NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-10

Ruangan meeting hotel terasa hangat dan penuh suasana bisnis. Pertemuan berjalan lancar, diskusi pun alot namun tetap kondusif.

Hingga di sela-sela istirahat, seorang pria muda dengan penampilan rapi dan senyum menawan mendekat ke arah Nara yang sedang sibuk merapikan berkas.

"Loh... Nara Amanda? Beneran kamu, Nar?" sapa pria itu antusias.

Nara mendongak, matanya langsung berbinar cerah. Wajah itu sangat ia kenal.

"Ya ampun... Dimas! Dimas Pradana!" seru Nara senang. Ia langsung berdiri dan memeluk sebentar pria itu. "Gila ya, udah berapa tahun gak ketemu? Kamu makin ganteng dan sukses aja sekarang! Ternyata kamu anaknya Pak Budi ya?"

Dimas tertawa lebar, tatapannya penuh kekaguman. "Iya Nar, ini perusahaan keluarga. Tapi kamu gimana? Kok malah makin muda sih? Apa rahasianya? Dulu waktu kita kenal kamu udah cantik, sekarang makin mempesona aja."

Pujian itu membuat Nara tertawa malu, pipinya merona. "Ah apaan sih, bisa aja kamu. Aku kan udah tua..."

"Tua apanya? Umur segitu baru matang dan seksi banget malah," goda Dimas santai. Ia berdiri sangat dekat dengan Nara, tangannya bahkan sempat menyentuh bahu wanita itu dengan akrab. "Kapan-kapan kita makan malam dong, kangen banget ngobrol sama kamu."

Nara tertawa renyah, benar-benar menikmati momen reuni ini. "Boleh banget! Asal jangan pas hari kerja ya, soalnya bosku ini galak parah..."

Tanpa mereka sadari, dari seberang ruangan, sepasang mata tajam sedang mengamati interaksi itu dengan tatapan yang semakin lama semakin mencekam.

Tangan Arkan yang memegang cangkir kopi terkepal kuat. Nadinya di pelipisnya berdenyut kencang. Melihat Nara yang biasanya galak dan jutek padanya, tapi bisa tertawa secerah itu dan terlihat begitu akrab dengan pria lain, membuat sesuatu yang panas dan tidak enak bergolak di dadanya.

Cemburu??? Entahlah ia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan sekarang,yang jelas ia tak suka melihat Nara akrab dengan pria lain

"Hmph..." Arkan mendengus kasar. Mode Bos Monster yang sempat hilang selama dua hari ini, kembali aktif seketika!

"Sudah bicara-bicara nya! rapat dilanjutkan Sekarang!" ucap Arkan tiba-tiba dengan suara yang cukup kuat, memecah suasana akrab itu.

Semua orang tersentak. Dimas dan Nara pun langsung berpisah dan menoleh kaget.

"Silakan duduk, Tuan Dimas. Kita bicara soal bisnis, bukan soal gosip atau masa lalu," ucap Arkan dingin dengan senyum miring yang terlihat sangat menyebalkan.

Nara mendengus dalam hati. Nah loh... mulai lagi kan! Tadi kan baik banget, eh malah jadi naga lagi!

Rapat pun dimulai kembali, dan suasana berubah 180 derajat menjadi sangat tegang.

"Nara!" panggil Arkan ketus.

"Iya, Pak?"

"Kenapa tulisan di slide ini buram? Mata kamu buta apa gimana? Saya suruh rapikan kok malah berantakan gini!" omel Arkan seenaknya, padahal tulisan itu jelas terbaca.

"Tapi Pak, tadi kan..."

"JANGAN BANTAH! Ulangi lagi sekarang! Cepat!"

Sepanjang rapat, Arkan benar-benar mencari-cari kesalahan Nara. Mulai dari font yang dianggapnya kurang besar, kopi yang kurang panas, sampai cara Nara memegang dokumen pun salah menurutnya.

"Dimas tolong ambilkan dokumen itu dong, tangan aku lagi pegang ini," ucap Nara pelan pada pria itu saat Arkan sedang bicara.

Brukk!

Tiba-tiba Arkan membanting pulpennya di meja.

"Ngapain?! kamu sekretaris saya atau sekretaris dia?!" ucap Arkan tajam. "Kalau tangan kurang panjang atau lemah, mending pulang aja! Jangan minta tolong orang lain seenaknya!"

Dimas terlihat bingung dan sedikit tidak enak hati. "Eh, tidak apa-apa Pak, saya bantu sebentar kok..."

Arkan menatap tajam ke arah Dimas. "Maaf ya Tuan Dimas, sekretaris saya ini memang agak lambat dan sering bikin salah. Jadi tolong jangan dimanja, nanti makin tidak becus kerja."

