Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perawakan Sang Calon Legenda
Lokasi: Rumah keluarga Pratama, kawasan Buduran, Sidoarjo. Halaman rumah yang rapi dan luas, beralaskan tanah keras yang dipadatkan, sisa kebiasaan Ayah Rudi saat masih bertugas militer yang menyukai keteraturan.
Waktu: Awal Juli 2011, pukul 06.00 pagi. Matahari baru saja terbit separuh, memancarkan cahaya keemasan yang hangat namun belum terlalu menyengat. Angin pagi berhembus sejuk dari arah selatan, membawa aroma air laut dan tambak yang khas kota Sidoarjo. Kabut tipis masih terlihat menempel di pucuk-pucuk pohon mangga di pinggir jalan.
Pagi ini, suasana rumah terasa berbeda. Sejak malam sebelumnya, setelah Dika membuka semua rahasia besarnya—mengenai penolakan tawaran Persebaya, kekayaan yang ia miliki, dan rencana besarnya ke Inggris—rasa berat di dada Dika hilang sepenuhnya. Kini, ia berdiri tegak di tengah halaman rumah, sedang melakukan pemanasan ringan sebelum memulai latihan fisik hariannya. Di teras rumah, duduklah Ayah Rudi, Ibu, dan Rina yang sedang menyaksikan dengan tatapan penuh rasa bangga dan kekaguman.
Dika kini berusia 17 tahun, dan di usia itu, perawakan fisiknya telah terbentuk sempurna, menggabungkan keturunan gagah Ayahnya dan kehalusan raut wajah Ibunya. Jika dilihat secara utuh, Dika memiliki postur tubuh yang sangat istimewa, jauh berbeda dari anak-anak muda seusianya yang kebanyakan masih kurus atau belum terbentuk.
Secara fisik, Dika memiliki tinggi badan mencapai 179 cm, dengan berat badan 72 kilogram. Tubuhnya tidak terlalu besar dan kekar seperti petinju, namun padat, berotot, dan sangat seimbang—tipe tubuh atlet kelas dunia yang ramping namun kuat, kokoh, dan lincah. Bahunya lebar dan bidang, mewarisi bentuk tubuh Ayahnya yang mantan prajurit, namun pinggangnya ramping, membuat gerakannya di lapangan menjadi sangat luwes dan gesit. Setiap lekuk otot di lengannya, perutnya, dan kakinya terlihat jelas di balik keringat pagi, hasil dari latihan bertahun-tahun yang disiplin, seolah-olah tubuhnya dipahat satu per satu dengan teliti. Kulitnya berwarna sawo matang cerah, terkena sinar matahari setiap hari sehingga terlihat sehat dan bercahaya, tidak terlalu gelap namun juga tidak pucat.
Wajah Dika berbentuk lonjong dengan rahang yang tegas dan kokoh, menandakan karakter yang kuat dan pendirian yang teguh. Kulit wajahnya bersih, terawat, namun ada sedikit jejak luka gores kecil di dekat alis mata kanannya—bekas benturan saat berebut bola di kejuaraan tingkat kabupaten dulu, sebuah tanda kecil dari keberaniannya. Alisnya tebal dan hitam pekat, melengkung rapi di atas sepasang mata yang paling menonjolkan karakternya: mata berwarna cokelat tua, tajam namun hangat, berbinar cerdas dan penuh percaya diri. Orang yang menatap matanya akan merasa seolah-olah Dika bisa membaca isi hati mereka, tatapannya fokus dan tenang, persis seperti pandangan seorang pemimpin atau komandan lapangan. Hidungnya mancung dan lurus, bibirnya berbentuk indah dengan garis yang tegas, sering kali tertutup senyum tenang yang membuatnya terasa ramah namun tetap berwibawa. Rambutnya hitam legam, lurus, dan tebal, dipotong pendek rapi di sisi samping dan sedikit lebih panjang di atas, gaya rambut sederhana namun membuatnya terlihat gagah dan berkarisma.
