🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Di Bawah Bayang-Bayang Ancaman
Pintu ruang tamu utama tertutup kembali rapat, memotong pandangan dan kehadiran rombongan Pangeran Mu Ran yang baru saja pergi. Namun, suasana berat dan beracun yang dibawa pria itu seolah masih tertinggal menggantung di udara, menempel pada setiap sudut ruangan yang megah itu.
Xiao Yi perlahan melepaskan pelukannya, namun tangannya masih tetap bertengger di bahu Shen Yue, matanya menatap lekat-lekat wajah gadis itu seolah ingin memastikan tidak ada sedikit pun goresan atau ketakutan yang tertinggal. Napasnya masih terasa berat, sisa amarah yang meluap saat berhadapan dengan Mu Ran belum sepenuhnya mereda. Baginya, ancaman terhadap dirinya sendiri adalah hal biasa, tapi saat pria itu berani menatap, berbicara, dan berniat mengambil Shen Yue... itu adalah dosa terbesar yang nyaris membuatnya kehilangan kendali diri sepenuhnya.
"Mu Ran... dan Kaisar tua itu..." desis Xiao Yi pelan, gigi-giginya saling bergemeretak menahan kebencian yang mendalam. Ia berjalan mundur beberapa langkah, lalu berbalik memunggungi Shen Yue, menatap jendela tinggi yang menghadap ke gerbang depan tempat rombongan itu baru saja menghilang. "Mereka tidak akan berhenti, Yue. Selama mereka mengira kau adalah kunci kekuatan, obat keabadian, atau jimat keberuntungan... mereka akan terus memburumu. Istana nanti bukan sekadar kunjungan sopan santun. Itu adalah perang jebakan. Dan aku takut... aku takut aku tidak akan bisa melindungimu sepenuhnya di tempat yang penuh musuh dan aturan busuk itu."
Ada getaran ketakutan yang nyata dalam suaranya. Xiao Yi yang biasanya angkuh dan yakin bisa menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya, kini untuk pertama kalinya merasa ragu. Istana kekaisaran adalah wilayah kekuasaan mutlak Kaisar. Di sana, kekuatan militer, pengaruh politik, dan intrik yang berputar jauh lebih rumit dan berbahaya daripada apa pun yang pernah ia hadapi di kota ini.
Shen Yue berjalan mendekat perlahan, langkahnya lembut namun mantap. Ia berdiri di samping Xiao Yi, ikut menatap ke luar jendela, ke arah jalanan kota yang ramai namun penuh bahaya tersembunyi. Ia mengulurkan tangannya, mencari dan menggenggam tangan besar yang mengepal erat di sisi tubuh pria itu.
"Xiao Yi, lihat aku," panggil Shen Yue pelan namun tegas. Ia memutar tubuh pria itu agar berhadapan dengannya kembali. Matanya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata hitam yang penuh kekhawatiran itu. "Kau tidak sendirian dalam hal ini. Ingat? Kita sudah bersumpah untuk saling memiliki dan saling menjaga. Kau melindungi raga dan nyawaku... dan aku akan menjaga jiwa, pikiran, dan kekuatan kita berdua. Bahaya di istana itu aku tahu. Tapi percayalah, selama kita berdiri berdampingan, tidak ada tembok yang cukup tebal, tidak ada jebakan yang cukup cerdik, dan tidak ada musuh yang cukup kuat untuk memisahkan kita."
Shen Yue mengangkat tangan bebasnya, menyentuh dada bidang Xiao Yi, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang.
"Dan ingat satu hal penting: mereka menginginkanku karena mereka mengira aku punya sesuatu yang mereka butuhkan. Mereka mengira aku lemah, hanya wanita biasa yang bisa diambil seenaknya. Tapi mereka salah besar. Aku bukan barang. Aku adalah pendampingmu. Dan kekuatanku bukan terletak pada sihir atau obat-obatan... tapi pada kemampuanku melihat apa yang tidak dilihat orang lain, dan ketenanganku di tengah badai."
