NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Suasana di teras pondok perlahan mereda, tapi bekas pertarungan masih jelas tertinggal di mana-mana, tanah yang terkelupas, serpihan kayu pintu yang patah, dan noda darah yang belum sempat mengering, seolah menjadi saksi bahwa malam itu bukan sekadar mimpi buruk biasa, namun bagi Alexandria semua itu terasa menjauh, seakan dunia di luar mereka berhenti bergerak dan hanya menyisakan satu hal yang nyata—pria di hadapannya.

Ia masih memeluk Leonard erat, terlalu erat bahkan, seolah jika ia melepaskan sedikit saja, sosok itu akan kembali menghilang seperti dalam mimpinya, wajahnya tenggelam di dada bidang yang hangat, napasnya perlahan menyatu dengan detak jantung yang kini bisa ia dengar dengan jelas—bukan lagi melalui bulu hitam seekor macan, tapi langsung dari tubuh manusia yang hidup dan nyata.

Aromanya masih sama, hangat, sedikit liar, tapi kini bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih manusiawi, kulit, darah, dan napas yang terasa begitu dekat sampai membuat dada Alexandria sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

Leonard sendiri sempat terdiam beberapa saat, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya turun perlahan ke rambut Alexandria, menyentuhnya ragu di awal, seperti seseorang yang takut merusak sesuatu yang terlalu berharga, lalu semakin yakin saat jari-jarinya mulai menyusuri helai demi helai rambut itu, merasakan teksturnya, kehangatannya, dan kenyataan bahwa ini benar-benar terjadi.

“Alexandria…” suaranya keluar rendah dan serak, masih terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri, tapi justru itulah yang membuatnya terasa lebih nyata.

Ia menarik napas pelan, menunduk sedikit. “Aku… hampir tidak percaya. Aku bisa memelukmu seperti ini… bisa menyentuhmu… bisa memanggil namamu tanpa harus bersembunyi di balik suara yang bukan milikku.”

Alexandria mengangkat wajahnya perlahan, jarak mereka kini begitu dekat hingga napas mereka saling bersentuhan, matanya langsung jatuh pada wajah Leonard yang selama ini hanya ia lihat samar dalam mimpi, dan kali ini tidak ada kabut, tidak ada bayangan, hanya wajah itu—jelas, nyata, dan… terlalu sempurna.

Garis rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan matanya… mata keemasan itu masih sama, hanya saja kini terasa lebih hidup, lebih dalam, seolah menyimpan terlalu banyak hal yang belum sempat ia ceritakan.

“Kamu…” suara Alexandria hampir hilang, tapi ia tetap memaksanya keluar, pelan dan jujur. “Kamu jauh lebih tampan dari yang aku bayangkan.”

Leonard sempat terdiam, lalu tertawa pelan, bukan tawa besar, hanya hembusan ringan yang terdengar hangat, sementara warna tipis muncul di wajahnya, sesuatu yang begitu manusiawi sampai membuat Alexandria ikut tersenyum tanpa sadar.

“Dan kamu,” balasnya, kali ini tanpa ragu, matanya tidak berpaling sedikit pun, “lebih dari apa pun yang pernah aku lihat di Eldoria.”

Keheningan jatuh di antara mereka, tapi bukan keheningan yang canggung, melainkan yang penuh, yang hangat, yang terasa cukup hanya dengan saling menatap.

Namun rasa itu tidak bertahan lama saat Leonard sedikit menggeser bahunya dan mendesis pelan, nyaris tak terdengar tapi cukup membuat Alexandria langsung tersadar.

“Lukamu—” ia langsung bergerak, tangannya menahan bahu Leonard dengan hati-hati, matanya fokus pada darah yang masih merembes dari luka tusukan itu. “Kita harus masuk sekarang.”

Leonard tidak membantah, meski langkahnya masih terasa berat saat berdiri, tubuhnya belum sepenuhnya terbiasa dengan wujud ini, dan Alexandria langsung berada di sisinya, menopangnya tanpa banyak bicara, membiarkan lengannya melingkar di bahunya, membawa mereka berdua masuk ke dalam pondok yang kini terasa jauh lebih sempit dibanding sebelumnya.

Api di perapian masih menyala, cahayanya memantul lembut di dinding kayu, dan Alexandria segera mendudukkan Leonard di bangku dekat api sebelum berbalik cepat mengambil peralatan yang ia butuhkan.

