NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Aksi Nekat di Jalan Raya

****

Kehangatan dari dekapan Saka terasa sangat kontras dengan suhu kafe tua yang kian mendingin seiring berjalannya waktu. Namun, rasa nyaman yang sempat singgah itu hanya bertahan sesaat sebelum gelombang cemas yang jauh lebih besar kembali menyergap seluruh isi kepalaku. Aku perlahan melepaskan diri dari pelukan eratnya, lalu menatap wajah tegas Saka yang kini tampak sangat serius di bawah temaram lampu gantung yang kuning.

"Sak, lo harus segera pergi dari sini sekarang juga. Kalau Devan sadar jam tangan dan alat perekam suaranya hilang dari ruang OSIS, dia pasti bakal langsung melacak keberadaan lo. Lo tahu sendiri kan kalau dia punya koneksi di mana-mana, termasuk anak-anak ketertiban OSIS yang sengaja disebar buat jadi mata-matanya?" ucapku dengan suara bergetar menahan ketakutan yang luar biasa.

Saka hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa jauh lebih dewasa namun tetap memancarkan kesan berandal yang sangat berbahaya. "Biarkan saja dia melacak, Mik. Justru momen itu yang paling gue tunggu-tunggu sejak seminggu ini. Gue gak bakal pergi selangkah pun dari sini sebelum memastikan lo bener-bener aman dari jangkauan tangan manipulasinya malam ini."

Tiba-tiba, keheningan di antara kami pecah saat ponsel yang kupegang di tangan kembali bergetar panjang. Kali ini bukan lagi pesan teks dari nomor asing misterius, melainkan sebuah panggilan telepon masuk secara langsung dari Devan. Nama "Devan Ketos 👑" yang berkedip-kedip di atas layar ponsel seketika membuat jantungku serasa berhenti berdetak di tempat.

"Jangan pernah berani lo angkat telepon dari dia, Mik," bisik Saka dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dingin.

"Kalau gue gak angkat telepon ini sekarang, dia bakal makin curiga dan bisa berbuat nekat, Sak!" balasku dengan nada panik yang setengah berbisik. Dengan telapak tangan yang gemetar hebat, aku akhirnya nekat menekan tombol hijau di layar sebelum Saka sempat bergerak untuk melarangku lebih jauh lagi.

"Mikaela? Kamu sekarang lagi ada di mana?" Suara Devan terdengar sangat tenang dari seberang sambungan telepon. Suaranya terlalu tenang, hingga memancarkan aura dingin yang terasa menusuk sampai ke dalam tulang sumsumku. "Tadi aku sengaja mampir ke rumah kamu buat mengantarkan buku yang tertinggal, tapi orang tua kamu bilang kamu gak ada di kamar. Kamu nekat keluar rumah tanpa izin dari aku lagi, ya?"

"G-gue... gue cuma butuh udara segar sebentar, Dev. Tadi kepala gue agak pusing, makanya gue jalan-jalan sebentar di sekitar komplek perumahan," jawabku berbohong, berusaha sekuat tenaga menahan pita suaraku agar tidak pecah atau terdengar gugup.

"Oh, begitu ceritanya?" Devan terkekeh pelan di seberang sana, sebuah kekehan pendek yang membuat bulu kudukku meremang hebat. "Menarik sekali. Soalnya aku sekarang lagi berdiri tepat di depan kafe tua ujung jalan komplek rumah kamu. Aku lihat mobil jemputan kamu nggak ada di sini, tapi aku jelas banget melihat motor sport hitam milik Saka terparkir di depan. Kamu lagi ada di dalam sana sama dia, kan, Mika?"

Dunia di sekitarku seolah-olah berhenti berputar detik itu juga. Devan sudah berada di depan kafe tua ini.

"Saka, gawat... Devan udah ada di luar!" bisikku dengan wajah yang pucat pasi, langsung melempar ponselku begitu saja ke atas meja kayu yang berdebu.

Saka tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Mata elangnya justru berkilat tajam penuh adrenalin. Dia langsung menyambar jaket kulit hitamnya yang tergeletak di kursi, lalu dengan satu gerakan cepat menarik pergelangan tangan kananku. "Gak ada waktu lagi, Mik. Kita lewat pintu belakang sekarang!"