Xiao Yi menatap gadis itu lama sekali. Perlahan, kepalan tangannya yang kaku melemas dalam genggaman Shen Yue. Aura amarahnya mereda, digantikan oleh rasa tekad yang kian menguat. Ia tahu, Shen Yue benar. Gadis ini bukan beban. Gadis ini adalah kekuatan yang menyeimbangkan sisi gelapnya, yang membuatnya berpikir jernih, dan yang memberinya alasan untuk bertindak lebih cerdas daripada sekadar menghancurkan segalanya dengan kekerasan.
"Kau selalu bisa membuatku merasa bodoh karena terlalu khawatir, bukan?" gumam Xiao Yi pelan, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang penuh rasa bangga. Ia meremas balik tangan kecil itu, membawa telapak tangan itu ke bibirnya dan mengecupnya lembut. "Baiklah. Tujuh hari lagi kita pergi ke istana. Tapi sebelum itu... kita harus bersiap. Kita harus tahu apa yang kita hadapi, dan kita harus memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi mereka untuk menyakiti sehelai rambutmu."
Xiao Yi berbalik menatap A-Ming yang sejak tadi berdiri diam dengan sikap siaga penuh di dekat pintu.
"A-Ming!" panggil Xiao Yi tegas.
A-Ming langsung melangkah maju, menunduk hormat hingga dahi nyaris menyentuh lutut. "Siap, Tuan Muda!"
"Kumpulkan semua mata-mata kita di ibu kota, di istana, dan di sekeliling kediaman Pangeran Mu Ran. Aku ingin tahu setiap gerakan, setiap rencana, setiap orang yang berhubungan dengan mereka dalam 24 jam ke depan. Aku ingin tahu apa tujuan sebenarnya Kaisar selain 'obat penyembuh', apa kelemahan Mu Ran, dan siapa saja pihak-pihak yang bisa kita jadikan sekutu atau setidaknya netral di dalam istana nanti," perintah Xiao Yi dengan cepat dan rinci, matanya berkilat tajam seperti elang. "Selain itu, perkuat seluruh pertahanan kediaman. Tidak ada orang yang masuk atau keluar tanpa diperiksa ketat. Pastikan setiap pelayan, pengawal, dan pekerja di sini adalah orang-orang yang benar-benar setia, tidak ada mata-mata yang menyusup. Dan kirim utusan rahasia ke pangkalan pasukan pribadiku... minta mereka bersiaga penuh, siap bergerak dalam hitungan detik atas perintahku."
"Dimengerti, Tuan Muda. Segera akan saya laksanakan!" jawab A-Ming tegas, lalu mundur beberapa langkah berniat pergi melaksanakan tugas.
"Tunggu," cegah Shen Yue tiba-tiba. Ia melangkah maju sedikit, menatap A-Ming lalu kembali menatap Xiao Yi. "Ada satu hal lagi, dan ini sangat penting."
Xiao Yi mengangkat alisnya, menatap penasaran. "Apa itu?"
Shen Yue menatap keduanya dengan pandangan serius dan mendalam.
"Di istana nanti, senjata, kekuatan fisik, atau pasukan tidak akan banyak membantu. Di sana, mereka bermain dengan kata-kata, tatapan, aturan, dan rasa hormat. Bahaya terbesar bukanlah pedang yang menusuk dari depan, tapi racun yang dimasukkan ke minuman, atau fitnah yang diucapkan berbisik. Jadi, A-Ming... selain mengumpulkan informasi, aku ingin kau mencari tahu tentang kebiasaan Kaisar, makanan apa yang ia sukai, obat apa yang ia konsumsi, siapa saja selir dan penasihat kepercayaannya, dan bagaimana aturan sopan santun serta adat istiadat di istana. Kita harus tahu aturan main mereka agar kita bisa memainkannya lebih baik, atau melanggarnya dengan alasan yang membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa."
Shen Yue menoleh kembali ke arah Xiao Yi.
