Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat Musuh Berlutut Ketakutan
Malam di Jakarta belum sepenuhnya usai, namun bagi faksi Marco yang membangkang, kegelapan baru saja dimulai. Di sebuah gudang tua di kawasan Marunda yang lembap dan berbau karat, sisa-sisa eksekutor yang melakukan penyerangan di pesta kampus sedang berkumpul. Mereka merasa aman di sana, tersembunyi di balik tumpukan kontainer dan perlindungan senjata otomatis.
Marco, pria bertubuh gempal dengan bekas luka bakar di lehernya, sedang mengumpat sambil menenggak wiski murah. "Lorenzo pengecut! Dia takut pada bocah yang bersembunyi di balik buku hukum itu! Kita akan habisi Arjuna besok pagi, dengan atau tanpa izin klan!"
Namun, kalimatnya terhenti saat seluruh lampu di gudang itu meledak secara serentak. Kegelapan total menyelimuti ruangan, hanya menyisakan cahaya bulan yang pucat menembus atap seng yang bocor.
"Siapa di sana?!" teriak Marco, tangannya meraba pistol di atas meja.
Tiba-tiba, sebuah suara bergema dari sistem intercom gudang yang entah bagaimana telah diretas. Suara itu bukan suara manusia biasa; itu adalah suara yang dimodifikasi oleh Maya, terdengar seperti bisikan malaikat maut yang dingin.
"Kekerasan adalah bahasa orang-orang yang tidak memiliki imajinasi," suara itu—suara Vittorio—memenuhi ruangan. "Dan malam ini, aku akan mengajarimu cara menulis puisi tentang keputusasaan."
Di luar gudang, Vittorio berdiri di atas menara pengawas yang sudah tidak terpakai. Ia mengenakan mantel panjang hitam di atas setelan jas midnight blue-nya. Di sampingnya, Karin sedang mengoperasikan konsol kendali jarak jauh. Wajahnya diterangi oleh cahaya biru dari monitor, tampak serius dan sedikit ngeri.
"Juna, frekuensi pengacau sudah aktif. Semua ponsel dan radio mereka sekarang cuma jadi ganjal pintu," lapor Karin. "Kamera termal menunjukkan ada dua belas target di dalam. Semuanya bersenjata lengkap."
"Aktifkan 'Proyek Halusinasi', Karin," perintah Vittorio tanpa mengalihkan pandangan dari gudang di bawahnya.
"Siap, Bos. Gas halusinogen tingkat rendah dilepaskan lewat ventilasi sekarang."
Vittorio tidak ingin hanya membunuh mereka. Kematian adalah jalan keluar yang terlalu mudah. Ia ingin menghancurkan mental mereka, membuat nama "Arjuna" menjadi momok yang akan membuat siapa pun berlutut ketakutan hanya dengan mendengarnya.
Di dalam gudang, Marco dan anak buahnya mulai melihat bayangan-bayangan yang bergerak di dinding. Efek gas halusinogen mulai bekerja, membuat indra mereka menjadi sangat sensitif dan paranoid.
"Itu dia! Di sana!" teriak salah satu anak buah Marco sambil melepaskan tembakan ke arah tumpukan karung yang kosong.
TUK! TUK! TUK!
Suara ketukan sepatu kulit Vittorio terdengar mendekat dari arah pintu utama yang perlahan terbuka sendiri. Vittorio melangkah masuk, tidak berlari, tidak bersembunyi. Ia berjalan dengan tenang di tengah hujan peluru yang meleset karena para penyerangnya sedang berhalusinasi.
Vittorio menggunakan lensa kontak pintarnya untuk melihat posisi musuh dengan jelas di tengah kegelapan. Ia bergerak seperti penari, menghindari setiap rintangan dengan presisi milimeter.
"Marco," panggil Vittorio, suaranya kini terdengar tepat di belakang telinga pria gempal itu.
Marco berbalik dan menembak secara membabi buta, namun Vittorio sudah merunduk dan memberikan tendangan patah tulang ke arah lutut Marco. KRAK!
Marco terjatuh, mengerang kesakitan. "Siapa kau?! Hantu?!"
Vittorio menginjak tangan Marco yang memegang senjata hingga terdengar bunyi tulang remuk lainnya. Ia berjongkok, menatap mata Marco yang penuh ketakutan. "Aku adalah orang yang kau coba bunuh di tengah pesta yang damai. Aku adalah Arjuna, dan aku adalah Vittorio Genovese. Dan hari ini, aku adalah hakimmu."
"Karin, nyalakan lampu sorot sektor tengah," perintah Vittorio melalui radio.
Tiba-tiba, lampu sorot raksasa menyala tepat di atas Marco dan anak buahnya yang kini sudah terdesak di tengah ruangan. Mereka semua telah dilumpuhkan oleh tim Tiger yang bergerak dari bayang-bayang. Mereka berlutut di lantai yang dingin, tangan terikat di belakang kepala.
Vittorio berdiri di hadapan mereka, sosoknya terlihat sangat tinggi dan mengintimidasi di bawah cahaya sorot yang tajam. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dan memutar sebuah video.
Video itu menunjukkan aset-aset pribadi Marco di Italia—rumah keluarganya, rekening bank rahasianya, dan bisnis sampingannya—semuanya sedang terbakar atau disita oleh otoritas yang sudah disuap oleh Vittorio melalui jalur Lorenzo.
"Kau pikir kau bisa membangkang pada klan dan selamat?" tanya Vittorio, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang sanggup merobek jiwa. "Lorenzo mungkin hanya akan membuangmu, tapi aku? Aku akan memastikan namamu dihapus dari sejarah. Kau tidak akan punya rumah untuk kembali, tidak punya uang untuk lari, dan tidak punya teman untuk meminta tolong."
