Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Sentuhan Manusia dan Malam yang Penuh Cerita
Suasana di teras depan pondok perlahan kembali tenang, meski bekas-bekas pertarungan masih jelas terlihat—tanah yang tergali, jejak-jejak darah, dan puing-puing pintu yang rusak. Namun, bagi Alexandria dan Leonard, dunia di sekitar mereka seolah menghilang.
Yang ada hanyalah mereka berdua, berdiri (atau lebih tepatnya, berlutut) di sana, di bawah sinar bulan yang kini bersinar lebih terang dari sebelumnya.
Alexandria masih memeluk Leonard erat-erat, tidak ingin melepaskannya sedikit pun. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, menghirup napas dalam-dalam. Aroma tubuh Leonard masih ada—aroma musky yang hangat dan menenangkan—tapi kini bercampur dengan aroma lain yang lebih manusiawi, aroma kulit yang sehat dan sedikit bau darah dari lukanya. Aroma itu, bagi Alexandria, adalah aroma paling indah di dunia.
Leonard, di sisi lain, merasa seperti sedang bermimpi. Tangan manusianya yang besar dan hangat perlahan terangkat, menyentuh rambut Alexandria dengan ragu-ragu di awal, lalu semakin yakin. Jari-jarinya menyusuri helai demi helai rambut hitam itu, merasakan teksturnya yang lembut, merasakan kehangatan kulit kepala wanita itu.
Ini nyata. Ini bukan mimpi. Ia benar-benar bisa menyentuhnya. Ia benar-benar bisa merasakannya.
"Alexandria..." bisik Leonard, suaranya masih sedikit serak, seolah belum terbiasa menggunakan pita suaranya setelah bertahun-tahun hanya bisa mengeluarkan suara hewan.
"Aku... aku tidak percaya ini terjadi. Aku bisa berbicara padamu... aku bisa memelukmu..."
Alexandria mengangkat kepalanya, menatap wajah Leonard dari jarak yang sangat dekat.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat wajah itu dengan jelas, tanpa kabut, tanpa bayangan. Wajah itu begitu tampan, dengan garis rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan bibir yang terbentuk sempurna. Tapi yang paling memikat adalah matanya—mata keemasan yang sama, yang kini menatapnya dengan penuh cinta dan kekaguman.
"Kamu sangat tampan, Leonard," bisik Alexandria, air mata bahagia mengalir lagi di pipinya.
"Lebih tampan dari apa pun yang pernah aku bayangkan dalam mimpiku."
Wajah Leonard merona sedikit, sebuah reaksi malu yang sangat manusiawi yang membuatnya terlihat semakin menawan. Ia tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang putih dan rapi.
"Dan kamu, Alexandria... kamu lebih indah dari bintang-bintang di langit Eldoria. Kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku."
Mereka saling menatap dalam diam untuk beberapa saat, menikmati momen ajaib ini. Namun, rasa sakit di bahu Leonard tiba-tiba mengingatkan mereka pada kenyataan. Leonard mendesis pelan saat bahunya bergerak tidak sengaja.
"Oh tidak! Lukamu!" seru Alexandria, segera menyadarinya.
Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap luka di bahu Leonard yang masih mengeluarkan darah.
"Ayo, kita masuk ke dalam. Aku harus membersihkan dan membalut lukamu sekarang juga. Jangan dibiarkan terbuka terlalu lama."
Leonard mengangguk patuh. "Baiklah, dokter kecilku."
Dengan bantuan Alexandria, Leonard berdiri. Kakinya masih sedikit gemetar, bukan hanya karena kelelahan, tapi juga karena ia masih belum terbiasa berjalan dengan dua kaki setelah begitu lama berjalan dengan empat. Alexandria segera menyangga tubuhnya, membiarkan lengan Leonard melingkar di bahunya untuk bersandar.
Perlahan-lahan, mereka masuk ke dalam pondok yang hangat. Alexandria memandu Leonard duduk di bangku kayu dekat perapian.
"Tunggu di sini sebentar ya. Aku ambil peralatan medisnya."
Alexandria berjalan cepat ke lemari tempat ia menyimpan obat-obatan, mengambil kain bersih, air hangat, dan salep penyembuh yang paling ampuh. Saat ia kembali, ia melihat Leonard sedang duduk dengan tenang, matanya mengamati seluruh ruangan dengan tatapan yang berbeda—tatapan manusia yang melihat rumah tempat ia menemukan kedamaian.
"Ini rumah yang indah, Alexandria," kata Leonard pelan saat Alexandria duduk di hadapannya dengan perlengkapan medis di tangan.
"Rumah yang penuh dengan cinta dan kehangatan. Aku mengerti kenapa aku merasa begitu tenang di sini sejak pertama kali datang."