Kami berdua berlari kencang menembus area dapur kafe tua yang berantakan, keluar menuju sebuah gang sempit yang gelap di bagian belakang bangunan. Hujan gerimis sore di luar kini sudah mulai mereda menjadi rintik-rintik kecil yang dingin. Saka langsung menuntun langkah kakiku ke arah motor sport hitam mewahnya yang sengaja dia parkir agak jauh di balik tembok beton pembatas jalan komplek.

"Naik sekarang, Mik! Pegangan yang erat!" perintah Saka dengan nada suara yang sangat tegas dan tidak menerima bantahan apa pun.

Tanpa berpikir panjang lagi tentang risiko keselamatan diriku, aku langsung naik ke atas jok belakang motor sport-nya. Begitu kedua tanganku memeluk pinggang tegap Saka dengan sangat erat, Saka langsung menstarter motornya, menimbulkan raungan mesin besar yang memecah kesunyian malam komplek. Baru saja ban motor kami melaju keluar dari mulut gang sempit, sebuah mobil sedan mewah hitam melesat cepat dari arah berlawanan, mencoba memblokir jalan keluar kami dengan sengaja.

Itu adalah mobil pribadi milik Devan Dirgantara.

"Saka, awas di depan! Jangan ditabrak!" teriakku histeris, langsung memejamkan mata erat-erat karena ketakutan.

Saka sama sekali tidak menginjak pedal rem motornya. Justru sebaliknya, dia memutar tuas gas motor sport-nya hingga mencapai batas maksimal. Motor besar itu melesat cepat seperti sebutir peluru di atas jalanan aspal komplek yang masih sangat licin pasca-hujan. Devan, yang tidak menyangka bahwa Saka bakal bertindak senekat itu, terpaksa melakukan manuver tajam demi menghindari tabrakan, membuat moncong mobil mewahnya hampir saja menghantam tembok beton pembatas jalan.

Aksi kejar-kejaran yang menegangkan pun resmi dimulai. Di tengah pekatnya malam dan jalanan komplek yang sepi, Saka bermanuver dengan keahlian balap liarnya yang luar biasa. Dia menyelip dengan lincah di antara beberapa kendaraan roda empat yang melintas lambat, sementara mobil sedan hitam milik Devan terus membuntuti kami dari belakang dengan kecepatan yang tidak kalah tingginya.

"Dia bener-bener udah gila, Sak! Devan gak bakal berhenti sebelum berhasil nabrak kita!" teriakku di telinga Saka, air mata mulai mengabur di sudut mataku karena terpaan angin malam dan sisa rintik air hujan yang menghantam wajahku dengan keras.

"Gue minta lo tetap pegang yang erat ke tubuh gue, Mikaela! Gue gak bakal biarin tangan iblisnya menyentuh lo lagi malam ini!" teriak Saka balik memecah suara deru angin, matanya terus berfokus menatap tajam ke arah kaca spion samping untuk memantau pergerakan mobil musuhnya.

Saka terus menambah kecepatan motornya, melibas lampu lalu lintas di perempatan jalan komplek yang mulai berubah warnA dari kuning menjadi merah. Devan, yang selama hidupnya di sekolah dikenal sebagai sosok yang sangat taat pada aturan hukum, kali ini tampak benar-benar telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Amarah dan obsesi posesifnya membuat dia mengabaikan semua aturan rambu lalu lintas jalan raya demi mengejar kami.

Kami melesat keluar dari area komplek, masuk menuju jalan raya utama kota. Saka dengan cerdik sengaja membawa rute pelarian kami masuk ke area jalur hijau yang penuh dengan truk-truk kontainer besar bermuatan berat, sebuah medan jalan di mana mobil sedan mewah berbadan lebar milik Devan akan sangat kesulitan untuk melakukan manuver menyalip.

"Saka, di depan ada truk besar! Ini bener-bener bahaya banget!" teriakku lagi, semakin menenggelamkan wajahku di punggung jaket kulit milik Saka.

"Gue tahu apa yang lagi gue lakuin sekarang, Mik! Lo percaya sama gue!"