Kakinya panjang dan lurus, dengan betis yang berotot kering dan kuat—kunci dari kecepatan larinya yang luar biasa dan tendangannya yang keras namun akurat. Telapak kakinya sedikit lebar dan melengkung sempurna, ciri khas pemain bola berbakat yang memiliki keseimbangan tubuh prima dan sentuhan bola yang lembut.
Saat ini, Dika hanya mengenakan celana pendek olahraga warna biru tua dan kaos kutang putih yang sudah agak lusuh namun bersih, membiarkan udara pagi menyentuh kulitnya yang berkeringat. Ia mengayunkan lengannya ke kiri dan ke kanan, memutar pinggangnya dengan gerakan halus namun terkontrol sempurna. Gerakannya luwes, ringan, namun berisi kekuatan besar yang tersimpan.
Ayah Rudi menyaksikan setiap gerakan anak sulungnya itu dengan mata berbinar bangga. Sebagai mantan tentara yang paham betul tentang fisik, disiplin, dan pembentukan karakter, Ayah melihat sesuatu yang sangat langka pada diri Dika.
"Lihat itu, Bu..." bisik Ayah Rudi sambil menunjuk ke arah halaman. "Lihat postur tubuhnya. Keseimbangannya, ketegasan gerakannya... Itu bukan sekadar karena bakat. Itu hasil dari disiplin latihan yang luar biasa. Dia membentuk tubuhnya sendiri, sama seperti kami membentuk diri kami saat di akademi militer dulu. Tapi Dika... dia lebih sempurna. Tubuhnya dibuat khusus untuk berlari, untuk menguasai ruang, untuk mengendalikan bola."
Ibu tersenyum lembut sambil menyodorkan segelas air hangat ke bibir Ayah. "Ibu selalu tahu anak kita istimewa, Yah. Lihat wajahnya... dia tampan sekali, bukan? Tapi ketampanannya itu bukan cuma karena bentuk wajahnya, tapi karena ada cahaya kecerdasan dan kebaikan di matanya. Itu yang bikin dia terlihat beda dari anak-anak lain."
Di samping mereka, Rina Pratama, adik kecil Dika yang berumur 13 tahun, duduk bersila di kursi teras dengan dagu bertumpu pada kedua tangannya, menatap kakaknya dengan pandangan penuh kekaguman. Bagi Rina, Kak Dika adalah laki-laki paling gagah, paling kuat, dan paling hebat di seluruh dunia.
"Kakak keren banget ya, Bu... Badannya tegap, tingginya pas, jalannya saja kelihatan berwibawa. Nanti kalau Kakak Dika main di Inggris, pasti banyak orang sana yang kaget lihat orang Indonesia punya fisik sebagus itu," kata Rina riang, membuat Ayah dan Ibu tertawa kecil.
Dika menyelesaikan gerakan pemanasannya, lalu berbalik menghadap teras rumah. Keringat mulai menetes membasahi pelipis dan lehernya, membuat kulit sawo matangnya berkilau terkena sinar matahari pagi. Ia tersenyum lebar saat melihat keluarganya sedang memperhatikannya. Senyum itu mengubah seluruh rupa wajahnya yang tadinya serius dan tajam menjadi sangat ramah, hangat, dan menawan, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Pagi, Ayah, Ibu, Rina... Kok bangun pagi-pagi begini? Biasanya Rina masih mimpi indah jam segini," sapa Dika dengan suara bicaranya yang berat, berkarisma, namun lembut dan merdu—suara yang sama yang membuat jutaan pendengar di internet jatuh cinta pada nyanyiannya.
Rina berlari kecil menghampiri kakaknya, lalu menepuk-nepuk lengan kekar Dika yang keras seperti batu.
