"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Di sesatkan
Putri akhirnya tidak tahan dan Dia memutuskan untuk keluar dari dalam rumah untuk mencari keberadaan Agus, bila dihitung ini sudah ada sekitar satu jam Agus keluar dari dalam rumah dan suara kambing juga sudah terdiam saja tadi namun dia tak kunjung masuk kembali ke dalam rumah sehingga jelas saja Putri merasa cemas.
Sebenarnya Putri juga agak ragu ketika akan keluar dari dalam rumah karena dia mengetahui malam ini adalah malam yang sangat menegangkan untuk semua orang, namun rasa cemas yang dia miliki kepada orang tua jauh lebih besar dari rasa takut itu sehingga dia memutuskan untuk keluar dan mencari keberadaan Agus.
Andai saja tadi Agus mengabaikan suara kambing tersebut maka tidak akan ada tragedi seperti ini, namun apa mau dikata karena memang tidak ada yang mengetahui tentang nasib manusia sehingga hanya bisa pasrah dan kemudian menyesal ketika sudah terjadi nasib buruk itu, tidak mungkin juga rasa menyesal ada di bagian depan.
Maka kali ini Putri harus memberanikan diri untuk keluar dari dalam rumah dan mencari keberadaan Agus yang ada di kandang kambing, walau jantung berdebar kencang namun tetap saja Dia memutuskan untuk keluar dan angin malam meniup tubuh gadis ini dengan begitu halus sehingga membuat suasana semakin seram saja dia rasakan.
"Rasa nya kalau siang tidak sejauh inilah kandang kambing ini, tapi malam begini terasa begitu jauh." keluh Putri di dalam hati.
Sebab dia memang merasakan seolah kandang kambing ini terasa begitu jauh sekali, kaki sudah berjalan sejak tadi namun tidak kunjung sampai di kandang kambing tersebut sehingga gadis ini menoleh ke sana kemari untuk memastikan apa memang tujuan dia adalah kandang kambing atau tempat lain.
"Ya Allah ini sudah bukan daerah rumah ku lagi!" Putri terkaget-kaget karena dia tidak di kawasan rumah dia sendiri.
"Lalu aku ini pergi ke mana Dan kenapa bisa secepat itu pergi dari rumah?" gumam Putri yang merasa bingung dan juga ketakutan.
"Ini pasti ada yang tidak beres dan mungkin saja arwah Mirasih sudah ingin membawa aku pergi." batin Putri dengan perasaan yang begitu cemas.
"Bocah goblok, kau sengaja aku sesatkan agar segera ketemu dengan Purnama tapi malah berprasangka buruk saja!" Maharani menggerutu kesal.
"Wajar saja dia bersikap seperti itu karena dia kan tidak tahu." Nilam berusaha membela Putri.
"Sudah lah, buat dia kembali berjalan dan menuju rumah Purnama saja." Maharani terlihat kesal dan menyuruh sang besti.
"Dasar gadis goblok, kadang kalau terlalu goblok jadi seperti ini ya sehingga mudah sekali untuk di kelabuhi." ujar Maharani.
"Kau dulu kalau tidak bodoh maka tidak akan menjadi arwah gentayangan seperti ini." cetus Nilam.
"Sialan kah ya, ada saja mulut mu itu untuk menyerang aku." Maharani terlihat tidak terima.
"Ya namanya manusia dan dia tidak tahu apa-apa ya jadi wajar saja kalau terlihat goblok." rutuk Nilam.
Putri memang ketakutan dan saat ini dia tengah dikuasai oleh dua kuntilanak ini untuk menuju rumah dari ratu ular yang akan memberikan pertolongan, sebab kabar dari arwah Mirasih yang telah gentayangan ke sana kemari untuk menyakiti banyak orang sampai sudah di telinga Ratu ular itu sehingga dia memutuskan untuk mengawasi apa yang terjadi di desa Bondowoso.