Tepat di depan moncong motor kami, sebuah truk kontainer berukuran besar sedang berjalan sangat lambat di lajur kiri. Dengan perhitungan yang sangat matang dan nekat, Saka menggunakan celah sempit di sisi kiri jalan, menyalip badan truk kontainer itu hingga setang motor kami hampir saja menyenggol bagian besi roda truk. Devan yang berada tepat di belakang kami terpaksa menginjak rem mobilnya dalam-dalam hingga menimbulkan suara decitan ban yang nyaring, karena jalurnya tertutup sepenuhnya oleh badan truk besar tersebut.

Saka tidak menyia-nyiakan jeda waktu emas itu. Dia langsung membelokkan setang motornya secara tajam, masuk ke dalam sebuah lorong sempit yang mengarah ke area bawah jembatan layang yang gelap dan terbengkalai. Setelah memastikan jarak kami sudah cukup jauh dan tidak terkejar lagi, Saka mematikan seluruh lampu motor sport-nya, melaju perlahan menembus kegelapan bawah jembatan, lalu menepi di sudut yang paling tersembunyi.

Kami berdua terengah-engah di atas motor. Deru napas kami tidak beraturan, berkejaran dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang karena sisa adrenalin kejar-kejaran tadi. Aku perlahan turun dari atas jok motor dengan kedua kaki yang terasa sangat lemas dan bergetar hebat. Saka ikut turun dari motornya, wajah tampannya yang dipenuhi keringat dingin langsung menatapku dengan binar mata yang sarat akan rasa cemas.

"Lo... lo gak apa-apa, kan, Mik? Ada bagian tubuh lo yang terluka?" tanyanya sambil memegang kedua bahuku dengan lembut, memeriksa kondisiku.

"Gue... gue takut banget, Sak," rintihku, air mataku akhirnya tumpah seutuhnya menembus pertahanan egoku sore itu.

Tanpa banyak bicara lagi, Saka langsung menarik tubuh rapuhku ke dalam pelukan hangatnya. Di tengah kegelapan dan dinginnya area bawah jembatan layang malam itu, aku merasa seluruh kompas kehidupanku telah berubah total. Devan tidak lagi sekadar menjadi seorang Ketua OSIS manipulatif yang mengurungku di dalam kelas, dia telah menjelma menjadi ancaman nyata yang berbahaya bagi keselamatanku. Dan Saka... cowok *red flag* ugal-ugalan ini, baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri di atas aspal jalan raya hanya untuk membawaku pergi dari sangkar emas itu.

Malam itu, di bawah jembatan yang sunyi, kami berdua akhirnya menyadari satu hal dengan sangat jelas. Tidak akan ada lagi jalan kembali ke masa lalu yang tenang. Perang dingin asmara di antara dua cowok *red flag* ini telah resmi meninggalkan zona aman lingkungan sekolah, dan kini melangkah masuk ke dalam realitas dunia nyata yang jauh lebih liar, gelap, dan mengancam keselamatan hidup kami bertiga.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **Gila, adrenalinnya bener-bener dapet banget di Bab 16 ini, guys!** Sesuai permintaan pembaca setia **@ujang_Bonang**, bab ini sengaja diketik dengan narasi yang jauh lebih detail, panjang, dan mendalam biar ketegangan aksi kejar-kejaran motor sport Saka melawan mobil mewah Devan di jalan raya terasa nyata sampai ke pembaca!

> Kita bisa melihat perubahan emosi Devan yang biasanya sangat disiplin, dingin, dan rapi, kini mulai kehilangan kewarasannya akibat obsesi posesif yang mendalam pada Mika. Di sisi lain, Saka bener-bener membuktikan sisi *bad boy* setianya yang tak kenal takut mati demi melindungi orang yang dia cintai dari kurungan beracun tersebut. Hubungan segitiga ini sekarang udah masuk ke level bahaya yang sesungguhnya!

> Menurut kalian, apa langkah ekstrem selanjutnya yang bakal diambil Devan setelah dia gagal menangkap Mika dan Saka di jalan raya tadi malam? Apakah dia bakal menggunakan pengaruh kekuasaan keluarganya?

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!