Alexandria tersenyum sambil membasuh kain dengan air hangat. "Ini bukan hanya rumahku lagi, Leonard. Ini rumah kita sekarang."
Kata-kata itu membuat hati Leonard berdebar kencang. Ia tidak menjawab, hanya menatap Alexandria dengan tatapan penuh syukur.
Alexandria mulai membersihkan luka di bahu Leonard dengan hati-hati. Luka itu cukup dalam, bekas tusukan tombak tadi. Saat kain basah menyentuh luka itu, Leonard mendesis lagi, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Ia justru menikmati sentuhan tangan Alexandria di kulitnya—sentuhan yang lembut, penuh perhatian, dan penuh kasih sayang.
"Sakit sekali?" tanya Alexandria pelan, berhenti sejenak dengan wajah cemas.
Leonard menggeleng, tersenyum lembut.
"Tidak. Selama tanganmu yang menyentuhku, rasa sakit itu terasa jauh lebih ringan. Bahkan... terasa menenangkan."
Wajah Alexandria merona merah mendengar pujian itu. Ia pun kembali melanjutkan tugasnya, mengoleskan salep berwarna hijau kekuningan yang beraroma tajam namun menyehatkan ke luka itu, lalu membalutnya dengan rapi menggunakan kain perban yang lebar.
"Sudah selesai," kata Alexandria dengan puas, mengusap sisa salep di tangannya.
"Salep ini buatan ibuku, dan itu sangat ampuh. Besok lukanya pasti sudah mulai menutup."
Leonard menggerakkan bahunya sedikit, merasakan perban itu menopang dengan nyaman.
"Terima kasih, Alexandria. Kamu selalu tahu cara merawatku."
Malam itu, suasana di dalam pondok terasa begitu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada rasa kebebasan baru, ada rasa keintiman yang baru. Alexandria menyiapkan makan malam—meskipun sudah larut, mereka berdua merasa lapar setelah pertarungan yang melelahkan itu. Ia memanaskan sisa daging rusa asap dan membuatkan sup sayuran hangat.
Mereka duduk berdampingan di meja kayu kecil itu, makan bersama-sama. Leonard makan dengan lahap, mengakui bahwa meskipun sebagai macan ia bisa makan daging, tapi makan makanan yang dimasak dengan penuh cinta oleh wanita yang dicintainya memiliki rasa yang jauh lebih lezat.
"Jadi..." mulai Alexandria pelan saat mereka selesai makan dan kini duduk kembali di dekat perapian, bersandar pada dinding kayu yang hangat.
"Kamu bisa bercerita sekarang. Ceritakan padaku tentang Eldoria, tentang dirimu, dan tentang... tentang Lord Valerius."
Leonard menoleh, menatap mata Alexandria. Ia tahu saat ini akan tiba. Ia tahu ia harus menceritakan segalanya, tidak ada yang boleh disembunyikan lagi. Ia menarik napas panjang, lalu mulai bercerita.
"Eldoria... itu adalah dunia yang indah, Alexandria. Langitnya selalu berwarna ungu dan biru tua dengan dua bulan yang bersinar terang. Pohon-pohonnya berkilauan dengan cahaya alami, dan sungai-sungainya berisi air yang bisa menyembuhkan penyakit. Kami adalah bangsa yang memiliki kekuatan sihir alami, hidup berdampingan dengan alam dan makhluk-makhluk mitologi."
Leonard tersenyum mengenang tanah kelahirannya, tapi kemudian senyum itu memudar menjadi kesedihan.
"Aku adalah putra dari raja yang memerintah dengan bijaksana. Dan Lord Valerius... dia adalah sahabatku sejak kecil. Dia adalah orang yang paling aku percaya, orang yang aku anggap seperti saudara sendiri."
"Tapi dia mengkhianatimu," potong Alexandria pelan, penuh empati.
Leonard mengangguk perlahan, matanya menyala dengan amarah yang tertahan namun segera mereda saat melihat Alexandria.
"Ya. Dia iri. Iri pada posisiku sebagai putra mahkota, iri pada kekuatan yang aku miliki, dan iri pada cinta yang diterima orangtuaku. Dia membuat perjanjian dengan kekuatan gelap, memohon kekuatan agar bisa mengalahkanku. Pada malam pesta bulan purnama yang agung, dia menyerangku. Dia menggunakan sihir gelap yang kuat, dan mengutukku untuk menjadi 'binatang buas yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa dicintai', sampai aku menyerahkan hakku atas takhta dan hidupku padanya."
"Kejam..." bisik Alexandria, matanya berkaca-kaca mendengar penderitaan Leonard.
Ia memegang tangan Leonard dengan erat.
"Tapi dia salah. Kamu tetap bisa dicintai. Aku mencintaimu, Leonard. Aku mencintaimu dalam wujud apa pun."
Leonard menatapnya, terharu.