"Kan kami mau lihat Kakak latihan! Lagian Kakak kelihatan keren banget pas lagi gerak-gerak gitu. Kakak... emang Kakak nggak capek tiap hari latihan keras? Badan Kakak kan udah bagus banget, tinggi, kuat, jago lari..."
Dika tertawa renyah, lalu mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. Ia menunduk sedikit karena tingginya jauh melampaui adik kecilnya itu.
"Kamu tahu, Rina... Di sepak bola, fisik itu adalah senjata utama. Ayah dulu selalu bilang kan, badan yang kuat menyimpan jiwa yang tangguh? Kalau fisikku saja belum maksimal, bagaimana aku bisa bertahan di sana, di Inggris? Di sana pemain-pemainnya besar-besar, tinggi-tinggi, dan sangat kuat. Kalau aku masuk sana dengan kondisi biasa saja, aku bakal seperti anak kecil yang dilawan sama orang dewasa."
Ayah Rudi berjalan mendekat, langkah kakinya masih tegap meski sudah pensiun. Ia berdiri di samping Dika, dan terlihat jelas bahwa meski Ayah juga cukup tinggi dan besar, Dika kini sudah sedikit lebih tinggi dan lebih berisi ototnya, evolusi fisik yang sempurna dari generasi ke generasi. Ayah menepuk bahu anaknya yang lebar dan keras itu dengan bangga.
"Kamu benar, Dik. Fisikmu sudah luar biasa. Proporsinya indah, kekuatannya ada, kelincahannya juga terjaga. Itu modal besar. Tapi ingat... tubuh yang bagus ini ibarat senjata tajam. Kalau tidak diisi dengan otak yang cerdas dan hati yang baik, senjata itu bisa berbahaya. Tapi kalau kamu miliki semuanya... kamu jadi prajurit yang tak terkalahkan."
Dika mengangguk hormat. "Siap, Ayah. Itu sebabnya aku latihan fisik, aku belajar taktik, aku belajar bahasa, aku belajar budaya. Semuanya harus seimbang. Badan bagus, otak encer, akhlak mulia. Itu yang Ayah ajarkan sejak aku kecil."
Matahari makin meninggi, menyinari sepenuhnya wajah dan tubuh Dika. Dari kejauhan, jika ada orang yang lewat di depan rumah, mereka pasti akan tertegun melihat sosok pemuda itu. Perawakan Dika memang sangat mencolok: tegap, tinggi, berkarisma, dan memancarkan aura kekuatan yang tenang. Tidak ada satu pun bagian dari tubuhnya yang berlebihan atau kurang. Bahkan kakinya yang panjang itu terlihat sangat serasi dengan batang tubuhnya yang bidang.
Namun di balik fisik yang mengagumkan itu, yang paling membuat Dika istimewa bukan sekadar otot atau tinggi badannya. Melainkan cara ia bergerak. Ada keanggunan dan efisiensi di setiap gerakannya. Saat ia berjalan, ia tidak berjalan sembarangan, ia berjalan dengan langkah lebar, pasti, dan seimbang, seolah-olah setiap langkahnya memiliki tujuan. Saat ia menggerakkan lengannya, gerakannya luwes namun terarah, tidak ada tenaga yang terbuang percuma. Itu adalah tubuh yang telah dilatih, dipelajari, dan dikuasai sepenuhnya oleh pemiliknya.
"Ayah perhatikan, kaki kakimu..." kata Ayah Rudi sambil menunjuk ke bawah. "Telapak kakimu kok lebar dan melengkung bagus sekali? Itu tanda keseimbangan yang hebat. Di militer, kami selalu cari rekrutan dengan bentuk kaki seperti itu, karena mereka paling kuat berjalan jauh, paling tahan beban berat, dan paling lincah di medan sulit. Ternyata kamu mewarisi itu semua dari Ayah, tapi dikembangkan lebih jauh lagi buat sepak bola."
