebohongan tidak terdeteksi.
“Tapi bukan cuma Bram,” ucap Raka.
Pria itu langsung pucat.
Raka melangkah mendekat.
“Sebut namanya.”
Preman itu gemetar hebat.
“Reza… Reza Mahendra.”
Nama itu membuat beberapa pelanggan menahan napas.
Raka tidak tampak terkejut.
Ia sudah menduga.
Namun setelah mendengar nama itu langsung, sesuatu di dalam dirinya menjadi semakin dingin.
Sistem berbisik.
[Musuh mulai memperlihatkan wajah.]
[Reza Mahendra.]
[Layak ditandai.]
Raka mengangkat tangan.
Cahaya emas gelap muncul sesaat di ujung jarinya.
Para preman mencoba mundur, tetapi tubuh mereka terkunci.
Raka menyentuh dahi preman pemimpin.
Sebuah tanda kecil berbentuk mahkota retak muncul samar di kulit pria itu, lalu menghilang.
Pria itu menjerit.
Bukan karena luka fisik.
Tapi karena dalam sekejap, ia merasakan bayangan takhta dan pedang muncul di dalam pikirannya. Tubuhnya berlutut tanpa mampu melawan.
Raka berkata pelan.
“Mulai malam ini, setiap kali kau berniat menyakiti orang biasa atas nama Mahendra, tubuhmu akan mengingat malam ini.”
Pria itu gemetar.
“Apa… apa yang kau lakukan padaku?”
Raka menatapnya tanpa ekspresi.
“Memberimu kesempatan hidup.”
Pria itu menangis.
Raka berbalik ke empat preman lain.
“Bawa dia pergi. Sampaikan kepada Bram dan Reza.”
Mereka menatap Raka dengan ketakutan.
Raka melanjutkan.
“Kalau mereka ingin aku datang, jangan sentuh orang biasa lagi.”
Udara menjadi lebih berat.
Lampu warung berkedip.
“Karena lain kali, aku tidak akan memberi pelajaran.”
Raka berhenti sebentar.
Matanya menyala keemasan tipis.
“Aku akan menjatuhkan hukuman.”
Kelima preman itu langsung menyeret diri keluar dari warung. Tidak satu pun berani menoleh ke belakang. Bahkan setelah berada di luar, langkah mereka masih kacau karena kaki mereka gemetar.
Warung kopi Pak Harun hening.
Beberapa pelanggan menatap Raka dengan wajah pucat. Ada rasa takut di mata mereka. Ada juga rasa lega. Mereka tidak tahu harus menyebut Raka penyelamat atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Raka merasakan pandangan itu.
Ia tidak marah.
Ia tahu.
Orang biasa memang takut pada hal yang tidak mereka pahami.
Pak Harun berdiri perlahan.
“Raka, duduk dulu.”
Raka menoleh.
Pak Harun mengambil kain bersih dan menekan sudut bibirnya yang berdarah.
“Kau datang menolongku. Untuk itu aku berterima kasih.”
Raka diam.
“Tapi kau juga harus hati-hati,” lanjut Pak Harun. “Kalau orang punya kekuatan, mudah sekali merasa semua hukuman boleh dijatuhkan.”
Raka menatap pria tua itu lama.
Biasanya, ia mungkin akan menunduk.
Tapi malam ini, ia menjawab dengan tenang.
“Pak, aku tidak akan menyakiti orang biasa.”
Pak Harun terdiam.
Raka melanjutkan.
“Tapi orang yang menjadikan orang biasa sebagai alat untuk melawanku…”
Matanya menjadi dingin.
“…tidak akan aku perlakukan seperti manusia baik-baik.”
Pak Harun tidak langsung menjawab.
Ia melihat sesuatu di mata Raka.
Bukan kegilaan.
Bukan kesombongan.
Melainkan keputusan.
Keputusan yang lahir dari seseorang yang terlalu lama melihat dunia tidak adil, lalu tiba-tiba punya tangan untuk membalasnya.
Pak Harun menghela napas pelan.
“Kalau begitu, pastikan hatimu tidak ikut menjadi gelap.”