"Dan untukmu, Xiao Yi... selama tujuh hari ini, selain bersiap fisik dan keamanan, kau harus mengajari aku. Ajari aku siapa saja musuh dan sekutu kita, ajari aku cara membaca situasi di meja makan atau ruang sidang, ajari aku cara berbicara agar tidak terjebak, dan ajari aku tentang setiap orang penting yang akan kita temui nanti. Aku harus tahu siapa yang harus aku tatap, siapa yang harus aku abaikan, dan siapa yang harus aku jawab dengan kata-kata manis namun tajam."
Xiao Yi menatap gadis itu dengan takjub dan rasa kagum yang makin dalam. Ia berpikir hanya dirinya yang akan melindungi, tapi ternyata Shen Yue sudah bersiap untuk bertarung berdampingan, menggunakan senjata kecerdasan dan kebijaksanaan yang jauh lebih berbahaya daripada besi tajam mana pun.
"Baiklah," jawab Xiao Yi mantap. "Aku akan mengajari kau segalanya. Kau akan tahu lebih banyak tentang intrik istana daripada putri kerajaan itu sendiri."
"Dan satu hal lagi," tambah Shen Yue pelan, matanya melirik ke arah luar jendela, ke arah taman belakang. "Aku harus ke taman. Aku harus merawat bunga-bunga itu, membuat mereka tumbuh sekuat mungkin sebelum kita pergi. Karena bunga-bunga itu... adalah bagian dari kita. Energi yang ada di sana, kehidupan yang tumbuh di sana... itu adalah bukti nyata dari apa yang kita miliki. Dan nanti, saat kita masuk ke istana, aku akan membawa sesuatu dari sana. Sesuatu yang akan membuat mereka sadar bahwa apa yang kita miliki adalah sesuatu yang tidak bisa mereka ambil, tiru, atau hancurkan."
Xiao Yi mengangguk, mengerti makna di balik kata-kata itu. Ia memberi isyarat pada A-Ming untuk pergi. "Laksanakan semua perintah itu, A-Ming. Dan pastikan tidak ada satu pun kebocoran informasi."
"Siap, Tuan Muda!" A-Ming membungkuk dalam-dalam, lalu berbalik berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat dan tegas, meninggalkan mereka berdua kembali sendirian.
Setelah kepergian pengawal setia itu, Xiao Yi mengulurkan lengannya, mengajak Shen Yue berjalan keluar ruang tamu.
"Ayo kita ke taman," ucap Xiao Yi lembut namun penuh tekad. "Aku ingin melihat apa yang akan kau buat. Dan aku ingin berada di dekatmu setiap detik selama tujuh hari ini. Aku tidak mau membuang waktu, dan aku tidak mau kau jauh dariku sedikit pun."
Bersama-sama, mereka berjalan menyusuri lorong-lorong kediaman yang kini terasa berbeda. Dulu, setiap sudut tempat ini penuh dengan ketakutan, kedinginan, dan kesepian. Namun kini, ada denyut kehidupan yang baru, ada rasa tujuan yang kuat, dan ada ikatan cinta yang terasa kian erat mengikat jiwa mereka.
Sesampainya di taman belakang, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih indah dari yang mereka bayangkan. Hanya dalam satu malam, bibit-bibit yang mereka tanam kemarin telah berubah drastis. Batangnya tumbuh tegak dan kuat, daun-daunnya hijau segar dan berkilauan karena embun pagi, dan beberapa di antaranya bahkan sudah mulai menguncupkan bakal bunga yang berwarna cerah.
Udara di sini terasa sejuk, harum, dan sangat hidup. Aroma damai yang memancar dari tempat ini begitu kuat hingga membuat burung-burung kini berani datang hinggap di dinding tinggi sekitar taman, berkicau riang memecah keheningan yang dulu mutlak.
Xiao Yi berdiri diam di ambang pintu taman, menatap pemandangan itu dengan mulut sedikit terbuka tak percaya. Ia sudah hidup puluhan tahun di kediaman ini, sudah puluhan tahun taman ini mati dan gersang, tidak ada apa pun yang bisa hidup. Tapi kini... dalam waktu kurang dari dua hari... tempat ini berubah menjadi surga kecil yang nyata.