Nilam dan Maharani sudah mengetahui bahwa Agus meninggal dunia di kandang kambing itu, namun mereka justru tidak menemukan siapa dari pelaku karena sama sekali tidak ada jejak dari pembunuhan tersebut sehingga ketika Putri akan keluar dan melihat keadaan Agus maka mereka sengaja menyesatkan gadis itu.
Putri yang tidak tahu apa-apa tentu saja menjadi ketakutan dan dia merasa ini ada arwah jahat yang sengaja ingin membuat dia terperangkap, pikiran Putri tentu saja langsung mengarah kepada arwah Mirasih karena yang sedang meneror desa Bondowoso adalah arwah gadis itu, dan Putri juga hanya tahu tentang arwah Mirasih saja tanpa mengetahui tentang arwah lain.
...****************...
"Sudah Kakak kirim para member untuk melihat keadaan desa Bondowoso itu?" Arya menatap Purnama yang seperti biasa sedang membaca buku.
"Sudah, mungkin mereka sekarang sedang mengamati apa yang terjadi di desa tersebut." angguk Purnama.
"Kakak kenapa sekarang kalau membaca buku pakai kacamata?" Arya bertanya kembali.
"Ya karena mata ini sudah agak kabur jadi harus memakai kaca mata." Purnama menjawab pelan.
"Jadi kalau tidak pakai kacamata maka tidak kelihatan?" tanya Arya.
"Tidak."
"Jadi kalau siluman juga bisa mengalami mata minus?" Pangeran ular sedang sangat sibuk untuk bertanya.
"Bisa."
"Tapi kan tidak mungkin nanti kalau minus semakin tinggi lalu kakak bertempur memakai kacamata." ujar Arya.
Purnama menarik nafas panjang karena kadang dia juga agak kesal bila sudah menghadapi berbagai macam pertanyaan dari Arya ini, walau usia Pangeran ular sudah cukup tua namun dia tetap saja seperti anak kecil bila sedang dengan Purnama, belum lagi mereka memang yang tidak bisa kelihatan tambah tua sehingga sudah pasti wajah itu tetap terlihat awet muda.
Ini pasti Arya sedang gabut dan tidak ada pekerjaan sehingga datang untuk bertanya banyak kepada Purnama, memang kebiasaan mereka selalu seperti ini bila malam sedang tidak bisa tidur dan ada pekerjaan yang sedang mereka kerjakan, beda dengan ular bungsu yang memang banyak tidur seperti manusia biasa.
"Kaka....
"Kakak sedang membaca buku jadi tolong jangan banyak bertanya!" Purnama langsung memotong ucapan Arya.
"Ish mau diajak ngobrol saja tidak mau!" Arya merenggut kesal.
"Maka nya kau itu lebih baik menikah lagi karena sekarang Fatma juga sudah tidak pernah datang dalam mimpi kan, kalau menikah maka pasti akan menemukan teman untuk mengobrol." Zidan datang ikut berbicara.
"Mas Zidan tahu dari mana kalau Fatma tidak pernah datang lagi?" Arya menatap Abang ipar dia.
Zidan hanya tersenyum kecil karena sebenarnya dia tadi hanya menebak setelah melihat beberapa kali gelagat dari Arya, bila sebelumnya Arya pasti akan langsung masuk kamar saat sudah malam seperti ini karena dia sangat antusias untuk bertemu dengan arwah Fatma istri tercinta dia, namun sekarang itu sudah tidak dia lakukan lagi karena arwah Fatma memang sudah tidak ada sehingga Arya lebih banyak di luar dan mencari teman untuk mengobrol.
Dari anak-anak juga sama sekali tidak ada yang melarang bila Arya nanti ingin menikah lagi dengan wanita yang telah dia pilih, sebelumnya Kiara sempat menentang namun semakin dipikirkan maka dia semakin menyadari bahwa Arya juga butuh teman dalam hidup ini dan dia membutuhkan pendamping agar tidak selalu tenggelam dalam derita.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻
anak nya slah masih ja di bela