Raka diam.
Sistem berbicara di dalam jiwanya.
[Manusia tua ini masih berani menasihati Tuan.]
[Menarik.]
Raka menjawab dalam hati.
“Dia berhak.”
Sistem tidak membantah.
Di luar warung, malam Pontianak kembali bergerak. Suara kendaraan terdengar lagi. Angin melewati jalan. Namun beberapa orang yang tadi menyaksikan kejadian itu tahu, ada sesuatu yang tidak akan kembali sama.
Nama Raka Pratama akan menyebar.
Bukan sebagai anak miskin.
Bukan sebagai yatim piatu yang mudah diinjak.
Tapi sebagai pemuda yang membuat preman Mahendra menangis tanpa suara.
Jauh dari warung itu, Bram menerima kabar dari anak buahnya.
Wajahnya pucat ketika mendengar apa yang terjadi.
“Dia menandai Joni?” tanya Bram.
Dari telepon, suara anak buahnya gemetar.
“Iya, Bang. Joni tidak berhenti menangis. Katanya setiap kali menutup mata, dia lihat takhta dan pedang.”
Bram merasa tubuhnya melemas.
Pedang lagi.
Bayangan itu lagi.
Ia menatap gudang lama yang sudah disiapkan untuk memancing Raka.
Beberapa simbol hitam buatan Hei Yan tergambar di lantai. Lilin gelap menyala di sudut-sudut ruangan. Udara di dalam gudang terasa dingin dan busuk.
Raka akan dibawa ke sini.
Itu rencananya.
Tapi sekarang, Bram mulai merasa bukan mereka yang sedang memancing Raka.
Justru Raka yang perlahan membuat mereka menunjukkan tempat persembunyian.
Di sudut gudang, bayangan hitam bergerak.
Hei Yan muncul tanpa suara.
“Dia datang?”
Bram menelan ludah.
“Belum.”
Hei Yan menatapnya.
“Kenapa?”
Bram menjawab dengan suara berat.
“Orang-orang yang kita kirim… gagal.”
Hei Yan tersenyum tipis.
“Bagus.”
Bram menatapnya bingung.
Hei Yan berjalan ke tengah formasi hitam.
“Semakin marah dia, semakin jelas jejak takhta di tubuhnya.”
Bram merasa dadanya semakin sesak.
“Kalau dia terlalu kuat?”
Hei Yan menatapnya dengan mata gelap.
“Kalau dia terlalu kuat, maka kita tidak menangkapnya.”
Bram membeku.
“Lalu?”
Senyum Hei Yan melebar.
“Kita panggil sesuatu yang lebih lapar darinya.”
Di lantai gudang, simbol hitam mulai menyala.
Sementara itu, di tepi Sungai Kapuas, air beriak tanpa angin.
Kabut tipis muncul di atas permukaannya.
Di dalam kabut itu, seorang perempuan berwajah anggun berdiri di atas air. Rambut panjangnya bergerak pelan, matanya menatap ke arah warung kopi yang jauh dari sana.
Nyi Arum.
Penjaga gaib Sungai Kapuas.
Ia menatap kota Pontianak dengan wajah sulit ditebak.
“Dingin…” bisiknya pelan. “Anak itu mulai mengingat cara menghukum.”
Air sungai bergetar.
Dari kedalaman, suara tua terdengar samar.
“Apakah dia akan menjadi pelindung?”
Nyi Arum diam beberapa saat.
Lalu ia menjawab pelan.
“Atau bencana.”
Di dalam warung kopi Pak Harun, Raka berdiri di dekat meja yang baru saja dirapikan.
Ia menatap keluar, ke arah malam Pontianak yang semakin gelap.
Sistem berbisik dalam jiwanya.
[Tuan telah menandai musuh pertama.]
[Jalan menuju Mahendra mulai terbuka.]
Raka tidak tersenyum.
Ia hanya berkata pelan.
“Kalau mereka masih ingin bermain…”
Cahaya emas samar melintas di matanya.
“…aku akan ajari mereka takut dengan benar.”