Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaget nikah (END)
"Benarkah?" tanyaku sambil menatap tajam matanya, berharap aku bisa menemukan kesungguhan di kedua matanya. Dan ya, tak kutemui sedikit pun keraguan di sana.
"Aku tidak seperti Sarah. Dia cantik dan penampilannya sopan sekali, tidak sepertiku. Lihat aku, aku jauh jika dibandingkan dengannya, bukan?" tanyaku lagi, masih dengan nada suara yang sedikit bergetar.
"Siapa yang bilang begitu? Itu cuma di pikiranmu saja, Ras. Begini ya... meskipun kamu tidak berhijab dan penampilannya tidak tertutup, dan lihat rambut kamu ini, macam pelangi saja, gonta-ganti melulu warnanya. Tapi aku yakin, seyakin-yakinnya, hati kamu baik dan cantik seperti wajah ini." Jelas Samudra sambil membelai pipiku dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.
"Mas, Sam lebih suka perempuan sepertiku atau perempuan seperti Sarah?" tanyaku lagi, seolah tidak puas dengan jawaban Samudra yang cukup panjang lebar tadi.
"Yang jelas, aku mencintaimu dengan seadanya kamu. Kamu yang keras kepala, tapi di sisi lain juga begitu penyayang. Kamu yang childish, meskipun aku tahu kamu bukan anak kecil lagi. Dan yang pasti, kamu yang terbaik yang Tuhan pilihkan untukku. Jadi, sudah ya, Ras, hentikan pikiran kamu yang aneh-aneh ini. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku dan juga perasaanku sama kamu."
Aku terdiam lagi mendengar ucapan Samudra. Bagaimana bisa aku mengabaikan seorang lelaki sebaik ini? Sungguh, kesabaran yang begitu luar biasa besar dalam menghadapi sikapku ini. Dan bagaimana mungkin aku tidak tersentuh karenanya?
Akhirnya, keraguan itu pun sirna dari kepalaku, dan aku pun tertidur dalam dekapan Samudra. Dan ini untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan menikah, aku begitu dekat dengannya.
Pagi-pagi, aku sudah terbangun. Aku mendapati diriku masih dalam pelukan Samudra ketika aku membuka mata tadi. Tak terasa, tersungging senyuman di bibirku ketika aku memandangi wajah yang berjarak begitu dekat denganku saat ini. Sepertinya, justru aku yang kini telah jatuh cinta sedalam ini pada sosok tampan di hadapanku yang bernama Samudra.
Aku menggerakkan tubuhku pelan-pelan, takut membangunkan Samudra yang masih terlelap. Aku sengaja bangun lebih dulu, dan entah kenapa, tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelum ini. Ya, aku ingin berperan sebagaimana mestinya sebagai seorang istri: merawat suamiku dengan baik. Sungguh, aku tidak ingin memberi celah untuk wanita mana pun masuk di antara aku dan Samudra.
Aku menuju dapur. Kulihat Bunda telah berada di sana, sedang menyiapkan masakan. Dengan antusias, aku menghampiri dan menyapanya.
"Bun, aku bantuin ya, aku mau belajar masak sama Bunda."
"Sudah bangun, Ras? Bunda malah seneng ada kamu di sini. Ya sudah, kamu mau masak apa, Sayang? Nanti kita masak bareng-bareng, ya."
Aku tersenyum senang mendengar jawaban Bunda. Sungguh, aku sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga yang super baik ini.
"Aku mau masak makanan kesukaan Mas Sam, Bun, tapi emm... tapi yang sederhana saja dulu ya, Bun, soalnya aku tidak pintar memasak," kataku malu-malu. Semoga Bunda tidak marah mendengar pengakuanku yang bodoh ini. Tapi lagi-lagi, Bunda menanggapinya hanya dengan tersenyum dan tentu saja, beliau sama sekali tidak menunjukkan raut yang tidak menyenangkan terhadapku.
Akhirnya, aku dan Bunda selesai memasak juga. Semua hasil karyaku yang tentu saja ada campur tangan Bunda juga sudah terhidang rapi di atas meja. Selesai menyiapkan semuanya, aku bergegas masuk ke kamar dan kemudian langsung membangunkan Samudra untuk menunaikan salat Subuh dulu.
Aku mendekati tempat tidur dan duduk di samping Samudra sambil pelan-pelan membangunkannya. "Mas, bangun! Sudah pagi. Mas Sam, nggak mau salat Subuh dulu? Sudah jam 5 lebih, loh."
"Astaghfirullah, aku kesiangan!" Samudra langsung saja terbangun, menyadari dirinya hampir kesiangan dan terlambat untuk salat Subuh.
"Ya sudah, aku salat dulu ya, Ras. Takut kehabisan waktu," ucapnya sambil berlalu dari hadapanku dengan terburu-buru. Dan aku merasa lucu melihatnya yang bertingkah gugup seperti itu.
"Kamu sudah salat, Ras?" tanya Samudra setelah dia menyelesaikan salatnya dan menghampiriku yang masih terduduk di atas tempat tidur, sembari terus memperhatikannya dengan serius. Aku hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya tadi.