"Ya, itulah kelemahan kutukan itu. Valerius tidak mengerti bahwa cinta bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh sihir gelap. Cinta itu murni, dan itu datang dari jiwa. Dan kamu, Alexandria... jiwamu telah menemukan jiwaku, bahkan saat aku terkurung dalam wujud macan kumbang."
Mereka terdiam sejenak, menikmati kehangatan di antara mereka.
"Lalu... bagaimana kamu bisa berubah menjadi manusia sekarang?" tanya Alexandria lagi, rasa ingin tahunya muncul.
"Apakah kutukannya sudah hilang sepenuhnya?"
Leonard menggeleng.
"Belum sepenuhnya. Transformasi tadi terjadi karena emosi yang sangat kuat—rasa marah yang meledak saat melihatmu terancam, dan keinginan yang membara untuk melindungimu. Itu memicu kekuatan sihirku yang terpendam dan memecahkan sebagian dari segel kutukan itu untuk sementara waktu. Tapi aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan dalam wujud ini. Mungkin beberapa hari, mungkin hanya beberapa jam. Kutukan itu masih ada, dan aku masih bisa berubah kembali menjadi macan kapan saja, terutama jika aku lelah atau terluka parah."
Alexandria menghela napas, sedikit kecewa tapi juga mengerti.
"Tidak apa-apa. Tidak peduli kamu berubah menjadi apa, kamu tetap Leonard-ku. Dan kita akan mencari cara untuk memecahkan kutukan itu sepenuhnya bersama-sama. Buku ayahku mengatakan bahwa ikatan jiwa yang murni adalah kuncinya. Kita sudah memilikinya, kan?"
Leonard tersenyum, lalu menarik Alexandria ke dalam pelukannya yang hangat dan kuat. Alexandria bersandar di dadanya, mendengar detak jantung pria itu yang kuat dan teratur—detak jantung manusia yang nyata.
"Ya, kita memilikinya," bisik Leonard di telinga Alexandria.
"Dan aku berjanji, aku akan melakukan apa saja untuk tetap berada di wujud ini, di sisimu, selamanya. Aku ingin bisa berjalan bersamamu, tertawa bersamamu, dan mencintaimu sebagai seorang pria mencintai wanitanya."
Malam itu berlalu dengan percakapan panjang. Leonard bercerita banyak tentang kehidupan di Eldoria, tentang keajaiban sihir, tentang teman-temannya yang setia yang mungkin masih bersembunyi, dan tentang rencananya untuk melawan Valerius. Alexandria mendengarkan dengan takjub, merasa seolah-olah ia sedang dibawa ke dunia lain melalui cerita-cerita itu.
Dan saat kelelahan akhirnya mengambil alih, mereka pun bersiap untuk tidur. Namun, kali ini ada sedikit kebingungan dan kecanggungan yang manis. Selama ini, Leonard tidur di lantai sebagai macan. Tapi sekarang, ia adalah manusia.
Alexandria menyadari hal itu, dan wajahnya merona merah. Ia menunjuk ke arah tempat tidurnya yang cukup besar, lalu ke arah karpet tebal di lantai.
"Kamu... kamu bisa tidur di tempat tidur jika mau. Atau... aku bisa tidur di lantai bersamamu."
Leonard tertawa pelan, suara tawanya yang dalam dan hangat membuat hati Alexandria bergetar. Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut memegang kedua tangan Alexandria.
"Aku ingin tidur di tempat di mana kamu berada, Alexandria. Jika kamu mengizinkanku... bolehkah aku tidur di sampingmu? Aku berjanji akan menghormatimu sepenuhnya. Aku hanya ingin merasakan kehadiranmu di dekatku, dalam wujud ini."
Alexandria mengangguk cepat, matanya berbinar.
"Tentu saja boleh. Aku juga ingin kamu di sampingku."
Mereka pun naik ke tempat tidur. Leonard berbaring di samping Alexandria, memberikan ruang yang cukup, tapi tetap cukup dekat untuk bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Alexandria mematikan lampu minyak, meninggalkan hanya cahaya redup dari perapian yang masih menyala.
Dalam kegelapan yang hangat itu, Leonard meraih tangan Alexandria di bawah selimut, menggenggamnya dengan erat. Tangan itu kecil, lembut, dan hangat di genggamannya yang besar.
"Selamat malam, Alexandria," bisik Leonard lembut.
"Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk segalanya."
"Selamat malam, Leonard," bisik Alexandria balik, mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah pria itu.
"Aku sayang kamu."
Malam itu, mereka tidur dengan tidur yang paling nyenyak dan damai. Tidak ada mimpi buruk, tidak ada ketakutan. Hanya ada dua jiwa yang telah menemukan satu sama lain, yang akhirnya bisa bersentuhan dan berbicara, dan yang siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan, bersama-sama.