Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Pantai Nusa Dua
Hotel Nusa Dua. Jam 06.30 WITA.
Alvian sudah bangun sejak satu jam yang lalu. Dia sudah mandi, mengenakan kaos oblong, celana pendek, lalu pakai sandal hotel.
Sementara Clarissa masih di kasur dengan selimut sampai ke leher. Matanya baru terbuka, mencari ponsel tapi tak ketemu, tanpa sengaja menatap ke Alvian yang berdiri di depan jendela.
"Jam berapa?"
"Setengah tujuh. Mau jalan-jalan dulu nggak? Katanya pantainya tak jauh. Lima menit dari sini, jalan kaki."
Clarissa tarik selimut. "Nggak. Mau beresin laporan." Suaranya serak, khas orang bangun tidur.
"Sebentar saja. Tidak sampai satu jam. Foto, terus balik. Biar ada kenang-kenangan."
Clarissa diam 3 detik, lalu membalikkan badan, menghadap tembok.
Alvian hanya bisa garuk kepala sebelum mengambil dompet, kunci kamar cadangan, dan HP. "Ya udah. Aku jalan sendiri ya. Mau beli kopi."
Ceklek.
Suara pintu tertutup. Clarissa buka mata lagi, menunggu langkah Alvian hilang dari lorong sebelum dia duduk. Matanya ke arah nakas, di mana pouch hitam A.W. masih di sana dari semalam.
__
Pantai Mengiat.
Mungkin karena masih terlalu pagi seasana pantai masih sepi. Hanya ada beberapa bule yang sedang lari pagi, lalu ibu-ibu yoga, sama penjaga pantai yang duduk di pos.
Ombak kecil, pasir berwarna putih. Alvian jalan nyeker tanpa alas kaki. Celananya digulung sampai lutut, membawa kopi takeaway di tangannya. Duduk di atas baru besar, menyeruput kopi, menikmatinya perlahan.
"Help! Help! My husband!"
Belum juga satu tegukan penuh, suara bule cewek menggema di pantai itu. Alvian celingukan mencarinya, ternyata ada 20 meter di belakangnya. Bule cewek jongkok di pinggir air, bule cowok rebahan, megang kaki, darah menetes ke pasir.
Alvian menaruh kopinya lalu berlari menghampiri kedua bule itu. Setelah cukup dekat, dia tahu mereka adalah pasangan bule yang ditemuinya di lift hotel ketika baru sampai.
"Help!"
Bule cowok meringis sambil memegangi betis kanannya yang sobek 10 cm. Terlihat dalam, mungkin terkena benturan karang.
Penjaga pantai juga datang bersama ibu-ibu yoga yang penasaran. Di tangan penjaga pantai ada kotak P3K, tapi melihat luka yang begitu dalam penjaga pantai tidak tahu cara menanganinya.
"Saya dokter. Boleh saya liat?" Alvian bicara dalam bahasa inggris.
Bule cewek mengangguk. "Yeah. Please!"
Alvian gunakan sarung tangan dari kotak P3K. Menyiram luka dengan air mineral, bersihkan area bagian luka.
"Ini mungkin akan sakit," ucap Alvian dalam bahasa inggris.
Dia mengambil kain kasa, menekan, mengusap darah dan melihat lukanya.
Untungnya tidak sampai ke arteri. Hanya laserasi otot. Namun tetap, luka itu perlu dijahit.
Dia melipat kasa tebal, menaruhnya di luka. Ambil perban elastis dari kotak, melilit dengan telaten. Tekniknya terlihat aneh. Terlihat asal-asalan. Tapi tidak masalah karena yang terpenting itu efektif dan rapat.
"Done." Alvian berdiri, mau bantu menghubungi ambulans tapi bule cewek sudah menghubungi ambulans lebih dulu.
"Okay. Good." Alvian memberi tanda, lalu berjongkok di depan bule cowok. "Angkat kaki, lebih tinggi dari jantung."
10 menit kemudian ambulans datang. Paramedis langsung turun, ketika mereka melihat balutan, mereka langsung kasih jempol.
"Bagus sekali. Siapa yang membalut lukanya?"
Bule cewek menunjuk Alvian. "Him. Great Doctor."
Alvian hanya menggoyangkan tangannya tanpa mengatakan apapun. Paramedis mengangguk, mereka membawa bule cowok itu ke ambulans, mengantarnya ke rumah sakit.
"Makasih, Pak Dokter. Tangkas sekali." Penjaga pantai salaman dengan Alvian.
"Sama-sama, Pak. Kebetulan lewat," ucapnya, mengambil kopi yang ditaruhnya di atas karang, pergi sambil meminumnya.
__
Setelah cukup lama berjalan-jalan di sekitar pantai Alvian kembali ke hotel. Di dalam lift, dia melepas luka palsu di jempol kanan, membuangnya ke tempat sampah. Sudah rusak, terkena air laut dan darah.
Sampai di kamar, ternyata Clarissa sudah rapi dengan setelan blazer navy, celana bahan. Lagi masukin laptop ke tas, mau sarapan.
Alvian masuk dan menyapa, tapi Clarissa hanya menoleh sebelum lanjut fokus kegiatannya.
"Tunggu. Kamu dari mana?"
Perhatian Clarissa tanpa sengaja tertuju ke kaos Alvian yang ada noda darah. Celana sedikit basah, juga sandal penuh dengan pasir.
Alvian berhenti, mematung sejenak. "Oh ini? Tadi ada bule jatuh, aku bantu balut lukanya. Tidak ada hal lain."
Clarissa mengernyit. "Cuma balut luka?"
"Iya. Kan tidak ada alat. Kalau ada scalpel ya beda cerita." Alvian tertawa dan berceletuk. "Untung tidak ada. Nanti masuk TV lagi."
Clarissa diam, mulutnya berguman tapi tak bersuara.
"Sarapan yuk. Perut ini sudah keroncongan. Baru beraksi, tenaga sudah habis."
Clarissa memang mau sarapan jadi dia berdehem dan pergi bersama Alvian turun ke restoran. Pergi dan naik lift bersama, tapi ada jarak satu meter.
__
Setelah sarapan, mereka kembali ke kamar tetapi tidak melakukan apapun. Tepat jam sebelas, mereka memutuskan untuk check-out meski waktunya tersisa satu jam.
Koper sudah di lobi, mobil hotel datang dan langsung mengantar mereka ke bandara.
Di mobil, Clarissa duduk di kiri, Alvian di kanan. Sama seperti sebelumnya, tidak ada percakapan di antara keduanya. Hening seperti kuburan.
Alvian membuka HP, kemudian hapus foto pantai yang dia ambil tadi. Hanya tersisa satu, itu adalah foto ombak.
"Sayang ya, nggak jadi foto bareng."
Clarissa melirik Alvian yang sibuk menatap foto ombak. Dia melihat ke luar jendela, memangku kepalanya dengan tangan. "Next time," ucapnya spontan.
Alvian menengok cepat, bereaksi terkejut. "Beneran, next time?"
Baru detik itu Clarissa sadar dengan ucapannya. Dia berdehem sambil merubah posisi duduknya tanpa alasan. "Next time. Aku tidak tahu itu kapan. Mungkin besok atau lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau mungkin waktu yang sangat lama."
Clarissa melihat keluar jendela lagi, kali ini telinganya agak memerah.
Alvian senyum lebar. "Siap! Tahun depan juga tidak masalah. Aku akan beli kamera baru, yang HD."
"..."