"Tumben kamu bangun pagi-pagi. Terus, kenapa tidak membangunkanku juga tadi?" tanyanya.
"Maaf, Mas. Aku lupa tadi, soalnya aku pagi-pagi sekali sudah di dapur, bantuin Bunda masak," jawabku dengan malu-malu. Sementara Samudra tersenyum lebar mendengar jawabanku.
"Jadi, tadi kamu masak, ya? Hmm... aku penasaran, seperti apa ya rasanya?"
Aku merasa tidak enak mendengar ucapan Samudra. Jelas sekali gelagatnya, pasti dia tidak percaya dengan yang sudah kulakukan, mengingat selama berumah tangga dengannya belum pernah sekalipun aku memasak untuknya.
"Mas, aku minta maaf," ucapku lirih.
"Loh, loh, kamu kenapa jadi rajin sekali meminta maaf, Ras? Aku jadi tidak enak, kan, kalau kamu seperti ini?" ucap Samudra sambil meraih tanganku.
"Aku merasa buruk sebagai seorang istri, dan Mas selalu sesabar itu menghadapiku."
Samudra kembali lekat menatap wajahku, dibelainya lembut dengan kedua tangannya. Lagi-lagi, dia hanya tersenyum dan menciumku.
"Semua butuh proses, Ras. Dan aku tidak keberatan dengan itu."
Aku pun tersenyum puas mendengar jawabannya. Bukan Samudra, melainkan aku yang sungguh beruntung memilikinya dalam hidupku. Dan entah dari mana datangnya keberanianku, tiba-tiba aku membalas ciumannya tadi, kali ini lebih lama dan dalam tentunya. Aku melihat Samudra seolah tidak percaya dengan yang kulakukan, tapi tak urung dia pun juga menikmatinya.
"Jadi, apa sekarang aku boleh meminta hakku?" tanyanya lirih di telingaku, sontak saja mampu membuat pipiku merona seketika karenanya. Dan aku pun mengangguk dengan malu-malu sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Apa itu artinya, iya... boleh?" tanyanya lagi, meyakinkan jawabanku.
"Kita kan sudah menikah. Aku tidak akan menolaknya lagi."
"Meskipun aku sangat menginginkannya, maksudku bohong jika sebagai laki-laki aku tidak menginginkannya. Tapi seperti yang kubilang, aku tidak akan menyentuhmu misal kamu belum siap. Aku tidak akan memaksa sebelum kamu yang menyerahkannya dengan kesadaran diri kamu sendiri."
Aku terdiam mendengar penuturannya. Dia yang begitu menghargaiku, meskipun dia tahu dia berhak mendapatkan apa yang diinginkannya, namun dia tidak memaksa dan tidak egois sedikit pun.
"Sudah, sudah, jangan dipikirkan. Yuk, sarapan dulu, nggak sabar ingin nyicipin masakan istri," ucapnya sambil mengajakku keluar dari kamar. Tapi ketika Samudra hendak melangkah, aku menghentikannya sebentar. Aku raih tangannya dan kucium dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Aku mencintaimu, Mas. Maaf, aku baru menyadarinya sekarang."
Aku lantas berdiri menghadap Samudra dan sekali lagi aku yang berinisiatif memeluknya terlebih dahulu.
"Ahh... Larasati, jangan coba-coba memancingku sekarang, karena aku tidak akan melepaskanmu saat ini juga."
Tiba-tiba, aku merasakan tangan Samudra mulai aktif menyentuhku, membuat mataku seketika membola karenanya.
"Iya, Mas, aku nyerah. Tapi tidak sekarang, ya? Kita mandi dulu, terus kita sarapan dulu, habis itu dilanjut lagi. Nggak enak sama Bunda, kalau kelamaan nunggunya."
Merasa lucu, akhirnya kami pun tertawa bersama, menertawakan kebucinan yang tiba-tiba muncul di dalam hubungan kami.
Akhirnya, kami memutuskan untuk mandi dan sarapan terlebih dahulu, mengingat ini masih terlalu pagi juga untuk melakukan ritual suami-istri yang sempat tertunda dari beberapa bulan yang lalu.
Dan akhirnya, setelah sekian waktu, aku menyadari bahwa semua hal memang tidak bisa terjadi dengan begitu instan. Harus saling belajar dan saling memahami. Tidak mudah, dan mungkin butuh proses yang panjang, tapi tak apa selama ada kemauan untuk tetap belajar memperbaiki diri.
Sejak saat itu, aku pun mulai belajar dan berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku, Samudra. Aku yang dulu begitu tidak peduli, tapi sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai berubah. Dengan bangun pagi-pagi, membuatkannya sarapan, membuatkan bekal untuk dibawanya kerja, dan menyiapkan segala keperluannya dengan penuh kesadaran dan keinginan sendiri. Aku tahu, mungkin aku belum sempurna, tapi aku akan berusaha dan akan terus belajar.
Aku sungguh bersyukur dipersatukan dalam ikatan suci dengan lelaki sebaik Samudra. Semoga selamanya...
*END*