Nara menunduk menahan malu dan marah. Pipinya memerah menahan emosi. Dasar nyebelin! batinnya menggeram.

_______

Setelah rapat usai dan berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan Dimas, Nara langsung kembali ke kamar hotel, tadi juga mereka sempat bertukar kontak, sedangkan Arkan ia harus pergi karena ada urusan mendadak...

"Alhamdulillah... lancar juga akhirnya," gumam Nara lega sambil berjalan cepat menuju lift.

Wajahnya masih menyimpan senyum puas. Pertemuan hari ini sungguh tak terduga. Bisa bertemu teman lama seperti Dimas dalam suasana yang baik, dan yang lebih penting lagi, kerja sama besar pun berhasil terjalin.

Saat berpamitan tadi, Dimas sempat menyempatkan diri mendekatinya lagi.

"Nar, kontakanku simpan ya. Nanti kalau ada waktu luang di Bandung, kabari aku. Aku ajak keliling atau makan enak," kata Dimas sambil menyerahkan kartu namanya, jari mereka sempat bersentuhan singkat.

Nara menyambut dengan senang. "Boleh banget! Pasti aku kabari. Makasih ya."

Mereka pun saling menyimpan nomor HP masing-masing. Rasanya menyenangkan punya teman baru (atau teman lama yang baru ketemu lagi) yang asik dan sopan, beda jauh dengan seseorang yang galak tak ketulungan.

Sesampainya di depan kamar hotel, Nara baru sadar kalau Arkan tidak bersamanya. Tadi pria itu hanya berkata singkat dan ketus sebelum pergi, "Kamu balik dulu ke kamar. Saya ada urusan mendadak. Jangan keluar-keluar sembarangan!"

"Halah, sok ngatur banget" celetuk Nara sambil memutar kunci pintu.

Begitu pintu terbuka, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan lega. Ia mengambil ponselnya, melihat nama Dimas yang sudah tersimpan di kontak.

"Wah, lumayan nih bisa temenan sama anak bos mitra kerja. Siapa tahu nanti kalau aku di pecat sama si bos bisa minta kerjaan sama Dimas ," batinnya terkekeh.

Nara pun mulai bersantai. Ia mandi, berganti baju menjadi piyaman yang nyaman, dan berniat ingin tidur lebih awal karena hari ini cukup melelahkan.

Namun, baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, tapi ia yakin itu Dimas.

✉️ "Assalamualaikum Nar. Ini aku Dimas. Alhamdulillah rapatnya lancar ya. Makasih hari ini udah bantu banyak😁"

Nara tersenyum lebar, pipinya sedikit merona. Ia segera membalas.

✉️ "Waalaikumsalam Dimas. Iya alhamdulillah. Sama-sama, kan emang tugas ku hehe,ngomong ngomong kamu makin ganteng dan dewasa ya,beda sama yang dulu"

Tak lama, balasan datang lagi.

✉️ "Hahaha pinter banget ngomongnya, ya bedalah itukan dulu,kamu juga makin cantik, oh ya Besok pagi sebelum pulang, sempetin sarapan bareng yuk? Aku tau tempat bubur ayam enak banget deket sini."

Nara langsung bersemangat.

✉️ "Boleh banget dong! Setuju! Jam berapa ?"

✉️ "Jam 8 gimana? Biar santai."

✉️ "Oke sip! Deal!"

Selesai membalas pesan, Nara melempar ponselnya ke atas bantal setelahnya ia langsung tidur.

Di tempat lain...

Di dalam sebuah ruangan tertutup yang dingin dan gelap, Arkan duduk dengan wajah datar namun tatapannya sangat mengerikan. Di hadapannya sudah duduk beberapa orang yang terlihat ketakutan.

"Jadi... kalian bilang orang bernama Raka itu masih ngotot mau cari masalah lagi?" tanya Arkan pelan, suaranya terdengar datar namun menusuk.

"I-iya, Pak. Dia lagi kalut banget karena bangkrut. Kami dengar dia sempat tanya-tanya keberadaan Bu Nara dan berniat mau ke Bandung," lapor salah satu anak buahnya.

Mata Arkan menyipit, aura dinginnya menguar sangat kuat.

"Berani dia datang kesini..." Arkan tersenyum miring, senyum yang sangat menakutkan. "Saya tidak mau Nara tahu apa-apa dan tidak mau dia takut. Urus semuanya malam ini juga. Pastikan dia tidak akan pernah bisa mengganggu ketenangan Nara lagi. Mengerti?"

"Siap, Bos!"

Arkan berdiri, menata jasnya rapi. "Bagus. Kalau begitu, saya kembali ke hotel."

Pria itu keluar menuju mobilnya dengan langkah tegap. 

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!