"Iya, Pak. Aku selalu menjaga bentuk kakiku. Aku jarang pakai sandal jepit sembarangan kalau tidak perlu, aku selalu pijat betisku, aku selalu latihan keseimbangan satu kaki. Karena bagi pemain bola, kaki adalah nyawanya. Sentuhan bola, lari, belok, berhenti... semuanya berpusat di sini," jawab Dika sambil mengangkat sedikit kakinya yang berotot kering namun lentur.
Ibu datang membawa handuk bersih dan sebotol air mineral dingin. Ia mengelap keringat di dahi dan leher anaknya dengan penuh kasih sayang, sedikit merapikan rambut hitam tebal anaknya yang sedikit berantakan kena angin.
"Kamu ini... makin lama makin gagah saja, Le. Kalau Ibu lihat-lihat lagi, rasanya nggak rela kamu pergi jauh-jauh ke Inggris nanti. Di sini saja sudah banyak mata yang melirik, apalagi di sana," kata Ibu sambil tersenyum sedih namun bangga.
Dika tertawa, lalu memeluk bahu Ibunya dengan tangan kekarnya itu dengan sangat lembut dan hati-hati, seolah-olah memegang benda paling rapuh dan berharga.
"Di mana pun aku berada, Ibu tetap satu-satunya wanita terpenting dalam hidupku. Dan Rina juga, tentunya," kata Dika sambil mengedipkan mata ke arah adiknya yang tersenyum lebar sampai menyibakkan gigi-giginya yang rapi.
Pagi itu berlalu dengan hangat. Dika melanjutkan latihannya: berlari mengelilingi komplek perumahan dengan kecepatan tinggi yang membuat anak-anak muda lain yang sedang bersepeda hanya bisa melongo melihat sosok tinggi besar yang berlari ringan seolah tidak terbebani gravitasi. Ia berhenti di pinggir jalan, melakukan latihan kelenturan tubuh yang memukau, menekuk kakinya ke belakang sampai menyentuh punggung dengan mudahnya—tanda kelenturan otot yang luar biasa.
Setiap gerakan, setiap lekuk tubuh, setiap sorot mata Dika... semuanya menceritakan satu hal: Pemuda ini bukan anak biasa. Ia adalah hasil didikan disiplin seorang prajurit, kasih sayang seorang ibu, dan tekad baja yang tumbuh di tanah Sidoarjo. Fisiknya adalah mahakarya, senjatanya yang paling nyata untuk menaklukkan dunia sepak bola.
Siang harinya, saat Dika duduk makan bersama keluarga, Rina dengan ceria berkata, "Kakak... kalau nanti kamu main di Inggris, pasti banyak majalah yang mau foto badan Kakak ya? Kakak kelihatan kayak pahlawan di film-film!"
Ayah Rudi tertawa keras, suara beratnya menggema di ruang makan. "Bukan cuma karena bentuknya, Rina. Tapi karena apa yang ada di dalamnya. Otot yang kuat, tulang yang kokoh, tapi yang paling kuat itu hatinya. Itu warisan keluarga Pratama kita."
Dika hanya diam tersenyum, menatap pantulan dirinya di cermin kecil di sudut ruangan. Ia melihat sosok pemuda tegap, berwajah tegas namun ramah, berpostur atletis sempurna, dengan mata yang memandang jauh ke depan. Ia tahu, fisik ini adalah bekal. Tapi tekad, kecerdasan, dan kasih sayang pada keluargalah yang akan membawanya terbang tinggi.
Tinggal satu tahun lagi. Tubuhnya sudah siap, pikirannya sudah tajam, ekonominya sudah aman. Dika Pratama, pemuda gagah berpostur 179 cm dari Sidoarjo, anak pensiunan tentara, pemilik kekayaan rahasia milyaran rupiah, kini tinggal menghitung hari untuk melesat menuju Eropa.
Perjalanan makin nyata. Sang pejuang sudah lengkap perlengkapannya.