"Keajaiban..." gumam Xiao Yi pelan, matanya menatap lekat-lekat setiap tanaman yang tumbuh subur itu. Ia melangkah masuk perlahan, seolah takut langkah kakinya yang berat akan merusak keindahan rapuh itu. "Kau benar, Yue. Tempat ini tidak mati. Dia hanya menunggu seseorang yang mau memahaminya, merawatnya, dan memberinya kasih sayang."
Shen Yue tersenyum bangga, berjalan mendekati bunga mawar merah tunggal yang kini tumbuh gagah di tengah taman, kelopaknya mekar sempurna dan sangat indah. Ia menyentuh batangnya yang berduri itu dengan hati-hati namun berani.
"Lihat mawar ini, Xiao Yi," ucap Shen Yue lembut. "Dia yang paling dulu bertahan. Dia yang paling kuat. Dia punya duri untuk melindungi dirinya, sama sepertimu. Dia terlihat indah dan lembut, tapi batangnya keras dan akarnya kuat. Dan dia tumbuh subur di tanah yang dulunya paling mati dan dingin."
Shen Yue berbalik menatap Xiao Yi yang kini berdiri tepat di sampingnya. Cahaya matahari pagi menerangi wajah tampan itu, menghapus bayang-bayang gelap yang biasanya selalu menyelimutinya.
"Nanti, saat kita pergi ke istana, aku akan memotong setangkai mawar ini. Aku akan membawanya bersamaku. Dan saat Kaisar atau siapa pun bertanya tentang kekuatan kami, tentang rahasia kami... aku akan menunjukkan bunga ini. Aku akan memberi tahu mereka bahwa kekuatan kami adalah kemampuan untuk bertahan hidup di tengah dingin, kemampuan untuk tumbuh meski tanahnya keras, dan kemampuan untuk tetap indah meski penuh duri. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka miliki, karena hati mereka terlalu kering dan terlalu gelap untuk menumbuhkannya."
Xiao Yi menatap gadis itu dengan pandangan yang begitu dalam, begitu penuh kekaguman dan cinta yang meluap-luap hingga nyaris tak tertahankan. Ia tidak lagi ragu, tidak lagi takut. Ia tahu, apa pun yang terjadi di istana nanti, Shen Yue bukanlah korbannya. Shen Yue adalah pemenangnya.
Ia mengulurkan tangannya, merangkul bahu Shen Yue dan menariknya mendekat, membiarkan gadis itu bersandar di dadanya, menikmati kehangatan dan kedamaian taman itu bersama-sama.
"Kau benar," bisik Xiao Yi di atas kepalanya. "Biarkan mereka datang dengan segala kekuasaan, kekayaan, dan kepintaran mereka. Pada akhirnya, mereka hanya akan melihat betapa kecilnya mereka dibandingkan dengan apa yang kita miliki. Aku, kau, Xiao Lei, Xiao Mo, dan taman ini... kita adalah satu. Dan kita tidak akan pernah tunduk pada siapa pun."
Angin pagi berhembus lembut, menggoyangkan kelopak bunga-bunga yang mulai mekar itu, membawa aroma manis yang menyebar ke seluruh penjuru kediaman, bahkan mungkin ke luar gerbangnya, memberitahu dunia bahwa di tempat yang dulu dianggap terkutuk itu... kini tumbuh kekuatan baru yang indah, kuat, dan tidak tergoyahkan.
Tujuh hari ke depan akan menjadi masa persiapan yang sibuk, penuh pembelajaran, latihan, dan strategi. Bahaya besar menanti di depan sana, di balik tembok tinggi istana kekaisaran. Namun di sini, di taman kecil yang damai ini, dua jiwa yang saling menyembuhkan itu berdiri tegak, penuh keyakinan, siap menghadapi badai apa pun yang akan datang... karena mereka tahu, selama mereka bersama, mereka adalah rumah, kekuatan, dan keajaiban satu sama lain.