Saat ia kembali, Leonard sedang menatap sekeliling ruangan, bukan seperti seekor hewan yang waspada, tapi seperti seseorang yang akhirnya mengerti di mana ia berada.

“Ini rumah yang hangat,” gumamnya pelan.

Alexandria berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. “Sekarang ini rumah kita.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Leonard terdiam beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Alexandria tidak menunggu lama, ia langsung mulai membersihkan luka itu dengan hati-hati, kain hangat menyentuh kulit Leonard yang tegang, membuat pria itu kembali mendesis pelan, tapi kali ini ia tidak menjauh, justru tetap diam, membiarkan setiap sentuhan itu berlangsung.

“Sakit?” tanya Alexandria tanpa mengangkat wajahnya.

Leonard menggeleng ringan, meski jelas terasa.

“Tidak separah yang seharusnya,” jawabnya pelan, lalu menambahkan tanpa berpikir panjang, “mungkin karena kamu yang menyentuhnya.”

Alexandria berhenti sebentar, jelas mendengar itu, tapi memilih tidak menanggapi selain dengan menarik napas kecil dan melanjutkan pekerjaannya, meski pipinya sedikit memerah.

Ia mengoleskan salep dengan telaten, lalu membalut luka itu dengan rapi, gerakannya terlatih, pasti, dan penuh perhatian, seolah dunia di luar sana tidak lagi penting selama ia masih bisa melakukan ini.

“Sudah,” ucapnya akhirnya, mundur sedikit untuk melihat hasilnya. “Besok harusnya mulai membaik.”

Leonard menggerakkan bahunya perlahan, lalu mengangguk.

“Mungkin aku harus sering terluka kalau begini cara kamu merawatku.”

“Jangan coba-coba,” balas Alexandria cepat, tapi nada suaranya tidak benar-benar marah.

Malam berlanjut tanpa mereka sadari, Alexandria menyiapkan makanan sederhana, dan mereka makan bersama di meja kecil yang sama, tapi rasanya berbeda, bukan lagi antara manusia dan hewan, melainkan dua orang yang benar-benar berbagi ruang yang sama.

Setelah itu, mereka kembali ke dekat perapian, dan tanpa banyak pengantar, Alexandria akhirnya bertanya.

“Ceritakan semuanya.”

Leonard menatapnya, lama, lalu mengangguk pelan.

Ia mulai dari Eldoria, dari langitnya, dari sihirnya, dari kehidupannya sebelum semuanya hancur, dan dari satu nama yang akhirnya keluar dengan nada berbeda.

“Valerius.”

Suasana berubah sedikit saat nama itu disebut, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.

Pengkhianatan.

Cerita itu mengalir, tidak tergesa, tidak terlalu lambat, dan Alexandria mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali menggenggam tangan Leonard lebih erat saat bagian tertentu terasa terlalu berat untuk dibiarkan lewat begitu saja.

Saat akhirnya Leonard berhenti, api di perapian sudah mulai mengecil.

“Jadi… ini belum selesai,” gumam Alexandria.

Leonard menggeleng. “Belum. Dan mungkin akan semakin buruk.”

Alexandria menatapnya, lalu mendekat sedikit. “Kalau begitu mari kita hadapi. Bukan “kamu”, bukan “aku”. Tapi kita."

Leonard tersenyum, kecil tapi nyata.

Dan malam itu berakhir dengan sesuatu yang baru, bukan hanya karena rahasia telah terbuka, tapi karena jarak di antara mereka benar-benar hilang.

Saat mereka akhirnya berbaring di tempat tidur yang sama, tidak ada kecanggungan berlebihan, hanya jeda singkat sebelum Leonard meraih tangan Alexandria di bawah selimut dan menggenggamnya, seolah memastikan ia tidak akan hilang saat ia memejamkan mata.

“Selamat malam,” bisiknya.

Alexandria sedikit mendekat, tanpa banyak pikir.

“Selamat malam.”

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka tidur bukan sebagai pelindung dan yang dilindungi, bukan sebagai rahasia dan penemu, tapi sebagai dua jiwa yang akhirnya berada di tempat yang sama, dalam wujud yang sama, dengan perasaan yang tidak lagi perlu disembunyikan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!