Marco mulai menangis. Pria yang tadinya begitu garang itu kini gemetar hebat. "Ampun... tolong ampuni aku! Aku hanya menjalankan perintah faksi Marco yang lain!"
"Berlutut lebih rendah lagi," perintah Vittorio.
Marco menempelkan dahinya ke lantai yang kotor, diikuti oleh anak buahnya yang lain. Mereka semua gemetar ketakutan, menyadari bahwa pria di depan mereka bukan lagi sekadar mahasiswa; ia adalah dewa kematian berbaju jas yang memegang seluruh kendali hidup mereka.
"Tiger, bawa mereka ke dermaga," ucap Vittorio dingin. "Pastikan mereka naik kapal kargo menuju Siberia. Mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka bekerja di tambang tanpa pernah melihat matahari Jakarta lagi."
"Siap, Ghost."
Vittorio berbalik dan berjalan keluar dari gudang. Karin sudah menunggunya di dekat mobil, wajahnya tampak sedikit pucat melihat adegan intimidasi tadi.
"Juna... tadi itu... lu beneran serem banget," bisik Karin saat Vittorio masuk ke dalam mobil. "Gue sampe merinding denger suara lu di intercom."
Vittorio melepas mantelnya, menghela napas panjang. Aura gelap yang tadi menyelimutinya perlahan memudar, digantikan oleh kelelahan yang manusiawi. "Kadang-kadang, untuk menghentikan monster, kau harus menunjukkan pada mereka bahwa kau adalah monster yang lebih besar, Karin."
Karin memegang tangan Vittorio. "Tapi buat gue, lu tetep Juna. Meskipun tadi lu bikin dua belas orang nangis kayak bayi, gue tau lu ngelakuin itu biar nggak ada lagi peluru yang nyasar ke kampus."
Vittorio menatap Karin, matanya yang tadi tajam kini melembut. "Terima kasih sudah tetap di sampingku, bahkan saat aku menjadi orang yang menakutkan seperti tadi."
"Ya elah, Jun! Gue kan asisten legends! Mana boleh takut sama bosnya sendiri," Karin mencoba mencairkan suasana. "Lagian, tadi pas lu bilang 'aku adalah hakimmu', itu keren banget sih. Lain kali gue mau coba bilang gitu ke abang ojek yang suka telat jemput."
Vittorio tertawa kecil. "Jangan, Karin. Kau tidak punya jas yang cukup bagus untuk itu."
Mobil Rolls-Royce itu meninggalkan Marunda, menuju ke arah pegunungan tempat villa aman mereka berada. Di sepanjang jalan, Vittorio terus memantau laporan dari Maya. Berita tentang runtuhnya faksi pembangkang Marco mulai menyebar di duni bawah Italia. Pesan itu sudah sampai: Jangan menyentuh Arjuna di Indonesia.
Saat mereka sampai di villa, fajar mulai menyingsing. Vittorio dan Karin duduk di teras yang menghadap ke lembah berkabut.
"Jun, apa setelah ini semuanya bener-bener beres?" tanya Karin sambil menyandarkan kepalanya di bahu Vittorio.
"Untuk saat ini, ya. Lorenzo sudah memberikan perintah mutlak. Identitas kita aman," jawab Vittorio. "Kita bisa kembali ke kampus minggu depan."
"Beneran? Gue kangen makan soto kantin, Jun. Walaupun soto di sini enak, tapi tetep kurang rasa 'micin' perjuangan."
Vittorio tersenyum. "Iya, kita kembali ke kampus. Tapi dengan pengawalan yang lebih ketat, tentunya."
"Ah, lu mah lebay! Masa gue ke perpus harus dikawal Tiger pake senapan?"
"Hanya untuk memastikan tidak ada lagi 'penggemar rahasia' yang mengirimkan jam tangan logam berat," goda Vittorio, merujuk pada Satya.
Karin mencubit pinggang Vittorio. "Tuh kan! Ternyata Raja Mafia ini masih cemburuan!"
Di tengah tawa kecil mereka, Vittorio menyadari sesuatu yang sangat penting. Membuat musuh berlutut ketakutan adalah hal yang mudah baginya; ia sudah melakukannya selama bertahun-tahun di Italia. Namun, membuat seseorang merasa aman dan bahagia di sisinya di tengah badai kehidupan adalah pencapaian yang jauh lebih besar.
Pagi itu, di bawah langit Bogor yang mulai terang, Vittorio tidak lagi memikirkan strategi bisnis atau koordinat target. Ia hanya memikirkan rencana liburan ke Bali yang dijanjikannya pada Karin.
Duni bawah mungkin masih melihatnya sebagai "Sang Legends" yang mematikan, namun di mata gadis yang sedang tertidur di bahunya ini, ia hanyalah Arjuna—pria yang akan selalu membelikannya martabak ekstra daging dan memastikan tidak ada seorang pun yang berani mengusik senyumnya.
Musuh mungkin sudah berlutut, namun bagi Vittorio, kemenangan sejati adalah saat ia bisa berdiri tegak sebagai manusia yang memiliki hati, bukan sekadar mesin pembunuh yang haus kekuasaan. Perang di Jakarta telah berakhir, dan legenda baru telah lahir—seorang legenda yang memerintah bukan dengan rasa takut, melainkan dengan cinta dan kesetiaan asistennya yang paling semprul.
"Selamat tidur, Karin," bisik Vittorio lembut sambil mengecup puncak kepala asistennya.
Hari baru telah dimulai, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Vittorio tidak perlu lagi merasa takut akan apa yang menanti di balik kegelapan. Karena ia tahu, selama Karin ada di sampingnya, ia akan selalu punya alasan untuk kembali ke cahaya.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